top of page

Van Gogh Museum, Amsterdam: Reuni Nyeni!

  • Gambar penulis: Ajeng Arainikasih
    Ajeng Arainikasih
  • 7 Jan 2022
  • 3 menit membaca

Di bulan Maret 2017, X (salah seorang sahabat saya dari Australia ketika saya kuliah dahulu) berkunjung ke Amsterdam. Kebetulan saat itu saya sedang tinggal di Belanda. Tentu saja, sebagai alumni jurusan Art History, tempat tujuan utama reuni kami sudah jelas: Van Gogh Museum.


Kebetulan saya juga belum pernah berkunjung ke museum tersebut. Untung saja saat itu akhir musim dingin dan belum “musim turis”. Jadi, Van Gogh Museum agak lebih sepi dari biasanya. Walaupun bermodalkan go-show, X tidak perlu lama mengantri untuk masuk ke museum.


Van Gogh Museum, Amsterdam. Foto: Wikipedia. CC BY-SA 3.0

Saya? Sebagai penduduk Belanda, dengan menunjukkan museumkaart (semacam kartu langganan museum), saya terbebas dari kewajiban harus mengantri dan booking in advance seperti turis-turis pada umumnya. Saya boleh melenggang masuk ke museum kapan saja saya mau, gratis.


Alur tata pamer Van Gogh Museum dimulai di bawah tanah. Sebagai preambul, museum membahas mengenai latar belakang kehidupan van Gogh, lengkap dengan timeline hidupnya.


Tetapi, kami agak sedikit kecewa karena ternyata di museum ini fotografi dilarang! Pengunjung sama sekali tidak boleh memotret karya seni yang ditampilkan, bahkan dari kamera HP sekalipun. Hiks… Fotografi hanya diperbolehkan di tempat-tempat tertentu yang disediakan, dan tentunya bukan di ruang pamer.


Saya jadi double patah hati. Pertama, karena tidak bisa punya kenang-kenangan berfoto bersama sahabat saya dengan latar belakang karya salah satu seniman idola kami. Kedua, saya jadi tidak bisa mengabadikan tata pamer museum untuk kepentingan mengajar.


Selesai dari bawah tanah, kami kemudian naik lift dan mulai menjelajahi ruangan-ruangan pameran museum yang menampilkan lukisan-lukisan karya van Gogh sesuai tema lukisan dan kronologi pembuatan lukisan.


Van Gogh's The Potato Eaters (1885). Foto: Wikipedia. Public Domain

Kami memulai dari ruangan tempat lukisan The Potato Eaters (1885) dipajang. Lukisan tersebut adalah salah satu masterpiece karya awal van Gogh sebelum gaya seninya berubah menjadi gaya post-impressionist.


Menurut saya, cara Van Gogh Museum memamerkan koleksi dan kisah tentang Vincent van Gogh sebetulnya oke. Museum tidak hanya menampilkan lukisan, tetapi juga menampilkan gambar/sketsa dan surat-surat van Gogh.


Selain itu, di setiap ruangan juga ada semacam display yang memajang benda-benda yang menunjang kegiatan van Gogh untuk melukis. Misalnya, ada offset kelelawar yang mendampingi lukisan van Gogh berjudul Flying Fox (1884).


Lukisan Flying Fox yang menggambarkan kelelawar tropis ini dianggap tidak biasa. Para sejarawan seni menduga bahwa model kelelawar yang dipakai untuk melukis adalah stuffed-animal koleksi seorang kolektor binatang eksotis kenalan van Gogh.


Saat saya berkunjung ke Van Gogh Museum, museum juga sedang memamerkan 2 lukisan van Gogh: Congregation Leaving the Reformed Church in Nuenen (1884/1885) dan View of the Sea at Scheveningen (1882).


Dua lukisan ini spesial karena mereka baru saja kembali ke museum setelah hilang dicuri selama 14 tahun! Museum pun dengan bangga menampilkan kedua lukisan yang sudah selesai di konservasi (dibersihkan).


Van Gogh's View of the Sea at Scheveningen (1882). Foto: Wikipedia. Public Domain

Walaupun tidak boleh mengambil foto, saya dan X tetap senang karena bisa melihat langsung karya-karya masterpiece van Gogh. Misalnya Sunflowers (1889), The Yellow House (1888) dan The Bedroom (1888).


Kami sangat terbawa suasana nostalgia saat dahulu saya dan X sering menghabiskan waktu bersama di museum-museum seni di Australia. Saat itu kami bahkan yakin bahwa di akhir pameran kami akan melihat lukisan The Starry Night (1889) yang sangat terkenal itu.


Van Gogh's Starry Night (1889). Foto: Wikipedia. Public Domain

Namun, kenyataannya kami sama sekali tidak menjumpai lukisan The Starry Night dimanapun di Van Gogh Museum! Setelah beberapa saat, kami kemudian baru teringat bahwa lukisan tersebut merupakan koleksi MoMA – Museum of Modern Art – di New York, dan bukannya koleksi Van Gogh Museum di Amsterdam.


Kalau sampai professor Art History saya tahu tentang kealpaan ini, bisa diketok saya karena memalukan beliau, hehe…


Sebelum pulang, saya dan X juga tidak sengaja menemukan display 5-senses terkait lukisan Sunflowers di dekat café museum. Ada pot bunga yang dapat dipegang oleh pengunjung, ada aroma wangi bunga matahari yang dapat dicium baunya, dan ada replika lukisan Sunflowers berukuran besar sebagai media tactile.


Van Gogh's Sunflowers (1889). Foto: Wikipedia. Public Domain

Tentu saja pengunjung boleh berfoto dan memegang lukisan ini. Saya dan X pun memutuskan untuk “balas dendam”. Kami puas-puasin memegang dan berfoto dengan lukisan ini. Kapan lagi kan boleh pegang-pegang lukisan van Gogh di museum?


Pengalaman ke Van Gogh Museum ini sungguh merupakan sebuah reuni nyeni yang menyenangkan!


Komentar


© 2023 by NOMAD ON THE ROAD. Proudly created with Wix.com

bottom of page