Het Scheepvaartmuseum, Amsterdam: Kisah Walvis, eh, Paus
- Ajeng Arainikasih

- 30 Sep 2022
- 4 menit membaca

Gedung Het Scheepvaartmuseum atau National Maritime Museum di Amsterdam sudah dibangun sejak abad 17. Kini, sebagai museum, halaman dalam gedung ditutupi dengan atap kaca. Hasilnya? Impresif! Perpaduan antara heritage building dengan sentuhan modern. Tipikal museum dan bangunan-bangunan publik di Belanda.

National Maritime Museum ini juga ditampik sebagai salah satu museum terbaik di Amsterdam. Terutama karena museum menampilkan sejarah maritim Belanda dalam berbagai tema pameran (pameran permanen), yang didesain interaktif, terutama bagi pengunjung keluarga dan anak-anak.
Memang tata pamer museum ini keren! Anak-anak saya suka sekali bermain di museum ini. Salah satu tema pameran favorit mereka adalah The Tale of the Whale. Pameran ini menceritakan mengenai sejarah paus (bahasa Belandanya walvis) dari masa ke masa.
Demi mengakomodir banyaknya turis yang berkunjung, pameran pun dibuat bilingual. Untungnya, kedua anak saya familiar, baik dengan bahasa Belanda maupun bahasa Inggris. Jadi, mereka tidak pernah mengalami kesulitan bahasa ketika berkunjung ke museum (di Belanda).

Di awal ruang pameran The Tale of the Whale, diceritakan bahwa paus awalnya dianggap sebagai monster laut. Replika lukisan dan sketsa dari masa lalu (sebelum abad 19) yang menggambarkan paus sebagai monster laut pun ditampilkan dalam ukuran besar hingga memenuhi dinding museum. Adapula sketsa mengenai seekor paus terdampar yang dijadikan tontonan masyarakat.

Kemudian, kami pun bertemu dengan paus yang āterdampar betulanā di lantai museum. Kami bisa masuk dan keluar ke dalam tubuh paus ini melalui mulutnya, melewati plat-plat balin yang menggantung di mulut paus. Pengunjung juga bisa mencoba melihat keluar dari sisi dalam bola mata sang paus, serta melihat jantung paus yang memiliki 4 ruang. Seru!

Ketika masyarakat sudah mulai tahu lebih banyak mengenai paus, maka selanjutnya paus pun mulai diburu dan industri whaling mulai berkembang, terutama di abad 19. Industri whaling berkembang karena minyak, daging, dan tulang paus dijadikan berbagai produk. Dari margarin, parfum, gagang payung, crinoline (rok dalaman perempuan di abad 19), hingga senar raket tenis.
Selain display produk-produk yang berasal dari tubuh paus, ada permainan juga yang membantu display menjadi lebih interaktif. Intinya, pengunjung harus mencocokan bagian tubuh paus yang mana yang menghasilkan produk apa.


Alat-alat perburuan paus juga dipajang di museum. Alatnya macam-macam, dari semacam tombak, kapak, sampai alat yang berbentuk seperti gergaji. Saya jadi kebayang, pekerjaan whaling atau berburu paus pastilah dulu berbahaya.

Selain itu, museum juga menceritakan tentang pasangan pengusaha Belanda yang sukses berbisnis di industri whaling di abad 19. Kisah mereka diceritakan melalui lukisan digital yang dapat bergerak dan berbicara. Adapula rekaman sejarah lisan yang dituturkan oleh kapten kapal yang biasa berburu paus. Bagi saya pribadi, adanya sentuhan cerita personal seperti ini membuat museum lebih "manusiawi".

Di museum, diceritakan pula bahwa daging paus āmenyelamatkanā Belanda dari krisis pangan setelah Perang Dunia 2. Namun, karena jumlah paus terus berkurang, maka industri whaling kemudian dilarang di ranah internasional. Perburuan paus terakhir terkait indusri whaling di Belanda dilakukan di tahun 1960-an.
Perburuan paus besar-besaran dan industri whaling di masa lalu inilah yang membuat populasi paus menurun drastis dan kini paus menjadi mamalia yang terancam punah.
Pameran kemudian membahas mengenai jenis-jenis spesies paus dan cara hidup mereka, baik paus yang bergigi maupun paus yang memiliki plat balin (tak bergigi). Saya ingat salah satu spesies yang dibahas adalah blue whale dan sperm whale.

Bahkan, ada pula bagian-bagian tubuh paus (potongan sirip, balin, dan gigi) yang sudah diawetkan dan boleh dipegang oleh pengunjung. Selain itu, ditampilkan pula bayi paus yang diawetkan di dalam air keras.
Pengunjung juga dapat bermain dengan memutar-mutar display paus biru terkait ukuran paus. Dari display ini diketahui bahwa ukuran paus biru bahkan lebih besar daripada gajah, bis, atau bahkan lebih besar daripada dinosaurus! Paus biru adalah mamalia terbesar di dunia.

Terakhir, pameran membahas mengenai paus sebagai hewan yang dilindungi karena terancam punah. Paus pun bertransformasi dari monster laut menjadi boneka empuk yang dapat dipeluk-peluk. Untuk menunjang informasi ini, museum menampilkan satu tabung yang penuh berisi boneka paus keluaran NGO yang bergerak di bidang lingkungan hidup.

Di bagian akhir pameran, ada pula ekor paus yang ceritanya sedang menyelam masuk ke dalam air. Display ini bouncy, boleh dinaiki, bahkan merupakan tempat yang disediakan bagi pengunjung (terutama anak-anak) untuk bermain dan melompat-lompat. Tak lupa, ada pula lukisan 3D tempat pengunjung dapat "berfoto" dengan walvis, eh, paus.

Pameran The Tale of the Whale ini tampaknya berkesan sekali bagi anak-anak saya. Sesampainya kami di rumah, saya bertanya ādi museum tadi lihat apa?ā. Mereka serempak menjawab āwalvisā (baca: paus). Kemudian, mereka juga heboh bercerita bahwa di museum mereka melompat-lompat di ekor paus dan masuk ke dalam mulut paus seperti Nabi Yunus dan Geppetto (papanya Pinocchio).
Ah, sepertinya pengalaman bermain dan masuk ke mulut paus inilah yang paling berkesan bagi mereka.
Saya jadi menyadari bahwa di pameran The Tale of the Whale, hanya display lukisan pengusaha paus yang ditampilkan menggunakan teknologi. Itu pun teknologinya di customise. Namun, ternyata bukan lukisan yang dapat berbicara yang menjadi bagian favorit bagi anak-anak saya.
Artinya, tanpa teknologi digital pun sebenarnya tata pamer museum bisa didesain interaktif dan tetap berkesan bagi pengunjung.

Ehm, tapi... Tetap bingung bagaimana caranya membuat pameran museum yang interaktif tanpa banyak "campur tangan" teknologi digital? Museum Ceria InsyaAllah bisa membantu. Silahkan kontak kami ya...




Komentar