top of page

Jepang, Perang, dan Museum di Kepulauan Micronesia

  • Gambar penulis: Ajeng Arainikasih
    Ajeng Arainikasih
  • 22 Agu 2021
  • 5 menit membaca

Diperbarui: 9 Sep 2021



Hafa Adai! Alii! Tirow!*


Di episode podcast ke-18 kali ini, gue, Retno, dan Argi lagi-lagi akan keliling ke tiga negara: Northern Mariana Islands, Guam dan Palau. Kita akan bahas seperti apa sih zaman penjajahan Jepang dan Perang Dunia 2 ditampilkan di museum-museum di ketiga negara di Kepulauan Micronesia tersebut. Tapi, sebelum mulai, kalau lebih suka mendengarkan rekaman audio daripada membaca blog, silahkan akses podcast nya di Spotify, Anchor, Google Podcasts dan Apple Podcasts. Bagi yang lebih senang membaca, yuk kita mulai ceritanya!


Daftar Isi:


Dari perjanjian Versailles tahun 1919, Northern Mariana Islands menjadi daerah kekuasaan Jepang setelah Perang Dunia 1 berakhir. Sejak saat itu, Jepang kemudian berkuasa penuh di Northern Mariana Islands. Northern Mariana Islands sendiri terdiri atas 14 pulau dan terletak diantara Filipina dan Hawaii. Perkembangan ekonomi dari perkebunan gula menjadi fokus utama Jepang saat itu.


Ketika Perang Dunia 2 dimulai, pulau-pulau di gugusan kepulauan Northern Mariana seperti Pulau Saipan, Pulau Tinian, Pulau Rota, Pulau Pagan dan Pulau Agrihan serta Guam juga menjadi basis militer Jepang. Namun, tahun 1944 Kepulauan Micronesia tersebut berhasil diambil alih dan dikuasai oleh Sekutu. Bahkan, pesawat Amerika Serikat yang membawa bom atom ke Nagasaki dan Hiroshima bertolak dari pangkalan udara di Pulau Tinian. Hingga kini, Northern Mariana Islands tetap menjadi daerah persemakmuran Amerika Serikat.


Northern Mariana Islands Museum of History and Culture, Garapan


Lalu, bagaimana kisah pendudukan Jepang direpresentasikan dalam museumnya? Kisah tentang Northern Mariana Islands di bawah pendudukan Jepang diceritakan di Northern Mariana Islands Museum of History and Culture atau NMI Museum di Garapan (salah satu daerah wisata di Pulau Saipan). Museumnya didirikan tahun 1998 di bekas rumah sakit yang didirikan di zaman pendudukan Jepang. Museumnya menceritakan tentang etnografi etnis Chamorro dan Carolinian sebagai etnis lokal serta objek arkeologi daerah setempat.


Lalu, tahun 2000, bekerja sama dengan Japanese Society of the Northern Mariana Islands dan Sugar King Foundation, NMI Museum juga menceritakan tentang masa pendudukan Jepang di Northern Mariana Islands. Dari foto, film artefak, peta, kartu pos dan perangko, sampai rekaman oral history, semua ditampilkan di museum. Juga artefak dan replika model bangunan terkait perkebunan dan pabrik gula di masa pendudukan Jepang.


World War 2 Museum, Northern Mariana Islands


Selain itu, di Garapan ada juga World War 2 Museum yang berada di dalam komplek World War 2 American Memorial Park. Museum ini kecil dan berisi memorabilia perang, film dan cerita oral history tentang okupasi Jepang di Northern Mariana Islands dan the Battle of Saipan yang terjadi tahun 1944. Selain menceritakan tentang orang Amerika, katanya sih di museum ini juga dibahas kisah tentang orang lokal.


Oh ya, bukan hanya Amerika Serikat yang mendirikan memorial lho! Di Pulau Tinian di Northern Mariana Islands juga ada Korean Memorial. Sebagai koloni Jepang, orang-orang Korea dibawa ke Northern Mariana Islands sebagai pekerja paksa dan comfort woman. Memorial ini didirikan untuk memperingati orang Korea yang menjadi korban dalam Perang Dunia 2 di Northern Mariana Islands.


Belau National Museum, Palau


Seperti Northern Mariana Islands, Palau, yang terletak di selatan Northern Mariana Islands, juga menjadi daerah pendudukan Jepang setelah Perang Dunia 1 berakhir. Di masa Perang Dunia 2 Palau juga menjadi basis militer Jepang di daerah Micronesia. Setelah Jepang kalah, Palau lalu dikuasai oleh Amerika Serikat. Kini, sejak tahun 1994, Palau merdeka dari Amerika Serikat dan menjadi negara sendiri, Republic of Palau.


Nah, di Koror, ibukota Palau, ada Belau National Museum. Museum ini adalah museum tertua di daerah Micronesia yang sudah eksis sejak tahun 1955. Di museum ini, 31 tahun zaman pendudukan Jepang di Palau diceritakan. Impact dari masa pendudukan Jepang di Palau masih dirasakan hingga kini, terutama di bidang bahasa, kuliner, arsitektur, musik, hingga beberapa sistem pemerintahan dan hukum. Hal-hal inilah yang diceritakan di museum melalui artefak, foto, dokumen dan juga testimoni orang-orang yang mengalami hidup di zaman kolonial Jepang tersebut.


Peleliu World War 2 Memorial Museum, Palau


Tetapi, ada juga museum yang khusus membahas tentang Perang Dunia 2. Yakni Peleliu World War 2 Memorial Museum. Peleliu adalah sebuah pulau di Republic Palau. Museumnya bertempat di bangunan bekas bunker Jepang dan memamerkan cerita tentang Battle of Peleliu. Museum dibuka tahun 2004 saat merayakan 60 tahun Battle of Peleliu. Perang ini terjadi tahun 1944 antara Jepang dan Amerika Serikat. Bangunannya sendiri tampak rusak berat dari sisi luar.


Oh ya, coba perhatikan foto bangunan yang ada di cover podcast ini. Bangunan bekas perang semacam itu banyak terdapat di Pulau Peleliu. Ya, tampak luar Peleliu World War 2 Memorial Museum mirip dengan foto cover podcast #MuseumTravelogue Talk Episode 18: Northern Mariana Islands, Palau, Guam.

Objek yang dipamerkan di museum tentu saja benda-benda memorabilia perang, foto, senjata, dan seragam tentara. Selain itu, di pulau Peleliu sendiri banyak ditemukan sisa-sisa perang, misalnya gua buatan Jepang untuk keperluan perang. Bahkan, sisa-sisa kapal perang yang tenggelam dapat dilihat di pantai Pulau Peleliu.


Guam Pacific War Museum


Memiliki sejarah yang agak berbeda dengan Northern Mariana Islands dan Palau, Guam tidak pernah menjadi daerah koloni Jepang. Guam adalah daerah kekuasaan Amerika Serikat. Namun, tahun 1941 Jepang berhasil merebut Guam dari Amerika Serikat, dan menjadikannya salah satu basis militer Jepang. Kemudian, di Battle of Guam tahun 1945, Guam berhasil direbut kembali oleh Amerika Serikat. Hingga kini Guam masih menjadi daerah teritorial Amerika Serikat.


Kisah ini ditampilkan di Guam Pacific War Museum. Museum ini dibuat tahun 2001 oleh veteran perang (marinir) berkebangsaan Amerika Serikat. Isinya tentu saja menceritakan the Battle of Guam melalui senjata-senjata, seragam tentara, truk rumah sakit, sisa-sisa pesawat tempur, dan barang-barang pribadi tentara. Label museumnya bahkan bilingual, bahasa Inggris dan Jepang.


Tampaknya, ada 2 jenis museum di kepulauan Micronesia ini. Museum yang menceritakan tentang pendudukan Jepang pre-Perang Dunia 2, dan museum tentang Perang Dunia 2. Oh ya, narasi tentang pre-Perang Dunia 2 juga tidak "anti-Jepang" lho! Di Northern Mariana Islands dan Palau, zaman Jepang disebut membuat banyak perkembangan di bidang pendidikan, ekonomi, sampai sanitasi masyarakat. Tampaknya, museum-museum yang memorialisasi Perang Dunia 2 adalah museum-museum yang dibangun Amerika Serikat. Tapi, berhubung gue belum pernah kesana, CMIIW yaa kalau sudah ada yang pernah kesana.


Menarik ya! Lagi-lagi, latar belakang sejarah kolonialisme suatu negara ternyata mempengaruhi narasi museum-museum di negara tersebut. Jadi, jangan lupa follow akun #MuseumTravelogue Talk di Instagram @museumtravelogue biar tetap update kalau ada info lainnya. Juga jangan lupa follw akun #MuseumTravelogue Talk di platform podcast favorit kalian agar bisa dengar episode-episode lainnya.


Salam!

* Hafa adai adalah halo dalam Bahasa Chamorro, tirow adalah halo dalam Bahasa Carolinian, sedangkan alii juga berarti halo dalam Bahasa Palauan, bahasa resmi 3 negara di Kepulauan Micronesia: Northern Mariana Islands, Guam, dan Palau.


** Episode ini diriset dan dibawakan oleh Ajeng Arainikasih, Retno Ayu Lestari dan Argi Arafah.



Foto: Pexels / Pixabay

Komentar


Ā© 2023 by NOMAD ON THE ROAD. Proudly created with Wix.com

bottom of page