top of page

Singapore Art Museum (SAM): Heritage Building dan Thai Transience

  • Gambar penulis: Ajeng Arainikasih
    Ajeng Arainikasih
  • 12 Okt 2021
  • 3 menit membaca


Di penghujung tahun 2012 saya bersama beberapa kolega travelling bareng ke Singapura. Di suatu hari perjalanan, kami memutuskan untuk mengunjungi SAM atau Singapore Art Museum. Saat itu hari sudah agak gelap ketika kami keluar dari Stasiun MRT Bras Basah yang berjarak "selemparan batu" ke SAM. Baca: 2 menit berjalan kaki kalau kata Google Maps. SAM (dan rata-rata museum Singapura lainnya) memang buka sampai pukul 8 malam.


Jujurnya kala itu saya terpana melihat bangunannya. SAM bertempat di bekas sekolah abad 19, S.t Joseph's Institution, yang sudah berusia sekitar 150 tahun. SAM sendiri dibuka untuk umum sejak tahun 1995. Bukan hanya heritage buildingnya yang bikin saya terpana, tetapi bagaimana cara perlindungan bangunannya!


Photo courtesy of Project Manhattan on Wikipedia. CC-BY-SA 3.0

Ketika masuk ke dalam museum, saya menemukan bahwa seluruh sisi dinding bagian dalam gedung dilapisi oleh dinding kaca. Kacanya tidak menempel ke dinding gedung, tetapi ada space antara dinding asli dengan dinding kaca. Bahkan, di beberapa tempat ada semacam pintu yang bisa dibuka, jadi petugas cleaning service bisa masuk untuk membersihkan kaca dan/atau tembok asli bangunan. Intinya, lapisan dinding kaca tersebut adalah untuk melindungi bangunan SAM sebagai heritage building agar tidak rusak dan kotor walaupun di re-use sebagai museum.


Menurut salah seorang kolega saya, di pintu masuk SAM juga ada lampu gantung kristal Swarovsky. Tapi, saya sama sekali tidak punya memori akan lampu kristal tersebut! Padahal saat saya googling saya mendapatkan informasi bahwa lampu kristal tersebut berukuran tinggi 7 meter, memiliki berat 325 kilogram, dan berharga senilai $90.000 Singapura! Kok saya tidak ingat ya! Huft... Konon katanya, dibutuhkan waktu 3 bulan lho untuk memasang lampu tersebut di museum.


SAM sendiri merupakan museum seni yang fokus dengan modern and contemporary art, terutama untuk daerah Asia Tenggara dan Asia Timur. Beberapa karya seniman kenamaan Indonesia seperti Arahmaiani, Eko Nugroho, dan Zico Albaiquni bahkan menjadi koleksi SAM. Bangga ya!


Namun, saat saya kesana hampir 10 tahun silam (time flies!) saya fokus ke pameran temporer SAM yang berjudul "Thai Transience". Pameran ini dikuratori oleh guest curator dari Thailand, Professor Apinan Poshyananda. Beliau merupakan seorang penulis dan kurator Thailand ternama.


Saya memang belum pernah melihat karya seni kontemporer Thailand sebelumnya, ternyata seru! Seingat saya, isyu yang diangkat oleh para seniman Thailand tersebut antara lain berkaitan dengan identitas dan spiritualitas. Pameran juga dipadankan dengan beberapa koleksi Thailand dari Asian Civilisations Museum Singapura.


Saya ingat ada patung Buddha berdiri yang dibuat dari uang-uang Baht lama karya Kamin Lertchaiprasert. Patung ini melambangkan kefanaan materi di dunia (yang sebenarnya tidak bernilai di "akhirat"). Ada juga semacam mozaik berbentuk kepala Buddha di dinding karya Panya Vijinthanasarn yang berjudul "Rebirth of the Buddha".


Saya juga ingat ada wayang-wayang Thailand berukuran besar yang digantung di ruangan yang dindingnya berwarna hijau. Wayang ini karya seniman Chusak Srikwan berjudul "Free From Avaricious is a Precious Blessings" (2007). Karya ini intinya membahas tentang (terbebas dari) ketamakan yang terinspirasi dari kisah klasik Ramayana dan Traiphum.


Photo courtesy of Choo Yut Shing on Flickr. CC BY-NC-SA 2.0

Lalu, ada pula seniman Bussaraporn Thongchai yang membahas mengenai isu gender dan sexualitas. Menurut saya karya-karyanya agak dark. Entah apa yang dialami sang perupa terkait isyu gender dan sexualitas hingga ia bisa menghasilkan karya-karya seperti itu. Salah satu lukisannya yang berjudul "You and Me" (2011) menampilkan pria dan wanita yang sepertinya melambangkan ketidaksetaraan gender (atau ketidak setaraan dalam hubungan sex?).


Photo courtesy of Choo Yut Shing on Flickr. CC BY-NC-SA 2.0

Bussaraporn Thongchai juga menampilkan sekitar 100 ilustrasi yang ditempatkan di dalam meja kaca. Ilustrasinya dibuat di kertas bekas seperti potongan koran, kertas catatan di buku tulis, atau kertas pembungkus makanan. Namun, lagi-lagi objek yang digambarkan berkaitan dengan sexualitas. Saya paling ingat ada gambar muka tampak samping yang berhidung panjang ala Pinokio. Tetapi hidungnya (maaf!) berbentuk penis!


Last but not least, karya yang juga cukup memorable untuk saya adalah karya fotografi oleh fotografer Dow Wasiksiri. Foto-fotonya ditampilkan berukuran besar (kira-kira sebesar manusia betulan) dan menggambarkan fashion lokal orang-orang yang lewat di pasar Kard Luang, Chiang Mai.


Ada seniman tato, tukang rickshaw, Thailand Hill Tribe, sampe mahasiswi yang semuanya spontan difoto di pasar saat itu. Lucunya, background fotonya adalah semacam taplak plastik warna-warni yang dipegang sendiri oleh sang "model". Atau dibantu dipegangi oleh orang lewat lainnya.


Satu foto karya Dow Wasiksiri bahkan dijadikan brosur museum yang mempromosikan pameran "Thai Transience". Mungkin faktor ini juga yang membuat saya ingat betul karya fotografi ini.



Oh ya, SAM ini juga sebenarnya terdiri atas 2 cabang. Ada pula SAM at 8Q yang berada tidak jauh dari SAM yang saya datangi. SAM at 8Q juga merupakan bekas gedung sekolah 4 lantai yang "disulap" jadi museum seni. SAM cabang ini juga baru dibuka tahun 2008. Tapi, berhubung saat itu sudah malam dan kami menghabiskan waktu di pameran "Thai Transience" sampai museum tutup, maka kami tidak sempat lagi untuk mampir ke SAM at 8Q. Padahal cukup penasaran.


Photo courtesy of Marcus Lim on Wikipedia. CC-BY-SA-3.0

Harusnya Singapore Biennale 2022 akan bertempat di SAM at 8Q. Moga-moga saja pandemi sudah mereda ya, jadi Singapura sudah terbuka lagi untuk didatangi. Yuk, anyone?


Cover photo courtesy of Allie Caulfield on Wikipedia. The photo is licensed under the Creative Commons Attribution 2.0 Generic license.


Komentar


Ā© 2023 by NOMAD ON THE ROAD. Proudly created with Wix.com

bottom of page