top of page

Zaman Jepang, Museum, dan (Mantan) Koloni Portugis

  • Gambar penulis: Ajeng Arainikasih
    Ajeng Arainikasih
  • 5 Mar 2021
  • 5 menit membaca

Diperbarui: 9 Sep 2021



Ola!*


Macau dan Timor Leste adalah 2 tempat yang terpisah jauh secara geografis, tetapi disatukan oleh sejarah kolonial yang sama: mantan koloni Portugis. Yup! Di edisi ini gue, Retno, dan Argi akan membahas bagaimana sih zaman Jepang ditampilkan di museum-museum di negara bekas koloni Portugis tersebut. Yuk dengar podcast nya di platform podcast favorit kalian, atau, silahkan lanjut baca. Ini list museum yang akan dibahas.


Daftar Isi:


Sejak tahun 1999 Macau sudah menjadi bagian dari Republik Rakyat Cina (sebagai Special Administrative Region). Sedangkan, sejak tahun 1975 Timor Leste sempat menjadi bagian dari Indonesia hingga di tahun 1999 ada referendum. Akhirnya, Republik Demokratik Timor Leste secara resmi menjadi negara sendiri tahun 2002.


Kembali ke zaman Perang Dunia 2, saat itu Portugal adalah negara yang menyatakan dirinya NETRAL. Oleh sebab itu, Jepang awalnya tidak menduduki Macau. Macau menjadi satu-satunya pelabuhan yang netral. Macau juga menjadi tempat pengungsian orang-orang yang melarikan diri dari kekejaman Jepang (misalnya dari Hongkong).


Walaupun demikian, belakangan Jepang kemudian tetap mengontrol Macau. Ketika Macau ketahuan ingin menjual bahan bakar ke Jepang, Amerika Serikat bahkan melakukan serangan udara terhadap Macau.


Di era kemudian, Portugal dan Cina tetap memiliki hubungan baik. Tidak seperti Cina dengan Inggris. Jadi, saat Macau diserahkan ke Cina, Portugal request agar warisan budaya Portugal tetap dipertahankan di Macau. Keinginan tersebut dikabulkan oleh Cina.


Macau Museum, Hong Kong Museum of History dan Hong Kong Museum of Coastal Defense


Kini, berbeda dengan museum-museum lainnya di Cina, Macau Museum membahas mengenai zaman kolonial Eropa. Eksterior museum bergaya Portugis, sedangkan interiornya bergaya Cina.


Pameran museumnya sendiri menceritakan sejarah dan budaya Macau yang multikultural, sebagai campuran antara kebudayaan Portugis dengan kebudayaan lokal Macau dan Cina. Sebagai bandingan, cerita serupa yang seharusnya juga ada di Hong Kong dan Shanghai malah bisa dibilang absen. Coba baca atau dengarkan lagi Episode 4: Narasi anti-Jepang di Museum-Museum Cina untuk refresh memori tentang sikap museum-museum di Cina terhadap periode sejarah penjajahan Jepang.


Buktinya, ruangan tentang pendudukan zaman Jepang di Hong Kong Museum of History jauh lebih besar daripada ruangan yang membahas Hongkong sebagai koloni Inggris. Tema Hong Kong sebagai koloni Inggris malah hampir tidak dibahas di museum tersebut. Padahal, periode Hong Kong sebagai koloni Inggris jauh lebih lama daripada zaman pendudukan Jepang. Sebaliknya, zaman Perang Dunia 2 tidak dibahas di Macau Museum. Kecuali pada sebuah pameran temporer yang sudah lewat.


Di Hongkong bahkan ada Hong Kong Museum of Coastal Defense. Walaupun saat ini museumnya sedang tutup untuk renovasi, namun di pameran permanennya ada ruangan yang khusus membahas tentang Battle of Hong Kong dan zaman pendudukan Jepang di Hong Kong.


Bahkan, sejak tahun 2011 pameran temporer di Hong Kong Museum of Coastal Defense selalu bertema "Jepang". Dari membahas anti-Japanese war heroes, Nanjing massacre, publikasi propaganda Jepang, sampai tentara Kanada di Battle of Hongkong.


General Ye Ting's Former Residence dan Xian Xinghai Memorial Museum, Macau


Kembali ke Macau, museum lain yang sedikit banyak menceritakan tentang zaman Jepang adalah General Ye Ting's Former Residence dan Xian Xinghai Memorial Museum.


Jenderal Ye Ting adalah salah seorang pemimpin militer Cina yang perannya lumayan penting dan sempat tinggal di Macau bersama keluarganya di awal Perang Dunia 2.


Sedangkan, Xian Xinghai adalah musisi kelahiran Macau. Walaupun lama tinggal di luar Macau, Xian Xinghai menghasilkan karya-karya musik yang tergolong sebagai bentuk resistensi terhadap Jepang, serta menggugah rasa patriotisme. Xian Xinghai bahkan pernah tinggal di Manchuria saat Manchuria menjadi negara boneka Jepang.


General Ye Ting's Former Residence bertempat di bekas kediaman keluarga Ye Ting. Bangunan rumah 2 lantai ini dibangun tahun 1920-an. Mereka tinggal disana pada kurun waktu 1932-1942.


Di lantai 1 diceritakan mengenai denah rumah dan perabot serta dekorasi. Sedangkan di lantai 2 dibahas mengenai kisah hidup Jenderal Ye Ting, kisah keluarganya, dan hubungan kejadian-kejadian tersebut dalam konteks sejarah.


Nah, Xian Xinghai Memorial Museum didirikan tahun 2019 dalam rangka memperingati 20 tahun Macau menjadi SAR Cina. Museumnya bertempat di rumah 2 lantai yang dibangun tahun 1950-an dan pernah jadi kantor Pos dan Telekomunikasi.


Kini, di galeri 1 diceritakan tentang kisah hidup Xian Xinghai, prestasi dan karya-karyanya. Ada biola, ID card, surat-surat, diary, bolpen, dan jas untuk tampil di orkestra. Bahkan, ada partitur Yellow River Cantata.


Lagu ini merupakan karya masterpiece Xian Xinghai. Juga merupakan lagu yang populer sekali karena dipakai untuk menyemangati rakyat Cina dalam melakukan resistensi terhadap Jepang.


Yang keren, museum juga dilengkapi dengan multimedia. Jadi anak-anak bisa belajar tentang musik dan orkestra. Juga bisa mencoba untuk jadi konduktor di orkestra. Seru ya!


Eh tapi, di galeri 2 Xian Xinghai Memorial Museum ini juga khusus dipamerkan tentang zaman pendudukan Jepang di Macau. Juga membahas bagaimana peran Macau untuk Cina saat itu. Intinya sih untuk mengangkat rasa patriotisme.


Dare Memorial Museum, Museum, and Archive of East Timorese Resistance, dan Museum Timor Timur


Berpindah ke Timor Leste, awalnya Pulau Timor terbagi atas wilayah Dutch-Timor dan Portuguese-Timor. Setelah Jepang menyerang Pearl Harbor di bulan Desember 1941, tentara Belanda dan Australia menduduki Pulau Timor. Saat itu, Portugal menuduh Sekutu menginvasi daerah koloni Portugis yang netral.


Oleh karena adanya tentara Belanda dan Australia, maka Jepang pun menyerang Pulau Timor dan terjadilah Battle of Timor. Jepang menang dan pasukan Australia (yang konon katanya dibantu oleh penduduk lokal) berhasil dipukul mundur. Jepang kemudian berkuasa di Timor sampai tahun 1945. Setelah Jepang menyerah, daerah Timor Portugis dikembalikan ke Portugal.


Kini, okupasi Jepang terhadap Timor dan Battle of Timor tersebut di komemorasi di Aileu dalam bentuk monumen yang dibangun oleh Portugis. Sedangkan, Australia membangun museum swasta merangkap cafe di Dili, ibu kota Timor Leste. Museum tersebut berada di puncak bukit dan bernama Dare Memorial Museum. Museum menceritakan tentang perjuangan tentara Australia yang dibantu oleh warga lokal Timor (dan mungkin juga orang Portugis yang tinggal di Timor?) dalam melawan pasukan Jepang.

Tampaknya, museum tentang zaman Jepang dan Perang Dunia 2 di Timor Leste hanya Dare Memorial Museum itu saja. Sepertinya pemerintah Timor Leste lebih menitikberatkan fokus mereka pada perjuangan kemerdekaan dari Indonesia. Museum and Archive of East Timorese Resistance yang didirikan tahun 2005 dan diresmikan oleh Xanana Gusmao adalah contoh nyatanya. Museum ini menceritakan tentang kekejaman pendudukan Indonesia di Timor Timur hingga Timor Leste merdeka.


Sebaliknya, di dalam kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta juga ada Museum Timor Timur. Museum ini dulunya adalah anjungan provinsi berbentuk rumah adat dan memamerkan benda-benda etnografi dari Provinsi Timor Timur. Setelah Timor Leste melepaskan diri, museum tetap dipertahankan dan dikelola di bawah manajemen TMII. Karena satu dan lain hal, terutama karena tidak adanya support dana untuk meredesain tata pamer, tema sejarah antara hubungan Indonesia-Timor Leste absen di museum ini.


Kesimpulannya, kisah tentang pendudukan Jepang dan Perang Dunia 2 sepertinya tidak terlalu dianggap penting di Macau dan Timor Leste saat ini. Mungkin hal tersebut awalnya disebabkan karena posisi Portugis yang netral saat Perang Dunia 2.


Kini, tampaknya Macau sebagai daerah SAR Cina lebih fokus pada tema multikultural dan warisan budaya Portugisnya. Walaupun di museum yang baru dibangun seperti di Xian Xinghai Memorial Museum, narasi tentang zaman Jepang mulai dimasukkan. Sedangkan, Timor Leste lebih fokus pada resistensinya menuju kemerdekaan dari Indonesia daripada membahas penjajahan Jepang.


Selain politik, sejarah kolonial ternyata mempengaruhi narasi museum juga! Seru ya ngomongin mantan!


Nah, yuk follow dan subscribe akun #MuseumTravelogue Talk di platform-platform podcast favorit kalian biar gak ketinggalan dengerin episode-episode selanjutnya atau bahkan sebelumnya. Podcast episode ini juga bisa didengarkan di Anchor, Spotify, Google Podcasts, dan Apple Podcasts lho!


Satu lagi, jangan lupa ya follow akun Instagram @museumtravelogue biar tetap update kalau ada info lainnya. Minggu depan kita terbang ke Filipina yuk?

Salam!

*Ola dalam Bahasa Portugis artinya halo.


**Episode ini diriset dan dibawakan oleh Ajeng Arainikasih, Retno Ayu Lestari dan Argi Arafah.

Foto: Pexels / Pixabay

Komentar


Ā© 2023 by NOMAD ON THE ROAD. Proudly created with Wix.com

bottom of page