top of page

NUS Museum Centre For the Arts, Singapore: Museum Seni Milik Universitas

  • Gambar penulis: Ajeng Arainikasih
    Ajeng Arainikasih
  • 14 Okt 2021
  • 3 menit membaca


Tulisan ini pertama kali diterbitkan di buku #MuseumTravelogue Asia (2019).


National University of Singapore atau yang biasa disingkat dengan NUS memiliki beberapa museum universitas. Ada Lee Kong Chian Natural History Museum, NUS Centre For the Arts, dan NUS Baba House. Kebetulan, di awal tahun 2015 saya berkesempatan mengunjungi NUS Museum Centre For the Arts dalam rangka mendampingi mahasiswa S2 saya study trip ke museum-museum di Singapura.


Kala itu kami sudah ditunggu oleh teman saya yang bekerja sebagai edukator di NUS Museum Centre For the Arts untuk dipandu berkeliling museum 3 lantai ini. NUS Museum Centre For the Arts memiliki gedung tersendiri meskipun tetap berada di dalam komplek kampus NUS. Walaupun demikian, museum ini tetap mudah diakses dari luar kampus. Koleksinya terdiri atas Chinese arts, South & Southeast Asian arts, serta modern & contemporary arts.


Koleksi South and Southeast Asian arts NUS Centre For the Arts awalnya adalah teaching collections untuk program art history di University of Malaya Art Museum (1950-1960an). Long story short, koleksi-koleksi tersebut ditransfer untuk NUS dan kemudian berkembang hingga menjadi NUS Centre for the Arts. Padahal NUS tidak memiliki jurusan seni rupa lho! Di NUS hanya ada jurusan Minor in Art History.


Kembali ke kunjungan kami di tahun 2015 silam, teman saya kemudian memandu kami berkeliling museum. Pertama-tama ia membawa kami ke ruangan yang memamerkan artefak arkeologi dari hasil penelitian John Miksic, arkeolog ternama sekaligus Professor dari NUS. Di ruangan ini ditampilkan pula artefak dari kapal yang tenggelam di perairan Singapura dan Indonesia! Artefak-artefak ini diletakkan di permukaan yang lebih rendah dari lantai tempat pengunjung berpijak, dan ditutup dengan kaca.


Kemudian kami dibawa ke ruang pamer yang menampilkan lukisan-lukisan karya seniman-seniman dari Asia Selatan dan Asia Tenggara. Kalau tidak salah ingat, ada beberapa lukisan karya seniman Indonesia juga. Selain itu, kami juga dipandu ke ruang pamer yang memajang koleksi Chinese art, Lee Kong Chian collection. Koleksinya bervariasi dari classic ink painting, keramik, jade, hingga koleksi seni kontemporer Cina.


Photo: Ajeng Arainikasih

Ketika tur berlanjut ke lantai berikutnya, kami melewati prep-room, semacam display dinding kaca tempat museum melakukan eksperimen terhadap teknik dan desain tata pamernya. Misalnya, museum bereksperimen apabila dinding tempat menampilkan karya seni berwarna A dan label yang digunakan untuk menjelaskan mengenai objek berwarna B, maka, apakah secara desain akan terlihat bagus? Apakah hal tersebut membuat label mudah dibaca atau malah sebaliknya?


Saya suka sekali dengan ide ruang eksperimen ini! Prep-room ini bahkan memenangkan UMAC Awards di tahun 2016. UMAC adalah organisasi international untuk museum-museum universitas, cabang dari International Council on Museums (ICOM).


Kemudian, di lantai paling atas kami memasuki ruangan pameran temporer serta ruang pamer untuk koleksi seni modern dan kontemporer, Ng Eng Teng Collection. Ng Eng Teng adalah salah satu seniman kontemporer Singapura yang menyumbangkan koleksinya secara komprehensif ke NUS. Dari sketsa, lukisan, keramik, maket, hingga pahatan. Bahkan, di halaman bangunan gedung NUS University Cultural Centre dipajang karya Ng Eng Teng.


Photo: Marcus Lim on Wikipedia. CC BY-SA 3.0

Sebetulnya NUS Museum Centre For the Arts juga memiliki koleksi Peranakan. Tetapi koleksi ini dipajang di NUS Baba House - sebuah museum yang berbeda yang berada dibawah manajemen NUS Museum Centre For the Arts juga.


Lalu, kami memasuki ruangan terakhir yang juga berfungsi sebagai open storage. Open storage maksudnya adalah ruang penyimpanan koleksi museum (bukan ruang pamer) namun koleksi di dalamnya tetap dapat dilihat oleh pengunujung. Di dalam open storage ini disimpan arca Hindu/Buddha dari India dan juga dari Indonesia! Hmm…


Photo: Ajeng Arainikasih

Walaupun tata pamer museum masih pasif (pengunjung kebanyakan hanya melihat koleksi dan membaca label), namun menurut saya taktik museum untuk ā€œdiaksesā€ oleh warga kampus NUS sudah cukup keren. Di tahun 2015, selain memiliki program untuk pengunjung umum, misalnya hands-on workshop untuk anak-anak, NUS Museum Centre For the Arts juga memiliki program andalan bernama Writing Lab dan Curating Lab.


Writing Lab adalah program pelatihan menulis menggunakan koleksi museum. Sedangkan Curating Lab adalah program untuk belajar menjadi kurator. Walaupun NUS tidak memiliki jurusan seni rupa, kedua program ini memungkinkan NUS Museum Centre For the Arts tetap dapat diakses oleh ā€œwarga kampusā€ tanpa terbatas oleh jurusan perkuliahan.


NUS Museum Centre For the Arts bahkan membuka kesempatan kerjasama dengan fakultas-fakultas di NUS untuk membuat kurikulum pengajaran menggunakan koleksi museum, apapun fakultas dan jurusannya. Selain itu, mahasiswa juga diberikan kesempatan untuk magang (internship) di museum. Seru ya punya museum universitas seperti ini!

Komentar


Ā© 2023 by NOMAD ON THE ROAD. Proudly created with Wix.com

bottom of page