South Australian Maritime Museum, Adelaide: Program Edukasi Museum
- Ajeng Arainikasih

- 9 Sep 2022
- 5 menit membaca
Disclaimer: Tulisan ini sudah dimuat di buku #MuseumTravelogue Australia (Stiletto Indie Book, 2018) dan dibuat berdasarkan memori saya saat mengerjakan tesis di tahun 2008 silam. Untuk program edukasi South Australian Maritime Museum terkini, silahkan cek langsung di website museum.

Tema mini thesis saya adalah museum education. Kebetulan salah satu contoh kasusnya adalah program edukasi di South Australian Maritime Museum, Adelaide. Jadi, dalam rangka menulis tesis, saya harus ‘ngintilin’ edukator South Australian Maritime Museum dalam melaksanakan program edukasi museum, terutama untuk rombongan anak sekolah.
Di Australia, tugas edukator museum bukan hanya memandu pengunjung keliling museum lho! Lantas mereka ngapain? Tugas mereka merancang program yang active learning dan menjalankannya (termasuk melatih tim edukasi dan pemandu untuk menjalankan program). Edukator museum juga harus melakukan evaluasi program dan membuat networking dengan para guru dan pihak lain.
Program edukasi museum juga tidak sama dengan pemanduan. Apabila museum memiliki program guided tour, biasanya program tersebut disediakan pada waktu-waktu tertentu. Jadi, pemandu tidak bertugas memandu setiap pengunjung yang datang.
Begitu pula dengan rombongan sekolah. Program edukasi museum untuk rombongan anak sekolah tidak berbentuk pemanduan satu arah: pemandu menjelaskan dan anak sekolah mendengarkan sambil mencatat. Program edukasi museum biasanya active learning.
Teori Edukasi di Museum
Menurut para ahli, kunjungan ideal anak sekolah ke museum harus dilakukan dalam 3 tahap kegiatan, yakni pre-visit, museum visit, dan post-visit. Kegiatan pre-visit dilakukan di sekolah oleh guru masing-masing. Maksudnya, di kelas sebelum ke museum anak-anak sudah harus membahas atau mempelajari tema yang akan mereka eksplor di museum nantinya.
Guru kelas idealnya juga melakukan survei ke museum tujuan dan memesan waktu kunjungan serta memilih program yang akan diikuti. Museum-museum di Australia biasanya memiliki pilihan program edukasi yang menunjang pameran permanen ataupun temporer museum dan diperuntukkan khusus untuk siswa sekolah.
Lalu, kegiatan saat kunjungan museum pun idealnya dilakukan dengan cara active learning. Siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan melakukan berbagai aktivitas seperti melakukan eksperimen, bermain peran, membuat prakarya, memegang koleksi, mendengarkan storytelling, berdiskusi, dan melakukan berbagai permainan sesuai tema terentu.
Jadi, anak sekolah tidak lagi hanya dipandu mengelilingi seluruh bagian museum secara pasif dalam grup besar. Kegiatan ini biasanya dapat dilakukan secara mandiri bersama guru sekolah masing-masing, ataupun dengan bantuan edukator museum. Kegiatannya juga dilakukan secara paralel dan di rolling.
Sedangkan kegiatan post-visit lagi-lagi dilakukan di sekolah setelah kunjungan ke museum berakhir. Kegiatannya dapat berupa menulis laporan, presentasi, bermain peran, membuat prakarya mengenai pengalaman ke museum, dan lain-lain. Terkadang beberapa museum bahkan memberikan ide atau suggestion untuk post-visit activity yang sesuai dengan topik program edukasi mereka.

Kembali ke South Australian Maritime Museum, museum ini bertempat di bangunan tua dan berada di daerah Port Adelaide, dekat dengan sungai dan laut. Kebetulan daerah Port Adelaide ini memang tempatnya lumba-lumba. Apabila beruntung, kita dapat melihat lumba-lumba berlompatan di bagian sungai yang dekat dengan laut.
Melalui dua program edukasi South Australian Maritime Museum yang berjudul 'Dolphin Discovery' dan 'Life On Board', saya akan bercerita mengenai program edukasi museum di Australia.
'Dolphin Discovery'
Program ‘Dolphin Discovery’ sendiri terdiri atas 3 aktivitas paralel: 1) eksplorasi tata pamer permanen museum (dan menonton film tentang lumba-lumba di ruang pamer); 2) eksplorasi Port Adelaide untuk melihat lumba-lumba di habitat aslinya; dan 3) bermain serta bereksperimen mengenai lumba-lumba di ruangan khusus (education room).

Dalam satu kali kunjungan sekolah, masing-masing aktivitas akan dilakukan sebanyak 3x, sehingga setiap anak akan melakukan semua kegiatan secara bergantian.
Kegiatan yang dilakukan di dalam ruang edukasi adalah melakukan eksperimen dalam rangka mempelajari mengenai lapisan lemak lumba-lumba dan cara lumba-lumba mencari makan.
Pada eksperimen pertama, anak-anak diminta memasukkan tangan mereka ke air es. Tentu saja mereka akan merasa dingin. Lalu timbul pertanyaan, bagaimana caranya lumba-lumba bisa tidak kedinginan padahal mereka berenang di air laut yang dingin?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, anak-anak kemudian diminta memakai sarung tangan yang telah dilapisi semacam gel dan memasukkan tangan mereka lagi ke air es. Tentu saja setelah ada lapisan gel di sarung tangan maka mereka tidak kedinginan.
Dari eksperimen itu, edukator museum lantas menjelaskan mengenai blubber, lapisan lemak di bawah kulit lumba-lumba yang membantu lumba-lumba tetap hangat.
Lumba-lumba juga mencari makan tidak dengan pengelihatannya, namun melalui sonar. Untuk mempelajari hal ini, anak-anak diminta untuk bermain peran.
Anak-anak yang berperan sebagai lumba-lumba ditutup matanya, sedangkan yang berperan sebagai ikan (makanan lumba-lumba) membawa lonceng. Mereka kemudian diperkenankan untuk berlarian menangkap “makanan” mereka berdasarkan bunyi lonceng, bukan dengan pengelihatan.
Di ruangan khusus edukasi ini anak-anak juga dapat memakai kostum lumba-lumba dan membaca buku cerita tentang lumba-lumba. Anak-anak juga dapat membantu membebaskan boneka lumba-lumba yang terjerat “sampah”. Boneka lumba-lumba yang terjerat sampah ini merupakan pelajaran bahwa membuang sampah - terutama sampah plastik - ke laut dapat membahayakan hidup lumba-lumba dan hewan laut lainnya.
'Life on Board'
Program ‘Life on Board’ lain lagi. Program ini membahas mengenai kehidupan imigran kelas 3 di kapal yang berlayar selama sekitar 100 hari dari Inggris ke South Australia di pertengahan abad 19.
Di ruang pameran permanen museum yang berupa replika geladak kapal kayu dengan tempat tidur kayu, anak-anak dapat merasakan bagaimana para imigran tersebut tidur. Satu tempat tidur harus ditempati oleh 2 orang. Misalnya pasangan suami istri, atau, kalau belum menikah, mereka harus berbagi tempat tidur dengan sesama penumpang lajang lain yang sama jenis kelaminnya. Kalau mereka penumpang keluarga? Ya satu tempat tidur untuk satu keluarga! Sumpek ya!

Penumpang kelas 3 juga tidak boleh keluar dari dek dan tidak boleh memasak. Hanya ada 2 orang yang yang diperbolehkan keluar bergantian setiap harinya. Yakni yang bertugas mengambil makanan yang telah dimasak untuk penumpang 1 dek dari dapur kapal, dan yang bertugas membuang isi toilet ke laut! Yucks!
Dalam program ini, anak-anak diberikan tantangan untuk merancang menu makan dari bahan-bahan yang tersedia di kotak bahan makanan (propertinya disediakan oleh museum). Mereka juga harus membuat dan memakaikan popok kain pada boneka bayi (dalam rangka belajar kalau pada masa itu popok terbuat dari kain yang harus dicuci dan dipakai ulang, berbeda dengan popok sekali pakai seperti saat ini).

Total waktu yang digunakan untuk aktivitas-aktivitas edukasi di museum maksimal 2 jam (atau bahkan kurang). Tapi, berhubung tema yang dibahas dalam kunjungan museum hanya spesifik satu tema saja, maka anak-anak malah mendapatkan pengetahuan yang mendalam setelah selesai berkunjung dari museum.
Tanpa harus membagi-bagi hadiah quiz, anak-anak sudah senang berkunjung ke museum karena aktivitasnya menyenangkan!
Memahami cara kerja edukator museum di South Australian Maritime Museum membuat saya terinspirasi untuk mendirikan Museum Ceria di tahun 2010 setelah lulus S2. Museum Ceria adalah independent museum educator and creative consultant pertama di Jakarta (bahkan mungkin di Indonesia) yang bertujuan membuat anak-anak Indonesia mencintai warisan alam, sejarah, dan budaya Indonesia melalui kunjungan ke museum yang menyenangkan.
Ternyata, melalui Museum Ceria, saya juga bisa menjalankan program edukasi untuk anak-anak sekolah ke museum (di Jakarta) dengan cara yang active learning seperti di museum-museum Australia, walaupun dengan aktivitas yang lebih sederhana. Terbukti, konsep museum edukasi yang active learning seperti ini bukan hal yang mustahil untuk dilakukan di Indonesia.




Komentar