Queensland Art Gallery | Gallery of Modern Art (QAGOMA), Brisbane: White Cube Art Museum
- Ajeng Arainikasih

- 7 Okt 2021
- 3 menit membaca

Pernah dengar istilah white cube? White cube dalam dunia seni biasanya mengacu pada museum seni dan galeri seni komersial yang memamerkan karya seni pada dinding putih polos. Pendekatan ini berawal di permulaan abad 20 ketika aliran modern art seperti Kubisme dan Abstrak berkembang. Museum of Modern Art (MoMA) di New York turut mempopulerkan penggunaan latar belakang dinding putih ini di tahun 1930-an. Sedangkan istilah white cube sendiri populer digunakan sejak tahun 1970-an sebagai istilah khusus yang mengacu pada fenomena museum seni berdinding putih ini.
Museum seni berdinding putih polos dengan ornamen yang minim kemudian dianggap sebagai museum seni yang modern. Sebelumnya, museum-museum seni biasanya memajang banyak lukisan di satu ruangan hingga memenuhi dinding dan atap. Ornamen dan dindingnya pun biasanya tidak berwarna putih.
Dinding putih kemudian dianggap netral dan dianggap dapat menjadi "bingkai" bagi karya seni yang dipamerkan. Dengan latar belakang putih, karya seni yang ditampilkan dipercaya akan menjadi lebih "menonjol". Pengunjung dianggap dapat lebih menikmati dan berkontemplasi dalam melihat karya seni.
Queensland Art Gallery | Gallery of Modern Art (atau yang disebut juga dengan QAGOMA) di Brisbane adalah museum seni modern (ala white cube) pertama di dunia yang gue datangi. Museum ini terdiri atas 2 bangunan bersebrangan: Queensland Art Gallery dan Gallery of Modern Art. Jujurnya, kala itu (tahun 2008) gue belum terlalu mengerti tentang modern and contemporary art (memangnya sekarang mengerti? Hehe...) Jadi, kunjungan kesana hanya samar-samar gue ingat.
Padahal, di hari yang sama gue juga datang ke Queensland Museum yang terletak tidak jauh dari QAGOMA. Namun, memori tentang Queensland Museum lebih "nempel". Mungkin karena tata pamer di Queensland Museum saat itu sudah interaktif. Baca: gue bisa loncat-loncat membandingkan jauhnya jarak lompatan gue dengan lompatan kutu dan kodok. Bisa masuk ke dalam pohon raksasa untuk melihat dimana ular, semut, laba-laba, sampai possum bersarang di pohon tersebut. Bahkan, bisa pakai kostum ekor dinosaurus! Sedangkan, tata pamer di QAGOMA saat itu cenderung pasif, hanya melihat karya seni tanpa adanya aktivitas apapun.
Hanya ada 2 hal yang gue ingat di Queensland Art Gallery. Yang pertama adalah, gue menghabiskan banyak waktu untuk menikmati lukisan-lukisan cat air bergambar landscape Australia karya seniman Indigenous Australia bernama Albert Namatjira (yang saat itu lagi gue pelajari di kampus). Dan yang kedua, ada watermall yang keren untuk dijadikan latar belakang foto.

Sedangkan, di Gallery of Modern Art, gue hanya ingat kalau gue datang ke pameran yang bertajuk "Optimism". Salah satu instalasi yang paling gue ingat di pameran tersebut adalah karya Kathy Temin "My monument: White forest" (2008). Soalnya, instalasinya berbentuk pohon-pohon berbagai bentuk yang sepertinya dibuat dari kapas berwarna putih. Walaupun saat itu gue tidak mengerti artinya, tetapi gue merasa seperti lagi ada di winter wonderland di dunia ajaib.
Kini, museum seni modern sudah banyak berubah. Beberapa museum bahkan menganggap white cube sudah ketinggalan zaman. Bagi gue pribadi, bukan masalah warna dindingnya yang membuat museum seni jadi membosankan (dan tidak berkesan setelah beberapa tahun berlalu). Tetapi, karena biasanya pengunjung hanya "diminta" untuk berkontemplasi memandangi karya seni tanpa adanya interaksi dengan koleksi yang bersangkutan. Menurut gue, membuat tata pamer museum seni yang interaktif dan partisipatoris itu penting banget!
Kalau lihat dari websitenya QAGOMA, sekarang tata pamer museum sudah tidak pasif lagi! Ada kids trail yang memungkinkan anak-anak mengeksplorasi binatang-binatang yang "tersembunyi" di balik koleksi-koleksi museum (misalnya motif binatang di rock art painting, di pahatan, di lukisan, dll). Ada pula hands-on activity yang bisa dikerjakan di pameran "The Gifting Tree" karya seniman-seniman kontemporer India: Sonia Chitrakar, Archana Kumari, dan Kamata Tahed. Serta masih banyak lagi aktivitas lainnya. Uh, jadi pingin ke QAGOMA lagi. Yuk!




Komentar