top of page

Maritime Experiential Museum, Singapura: Jalur Sutera Maritim (dan Koleksi Replika)

  • Gambar penulis: Ajeng Arainikasih
    Ajeng Arainikasih
  • 23 Sep 2022
  • 3 menit membaca

Disclaimer: Tulisan ini sudah pernah dipublikasi sebelumnya di buku #MuseumTravelogue Asia (Stiletto Indie Book, 2019).


Maritime Experiential Museum, Singapura. Photo: Ajeng Arainikasih

“Wow! Ada kapal Nabi Nuh!” Itulah impresi pertama saya saat melihat display kapal kayu besar setinggi 2-3 lantai bangunan di dalam Maritime Experiential Museum yang berada di area Resort World di Pulau Sentosa, Singapura.


Mengapa kapal Nabi Nuh? Karena di dalam kapal ada figur jerapah dan badak. Berhubung membawa binatang sebagai muatan kapal, maka saya pikir kapal tersebut adalah kapal Nabi Nuh. Ternyata impresi saya salah! Kapal tersebut adalah replika dari kapal Laksamana Cheng Ho.


Maritime Experiential Museum, Singapura. Photo: Ajeng Arainikasih

Saat mengunjungi Maritime Experiential Museum di tahun 2015, museum menceritakan mengenai jalur sutera maritim yang terbentang dari Cina, daerah-daerah di Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Timur Tengah, hingga ke pantai timur Afrika. Terutama berdasarkan ekspedisi yang dilakukan oleh Laksamana Cheng Ho.


Masuk ke ruang pamer, saya langsung disambut dengan suasana di pelabuhan Quanzhou di Cina. Keramik-keramik Cina dan komoditas perdagangan lainnya dipajang untuk mengilustrasikan kegiatan perdagangan di jalur sutera maritim tersebut.


Selain pelabuhan Quanzhou, suasana pelabuhan Palembang, Galle (Sri Lanka), Kalkuta (India), Muscat (Oman) dan Malindi (Kenya) juga direkonstruksi. Lengkap dengan komoditas perdagangannya masing-masing. Display ini menggambarkan dengan jelas keanekaragaman komoditas perdagangan di Jalur Sutera Maritim saat Laksamana Cheng Ho melakukan ekspedisinya.


Maritime Experiential Museum, Singapura. Photo: Ajeng Arainikasih

Semua komoditas perdagangan yang dipajang di area rekonstruksi pelabuhan tersebut adalah replika dan dapat disentuh oleh pengunjung. Selain itu, ada kegiatan interaktif dan permainan yang dapat dilakukan di masing-masing pelabuhan, baik secara manual maupun digital. Misalnya, mencium bau-bauan dari komoditas perdagangan yang ada, memakai henna, atau bermain game di layar sentuh yang disediakan.


Maritime Experiential Museum, Singapura. Photo: Ajeng Arainikasih

Setelah “menjelajahi” berbagai pelabuhan yang ada, pengunjung kemudian dapat menikmati sensasi naik kapal yang tenggelam karena terkena badai di teater 4 dimensi. Sayangnya, untuk masuk ke teater 4D ini harus bayar lagi karena tiketnya tidak termasuk harga tiket museum. Tidak mahal sih, hanya agak ribet saja menurut saya.


Lalu, alur pameran membawa pengunjung tepat ke bagian depan replika kapal Laksamana Cheng Ho yang awalnya saya kira kapal Nabi Nuh. Melalui media layar sentuh yang diletakkan di gentong kayu, pengunjung dapat membaca berbagai informasi terkait muatan kapal.


Informasinya beragam, dari tips membawa teh (sebagai komoditas perdagangan) agar awet saat mengarungi lautan, hingga kisah membawa balik jerapah dan badak dari Kenya ke Cina. Pesan pelestarian badak sebagai binatang langka yang dilindungi juga disisipkan disini.


Maritime Experiential Museum, Singapura. Photo: Ajeng Arainikasih

Di dekat “gentong kayu” ini dipamerkan juga artefak asli berupa keramik-keramik yang berasal dari kapal tenggelam. Seingat saya jumlahnya tidak terlalu banyak dan mereka diletakkan di dalam lemari kaca. Tampaknya, inilah satu-satunya objek-objek asli di museum.


Apakah boleh museum menampilkan lebih banyak koleksi replika daripada artefak asli? Menurut saya, selama museum menjalankan fungsi pokoknya dalam rangka menyimpan, merawat, meneliti, serta mengkomunikasikan nilai dan informasi dari koleksinya, maka tidak masalah apabila museum menggunakan (lebih banyak koleksi) replika untuk menunjang tata pamernya.


Tiga tahun kemudian, saya kembali lagi ke Maritime Experiential Museum ini demi menemani suami saya yang “hobi” berkunjung ke museum maritim. Surprisingly, tata pamernya telah berubah total dari tahun 2015.


Display mengenai berbagai pelabuhan yang disinggahi oleh Laksamana Cheng Ho sudah berganti. Begitu pula replika kapalnya yang (awalnya) menampilkan ekspedisi yang dilakukan oleh Laksamana Cheng Ho.


Museum juga tidak hanya membahas mengenai Laksamana Cheng Ho, tetapi menampilkan pula narasi mengenai Marco Polo, Sang Nila Utama, dan Ibnu Battuta.


Maritime Experiential Museum, Singapura. Photo: Ajeng Arainikasih

Selain itu, Maritime Experiential Museum juga menceritakan mengenai sejarah perdagangan di wilayah Asia Tenggara secara umum sambil membahas mengenai komoditas perdagangan apa saja yang dibawa oleh pedangang Cina, India, dan Arab ke Asia Tenggara. Tentunya, semua yang di display boleh dipegang!


Maritime Experiential Museum, Singapura. Photo: Ajeng Arainikasih

Maritime Experiential Museum, Singapura. Photo: Ajeng Arainikasih

Kerennya, museum secara gamblang menuliskan bahwa yang dibawa oleh pedagang Eropa ke Asia Tenggara adalah kolonialisme!


Di museum, pengunjung juga diberi kesempatan untuk “bermain peran” sebagai pelaut dengan cara belajar membaca peta dan kompas, serta belajar mengikat tali temali.


Maritime Experiential Museum, Singapura. Photo: Ajeng Arainikasih

Ada pula miniatur kapal seperti miniatur kapal Jung dari Cina dan miniatur kapal (seperti yang dipahatkan pada relief) Borobudur. Namun, koleksi andalan Maritime Experiential Museum adalah the Jewel of Muscat. Yakni, replika kapal Arab dari abad ke-9 yang dibuat secara tradisional dan dihadiahkan oleh Kesultanan Oman untuk Singapura di tahun 2010.


Maritime Experiential Museum, Singapura. Photo: Ajeng Arainikasih

Terakhir, sebelum keluar dari museum, dibahas pula 4 pelabuhan utama dalam jalur sutera maritim di masa lalu. Yakni pelabuhan Quanzhou (Cina), Malaka (Malaysia), Kalkuta (India), dan Muscat (Oman).


Maritime Experiential Museum, Singapura. Photo: Ajeng Arainikasih

Sayangnya, saat itu saya dan suami tidak memiliki banyak waktu untuk menjelajahi museum karena kami harus mengejar pesawat untuk kembali ke Jakarta. Jadi, display pelabuhan-pelabuhan ini tidak sempat kami eksplorasi secara mendetail.


Tampaknya sudah waktunya saya kembali ke Singapura, Aamiin! Soalnya, setiap saya ke Singapura biasanya pameran museum (baik permanen maupun temporer) pasti ada saja yang berbeda dan berubah.


Lagipula, saya setuju dengan pepatah Ibnu Battuta yang menyatakan bahwa: "Traveling - it leaves you spechless, then it turns you into a storyteller." Biar saya bisa terus cerita pengalaman jalan-jalan ke museum-museum, ya kaan...


Maritime Experiential Museum, Singapura. Photo: Ajeng Arainikasih

Komentar


© 2023 by NOMAD ON THE ROAD. Proudly created with Wix.com

bottom of page