National Palace Museum, Taipei: Koleksi Masterpiece dan Toko Suvenir
- Ajeng Arainikasih

- 3 Jan 2022
- 2 menit membaca

Belum afdol rasanya kalau ke Taipei tetapi belum ke National Palace Museum. Oleh sebab itu, sewaktu saya ke Taipei di tahun 2014 untuk mengikuti sebuah konferensi internasional tentang museum, panitia konferensi membawa kami ke National Palace Museum dalam rangka kegiatan ekskursi.
National Palace Museum ini sebetulnya agak kontroversial karena ratusan ribu koleksinya berasal dari Forbidden City di Beijing, Cina. Ketika Jepang menyerah dalam Perang Dunia 2 tahun 1945, di Cina terjadi perang sipil. Pada saat perang tersebutlah Chiang Kai-shek memutuskan untuk āmenyelamatkanā koleksi seni Cina yang amat berharga dari Beijing ke Taipei.
Koleksinya terdiri atas benda seni dari masa Neolitik hingga masa modern, baik berupa benda-benda yang terbuat dari perunggu, keramik, giok, tekstil (termasuk lukisan dan kaligrafi), hingga buku langka. Bangunan National Palace Museum sendiri selesai dibangun tahun 1965.
Mengapa kontroversial? Karena banyak yang menuduh bahwa koleksi National Palace Museum adalah koleksi curian dari Cina. Kini, disebutkan bahwa koleksi-koleksi tersebut adalah shared heritage antara Cina dan Taiwan.
Sebagai museum seni tingkat nasional dengan koleksi-koleksi masterpiece yang indah, tentu saja koleksi adalah āsegalanyaā bagi National Palace Museum. Koleksi biasanya dipamerkan secara pasif di dalam lemari kaca atau di tempat yang tidak dapat dipegang oleh pengunjung, tanpa adanya interaksi antara pengunjung dan koleksi. Maksudnya, pengunjung hanya dapat melihat objek dan membaca label keterangannya.
Beberapa koleksi juga sengaja ditonjolkan oleh museum sebagai koleksi masterpiece. Misalnya, ukiran berbentuk kol yang terbuat dari giok (jadeite cabbage). Pengunjung lokal (dan/atau turis dari Cina) sampai mengantri lho untuk melihat kol ini.
Tetapi, bagi saya yang tidak memiliki koneksi pribadi dengan seni Cina, kegiatan melihat ribuan koleksi di istana 4 lantai yang luas sekali secara pasif (sebagus apapun koleksi masterpiece-nya) lama-kelamaan membuat saya bosan juga. Apalagi, di tahun 2014 silam, kegiatan fotografi tidak diperbolehkan di area pameran museum!

Saya dan beberapa teman sesama peserta konferensi (yang juga praktisi dan akademisi museum dari Singapura dan Canada) akhirnya memutuskan untuk menjelajahi toko suvenir saja. Toko suvenir di National Palace Museum ini ternyata besar sekali!
Toko ini juga tidak hanya menjual buku dan cenderamata standar seperti replika karya seni, kartu pos, dan magnet hiasan lemari es. Produknya sangat beragam dan desainnya juga keren! Tentu saja semua desain produknya berkaitan dengan koleksi museum.
Saya akhirnya keluar toko dengan menenteng āhasil buruanā berupa tas belanja yang dapat digulung dan bermotif hiasan keramik koleksi museum. Juga meteran gulung berukuran kecil yang tempatnya dihiasi motif lukisan kaligrafi, plus buku tulis dengan sampul bergambar lukisan Cina. Tentunya saya juga membeli beberapa magnet untuk ditempel di lemari es sebagai oleh-oleh.
Kedua teman saya juga keluar toko suvenir dengan menenteng belanjaan masing-masing. Jujurnya, saya bukan orang yang hobi berbelanja. Maka pada saat itu saya yakin bahwa National Palace Museum sukses membuat produk-produk suvenirnya sangat menarik sehingga saya tergoda untuk berbelanja.
Saya dan teman-teman kemudian membahas bahwa National Palace Museum sepertinya membutuhkan strategi yang berbeda dalam merancang tata pamernya. Pengunjung juga harus bisa merasakan experience yang menyenangkan saat berada di ruang pameran museum seperti layaknya berada di toko suvenir, hehe...
Sebagus apapun koleksi (masterpiece) museum, sudah tidak zaman lagi museum didesain dengan pendekatan yang pasif. Bahkan untuk ukuran museum seni sekalipun. Setuju kan?
Catatan: Tulisan ini diambil dari buku #MuseumTravelogue Asia (Penerbit: Stiletto Indie Book, 2019).




Komentar