top of page

National Gallery of Australia, Canberra: Degas. The Blockbuster Exhibition

  • Gambar penulis: Ajeng Arainikasih
    Ajeng Arainikasih
  • 6 Okt 2021
  • 3 menit membaca


Tulisan ini pertama kali diterbitkan di buku #MuseumTravelogue Australia (2018) dan ditulis berdasarkan cerita jalan-jalan gue ke Canberra tahun 2008 silam. Saat itu adalah kala pertama gue datang ke pameran blockbuster. Pamerannya berjudul ā€œDegas: Master of French Artā€ yang diselenggarakan di National Gallery of Australia (NGA).


Edgar Degas (1834-1917) adalah seniman kenamaan asal Perancis. Biasanya gaya seni Degas diasosiasikan dengan gaya seni impresionis. Saat itu, untuk pertama kalinya, gue melihat langsung dengan mata kepala sendiri karya-karya Degas. Senang banget! Tanpa harus ke Paris, New York, dan Los Angeles, gue dapat menikmati langsung karya-karya Degas yang biasanya tersebar di MusĆ©e d’Orsay Paris, The Metropolitan Museum of Art New York, dan Paul Getty Museum Los Angeles.


Seingat gue, pameran Degas di National Gallery of Australia dibagi berdasarkan tema. Ada ruangan-ruangan yang menampilkan gambar-gambar Degas, ada pula yang menampilkan lukisan. Lukisannya pun dibagi lagi berdasarkan subyek lukisan favorit Degas: penari ballet, perempuan mandi, pacuan kuda dan perempuan-perempuan yang sedang menyeterika baju.


Di ruangan terakhir yang gelap dan kosong, berdiri sebuah patung penari ballet di tengah ruangan yang diterangi oleh lampu sorot. Dengan penataan ruang seperti itu, maka fokus pengunjung hanya tertuju pada karya masterpiece Degas tersebut. Penampilan tunggal sang penari ballet menjadi penutup pameran yang sangat artistik dan berkelas. Sayangnya, saat itu pengunjung sama sekali tidak diperbolehkan menggambil foto di pameran tersebut.


Edgar Degas. Little Dancer of Fourteen Years. [c. 1880]. The Metropolitan Museum of Art. Photo: Wikipedia

Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan pameran blockbuster? Nah, pameran blockbuster adalah pameran temporer besar-besaran yang diselenggarakan oleh museum dalam rangka menarik lebih banyak pengunjung dan menambah pemasukan museum. Pameran blockbuster di dunia permuseuman (terutama museum seni) mulai berkembang pesat di tahun 1990-an.


Biasanya tema yang diusung adalah tema yang ā€˜wah’, populer, tidak biasa, dan/atau belum pernah ditampilkan sebelumnya. Misalnya, pameran mengenai kebudayaan dari peradaban kuno (Mesir, Romawi, dll), karya seni maestro dunia, atau pameran properti film terkenal. Benda koleksi yang dipamerkan pun biasanya hasil pinjaman dari berbagai museum atau pinjaman milik koleksi perorangan yang jarang dilihat publik. Bahkan, bisa saja berasal dari negara yang berbeda dengan negara museum penyelenggara pameran.


Proses penelitian dan pembuatan pameran blockbuster biasanya tidak cukup dilakukan dalam satu tahun. Biaya pembuatan pameran pun besar karena selain biaya untuk melakukan penelitian, ada pula biaya untuk konservasi koleksi, biaya packing dan transportasi (apabila meminjam koleksi dari museum lain) serta biaya asuransi. Jadi, pameran temporernya biasanya diselenggarakan cukup lama, antara 3-6 bulan atau lebih. Terkadang, apabila animo pengunjung besar, waktu penyelenggaraan pameran mungkin saja diperpanjang. Biaya masuk ke pameran blockbuster juga biasanya berbeda dari biaya masuk museum reguler, plus dibandrol cukup mahal!


Pameran blockbuster dapat juga merupakan traveling exhibition atau pameran keliling. Maksudnya, setelah ditampilkan di suatu museum secara temporer, pameran yang sama dapat ditampilkan lagi di museum lainnya, di kota atau negara yang berbeda dari museum sebelumnya.


Selain penjualan merchandise, pameran-pameran blockbuster juga disertai dengan program publik. Tentu programnya bervariasi, dari yang serius seperti seminar, diskusi dan tur bersama kurator, program edukasi untuk anak-anak sekolah dan keluarga, hingga pesta! Bahkan, terkadang cafe museum turut menghidangkan makanan-makanan khusus sesuai tema pameran. Misalnya, menghidangkan makanan Perancis untuk pameran Degas, atau makanan ala Belanda untuk pameran van Gogh. Terserah saja sih mau seperti apa program-programnya, pokoknya semaksimal kreativitas pengelola museum saja. Yang penting program museum dibuat semenarik mungkin agar menarik banyak pengunjung.


Tetapi, harus diingat bahwa karakter pameran blockbuster seperti ini cocok untuk audiens tahun 1990-an dan 2000-an. Kini, karakter masyarakat berubah. Gaya museum mengelola pameran temporer, baik blockbuster maupun tidak, juga harus ikut berubah. Kini tidak bisa lagi museum melarang pengunjung berfoto, malah harus berlomba-lomba membuat museumnya instagramable. Pameran tidak bisa lagi pasif, harus interaktif, bahkan partisipatoris.


Apalagi di kala pandemi seperti ini. Selain pameran offline, virtual tour biasanya juga tersedia. Berikut acara-acara program publik yang hybrid antara online dan offline, pun dilengkapi dengan podcast dan aplikasi museum yang dapat diakses di gawai masyarakat. Aplikasi bisa berisi informasi terkait koleksi, behind the scene pameran, sampai berbagai permainan. Seru kan! Akses museum juga jadi bisa menjangkau masyarakat yang lebih luas, tidak terbatas di kota tempat museum itu berada saja.


Museum memang tidak bisa lengah dan berdiam diri, harus terus bergerak maju mengikuti tuntutan perkembangan zaman. Jadi gimana, apa museum-museum Indonesia siap berubah?


Cover photo: Thennicke in Wikimedia Commons. The picture is licensed under the Creative Commons Attribution-Share Alike 4.0

Komentar


Ā© 2023 by NOMAD ON THE ROAD. Proudly created with Wix.com

bottom of page