top of page

Sisa Perang Orang Lain dan Peran Warga Lokal di Museum

  • Gambar penulis: Ajeng Arainikasih
    Ajeng Arainikasih
  • 1 Sep 2021
  • 5 menit membaca

Diperbarui: 9 Sep 2021



Gude Hai Hai! Halo Olaketa!*


Yup! Betul sekali! Di episode podcast kali ini, gue, Retno, dan Argi akan keliling ke Papua Nugini dan Kepulauan Solomon. Kita akan bahas seperti apa sih Perang Dunia 2 melawan Jepang ditampilkan di museum-museum di kedua negara tersebut. Tapi, sebelum mulai, kalau kalian lebih suka mendengarkan rekaman audio daripada membaca blog, silahkan akses episode podcast #MuseumTravelogue Talk ini di Spotify, Anchor, Google Podcasts, atau Apple Podcasts ini ya. Bagi yang lebih senang membaca, yuk lanjut! Ini daftar isi museum yang akan dibahas.


Daftar Isi:


Did you know? Walaupun jumlahnya tidak signifikan, ternyata di awal abad 20 sudah ada beberapa orang Jepang yang menjadi imigran dan berdomisili di Papua Nugini, lho! Terutama di Rabaul. Mereka biasanya pengusaha perkebunan atau pengusaha perikanan. Beberapa bahkan menikah dan berkeluarga dengan wanita lokal.


Saat Perang Dunia 2 berkecamuk mereka kemudian menjadi tawanan perang Sekutu. Sebab, sebelum perang berlangsung, Papua Nugini memang sempat berada di bawah kekuasaan administratif Australia. Akibatnya, saat itu orang-orang Jepang yang berada di Papua Nugini kemudian dikirim ke Australia. Setelah perang berakhir mereka kemudian dipulangkan ke Jepang dan tidak kembali lagi ke Papua Nugini. Tentu saja mereka tidak dipulangkan bersama keluarga Papua Nugini mereka. Sedih ya!


Memangnya kapan tepatnya Jepang masuk ke Papua Nugini? Jepang sendiri masuk ke Papua Nugini di awal tahun 1942. Konflik dan perang pun terjadi antara Jepang dan Sekutu (terutama Amerika Serikat dan Australia) di Papua Nugini. Walaupun, konon katanya, 97% dari jumlah kematian tentara Jepang di Papua tidak disebabkan oleh perang, melainkan karena penyakit dan kekurangan makanan. Sedangkan, 50% tentara Sekutu yang meninggal juga disebabkan oleh penyakit tropis (baca: Malaria, dkk).


Lalu bagaimana peran penduduk lokal saat Perang Dunia 2 berlangsung di daerah Pasifik tersebut? Nah, Sekutu juga tidak mungkin memenangkan perang apabila tidak ada jasa dari penduduk lokal. Penduduk lokal sangat berjasa karena dijadikan forced labour atau pekerja paksa selama perang berlangsung. Yakni, untuk menunjukkan jalan, menyediakan makanan, membawakan perlengkapan perang, hingga menggotong tentara-tentara yang terluka.


Papua New Guinea National Museum and Art Gallery Port Moresby, Papua Nugini


Museum yang membahas tentang hal tersebut adalah The Modern History Museum (War Museum) di Port Moresby, ibukota Papua Nugini. Museum ini merupakan bagian dari Papua New Guinea National Museum and Art Gallery. Departemen ini terbagi atas area tata pamer indoor dan outdoor. Di area outdoor, dipamerkan kendaraan-kendaraan sisa perang seperti pesawat tempur, tank dan jeep. Sedangkan di area indoor ditampilkan senjata-senjata, foto-foto dan beberapa barang-barang lain terkait Perang Dunia 2.


Papua New Guinea National Museum and Art Gallery yang didukung oleh Kokoda Initiative (didanai oleh Australia) juga bekerja bersama komunitas lokal untuk mengembangkan 3 museum komunitas. Yakni museum komunitas di Desa Alola dan Desa Efogi di sepanjang jalur Kokoda, serta museum komunitas di jalur Buna. Museumnya dikelola oleh masyarakat setempat dan kurator lokal, serta menampilkan material sisa-sisa Perang Dunia 2 di wilayah tersebut. Namun, interpretasinya ditampilkan dalam perspektif cerita lokal. Jadi, masyarakat tidak hanya mempreservasi material culture sisa-sisa perang "orang lain" tetapi juga mempreservasi memori kolektif mereka.


Di setiap lokasi museum ada pula open-air trade centre untuk menjual souvenir dan camilan bagi wisatawan. Museumnya menjadi semacam pemberdayaan sisa-sisa perang untuk kepentingan ekonomi masyarakat lokal.


Kokopo War Museum & New Guinea Club and Rabaul Museum, Papua Nugini


Sedangkan di Kokopo War Museum di Rabaul, atau yang secara ofisial bernama the East New Britain Historical and Cultural Centre Kokopo Museum, juga dipamerkan artefak dan foto-foto terkait Perang Dunia 2. Objeknya antara lain pesawat-pesawat Jepang yang rusak, torpedo, anti-aircraft gun dan ranjau!


Di Rabaul ada juga New Guinea Club & Rabaul Museum lho! Bangunannya merupakan bekas bangunan tahun 1919 yang pada tahun 1933 dijadikan German New Guinea Club. Klub ini adalah klub untuk businessman yang aturan membership-nya cukup ketat. Bangunan tersebut lumayan hancur saat Perang Dunia 2 berkecamuk, namun dibangun ulang di dekade akhir tahun 1940-an. Bangunan juga sempat rusak lagi karena ada peristiwa kebakaran di tahun 1993. Sejak saat itu bangunan direnovasi dan dijadikan museum kecil. Dari material sisa-sisa perang di museum ini, diceritakan tentang pendudukan Jerman dan Jepang di Papua Nugini, juga atas usaha Australia membebaskan Papua Nugini dari cengkeraman Jepang.


Menurut Argi, di dekat museum ini ada pula Admiral Yamamoto bunker! Bunker beton zaman pendudukan Jepang yang bertahan dari serangan udara saat Perang Dunia 2. Konon katanya, Admiral Yamamoto menghabiskan malam terakhirnya di bunker ini sebelum terbunuh di luar bunker saat Perang Dunia 2 berkecamuk. Bunker yang dulunya memiliki 4 pintu masuk kini tinggal tersisa 1 pintu. Namun, di masa pasca Perang Dunia 2 bunker tetap "bertahan" ketika terkena letusan gunung api.


Solomon Islands National Museum Honiara, Kepulauan Solomon


Selain menjadikan Rabaul di Papua Nugini sebagai basis militer, tahun 1942 Jepang juga mendarat di British Solomon Islands. Jepang kemudian mendirikan berbagai bangunan pertahanan. Kemudian, demi mengalahkan Jepang, Sekutu menguasai Guadalcanal, salah satu pulau di Solomon Islands. Perang pun tak terelakkan.


Kini, material sisa-sisa perang tersebut bisa ditemukan di Solomon Islands National Museum di Honiara. Sebetulnya museum tersebut menceritakan tentang sejarah dan budaya Kepulauan Solomon, namun ada bagian yang menceritakan tentang Perang Dunia 2. Menariknya, museum ini menceritakan peran orang lokal dalam membantu tentara Sekutu di Perang Dunia 2.


Vilu War Museum & Betikama School War Museum Guadalcanal, Kepulauan Solomon


Di Guadalcanal juga ada Vilu War Museum atau Vilu Military Museum. Merupakan sebuah open air museum yang menyimpan material sisa-sisa perang pihak Jepang maupun Amerika Serikat. Museum ini merupakan museum swasta yang dibuka tahun 1975. Koleksi museumnya terdiri dari alat-alat transportasi (misalnya pesawat tempur) bekas perang. Beberapa koleksi juga dibawa dari tempat lain ke museum ini. Misalnya plaque memorial untuk mengenang Royal New Zealand Airforce dan HMAS Canberra.


Di Kepulauan Solomon, memang lazim ditemukan open air museum yang menampilkan material sisa-sisa Perang Dunia 2. Selain Vilu War Museum ada juga Betikama School War Museum. Display outdoor museum ini menampilkan sisa-sisa pesawat, sedangkan display indoor nya menampilkan senjata-senjata bekas Perang Guadalcanal.


Kesimpulannya, sepertinya sebagian besar museum-museum di Papua Nugini dan Kepulauan Solomon menampilkan kendaraan dan senjata sisa-sisa Perang Dunia 2 antara Jepang dan Sekutu di wilayah tersebut. Walaupun demikian, sudah ada beberapa museum yang menceritakan peran orang lokal dari sudut padang lokal. Jadi, museum tidak hanya menampilkan material culture yang menceritakan "perangnya orang lain" yang terjadi di daerah tersebut. Seru sepertinya ya kalau bisa jalan-jalan kesana!


Nah, agar terus update dengan episode-episode lainnya, jangan lupa follow akun #MuseumTravelogue Talk di Instagram @museumtravelogue ya!


Salam!


* Gude Hai Hai adalah halo dalam Bahasa Tok Pisin, bahasa yang digunakan di Papua Nugini. Sedangkan Halo Olaketa berarti halo dalam Bahasa Pijin yang digunakan di Kepulauan Solomon.


** Episode ini diriset dan dibawakan oleh Ajeng Arainikasih, Retno Ayu Lestari dan Argi Arafah.



Foto: Pexels / Pixabay



Komentar


Ā© 2023 by NOMAD ON THE ROAD. Proudly created with Wix.com

bottom of page