Singapore-Syonan, Museum, dan Politik Sejarah Sosial
- Ajeng Arainikasih

- 5 Feb 2021
- 7 menit membaca
Diperbarui: 9 Sep 2021

Hello!
Minggu lalu, gue, Retno dan Argi sudah bahas Malaysia, nah minggu ini kami mau melipir ke negara tetangganya yang dulu pada zaman Jepang bernama Syonan-to atau Cahaya dari Pulau Selatan. Negara mana hayo yang dimaksud? Tidak lain dan tidak bukan tentu Singapura! Eh tapi sebelum mulai, kalau ada yang ingin mendengarkan versi podcast nya, silahkan klik disini ya: Spotify, Anchor, Google Podcasts. Berikut adalah list museum yang akan dibahas:
Daftar Isi:
Jadi, Jepang masuk ke Singapura dari Semenanjung Malaysia. Setelah Battle of Singapore, di bulan Februari 1942, pemerintah kolonial Inggris pun menyerah tanpa syarat terhadap Jepang. Nama Singapura kemudian diubah menjadi Syonan-to.
Di zaman pendudukan Jepang, orang-orang Singapura dipaksa belajar Bahasa Jepang. Setiap pagi, anak sekolah harus menghadap ke arah Jepang dan menyanyikan lagu kebangsaan Jepang. Penduduk pun diwajibkan menanam makanannya sendiri, sekecil apapun petak tanah yang dimiliki di rumah. Jepang juga melakukan propaganda terkait Greater East Asia co-prosperity sphere dan melakukan Sook Ching. Sook Ching adalah pembantaian terhadap etnis Cina yang dianggap anti-Jepang. Kehidupan di zaman Jepang jelas sangat sulit.
Nah, tentunya cerita-cerita tersebut banyak ditampilkan di museum-museum Singapura. Awalnya, di tahun 1990-an pemerintah Singapura menyadari bahwa wilayahnya tumbuh sebagai economic hub yang maju, namun penduduknya tidak tahu sejarahnya sendiri. Oleh sebab itu war heritage jadi di populerkan. Museum dan monumen tentang perang mulai lebih banyak dibangun.
Kini, di Singapura banyak sekali war memorial terkait penjajahan Jepang dan Perang Dunia 2. misalnya Civilian War Memorial, Sook Ching Centre Monument di China Town, Changi dan Punggol Beach Massacre Monument, serta Kranji War Memorial dan Cemetery.
Selain itu, untuk menghindari menceritakan tentang "perangnya orang lain" (Inggris & Sekutu lawan Jepang) yang terjadi di Singapura, museum-museum perang di Singapura menampilkan sejarah sosial kehidupan sehari-hari penduduk di zaman Jepang. Tata pamer museum juga di de-rasialisasi, yakni berusaha untuk menceritakan semua etnis yang membentuk Singapura: Cina, Melayu, India, dan bahkan Eropa.
National Museum of Singapore
Museum pertama yang wajib dibahas adalah National Museum of Singapore (NMS) yang tata pamernya baru diganti beberapa tahun belakangan ini. NMS memiliki 2 jenis pameran permanen: Singapore History Gallery dan Singapore Living Gallery. Singapore History Gallery menceritakan sejarah Singapura secara kronologis. Sedangkan Singapore Living Gallery pendekatannya tematis.
Kisah tentang pendudukan Jepang di Singapore History Gallery diawali dari display tank dan sepeda yang menceritakan tentang masuknya tentara Jepang ke Singapura. Sejarah ofisial tersebut juga diselingi dengan personal story. Di cerita mengenai The Fall of Singapore, rekaman oral history terkait kesaksian penduduk yang mengalami hari tersebut ditampilkan di museum.
Namun, salah 1 "masterpiece" yang ditampilkan adalah pintu penjara Changi yang dijadikan kamp konsentrasi POW oleh Jepang. Selain menceritakan rekaman oral history kesaksian para tahanan berkebangsaan Eropa, ada pula cerita mengenai penduduk lokal yang bekerja di penjara yang disiksa oleh Kempeitai (polisi rahasia Jepang) karena dianggap mata-mata.
Selain itu, di museum diceritakan pula mengenai Sook Ching, pembantaian orang Cina. Bahkan, di ceritakan juga mengenai seorang Jepang yang memalsukan dokumen untuk menyelamatkan penduduk agar tidak terkena Sook Ching. Semacam sosok Oscar Schindler di Polandia (tonton deh film Schindler's List).
Di Singapore Living Gallery, pamerannya berjudul Surviving Syonan dan menceritakan kehidupan sehari-hari di zaman pendudukan Jepang. Dari propaganda Jepang, sekolah di zaman Jepang, harga makanan yang mahal dan sulit didapat, uang keluaran pemerintah Jepang, hingga cerita mengenai Raffles Museum (kini NMS) di zaman Jepang. Objek yang dipamerkan bervariasi, misalnya poster-poster propaganda, uang, buku sekolah, lukisan, cetakan kue dan peralatan masak, hingga baskom yang merupakan mas kawin pada masa itu.
Changi Museum
Sebenarnya, museum yang pertama-tama eksis di Singapura tentang zaman Jepang salah satunya adalah Changi Museum yang didirikan tahun 1988. Museum ini berada di bekas penjara Changi yang dahulu dijadikan internment camp oleh Jepang. Tampaknya Museum Changi ini sering di revitalisasi. Bahkan, saat ini museum sedang tutup untuk major renovation.
Museum Changi menceritakan keadaan sebelum perang di Changi, lalu tentang kehidupan di penjara Changi yang dijadikan kamp internir baik bagi penduduk sipil maupun POW. Koleksinya tentu saja benda-benda pribadi milik para tahanan, dan material sisa-sisa dari penjara Changi sendiri yang bangunan aslinya telah dihancurkan. Ada pula artwork yang dibuat oleh para tahanan pada zaman Jepang: gambar, lukisan, dan bahkan mural.
Selain itu, diceritakan pula kisah-kisah tentang keberanian dan pengorbanan yang dilakukan oleh perorangan atau kelompok saat Perang Dunia 2 berlangsung. Misalnya kisah tentang Elizabeth Choy, Corporal Rodney Breavington, dan bahkan Mamuro Shinozaki. Elizabeth Choy menyelundupkan obat-obatan dan pesan untuk tawanan perang di penjara Changi, sementara Mamuro Shinozaki adalah jurnalis dan mata-mata.
Museum juga mereplika Kokonut Grove, semacam panggung teater hiburan di penjara Changi (berbentuk seperti teater panggung boneka). Namun, kini isi Kokonut Grove nya menampilkan film dokumenter tentang Perang Dunia 2.
Former FORD Factory
Singapura memang "hobi" mendirikan museum perang di situs-situs bersejarah yang terkait dengan Perang Dunia 2. Misalnya, Former FORD Factory di Bukit Timah. Former FORD Factory atau yang dulunya bernama Memories at Old FORD Factory ini dulunya adalah pabrik mobil FORD di daerah Bukit Timah. Bangunan ini adalah tempat menyerahnya Inggris kepada Jepang.
Tahun 2015 ketika gue datang kesana, gue ingat ada sirine zaman Jepang yang ditampilkan di lobi museum. Ada pula ruang tempat menyerahnya Inggris, dan display tentang kehidupan sehari-hari. Misalnya cerita mengenai pesta pernikahan yang dilangsungkan di zaman Jepang.
Ketika gue kembali ke museum tersebut di tahun 2018, tata pamernya sudah berubah total. Yang dipertahankan hanyalah ruang tempat Inggris menyerah atau The Surrender Room. Tata pamer museum yang baru terdiri atas 4 tema. Pertama, tentang sejarah pabrik mobil FORD dan daerah Bukit Timah, tempat pabrik berdiri. Lalu tema berikutnya berjudul Fall of Singapore.
Di tema Fall of Singapore ini museum menjelaskan mengenai latar belakang perang hingga jatuhnya Singapura ke tangan Jepang. Melalui foto, arsip dan potongan berita, museum menampilkan 3 perspektif: Jepang, Inggris dan warga lokal.
Tema berikutnya berjudul Becoming Syonan, menceritakan mengenai kehidupan sehari-hari di zaman Jepang, termasuk Niponisasi dan Sook Ching. Di tema ini, gue paling suka display telur plastik yang menampilkan peningkatan drastis harga telur dari tahun ke tahun di zaman Jepang.
Terakhir, museum membahas Legacies of War. Dari Jepang menyerah dan dikembalikannya Singapura ke tangan Inggris, hingga Singapura merdeka dibahas di tema ini. Di tema ini dibahas juga isyu kesadaran politik. Misalnya tentang rencana dekolonisasi yang diberikan oleh Inggris dan tentang MPAJA - Malaysian People's Anti Japanese Army yang beraliran komunis. Tata pamer ditutup dengan bahasan mengenai komemorasi Perang Dunia 2 di Singapura saat ini.
Oleh karena museum dikelola dibawah Arsip Nasional Singapura, maka objek yang ditampilkan banyak berupa arsip dan foto. Namun, yang menurut gue paling keren adalah label museum. Selain label narasi ada pula label pertanyaan yang menggugah pengunjung untuk membayangkan apa yang akan pengunjung lakukan apabila dirinya berada di masa itu. Misalnya, akankah pengunjung "bermain aman" atau "berani bertindak" walaupun konsekuensinya akan disiksa oleh Jepang. Atau, memilih setia kemana, menjadi warga Singapura, atau tetap "jadi orang Cina"? Menarik sekali pokoknya!
Reflections at Bukit Chandu
Ada lagi nih museum lain, Reflections at Bukit Chandu, yang juga merupakan museum yang memperingati tentang pertempuran melawan Jepang. Museum terletak di bungalow zaman kolonial, dekat dengan tempat pertempuran Pasir Panjang. Yakni pertempuran mempertahankan Singapura oleh Malay Resimen yang melawan tentara Jepang. Bungalow tersebut dipercaya pernah digunakan oleh Malay Resimen. Kini, museumnya sedang tutup untuk renovasi.
Sebelum direnovasi, museum menampilkan cerita tentang Pertempuran Pasir Panjang dan cerita personal dari Malay Resimen. Misalnya, ada kisah tentang Letnan Adnan dan Letnan Ibrahim. Lalu, koleksi yang ditampilkan antara lain adalah benda-benda pribadi seperti diary. Juga ada rekaman suara testimoni dari keluarga para tentara yang bisa didengarkan apabila pengunjung mengangkat pesawat telepon.
Namun, "masterpiece" di museum saat itu adalah well of reflection. Semacam sumur tempat pengunjung dapat melihat kedalam sumur dimana di dalam ada diorama yang menggambarkan pertempuran. Diorama berpadu dengan refleksi pengunjung yang melihat ke dalam sumur.
Agar museum tidak sepenuhnya Melayu (de-rasialisasi), maka museum ini juga menampilkan lukisan yang dibuat oleh penduduk Pasir Panjang (Etnis Cina). Penduduk tersebut menyaksikan orang tuanya dibunuh oleh Jepang saat ia kecil. Ia juga mengalami langsung kejadian Pertempuran Pasir Panjang yang terjadi di daerah tempat tinggalnya.
Fort Siloso Museum
Terakhir, ada pula Fort Siloso Museum, museum situs benteng Inggris di Pulau Sentosa. Pulau Sentosa dulunya bernama Pulau Blakang Mati lho! Situs benteng ini juga sudah dijadikan museum sejak tahun 1970-an.
Kini museum menampilkan 3 rute untuk dijelajahi. Ada rute tentang kehidupan tentara di benteng, rute tentang teknologi persenjataan benteng, dan rute tentang kehidupan zaman Jepang. Tata pamernya ditempatkan di berbagai lokasi benteng, misalnya di bangunan bekas barak, ataupun di menara pengintai dan bangunan lain.
Nah di rute tentang kehidupan tentara, gue paling suka mannequin di menara pengintai. Disana diperlihatkan tentaranya sedang meneropong kapal di laut, dan di tembok didekatnya ada gambar "referensi" bentuk kapal untuk menunjukkan kapal bentuk X berarti milik negara musuh atau kawan. Semacam contekan lah, kan dulu belum ada teknologi secanggih sekarang yang dapat membedakan mana musuh mana kawan dalam waktu cepat.
Sedangkan, tentang kehidupan zaman Jepang, diceritakan tentang perbedaan perlakuan yang diterima penduduk berbeda etnis. Etnis Cina mendapatkan perlakuan paling buruk dibandingkan etnis Melayu dan India. Cerita tentang tentara MPAJA (Malayan People Anti-Japanese Army) yang komunis bahkan dibahas di salah satu ruangan tata pamer.
Terakhir, di sebuah gedung ada mannequin-mannequin yang berpadu dengan light dan sound show. Pertunjukan selama 15 menit ini menceritakan tentang menyerahnya Inggris kepada Jepang, lalu tentang menyerahnya Jepang dan kembalinya Singapura kepada Inggris. Seperti biasa, di ruangan ini 3 sudut pandang: Inggris, Jepang dan Singapura, semua ditampilkan. Sebagai penutup, dibahas pula mengenai dekolonisasi negara-negara Asia Tenggara pasca Perang Dunia 2.
Kesimpulannya, pemerintah Singapura memang sengaja mengangkat war heritage. Caranya dengan membuat banyak museum tentang penjajahan Jepang dan Perang Dunia 2 di Singapura yang biasanya berada di situs bersejarah. Museum menampilkan sejarah sosial demi mengangkat cerita mengenai penduduk Singapura. Bukan hanya cerita tentang "orang asing" yang berperang di Singapura. Museum juga di de-rasialisasi, yakni menampilkan berbagai etnis dan multi-voices, agar dapat merangkul penduduk Singapura yang multikultur.
Seru kan cerita tentang museum-museum Singapura! Apa ada yang sudah pernah berkunjung ke salah satu museum yang gue dibahas diatas? Share ceritanya dong di akun Instagram @museumtravelogue. Oh ya, jangan lupa juga ya untuk love dan follow akun #MuseumTravelogue Talk di Spotify biar gak ketinggalan dengerin episode-episode selanjutnya (atau sebelumnya).
Ada yang bisa tebak minggu depan gue bakal bahas negara mana?
Salam!

*Episode ini diriset dan dibawakan oleh Ajeng Arainikasih, Retno Ayu Lestari dan Argi Arafah.

Foto: Pexels / Pixabay




Komentar