top of page

Van Abbemuseum, Eindhoven: Museum Seni dan Sejarah Kontroversial dari Digul

  • Gambar penulis: Ajeng Arainikasih
    Ajeng Arainikasih
  • 20 Jan 2022
  • 3 menit membaca


Di bulan April 2017, seorang teman mengajak saya ke Eindhoven untuk menghadiri sebuah acara diskusi di museum seni bernama Van Abbemuseum. Diskusinya bertajuk “FRAGMENTS EXTENDED. About the Struggle for Independence in Dutch East Indies”.


Diskusi ini diselenggarakan dalam rangka pameran temporer yang sedang berlangsung saat itu di Van Abbemuseum: FRAGMENTS [OF A DESIRE FOR REVOLUTION].


Van Abbemuseum, Eindhoven. Foto: Ajeng Arainikasih, 2017

Jujurnya, ini kali pertama saya menyaksikan pameran fotografi berbasis sejarah kolonial yang bersingunggan dengan paham komunisme. Cukup menarik sih, karena saya jadi belajar untold history dan sejarah kontroversial yang tidak pernah dibahas di Indonesia.


Pameran ini dikuratori oleh Christiane Berndes, namun karya yang ditampilkan merupakan karya dari seniman (fotografer) tunggal Lidwien van de Ven. Karya yang dipamerkan berupa instalasi foto dan video, serta arsip.


Foto: Ajeng Arainikasih, 2017

Dalam karyanya, van de Ven mengulik sejarah kolonial di Boven Digoel, Papua. Terutama mengenai kamp pembuangan orang-orang yang dianggap terkait dengan paham komunis di Hindia Belanda.


Paham komunis dibawa ke Hindia Belanda oleh Henk Sneevliet, seorang Belanda yang di tahun 1914 mendirikan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV). Partai tersebut merupakan cikal bakal Partai Komunis Indonesia.


Tahanan politik yang dibuang ke Boven Digoel Papua, 1927. Foto: Wikipedia. Public Domain

Pasca pemberontakan komunis tahun 1926, orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tersebut dibuang ke Boven Digoel, Papua. Tepatnya ke Tanah Merah dan Tanah Tinggi.


Walaupun kondisi di Boven Digoel saat itu sangat buruk dengan adanya penyakit Malaria hingga kanibalisme, namun, kamp tetap eksis hingga tahun 1943.


Tahun 1943 para tawanan politik dipindahkan ke Australia karena pemerintah kolonial Belanda takut apabila kamp sampai jatuh ke tangan Jepang. Apabila hal tersebut terjadi, maka ada kemungkinan para tahanan kemudian akan menjadi kolaborator Jepang.


Dalam pameran FRAGMENTS [OF A DESIRE FOR REVOLUTION] ini, van de Ven mereproduksi foto-foto tua dan arsip yang memperlihatkan situasi Boven Digoel di era kolonial.


Pameran Fragments [of a desire for revolution] di Van Abbemuseum, Eindhoven 2017. Foto: Ajeng Arainikasih

Kemudian, van de Ven menggabungkan foto-foto tua tersebut dengan karyanya sendiri. Yakni foto-foto dan instalasi video yang menggambarkan situasi terkini di Kabupaten Boven Digoel.


Saat hunting foto, van de Ven melakukan napak tilas sejarah dari catatan yang ditulis oleh seorang tahanan di Digoel, yaitu Abdoel Chalid Salim alias Ignatius Franciscus Michael Salim.


Chalid Salim merupakan wartawan, tokoh pergerakan kemerdekaan, dan aktivis komunis dari Sumatera Barat. Ia ditahan di Boven Digoel selama 15 tahun (1928-1943). Chalid Salim juga merupakan adik dari Haji Agus Salim, Pahlawan Nasional Indonesia.


Foto: Ajeng Arainikasih, 2017

Selain itu, van de Ven juga memeriksa catatan J. L. A. Schoonheyt, seorang dokter yang bertugas di Digoel tahun 1932-1934.


Beberapa foto, baik foto lama maupun baru, ditampilkan dalam ukuran kecil, sedangkan beberapa dicetak dalam ukuran besar. Saya sendiri paling suka foto lama yang menampilkan pemeriksaan antropologi fisik terkait warna mata para tahanan di Digoel. Betul-betul seperti melihat sebuah untold history.


Foto: Ajeng Arainikasih, 2017

Foto-foto baru dan lama tersebut ditampilkan di dinding ruangan. Ruangannya sendiri seakan-akan dibelah menjadi dua ruangan lebih kecil, dengan pembatas yang menampilkan video instalasi. Sedangkan, di sisi tengah ruangan ada meja-meja panjang.


Di salah satu meja panjang (yang ditutup dengan vitrin kaca) ada reproduksi arsip serta tulisan-tulisan (novel dan puisi) dari Mas Marco Kartodikromo. Mas Marco Kartodikromo merupakan jurnalis (beraliran komunis) yang juga menginginkan Indonesia merdeka dari cengkraman Belanda.


Mas Marco Kartodikromo. Foto: Wikipedia. Public Domain

Mas Marco dikirim ke Boven Digoel setelah pemberontakan komunis tahun 1926. Ia meninggal dunia di Digoel karena penyakit malaria di tahun 1932.


Meja lain (tanpa vitrin kaca) berisi replika arsip yang dapat dibaca oleh pengunjung. Tentunya, untuk memegang replika arsipnya, pengunjung harus menggunakan sarung tangan yang disediakan.



Namun, ada satu hal yang menurut saya kurang dari pameran ini, yakni label keterangan foto. Oleh karena konsep pameran adalah pameran fotografi, maka unsur estetis lebih diutamakan. Foto ditampilkan tanpa label keterangan.


Walaupun demikian, label tidak sepenuhnya absen. Ada booklet berukuran besar yang dapat diambil di dekat pintu masuk ruangan. Booklet tersebut berisi denah karya di dalam ruangan beserta keterangan untuk setiap foto/arsip yang ditampilkan.


Denah dan label pameran. Foto: Ajeng Arainikasih, 2017

Tetapi, bagi saya, sistem pelabelan koleksi seperti itu agak menyulitkan. Saya harus bolak balik melihat denah dan memastikan bahwa karya yang saya lihat cocok dengan keterangan yang saya baca di lembaran denah. Pesan pameran (of a desire for revolution) jadi agak kurang tersampaikan.


Padahal, pesan yang saya tangkap dari pameran ini adalah, di masa kolonial Hindia Belanda ternyata ada lho orang-orang beraliran kiri yang dibuang ke Boven Digoel (seperti Chalid Salim dan Mas Marco Kartodikromo) yang ternyata juga menginginkan dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.


Pameran ini membuka mata saya bahwa museum seni ternyata bisa menampilkan tema sejarah kontroversial dan untold history yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya.

Komentar


© 2023 by NOMAD ON THE ROAD. Proudly created with Wix.com

bottom of page