Minimnya Representasi Perang Dunia 2 di Museum Myanmar
- Ajeng Arainikasih

- 7 Jan 2021
- 4 menit membaca
Diperbarui: 2 Sep 2021

Haallo!
Yeaay akhirnya kita ketemu lagi di tahun 2021 ini setelah kemarin break 2 minggu di akhir tahun. Selamat tahun baru, anyway! Di episode #MuseumTravelogue Talk ke-8 ini, gue, Argi dan Retno akan mulai membahas tentang penjajahan Jepang di Asia Tenggara.
Berhubung kemarin-kemarin kami sudah kupas tuntas Cina dan India, maka kami ingin "memulai" Asia Tenggara dari Myanmar yang masih secara fisik berbatasan dengan 2 negara sebelumnya. Tapi, ketika gue googling tentang sejarah Perang Dunia 2 di Myanmar dan tentang museum-museum yang menceritakan kisahnya, duh, rasanya seperti mencari jarum dalam jerami!
Sejarah Perang Dunia 2 Myanmar yang kompleks dan complicated tampak kurang terekam di museum-museum Myanmar saat ini. Eh iya, sebelum panjang lebar, kalau lebih suka dengar podcast daripada baca blog, silahkan ya klik disini. Di bawah ini juga ada daftar museum-museum yang akan dibahas di tulisan ini.
Daftar Isi:
Sebelum Perang Dunia 2 Myanmar (Burma) adalah koloni Inggris. Tahun 1942 Burma menjadi daerah jajahan Jepang. Awalnya, tokoh-tokoh pemimpin Burma pro-Jepang (demi kemerdekaan mereka dari dijajah oleh Inggris). Jepang pun melatih (militer) 30 orang lokal untuk menjadi pemimpin Burma Independence Army (BIA). Konsepnya mungkin mirip tentara PETA di Indonesia kali ya?
Tahun 1943 Burma kemudian āmendeklarasikan kemerdekaannyaā di bawah Jepang (tetapi menjadi negara boneka Jepang). Namun, belakangan mereka āberbalikā dan juga melawan Jepang. Selama periode Perang Dunia II, selain orang Burma, ada pula pihak Inggris (dan India), Cina, dan Amerika Serikat yang berperang melawan Jepang di wilayah Burma (Burma Campaign).
Bahkan etnis minoritas Burma juga berkonflik dengan etnis mayoritasnya (dan tentu saja juga berkonflik dengan Jepang). Ada pula tragedi pembunuhan masal yang dilakukan oleh Jepang/etnis mayoritas Burma terhadap etnis minoritas di pegunungan.
Pasca Perang Dunia 2, Burma (kini Myanmar) memang menjadi negara yang merdeka dari Inggris, namun mereka mengalami perang saudara sampai dengan berpuluh-puluh tahun sesudahnya. Kini, Myanmar pun menjadi salah satu negara yang paling tertutup dan terisolasi di dunia.
Ketika gue cari di search engine, museum-museum di Myanmar lebih banyak berupa museum yang menampilkan kebudayaan. Mungkin untuk mengangkat beragamnya etnis di Myanmar mengingat mereka tidak ada habisnya berperang saudara? Namun, hampir tidak ditemukan museum yang menceritakan tentang sejarah Perang Dunia 2 di Myanmar.
Death Railway Museum, Thanbyuzayat
Death Railway Museum sepertinya adalah satu-satunya museum yang benar-benar menceritakan tentang penjajahan Jepang di Myanmar. Museum ini berada di Thanbyuzayat dan menceritakan tentang pembuatan jalur kereta api legendaris yang menghubungkan Thailand dan Myanmar selama Perang Dunia 2.
Jalur kereta ini dibuat oleh para pekerja paksa (berkebangsaan Asia) dan tahanan perang Jepang (antara lain berkebangsaan Belanda, Inggris, Australia dan Amerika Serikat). Pembuatan jalur kereta ini sangat memakan korban jiwa sehingga dinamakan death railway.
Kini koleksi masterpiece museum adalah jalur kereta dan lokomotif kereta Jepang zaman Perang Dunia 2. Di museum dipamerkan juga foto-foto dan lukisan 3D rute jalur kereta.
Stilwell (Road) Museum, Cina
Padahal, selain death railway, sebetulnya di Myanmar juga terbentang 1.000 km (dari 1.726 km) Stilwell Road. Jalan utama yang dibuat dan digunakan Sekutu untuk menahan dan mengalahkan Jepang di Cina selama Perang Dunia 2. Namun, dua museum mengenai Stilwell Road ini malah ada di Cina dan bukannya di Myanmar.
Stilwell Museum ada di Chongqing, Cina. Museum ini adalah rumah 3 lantai kediaman Joseph Stilwell, Jenderal Amerika Serikat yang memimpin pembangunan jalan. Museum ini dibuka tahun 1994 dan dikelola oleh pemerintah kota Chongqing, namun secara finansial di dukung suntikan dana dari Joseph Stilwell Institute Foundation di Amerika.
Selain itu, tahun 2020 juga direncanakan untuk dibuka Stilwell Road Museum di Tengchong City, Cina. Museum ini akan memamerkan benda-benda peninggalan Perang Dunia 2 yang berkaitan dengan Stilwell Road, termasuk truck, jeep dan alat-alat konstruksi. Sebagian besar objeknya merupakan koleksi Zhou Shicai, seorang kolektor lokal. Namun hingga kini belum ada kabar lagi mengenai pembukaan museum.
Defense Service Museum, Naypyidaw
Kembali ke Myanmar, museum lain yang berkaitan dengan Perang Dunia 2 di Myanmar adalah Defense Service Museum di Naypyidaw. Museum ini sebetulnya museum militer yang - kalau dilihat dari review TripAdvisor - banyak menampilkan pesawat dan kendaraan militer lainnya. Museum ini baru dipindah ke Naypyidaw tahun 2011 setelah sebelumnya berada di Yangon. Museum terdiri dari area indoor dan outdoor, di area seluas 200 hektar!
Pamerannya membahas angkatan darat, laut dan udara Myanmar dari masa perjuangan kemerdekaan hingga saat ini. Tentu saja juga membahas mengenai 30 orang (30 comrades) yang dilatih militer oleh Jepang untuk memimpin Burma Independence Army untuk melakukan resistensi terhadap Inggris.
Apabila membaca dari surat kabar Myanmar Times, di museum, tentara-tentara yang dilatih oleh Jepang tersebut malah sangat kritis terhadap Jepang ketimbang pro-Jepang. Menarik ya! Kalau bahas Asia Tenggara di Perang Dunia 2 memang banyak ālayersā dan kepentingan banyak pihak yang berbeda. Agak berbeda dengan kondisi di Asia Timur.
Bogyoke Aung San Museum, Yangon
Museum lain yang masih berhubungan dengan Perang Dunia 2 mungkin adalah Bogyoke Aung San Museum di Yangon, ibukota Myanmar. Museum ini merupakan tempat tinggal Aung San terakhir sebelum beliau dieksekusi tahun 1947.
Museum rumah 2 lantai bergaya vila kolonial (dibangun tahun 1921) ini sebetulnya sudah dibuka sejak 1962, namun, dalam rangka memarjinalisasi Aung San Suu Kyi (anak Aung San) oleh pemerintah militer Myanmar, museum hanya dibuka secara sangat terbatas. Baru di tahun 2012 museum ādibuka kembaliā untuk umum dan masuk dalam Yangon City Heritage List.
Bogyoke Aung San adalah politisi dan dan salah seorang tokoh pemimpin kemerdekaan Myanmar terhadap kolonial Inggris. Juga merupakan salah satu dari 30 orang yang dilatih secara militer oleh Jepang untuk memimpin BIA. Awalnya beliau pro-Jepang, namun kemudian berbalik melawan Jepang.
Museum ini menceritakan tentang kehidupan sang Jenderal dan memamerkan benda-benda memorabilia nya seperti pakaian, buku, perabotan dan foto-foto keluarga serta mobil nya. Di museum juga dipamerkan pidato-pidato Aung San dan tulisan tangannya (catatan/surat) untuk istrinya, Khin Kyi. Di halaman museum bahkan ada patung sang jenderal sedang berkebun! Unik ya!
Kurangnya representasi Perang Dunia 2 di museum-museum di Myanmar mungkin disebabkan oleh kompleksnya sejarah Perang Dunia 2 di Myanmar. Apalagi ditambah Myanmar mengalami konflik perang saudara berkepanjangan (bahkan hingga berpuluh-puluh tahun) pasca Perang Dunia 2.
Mungkinkah Perang Dunia 2 jadi isu yang sensitif dan kontroversial hingga sulit direpresentasikan di museum-museum di Myanmar? What do you think?
Yuk, ditunggu komentarnya ya di akun Instagram @museumtravelogue. Jangan lupa juga untuk love dan follow akun #MuseumTravelogue Talk di Spotify biar gak ketinggalan dengerin episode-episode selanjutnya. Podcast juga bisa didengarkan di Anchor dan Google Podcasts.
Sampai ketemu minggu depan di Thailand!
Salam!

*Episode ini diriset dan dibawakan oleh Ajeng Arainikasih, Retno Ayu Lestari dan Argi Arafah.

Foto: Pexels / Pixabay




Komentar