Dominasi Sejarah Perang di Museum Filipina
- Ajeng Arainikasih

- 15 Agu 2021
- 5 menit membaca
Diperbarui: 9 Sep 2021

Kamusta!*
Di tulisan-tulisan sebelumnya sudah dibahas tuntas bagaimana penjajahan Jepang ditampilkan di museum-museum di negara-negara Asia Tenggara lainnya. Nah, kini giliran bahas Filipina. Ini ya daftar museum-museum yang akan dibahas.
Daftar Isi:
Did you know? Jepang menyerang Filipina hanya beberapa jam setelah menyerang Pearl Harbour di bulan Desember 1941. Saat itu Jenderal Amerika Serikat Douglas McArthur terpaksa mundur ke Australia. Pertempuran antara Jepang dan Amerika Serikat (yang saat itu berkuasa di Filipina) terjadi antara lain di daerah Bataan. Jepang menang dan Filipina kemudian menjadi koloni Jepang dari tahun 1942-1945.
Filipina kemudian berada dibawah pemerintahan republik bayangan. Pada masa pendudukan Jepang, banyak sekali kelompok-kelompok bawah tanah yang melakukan resistensi terhadap Jepang di Filipina. Rakyat Filipina pro-terhadap Amerika Serikat. Tahun 1944 Jenderal McArthur kembali ke Filipina dan serangkaian pertempuran terjadi lagi. Antara lain Battle of Manila (1944-1945) dan Battle of Corregidor. Bahkan, Manila merupakan salah satu ibukota yang paling luluh lantak selain Berlin dan Warsawa dalam Perang Dunia 2.
Kira-kira bagaimana ya cerita tentang sejarah persentuhan dengan Jepang ini ditampilkan di museum-museum Filipina? Apakah cerita di atas hadir dalam museum? Apakah museum lebih fokus ke sejarah militer, sejarah sosial, atau semuanya terekam?
Menurut teman gue orang Filipina yang berkecimpung di dunia museum, biasanya, museum yang secara umum membahas tentang sejarah Filipina pasti membahas sejarah pendudukan Jepang. Tapi, tergantung museumnya, sisi sejarah militer Perang Dunia 2 ataukah sejarah sosial yang dibahas. Tampaknya, kalau dari hasil gue googling, lebih banyak museum yang membahas soal sejarah militer.
Bataan World War II Museum, Balanga City
Museum yang sepertinya enak dibahas pertama adalah Bataan World War II Museum. Terletak di Balanga City di Pulau Luzon, museum kecil ini terletak di halaman sekolah dasar setempat dan merupakan lokasi menyerahnya Amerika Serikat terhadap Jepang di Filipina. Museum menceritakan tentang Bataan Death March melalui video dan diorama. Di halaman museum ada pula patung tentara Jepang dan tentara Amerika Serikat yang menggambarkan peristiwa menyerah tersebut.
Palawan Military Museum, Puerto Princesa
Museum lainnya, Palawan Military Museum, atau yang secara resmi disebut dengan nama Palawan Special Battalion WW2 Memorial Museum, didirikan tahun 2011 oleh Buddy Mendoza. Buddy Mendoza adalah anak dari dr. Higinio Mendoza Sr., seorang tokoh lokal yang melakukan resistensi terhadap Jepang. Museum ini didedikasikan untuk ayahnya dan pasukan gerilya lainnya.
Jadi, pada masa pendudukan Jepang, POW berkebangsaan Amerika diperintahkan untuk membangun lapangan terbang. Saat itu, dr. Mendoza, yang juga merupakan Gubernur Palawan (1931-1938) mulai mengorganisir pasukan gerilya sebagai gerakan bawah tanah untuk melawan Jepang. Namun, ia kemudian ditangkap dan dipenggal oleh Jepang.
Museumnya sendiri berisi memorabilia Perang Dunia 2 yang dikumpulkan oleh Buddy Mendoza. Antara lain kendaraan, senjata, bom, dan foto-foto periode Perang Dunia 2 di Palawan. Senjata yang ditampilkan juga bervariasi, ada senjata Jepang, Amerika, dan juga senjata penduduk lokal. Ada pula "kostum" dan peralatan yang dikenakan oleh gerilyawan lokal. Selain itu, ada juga benda-benda tua seperti mesin tik dan telepon tahun 1940-an. Juga, ada list nama 1.000 gerilyawan Filipina yang berjuang melawan Jepang di Palawan.
Tapi museum ini membuat gue jadi penasaran, apakah anggota gerilyawan Filipina itu murni orang-Filipina saja? Atau ada juga etnis-etnis lain yang turut melawan Jepang? Lalu, kalau ada, apakah terekam ya di museum-museum Filipina?
Bahay Tsinoy Museum, Manila
Nah, ternyata, cerita tentang resistensi gerakan gerilyawan bawah tanah dibahas di Bahay Tsinoy Museum di Manila. Bahay Tsinoy adalah museum swasta tentang sejarah etnis Cina-Filipina (Tsinoy). Menurut direktur museumnya, saat ini di museum ada beberapa objek yang terkait dengan pendudukan Jepang di Filipina. Ada material propaganda Jepang, surat-surat antara para pejuang gerilya, dan sebuah meja!
Meja ini spesial karena dahulu berada di toko milik seorang pedagang Tsinoy yang juga merupakan pejuang gerilya. Mejanya memiliki laci-laci rahasia tempat menyimpan senjata. Di meja tersebut juga ada tempat persembunyian yang dilindungi oleh 5 karung beras. Jadi, orang yang bersembunyi di dalamnya akan aman, sekalipun ditusuk bayonet Jepang. Namun, menurut direktur museumnya, beliau masih "kurang puas" karena museum hanya membahas tentang resistensi, tapi belum ada cerita tentang comfort women di zaman Jepang di Filipinia. Padahal sejarah kelam tersebut terjadi dan korbannya banyak.
Philippine-Japanese Historical Museum, Davao City
Museum lain yang tidak kalah menarik adalah Philippine-Japanese Historical Museum di Davao City. Museum ini menceritakan tentang kehidupan orang-orang Jepang yang datang ke Davao untuk bekerja di perkebunan Abaca, dari sekitar tahun 1903 sampai dengan masa Perang Dunia 2. Koleksi museumnya betul-betul beragam, dari kimono, samurai, peralatan sehari-hari, peralatan perkebunan, mata uang, mesin tik, radio, sampai unit dokter gigi zaman dulu.
Museum ini didirikan tahun 1994. Kabarnya, tahun 2019 museum ditutup sementara karena sedang direnovasi dengan dana dari Kedutaan Jepang. Namun, apakah sudah dibuka kembali atau bagaimana bentuknya setelah renovasi, gue kurang tahu.
Pacific War Memorial and Museum, Corregidor
Namun, museum yang "paling terkenal" di Filipina mungkin adalah Pacific War Memorial and Museum di Pulau Corregidor. Pulau Corregidor terletak di Manila Bay dan merupakan salah satu tempat pertempuran hebat saat Perang Dunia 2 berlangsung di Filipina. Pada pertempuran tahun 1942 Amerika Serikat kalah, sedangkan di pertempuran tahun 1945 Jepang kalah dan Pulau Corregidor berhasil direbut kembali oleh Amerika Serikat.
Nah, war memorial ini didirikan tahun 1968 oleh pemerintah Amerika Serikat dan didedikasikan untuk pasukan Amerika dan Filipina yang bertempur di Perang Dunia 2 tersebut. Museumnya sendiri (yang terletak di komplek war memorial) tidak besar. Berisi koleksi senjata tentara Sekutu dan Jepang, foto-foto, seragam militer, serta surat-surat tentara Amerika untuk keluarganya. Ada pula mozaik bergambar peta Corregidor yang menunjukkan lokasi pertempuran-pertempuran yang terjadi di Pulau Corregidor.
Ayala Museum, Manila
Masih banyak museum lain yang menampilkan tentang sejarah Perang Dunia 2 di Filipina, baik museum pemerintah maupun swasta. Tidak pula hanya di pameran permanen, tema ini juga sering dibahas di pameran temporer, misalnya seperti di Ayala Museum, sebuah museum swasta di Manila.
Tahun 2015, demi memperingati 70 tahun Battle of Manila, Ayala Museum membuat pameran temporer dan menerbitkan buku. Pameran tersebut menampilkan foto, peta, dokumen, memorabilia perang dan karya seni tentang Battle of Manila. Para veteran perang juga turut berbagi cerita dan pengalaman di pembukaan pameran.
Kesimpulannya, Filipina banyak menampilkan sejarah pendudukan Jepang dan Perang Dunia 2 di museum-museumnya, baik di museum pemerintah ataupun di museum swasta. Walaupun ada cerita-cerita sejarah sosial semasa pendudukan Jepang (atau bahkan tentang periode sebelum Perang Dunia 2), tetapi tampaknya ceritanya masih lebih "dimonopoli" oleh sejarah perang.
Demikianlah cerita tentang museum-museum yang membahas tentang Perang Dunia 2 di Filipina. Apa ada yang sudah pernah berkunjung ke salah satu museum yang gue dibahas diatas? Share ceritanya dong di akun Instagram @museumtravelogue. Oh ya, jangan lupa juga ya untuk subscribe dan follow akun #MuseumTravelogue Talk di platform-platform podcast favorit kalian biar gak ketinggalan dengar episode-episode lainnya. Seperti biasa, podcast episode ini juga bisa diakses di Anchor, Google Podcasts, Spotify, dan Apple Podcasts.
Salam!

* Dalam Bahasa Filipina kamusta berarti halo
** Episode ini diriset dan dibawakan oleh Ajeng Arainikasih, Retno Ayu Lestari dan Argi Arafah

Foto: Pexels / Pixabay




Komentar