top of page

Perang Dunia 2, Museum Australia, dan Berbagai Pendekatan Sejarah

  • Gambar penulis: Ajeng Arainikasih
    Ajeng Arainikasih
  • 9 Sep 2021
  • 6 menit membaca


Niina marni! Wominjeka! Budyeri kamaru!*


Episode 20! Wah, sudah panjang juga ya cerita tentang museum-museum yang berkaitan dengan penjajahan dan/atau perang melawan Jepang di Perang Dunia 2. Kali ini gue, Retno dan Argi akan bahas bagaimana cerita sejarah yang terjadi hampir 80 tahun silam direkam di museum-museum Australia. Seperti biasa, cerita ini juga dapat didengarkan di podcast #MuseumTravelogue Talk di Spotify, Anchor, Apple Podcasts ataupun Google Podcasts. Nah, ini daftar museum-museumnya yang akan dibahas ya.


Daftar Isi:


Australian War Memorial, Canberra


Sebagai bagian dari pasukan Sekutu, Australia juga berperan dalam Perang Dunia 2. Baik dalam melawan Jerman dan Italia di Eropa, Mediterania, dan Afrika Utara; serta di Asia Tenggara dan Pasifik untuk melawan Jepang. Saat itu, hampir 1 juta orang Australia turut serta bertempur dan 39.000 diantaranya meninggal.


Berkaitan dengan Perang Dunia 2, museum pertama di Australia yang wajib dibahas adalah Australian War Memorial di Canberra. Di museum ini ada galeri yang khusus menceritakan mengenai peran Australia di Perang Dunia 2, baik di Eropa, Mediterania, Afrika Utara, Asia Tenggara, dan Pasifik.


Di galeri Perang Dunia 2 ini diceritakan tentang keberanian, daya juang, pencapaian dan pengorbanan, serta cerita duka dan kehilangan. Koleksinya terutama senjata-senjata dan kendaraan perang seperti pesawat dan jeep. Ada pula perahu penyelamat karet dari HMAS Sydney yang kandas, foto-foto, dan lukisan. Selain itu, ada pula display audio visual yang khusus menceritakan mengenai Kokoda campaign di Papua Nugini (cek Episode 19: Sisa Perang Orang Lain dan Peran Warga Lokal di Museum-Museum Papua Nugini dan Kepulauan Solomon).


Australian War Memorial juga punya koleksi foto dan karya seni tentang Black Soldier. Yakni Indigenous Australians and the Torres Strait Islanders yang turut serta menjadi bagian dari Australian Army dalam Perang Dunia 2. Saat itu komunitas Indigenous Australians terbagi atas 2 kubu. Kubu yang pertama beranggapan kalau mereka ikut berperang maka hak-hak mereka sebagai warga negara akan membaik. Sedangkan kubu kedua beranggapan bahwa mereka tidak perlu repot-repot ikut campur dalam perangnya White Australians. Hingga saat ini, penelitian mengenai Indigenous Australians and the Torres Strait Islanders yang mengabdi di militer masih terus dikerjakan.


Australian Army Museum of Western Australia, Freemantle


Museum lain yang juga wajib dibahas adalah Australian Army Museum of Western Australia di Fremantle. Di museum tersebut ada 2 galeri yang membahas mengenai peran Australia di Perang Dunia 2, yakni Galeri World War 2 dan Galeri Prisoner of War (POWs).


Di Galeri World War 2 diceritakan pertempuran antara tentara Australia melawan Jepang di Papua Nugini dan Singapura dalam bentuk diorama. Ada pula berita-berita surat kabar terkait perang yang di cetak sebesar dinding ruang pamer. Namun, yang paling menarik untuk gue pribadi adalah koleksi berupa samurai dan bendera Jepang. Benderanya ditandatangani oleh pasukan Australia untuk menandakan menyerahnya Jepang di Kalimantan tahun 1945.


Sedangkan, di Galeri POWs atau Prisoner of War, cerita yang ditampilkan (mostly melalui diorama) tentu saja berfokus pada Australian POWs di Thailand dan Myanmar dalam pembangunan Thai-Burma Railway alias Death Railway. Ingat kan kalau pemerintah Australia bahkan mensponsori pembangunan museum terkait Australian POWs dan Death Railway di Thailand? Kalau lupa-lupa ingat, bisa di cek lagi kok ceritanya di Episode 9: Perang Dunia 2 dan Tiga Versi Narasi di Museum Thailand.


MacArthur Museum, Brisbane


Jika bicara tentang Australia dan Perang Dunia 2, kalau Retno tentunya langsung ingat film Australia (2008) yang diperankan oleh Hugh Jackman dan Nicole Kidman. Sebaliknya, Argi tentu saja langsung ingat Jenderal Amerika Serikat Douglas MacArthur. Why?


Saat Perang Dunia 2 berlangsung, Jenderal Amerika Serikat Douglas MacArthur memang sempat berkantor di Brisbane. Kini, kantornya dijadikan museum! Walaupun kecil namun museumnya interaktif. Pengunjung dapat duduk di meja tempat sang Jenderal dan anak-anak buahnya mengatur siasat dan strategi perang. Pengunjung juga diajak merasakan bagaimana kehidupan di Brisbane saat itu (1939-1945).


Saat itu, ada ketakutan kalau Australia akan di invasi oleh Jepang. Oleh sebab itu, tempat perlindungan untuk serangan udara bertebaran di sudut kota Brisbane. Begitu pula camp tentara Australia dan Amerika Serikat, sekaligus para tentaranya yang banyak berlalu lalang di toko-toko, cafe dan pubs.


Darwin Military Museum, Darwin


Saat awal Perang Dunia 2 berlangsung, Australia memang sempat diserang oleh Jepang. Terutama di Darwin dan di daerah negara bagian Northern Territory. Juga di bagian utara negara bagian Queensland. Walaupun Australia mengalami beberapa kali serangan dari Jepang selama periode 1942-1943, Jepang tidak pernah menginvasi dan menguasai Australia.


Kisah serangan udara di Darwin ini antara lain diceritakan di Darwin Military Museum yang didirikan tahun 1960-an. Koleksi yang dipamerkan di museum antara lain seragam, material sisa-sisa perang, senjata, foto, rekaman oral history, dan poster-poster propaganda. Namun, sejak 2012, tata pamer museumnya berubah.


Melalui pengalaman digital, pengunjung di museum seakan-akan merasakan bagaimana kejadian saat pengeboman di Darwin tanggal 19 Februari 1942 tersebut berlangsung! Judul pemerannya adalah "Defense of Darwin Experience". Pengunjung juga dapat menonton film-film pendek mengenai serangan udara tersebut, juga mendengarkan rekaman testimoni dari orang-orang yang mengalami dan survived dari kejadian tersebut. Bahkan, museumnya juga partisipatoris. Pengunjung dapat merekam cerita mereka (atau cerita tentang orang tua/kakek-nenek mereka) yang mengalami peristiwa tersebut. Seru ya!


Batchelor Museum, Northern Territory


Museum lain yang juga menarik untuk dibahas adalah Batchelor Museum. Batchelor Town adalah kota kecil berupa kota tambang uranium (sejak 1950-an) di negara bagian Northern Territory. Nah, Batchelor Museum adalah museum lokal yang menceritakan mengenai sejarah daerah setempat. Museumnya bertempat di bekas asrama perempuan untuk pegawai tambang.


Cerita yang ditampilkan di museum juga sangat variatif, dari sejarah Indigenous Australians di Batchelor, sejarah tambang uranium, sejarah pertanian di Batchelor untuk mendukung pembangunan jalur telegraf di Australia, sampai sejarah Perang Dunia 2. Di Northern Territory, tentunya banyak Indigenous Australians yang turut berperan dalam Perang Dunia 2. Mereka biasanya bekerja sebagai pekerja kasar, supir, dan juru masak di camp-camp tentara.


Kebetulan, di Batchelor juga ada lapangan udara. Tentunya, saat Perang Dunia 2 berlangsung lapangan udara tersebut digunakan oleh pasukan Australia, Inggris, Amerika Serikat, dan Belanda. Lapangan udara di Batchelor tersebut juga sedikit banyak berperan dalam pertahanan Australia ketika Darwin diserang.


Di Northern Territory memang banyak war heritage sisa Perang Dunia 2. Bahkan, di daerah Mount Isa ada rumah sakit bawah tanah sebagai persiapan pertahanan perang yang masih digunakan sampai saat ini.


Cowra Regional Art Gallery, New South Wales


Banyak lho sebenarnya kisah untold dan unofficial history terkait Perang Dunia 2 di Australia. Sedikit lompat ke negara bagian New South Wales, di kota kecil Cowra, ada kamp internir untuk Japanese POWs. Memang pada masa Perang Dunia 2 ada sekitar 5.000 orang Jepang (baik militer maupun sipil) yang dijadikan POWs di Australia dan Selandia Baru. Di Australia, para tawanan ini ditempatkan di Cowra dan di beberapa kota kecil lain di negara bagian New South Wales, Victoria dan South Australia. Saat itu mereka diperbolehkan membuat karya seni. Bahkan, beberapa dihadiahkan untuk para penjaga camp.


Oleh sebab itu, Cowra Regional Art Gallery memiliki koleksi lukisan perempuan-perempuan Jepang memakai kimono. Ternyata, karya seni tersebut merupakan hasil karya para Japanese POWs!


Ngomong-ngomong soal Cowra, gue juga sempat ngobrol dengan mas Antariksa, sejarawan dan seniman Indonesia yang riset dan karya seninya khusus tentang zaman Jepang. Menurut beliau, di Cowra juga ada makam orang-orang Indonesia. Kok bisa? Ternyata, di zaman Perang Dunia 2, tahanan politik Indonesia di Digul dipindahkan ke Australia (tepatnya ke Cowra) ketika Jepang mulai masuk ke Hindia Belanda. Kini mas Antariksa sedang melakukan riset arsip lokal di Cowra, juga melakukan wawancara oral history di Cowra dengan orang-orang tua setempat yang sempat hidup berdampingan dengan orang-orang Indonesia sebagai tahanan politik dari Digul. Keren ya risetnya!


National Museum of Australia, Canberra dan Museum of Chinese Australian History, Melbourne


Selain Indigenous and Torres Strait Islanders, Chinese Australians, baik laki-laki maupun perempuan, juga berperan dalam Perang Dunia 2 lho! Ada yang ikut bertempur dalam kesatuan tentara, ada pula yang bergabung sebagai Angkatan Laut maupun penerbang. Ada pula yang menjadi dokter dan perawat, ataupun bekerja di Australian Army Signal Corps.


Keterlibatan Chinese Australians ini ditampilkan di National Museum of Australia di Canberra. Museum memiliki koleksi gulungan lukisan di atas sutra yang dibuat tahun 1988 berjudul "Harvest of Endurance, A History of Chinese in Australia 1788-1988". Beberapa adegan dalam lukisan ini menggambarkan orang-orang keturunan Cina di Australia yang berperan di Perang Dunia 2.


Terakhir, di bulan April 2021, di Museum of Chinese Australian History di Melbourne juga diadakan acara peluncuran buku yang berjudul For Honour and Country. Bukunya merupakan karya Edmond Chiu dan Adil Soh-Lim, dan menceritakan tentang Chinese Australians yang turut membela negara di Perang Dunia 2.


Kesimpulannya, pendekatan sejarah yang ditampilkan di museum-museum Australia terkait Perang Dunia 2 cukup bervariasi. Ada yang menampilkan sejarah ofisial yang top-down, ada juga sejarah personal yang bottom-up. Bahkan, ada untold history dan unofficial history! Walaupun gue pribadi pernah tinggal di Australia, tapi gue belum pernah ke satupun museum-museum yang dibahas disini. Walaupun demikian, dari pengalaman gue ke museum-museum lain di Australia, biasanya sih display nya keren! Jadi penasaran...


Kalau kalian bagaimana? Apa ada yang pernah ke salah satu museum di atas? Ditunggu ceritanya di Instagram @museumtravelogue ya.


Salam!


*Niina marni dalam Bahasa Kaurna artinya halo. Bahasa Kaurna adalah bahasanya Kaurna people, Indigenous Australians yang mendiami daerah Adelaide, South Australia. Wominjeka juga berarti halo dalam Bahasa Woiwurrung, bahasanya Wurundjeri people dari Melbourne. Sedangkan, budyeri kamaru adalah halo dalam Bahasa Gadigal yang dipergunakan oleh Eora people, penduduk asli Australia yang bermukim di Sydney.


**Episode ini diriset dan dibawakan oleh Ajeng Arainikasih, Retno Ayu Lestari dan Argi Arafah.



Foto: Pexels / Pixabay


Komentar


Ā© 2023 by NOMAD ON THE ROAD. Proudly created with Wix.com

bottom of page