Museum of the Prophet's Biography and Islamic Civilization, Madinah: Digital Fatigue
- Ajeng Arainikasih

- 13 Agu 2023
- 2 menit membaca

Saya dan suami beruntung, di tahun 2022 kami berkesempatan Umroh Ramadhan tepat ketika Arab Saudi baru membuka diri kembali setelah pandemi Covid-19 berkecamuk. Menghabiskan waktu cukup lama di Madinah, kami mengunjungi Museum of the Prophet's Biography and Islamic Civilization yang terletak tepat di luar pagar komplek Masjid Nabawi.
Kami harus membayar US $10 per orang dan menunggu di lobi museum sebelum tur dimulai. Tentunya kami ikut grup tur berbahasa Inggris. Menurut pemandu museum, saat itu bahasa yang "ready" baru Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Walaupun rencananya akan ada bahasa lain termasuk Bahasa Indonesia.
Museum ini menceritakan tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW dan orang-orang (keluarga dan sahabat) di sekitar beliau. Juga mengenai keidupan di Kota Mekah dan Madinah di zaman Nabi Muhammad SAW hidup.
Museum of the Prophet's Biography and Islamic Civilization ingin menonjolkan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang mendapat mukjizat dari Allah dan mendapat wahyu berupa Al-Quran.
Tata pamer Museum of the Prophet's Biography and Islamic Civilization dirancang 100% menggunakan media digital. Namun, kami sama sekali tidak boleh mengambil foto kecuali di lobi dan di toko suvenir di akhir rute kunjungan.


Sebetulnya, konten atau informasi yang disampaikan sangat menarik. Namun, penyampaiannya yang 100% menggunakan media digital malah membuat lelah (museum fatique) dan kesal, bukannya memberikan kesan "wow" atau menakjubkan.
Saya, yang biasanya selalu suka untuk pergi ke museum manapun, jujurnya, bukan fans museum ini!
Bagi saya, rasanya sangat melelahkan (dan menyebalkan) untuk mendengarkan pemandu yang menceritakan kepada saya berbagai informasi menarik, tetapi yang kami lihat hanya layar sentuh. Pun kami tidak boleh mengakses sendiri layar-layar sentuh tersebut. Apabila diperbolehkan, rasanya saya juga tidak akan bisa mengerti apapun karena hampir semua isi layar sentuh ditulis dalam huruf dan Bahasa Arab.
Menurut suami saya, mungkin karena di agama Islam tidak boleh menampilkan mahluk hidup, maka ada keterbatasan dalam memvisualisasikan informasi yang ingin disampaikan. Jadi, solusinya, tata pamer museum (yang berisi tulisan) disampaikan 100% menggunakan teknologi digital layar sentuh.
Bahkan, koleksi yang dipamerkan pun berbentuk digital! Walaupun demikian, koleksi-koleksi virtual tersebut tetap diletakkan di dalam vitrin kaca. Karena digital, maka koleksi virtual tersebut dapat diputar-putar dan dilihat dari segala sisi.
Satu-satunya yang tidak berbentuk digital adalah dua maket Kota Mekah dan Kota Madinah di era Nabi Muhammad SAW ketika beliau masih hidup.
Sebetulnya saya tidak "memusuhi" teknologi digital di museum. Namun, saya menganut paham "museum is experince".
Daripada menampilkan maket kota secara pasif, akan lebih menarik kalau suasana kota dan fasade bangunan-bangunan dibuat seperti nyata dalam bentuk 3D. Kalaupun harus dibuat digital, teknologi augmented reality, virtual reality, ataupun imersif bisa menjadi opsi.
Jadi, pengunjung tidak hanya pasif melihat/mendengarkan dan membaca tulisan di layar digital saja. Selain indera pengelihatan, sebenarnya tata pamer museum juga bisa mengoptimalkan indera peraba, pendengaran, dan penciuman - walaupun menggunakan bantuan media digital.
Anyway, ada yang sudah pernah berkunjung ke museum ini? Bagaimana pendapat kalian?
Salam,





Komentar