Alamoudi Museum, Mekah: Boleh Disentuh!
- Ajeng Arainikasih

- 20 Agu 2023
- 4 menit membaca

Terjebak di gurun pasir. Itulah pengalaman saya ketika mengunjungi Alamoudi Museum di pinggiran Kota Mekah saat bulan Ramadhan tahun 2022 silam. Masih dalam rangka Umroh Ramadhan bersama suami, seperti di Madinah, di Mekah kami juga pergi ke museum.

Alamoudi Museum terletak di dekat jalan tol di antara Kota Mekah dan Jeddah. Berdasarkan saran dari pemandu Umroh kami (mahasiswa Indonesia di Arab Saudi), kami pergi ke Alamoudi Museum menggunakan taksi dari depan hotel kami di Mekah. Yang tidak diduga oleh pemandu kami adalah: kami pergi di pagi hari sebelum waktu Solat Zuhur! Ia pikir, kami akan pergi di malam hari.
Di Arab Saudi, ketika bulan Ramadhan, kebanyakan museum malah buka di malam hari, setelah waktu Tarawih, sampai menjelang sahur. Namun, berhubung kami "turis", tentunya kami menghindari pergi malam-malam di negara yang bagi kami asing. Kami malah sengaja pergi sebelum Zuhur untuk ngabuburit. Ternyata, waktu pilihan kami malah menjadi masalah!
Kembali ke Alamoudi Museum, saat kami tiba, kami tidak menemukan siapa-siapa. Bahkan tidak ada penjaga museum! Ternyata, ybs masih tidur. Setelah kami bangunkan, ia pun kemudian memandu kami menggunakan Bahasa Indonesia!
Lumayan fasih lho pelafalan Bahasa Indonesianya. Namun, yang disampaikan hanya "ini dapur Arab zaman dulu". Atau "ini toko Arab zaman dulu", "ini rumah Arab zaman dulu", dan "ayo foto" tanpa ada penjelasan lebih mendalam lagi, hehe...

Alamoudi Museum sendiri terdiri atas display di halaman depan dan belakang, serta benda-benda koleksi di dalam bangunan museum. Di halaman depan, kami bisa masuk ke replika dapur di Arab zaman dulu, juga ke toko kelontong. Uniknya, semua barang koleksinya boleh dipegang, bahkan kami dihimbau untuk bergaya dan difoto oleh bapak pemandu museum tersebut.

Di dalam bangunan museum, kami pertama-tama dihadapi dengan benda-benda tua yang berasal dari Kabah. Ada miniatur Kabah, dan ada pelindung hajar aswad. Ada pula foto-foto Kota Mekah di masa lalu.

Setelah itu, ada senjata-senjata jadul yang dipajang. Suami saya bahkan diminta berpose - oleh pemandu museum - sambil mengangkat senjata layaknya tentara Arab Saudi zaman dulu. Sayangnya fotonya tidak bisa saya pasang disini. Suami saya pasti marah kalau saya berani-berani pasang fotonya di blog, hihi...
Kami juga diminta memakai baju ala orang Arab dan di foto. Kemudian, display museum selanjutnya menggambarkan isi rumah - sepertinya periode tahun 1950 s/d 1980an. Ada telepon tua, meja makan dan peralatan makan zaman dulu, piano, gramofon, TV dan radio jadul, dan masih banyak lagi barang-barang tua lainnya. Pst, ini saya pasang foto saya saja ya, hehe...

Memang agak random sih storyline museumnya, dan koleksinya tidak ada labelnya sama sekali. Tapi, konsep di Alamoudi Museum ini memang koleksinya boleh dipegang, bahkan dijadikan properti foto! Intinya, agar pengunjung betul-betul bisa merasakan bagaimana rasanya hidup di Arab di masa lalu.
Jarang sekali ada koleksi yang berada di dalam lemari kaca seperti museum-museum pada umumnya. Sebetulnya, - dahulu - aturan untuk tidak boleh memegang koleksi museum berkaitan dengan konservasi (perlindungan) koleksi. Utamanya, agar koleksi museum tidak mudah rusak (karena dipegang, atau cepat aus karena sering disentuh dan terkena keringat pengunjung).
Tapi, apabila museum punya banyak koleksi yang sama, atau replika, ya tidak apa-apa juga untuk dipegang. Intinya, boleh atau tidaknya koleksi museum dipegang terletak pada kebijakan masing-masing museum. Saya pribadi lebih suka dengan museum-museum yang koleksinya boleh disentuh.
Bahkan sekarang, berdasarkan keterangan dari Saiful Bakhri, konservator dari Instituut Konservasi, ada teknik konservasi yang namanya putting sacrificial layer. Jadi, ada lapisan semacam coating yang bisa diaplikasikan ke koleksi agar koleksinya dapat dipegang oleh pengunjung. Nanti, yang bakal aus adalah si pelapis tersebut. Biasanya dilapisi ke koleksi-koleksi batu atau furniture, yang daya tahan koleksinya kuat. Tujuannya agar experience pengunjung akan lebih "kena" kalau pengunjung dapat memegang koleksi daripada hanya melihat saja.
Setelah selesai dari bangunan museum, kami kemudian dibawa ke halaman luar lagi, tepatnya ke halaman belakang. Di halaman belakang ada display penjara, dan ada display rumah-rumah di Timur Tengah yang berbentuk kotak, dengan dinding terbuat dari tanah liat (tanpa genteng miring).

Dinding tanah liat ternyata membuat rumah lebih sejuk di siang hari, dan lebih hangat di malam hari. Selain itu, karena hujan jarang turun di gurun, maka rumah di Timur Tengah tidak memerlukan atap (genteng) miring yang mengalirkan air hujan ke tanah seperti di Indonesia. Justru atap rata lebih tahan terhadap terpaan angin gurun.
Setelah kami selesai mengelilingi halaman belakang museum, maka selesai sudah kunjungan kami di Alamoudi Museum.
Seperti saran pemandu Umroh kami - kami mulai mencari taksi online untuk kembali ke Mekah. Nah, drama terdampar dimulai disini!
Kami - baik saya maupun suami - tidak mendapatkan satu taksi online pun yang berada di dekat Alamoudi Museum! Memang museum ini terletak di pinggiran Kota Mekah, tepatnya di pinggir jalan tol antara Mekah - Jeddah. Pemandu Umroh kami ikut turun tangan membantu mencarikan taksi dari Mekah, tapi gagal juga. Bahkan, pemandu museum mencoba membantu kami menelepon taksi, namun hasilnya nihil.
Sepertinya, kebanyakan orang (baca: supir taksi) masih tidur! Memang, di bulan Ramadhan di Arab Saudi, kehidupan terbalik. Setelah sahur sampai waktu Zuhur/Ashar adalah waktu tidur!
Akhirnya, pemandu museum pun mengantarkan kami menggunakan mobilnya ke arah jalan tol! Kami kemudian harus berjalan kaki tepat ke sisi jalan tol, dan berdiri dipinggir jalan, untuk memberhentikan taksi yang lewat dari arah Jeddah.
Kami betul-betul terdampar di gurun pasir! Tanpa ada apapun untuk berteduh, puasa pula! Untungnya, tidak lama kemudian ada taksi kosong yang lewat dan mau berhenti untuk mengangkut kami kembali ke Mekah. Betul-betul pengalaman ke museum yang tak terlupakan!





Komentar