Yingge Ceramic Museum, New Taipei City: Don't Touch!
- Ajeng Arainikasih

- 4 Jan 2022
- 2 menit membaca

Tahun 2014 silam saya mengikuti konferensi internasional tentang museum di Taiwan. Saat itu panitia konferensi mengadakan kegiatan ekskursi ke Yingge Ceramic Museum di New Taipei City.
Bangunan Yingge Ceramic Museum dikelilingi air dan instalasi seni. Jadi, untuk menuju gedungnya, pengunjung harus melewati jembatan yang membentang di halaman museum. Gedung museumnya sendiri adalah gedung modern dari kaca yang bentuk arsitekturnya cukup unik.
Bagian dalam atau interior museumnya pun didesain dengan ācantikā. Nuansa keramik ada dimana-mana, termasuk di ruang penitipan barang. Bahkan, pintu loker tempat penitipan tas pengunjung pun terbuat dari keramik!

Pameran permanennya sendiri kalau tidak salah ingat dimulai di lantai 2. Pameran permanen Yingge Ceramic Museum terdiri atas beberapa tema besar. Yakni teknik pottery tradisional, sejarah keramik di Taiwan, sejarah Yingge sebagai kota penghasil keramik, dan industri keramik di masa depan.
Jujurnya, saya sama sekali tidak ingat satupun isi informasi yang disampaikan di Yingge Ceramic Museum ini. Mungkin karena display museum dirancang dengan pasif (walaupun desain interiornya bagus). Atau karena saya berkunjung bersama rombongan.
Maksudnya, dengan berkunjung bersama rombongan, maka saya hanya mendengarkan penjelasan pemandu secara satu arah dengan pasif dan melalui ruangan demi ruangan tanpa bisa mengeksplorasi display museum lebih detail sesuai keinginan saya sendiri.
Saya hanya ingat ketika memasuki satu ruangan pasti ada petugas museum berseragam yang berdiri dan mendekati pengunjung sambil membawa papan bertuliskan āDonāt Touch!ā Cukup intimidatif menurut saya.

Selain itu, saya hanya mengingat 3 hal lagi dari museum ini. Hal pertama adalah display berupa tumpukan toilet di tema Sejarah Yingge sebagai kota penghasil keramik.
Hal kedua yang saya ingat adalah instalasi karya seni dari pecahan keramik berwarna putih yang menurut saya impresif dan indah sekali. Instalasinya hampir sepanjang ruangan tempat karya tersebut dipamerkan.

Terakhir, saya juga ingat ada kegiatan āpartisipatifā. Yakni pengunjung harus menggerak-gerakan tangan seakan-akan berkreasi membuat keramik di mesin yang ada sensornya (tanpa ada tanah liat betulan yang dibentuk).
Nanti, di layar yang tersedia, akan terlihat bentuk keramik karya kita akan jadi seperti apa. Karya digital itupun diproyeksikan di dinding ruangan.

Sebenarnya, apabila āmengintipā ke situs turisme Taiwan di internet, disebutkan bahwa di Yingge Ceramic Museum ada tempat dimana anak-anak dapat berkreasi dengan tanah liat. Tampaknya ruangan tersebut belum ada saat saya kesana tahun 2014 silam.
Atau, mungkin karena saya berkunjung bersama rombongan peserta konferensi yang isinya orang dewasa, maka kami tidak diarahkan ke ruangan tersebut.
Saat itu kami diberi kesempatan untuk mampir ke toko suvenir museum sebelum rombongan harus meninggalkan museum. Namun seingat saya harga barang-barang di toko suvenirnya cukup mahal.
Saya ingat saya melihat sikat gigi bergagang keramik yang (sepertinya) saya beli untuk oleh-oleh bagi kedua orang tua saya yang berprofesi sebagai dokter gigi.
Walaupun tidak banyak yang saya ingat dari Yingge Ceramic Museum ini, namun sebenarnya museum ini menarik untuk dikunjungi. Mungkin kunjungan saya akan lebih berkesan apabila saya datang sendiri tanpa harus tergesa-gesa mengikuti rombongan yang dipandu dengan waktu tur yang terbatas. Next time, hopefully?
Catatan: Tulisan ini diambil dari buku #MuseumTravelogue Asia (Penerbit: Stiletto Indie Book, 2019).




Komentar