National Museum of Modern and Contemporary Art (MMCA), Seoul: Arsitektur Artistik dan Fungsional
- Ajeng Arainikasih

- 15 Okt 2021
- 3 menit membaca

Di Korea Selatan, National Museum of Modern and Contemporary Art (MMCA) sebetulnya ada 4 cabang: Seoul, Gwacheon, Deoksugung, dan Cheongju. Kebetulan gue sempat mampir ke MMCA Seoul di tahun 2016 silam.
Kala itu libur cuti bersama Lebaran dan gue beserta keluarga besar terbang ke Seoul. Di Seoul, Gyeongbokgung Palace di pusat kota Seoul tentunya jadi salah satu destinasi wisata tujuan kami. Kebetulan, Gyeongbokgung Palace berada bersebrangan dengan MMCA Seoul. Saat itu, ada seorang kenalan gue (orang Korea) yang bekerja sebagai salah satu kurator di MMCA. Jadi, setelah puas menjelajahi Gyeongbokgung Palace, gue (dan anak gue yang saat itu berumur 10 bulan plus seorang sepupu) memisahkan diri dari rombongan. Kami janjian makan siang bareng teman gue si kurator MMCA.
Berhubung teman gue adalah kurator arsitektur di MMCA, jadilah sambil makan siang kami "didongengi" sejarah arsitektur MMCA sebelum kami berkunjung kesana. Jadi, sebetulnya di zaman dahulu kala, tempat MMCA berada adalah daerah pusat administrasi Dinasti Chosun. MMCA sendiri terletak diantara Gyeongbokgung Palace dengan desa tradisional Korea, Bukchon.
Di abad 20, ketika Korea dijajah Jepang, Jepang mendirikan bangunan bata sebagai pusat militer di area ini. Setelah Korea Selatan merdeka dari Jepang, bangunan tersebut tetap digunakan sebagai markas militer. Rakyat bahkan tidak boleh masuk ke area ini walaupun area ini ada di pusat kota Seoul. Namun, tahun 2006 bangunan tersebut tidak lagi dijadikan markas militer.
Menurut situs ArchDaily, pemerintah Korea kemudian memutuskan untuk mengubah bangunan tersebut menjadi museum seni dan mengadakan sayembara redesain arsitektur. Arsitek Hyunjun Minh kemudian memenangkan sayembara ini. Ia kemudian mengubah desain gedung militer menjadi museum seni yang artistik namun tetap fungsional.

Dua bangunan kuno dari Bukchon traditional village tetap dilestarikan jadi bagian dari museum. Kemudian, museum sengaja di desain untuk memiliki banyak space luas, termasuk open courtyard. Tujuannya agar dapat menjadi tempat untuk pameran temporer yang free dan accessible untuk publik, atau untuk meletakan berbagai instalasi seni. Waktu gue kesana, instalasinya lagi berbentuk seperti kapal besi yang karam berwarna oranye dan semi terbuka .

Selain itu, bagian depan dan sisi samping MMCA juga dibuat menyatu dengan trotoar pejalan kaki tanpa dibatasi tembok. Tujuannya agar museum jadi lebih accessible dan menyatu dengan landscape kota. Teman gue juga bercerita kalau salah satu bagian dari dinding bata di sisi depan gedung utama museum diubah menjadi dinding kaca berukuran besar. Kebetulan tepat di luar gedung ada pohon besar. Jadi, dinding kaca berfungsi untuk menikmati indahnya pohon (yang setiap musim pasti daunnya berubah warna) dari dalam gedung.
Gue bilang, kalau di Indonesia sepertinya tidak mungkin ada arsitek yang berfikir seperti itu. Jangan-jangan orang Indonesia malah takut lihat pohon besar dari balik kaca. Takut lihat hantu bergelantungan di pohon, hihi... Betul gak pendapat gue?
Bagian dalam museum sendiri juga banyak space yang luas. Ruang-ruang pamer terutama berada di lantai B1 di bawah tanah. Sedangkan lantai 1 lebih banyak berfungsi sebagai tempat publik seperti lobby, cafe, toko suvenir, toko buku, galeri pameran temporer, dan children's museum. Sedangkan lantai 2 dan 3 lebih diperuntukkan bagi ruangan-ruangan seperti perpustakaan, lecture room dan kantor. Di lantai 2 juga ada tea house yang pemandangannya langsung ke MMCA Seoul Garden. Cantik pokoknya!

Selain arsitektur eksterior dan interiornya yang keren, fasilitas MMCA juga sangat fungsional dan mengerti kebutuhan pengunjung. Saat berkunjung ke MMCA gue dan sepupu sempat berpisah karena kami tertarik melihat pameran yang berbeda. Jadi gue sempat hanya berduaan saja di museum dengan anak gue yang berumur 10 bulan. Awalnya gue sama sekali tidak repot karena museum sangat accessible untuk baby stroller. Masalah muncul ketika gue harus ke toilet dan sepupu gue tidak bisa di telepon!
Saat itu gue cukup bingung. Bagaimana caranya gue bisa ke toilet sambil bawa bayi? Mau dititip ke siapa anak gue? Ataukah nekat dibawa masuk saja strollernya ke dalam toilet? Ternyata, ada toilet khusus yang disediakan untuk orang dewasa sekalian untuk ruangan baby changing room juga! Toilet khusus tersebut memiliki kursi khusus ber-seat belt untuk tempat duduk bayi! Ternyata, pergi ke museum berdua bayi sama sekali tidak repot!
Gue terharu sekaligus sedih. Kapan ya kira-kira museum-museum di Indonesia bisa menyediakan fasilitas yang mengerti dan mengakomodir kebutuhan pengunjung seperti di MMCA? Apalagi mengerti kebutuhan ibu dan bayi...

Cover photo courtesy of Jens Kuu on Wikipedia Russia. This picture is licensed under Creative Commons Attribution 2.0 Generic




Komentar