top of page

Narasi Zaman Jepang di Museum Indonesia dan Pergantian Rezim Politik

  • Gambar penulis: Ajeng Arainikasih
    Ajeng Arainikasih
  • 12 Feb 2021
  • 7 menit membaca

Diperbarui: 9 Sep 2021



Halo!


Setelah keliling Asia Timur, Asia Selatan dan negara-negara lain di Asia Tenggara, naah, akhirnya sampai juga kita ke Indonesia! Ada sekitar lima museum nih yang akan gue, Retno, dan Argi bahas di episode podcast kali ini. Penasaran? Ini bocoran daftar museum yang akan kita bahas ya.


Daftar Isi:

Museum Rumah Bersejarah Kalijati, Subang


Kalau ingat pelajaran sejarah di sekolah dulu, pasti ingat kan kalau Jepang masuk ke wilayah Indonesia (dulu Hindia Belanda) di awal tahun 1942? Nah, di episode lalu tentang Singapura, sudah dibahas kalau di Singapura tempat menyerahnya Inggris terhadap Jepang dijadikan museum: Former FORD Factory. Ternyata di Indonesia juga lho! Namanya Museum Rumah Bersejarah Kalijati di dalam kompleks Lapangan Udara Suryadarma yang merupakan milik TNI AU di Kalijati, Subang.


Di website TNI AU disebutkan bahwa rumah ini didirikan tahun 1917 sebagai rumah dinas bagi perwira staf penerbang Hindia Belanda. Rumah ini kemudian digunakan untuk tempat "bertemunya" Belanda dan Jepang, dan kemudian Belanda menyerah tanpa syarat terhadap Jepang di rumah ini. Tepatnya pada tanggal 8 Maret 1942.


Di website TNI AU juga disebutkan bahwa rumah ini diresmikan sebagai museum rumah bersejarah sejak tahun 1986. Padahal, menurut berita di surat-surat kabar Jepang, rumah ini sudah dijadikan museum sejak akhir tahun 1943!


Awalnya, tahun 1943 Jepang mendirikan Museum Peringatan Perang di Jawa yang bertempat di Villa Isola di Bandung. Setelah museum pertama ini diresmikan, Jepang pun terinspirasi untuk menjadikan tempat menyerahnya Belanda menjadi museum juga. Yakni, museum yang kini menjadi Museum Rumah Bersejarah Kalijati.


Namun, gue tidak tahu pasti apa yang terjadi antara tahun 1943 sampai museum "diresmikan" (lagi) tahun 1986. Yang jelas, karena berada di bawah lingkungan TNI maka kini untuk masuk ke museum sangat sulit. Harus ada izin tertulis yang sudah diurus dan disetujui jauh hari sebelum tanggal kunjungan.


Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta


Nah, bagaimana sebenarnya zaman Jepang diceritakan di museum lain di Indonesia? Di zaman Orde Baru yang mengangkat sejarah militer, penggambaran terhadap zaman Jepang biasanya mengangkat 3 tema: romusha, PETA, dan pertempuran-pertempuran kecil antara rakyat (tentara) Indonesia ketika melucuti senjata Jepang pasca Jepang menyerah. Contohnya, zaman Jepang di Museum Monumen Nasional (Monas) ditampilkan dalam 1 diorama yang menggambarkan romusha.


Contoh lainnya seperti yang ditampilkan di Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta. Benteng Vredeburg adalah benteng kolonial yang memang sengaja di dekolonisasi jadi museum perjuangan di tahun 1980-an. Museum menceritakan sejarah perjuangan di wilayah Jogja dan sekitarnya yang memiliki "efek" nasional. Zaman Jepang ditampilkan dalam beberapa diorama.


Diorama pertama menceritakan tentang masuknya Jepang. Diorama berikutnya menceritakan tentang pelatihan militer Jepang di Indonesia: PETA, Heiho, Seinendan, Keibodan. Lalu, diorama ke-3 menceritakan tentang rakyat yang membuat selokan Mataram. Sultan sengaja membuat proyek ini agar rakyat terhindar dari dijadikan romusha oleh Jepang. Jadi, ini bentuk resistensi juga terhadap Jepang. Sebenarnya diorama ini diubah di tahun 2008-an. Awalnya, diorama menceritakan ketika rakyat dijadikan romusha oleh Jepang untuk membuat lapangan terbang.


Selain itu, ada pula diorama-diorama yang menggambarkan peristiwa setelah Jepang menyerah. Antara lain tentang perebutan kembali kantor Surat Kabar Sinar Matahari; pergantian bendera Hinomaru dengan bendera Merah Putih; dan tentang pertempuran antara tentara/rakyat Indonesia dengan Jepang terkait pelucutan senjata Jepang di Kotabaru.


Tebak siapa tokoh yang ikut dalam peristiwa pertempuran Kotabaru ini? Tentu saja tak lain dan tak bukan adalah mantan Presiden Suharto!


Selain itu, di museum juga ada koleksi uang zaman Jepang dan replika pakaian dari karung goni, bahan yang biasa dipakai rakyat pada masa itu. Di halaman museum bahkan ada patung polisi Jepang berkebangsaan Indonesia (Keibodan).


Museum dan Monumen PETA, Bogor


Diorama tentang zaman Jepang juga ditemukan di Museum dan Monumen PETA (Pembela Tanah Air) di Bogor. Museum dan Monumen PETA di Bogor bertempat di bekas tempat latihan PETA. Kini museum masih berada di dalam komplek militer dan dikelola dibawah TNI. Museum ini awalnya didirikan tahun 1995. Seperti layaknya museum yang didirikan zaman Orde Baru, fokus utamanya adalah diorama.


Museum memiliki 2 ruangan terpisah. Ruangan pertama menampilkan 14 diorama tentang dibentuknya tentara sukarela PETA di zaman Jepang, perekrutan dan latihan PETA di Jawa dan Bali. Dioramanya bahkan dilengkapi dengan percakapan dalam bentuk suara (harus dinyalakan petugas museum). Harusnya sih, keren banget pada zamannya.


Diorama dengan ukuran paling besar (life-size) menggambarkan pemberontakan Supriyadi di Blitar tahun 1945. Di masa Orde Baru pemberontakan Supriyadi tampaknya dijadikan "masterpiece" atau cerita utama resistensi militer terhadap Jepang. Kisah ini sepertinya bahkan menginspirasi Pramoedya Ananta Toer dalam menuliskan novel Perburuan yang sudah diadaptasi menjadi film layar lebar.


Kembali ke museum, di ruang ke-1 ini juga ada poster-poster propaganda tentang PETA yang dahulu dimuat di majalah Jepang, Djawa Baroe. Juga seragam para tentara dan memorabilia para alumni tentara PETA.


Lanjut ke ruang ke-2, di sini menceritakan kiprah mantan tentara PETA dalam proklamasi dan peristiwa pertempuran mempertahankan kemerdekaan. Salah satunya adalah diorama pertempuran di Kotabaru yang menampilkan mantan Presiden Suharto. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, pertempuran Kotabaru ini muncul juga di diorama Museum Benteng Vredeburg, Yogyakata dan di Museum Satria Mandala, Jakarta.


FYI, tentara PETA dianggap sebagai cikal bakal TNI. Di ruangan ini juga ditampilkan senjata-senjata, serta replika tandu Jenderal Sudirman.


Satu hal yang menarik perhatian gue, Daan Mogot yang juga mantan tentara PETA dan gugur dalam pertempuran di Lengkong, Tangerang, saat melucuti tentara Jepang tidak diceritakan di museum. Menurut teman gue yang bekerja di museum tersebut, museum dibuat oleh alumni-alumni tentara PETA yang kemudian menjadi pejabat militer di era Orde Baru. Jadi, wajar kalau kisah mereka (yang membuat museum) banyak diangkat di museum, sedangkan, kisah orang lain agak "terlupakan". Tetapi, ini hanya asumsi kami saja, lho, belum tentu benar, hehe...


Oh ya, menurut teman gue yang bekerja di Museum PETA, kemungkinan komplek museum tersebut juga pernah dijadikan kamp untuk tawanan Jepang berkebangsaan Eropa. Sama seperti Benteng Vredeburg yang dahulu dijadikan kamp juga. Namun, tentu saja kisah sejarah tersebut tidak diceritakan di museum-museum di Indonesia. Bahkan rasanya tidak banyak yang tahu kalau di zaman Jepang orang-orang Eropa (terutama Belanda) di Hindia Belanda ditawan Jepang di kamp, seperti layaknya Yahudi di Eropa. Pengecualian terjadi untuk orang-orang Eropa berkebangsaan Jerman.


Bale Panyawangan Diorama Purwakarta


Pasca reformasi, beberapa museum mulai sedikit menampilkan cerita tentang zaman Jepang dalam pamerannya yang tidak berhubungan dengan militer. Misalnya, di Museum Bank Indonesia Jakarta, periode zaman Jepang sedikit diceritakan. Terutama mengenai mata uang yang saat itu digunakan. Juga di Museum Pendidikan Dokter Surabaya di dalam kampus Universitas Airlangga Surabaya. Kegiatan perkuliahan dan ijazah dokter di zaman Jepang ditampilkan di museum.


Selain itu, zaman Jepang juga diceritakan di Bale Panyawangan Diorama Purwakarta. Periode zaman Jepang ditampilkan melalui arsip-arsip poster propaganda. Juga tentang organisasi-organisasi buatan Jepang seperti PUTERA, PETA, Hizbullah, Kagutotai, dan Fujinkai yang saat itu ada di wilayah Purwakarta.


Museum Perang Dunia II Morotai dan Tarakan


Nah, bagaimana dengan museum-museum di luar Pulau Jawa? Apa ada museum yang menceritakan zaman penjajahan Jepang di Indonesia?


Di dekade 2010-an museum perang dunia juga menjadi "marak" di bangun di Indonesia. Misalnya, Museum Perang Dunia II di Morotai dan Tarakan. Di Morotai, tahun 2012 Museum Perang Dunia II dibangun atas perintah mantan presiden SBY. Bangunannya terbuat dari konstruksi besi dan kaca. Namun sayangnya hingga kini museum belum 100% berjalan.


Museum menceritakan mengenai kondisi geografis Morotai dan perannya dalam Kesultanan Ternate. Lalu ceritanya berlanjut ke masa masuknya Sekutu ke Morotai hingga pecah perang Morotai antara Jepang dan Sekutu di akhir Perang Dunia II. Cerita tentang dibangunnya Morotai sebagai pangkalan udara militer juga ditampilkan di museum. Juga sedikit tentang kehidupan tentara Jepang dan Sekutu. Terakhir, diceritakan pula tentang menyerahnya Jepang. Koleksinya berupa senjata dan material bekas perang yang banyak tersisa di Morotai. Misalnya name tag tentara, tempat minum, dan selongsong peluru.


Sedangkan di Tarakan, awalnya museum bertempat di bangunan bernama rumah bundar yang merupakan bekas bangunan Perang Dunia II. Kini, museum dipindahkan ke bangunan baru bergaya Eropa berbentuk gedung putih dengan desain kembar. Satu gedung digunakan sebagai Museum Sejarah Perminyakan Tarakan. Sedangkan, gedung satunya merupakan Museum Perang Dunia II.


Museum Perang Dunia II nya sendiri menampilkan benda-benda seperti senjata dan samurai, bagian-bagian dari pesawat tempur, sepatu tentara Jepang, dan kaleng biskuit tentara Sekutu. Bahkan ada sumbangan seragam tentara Australia yang bertempur di Tarakan saat Perang Dunia II. Selain itu, ada pula benda-benda dari masa kolonial Belanda dan pasca kemerdekaan di museum ini yang tidak berhubungan dengan Perang Dunia II.


To Conclude...


Kesimpulannya, di Indonesia museum tentang zaman Jepang jarang sekali ditemui keberadaannya. Lebih banyak museum perjuangan yang menceritakan era revolusi tahun 1945-1949. Mengapa?


Alasan pertama, mungkin karena beberapa ahli sejarah menganggap Sukarno adalah kolaborator Jepang. Apakah "image" sebagai kolaborator Jepang ini mempengaruhi pendirian museum? Maksudnya, tentu saja Orde Lama tidak membuat museum mengenai masa dimana beliau dianggap sebagai kolaborator penjajah. Ya gak sih?


Alasan kedua, di masa Orde Baru, yang terutama diangkat adalah sejarah militer. Jadi, peran tentara PETA adalah fokus utama. Terutama pemberontakan PETA oleh Supriyadi di Blitar tahun 1945. Juga cerita tentang pelucutan senjata tentara Jepang pasca Jepang menyerah, terutama di Kotabaru yang salah satu tokohnya adalah "Sang Bapak".


Sejarah sosial kehidupan sehari-hari di masa penjajahan Jepang luput dibahas di museum. Apalagi sejarah kontroversial seperti Jugun Ianfu ataupun orang-orang Eropa yang dimasukkan ke kamp Jepang. Paling banter, hanya ditampilkan penderitaan romusha.


Faktanya, di dunia permuseuman, museum yang mengangkat sejarah sosial mulai berkembang di tahun 1980-an. Pada masa itu, Indonesia berada di bawah kekuasaan Orde Baru. Tentu saja di era rezim yang pro dengan sejarah ofisial, sejarah sosial dan cerita personal pastinya tidak punya tempat di museum.


Sedangkan, di masa setelah reformasi, museum-museum yang dibangun banyak menceritakan mengenai akhir masa Perang Dunia II antara Jepang dan Sekutu. Lagi-lagi, museum mengangkat official history. Cerita sejarah sosial tentang kehidupan sehari-hari dan cerita personal masih absen di museum. Bahkan, museum lebih menceritakan "perangnya orang lain" dibandingkan dengan keadaan dan peran masyarakat Indonesia sendiri saat itu.


Padahal, kalau mau dicari dan diteliti, cerita-cerita dari orang Indonesia yang mengalami zaman Jepang masih bisa dikumpulkan. Paling tidak, cerita dari generasi ke-2 mengenai kisah yang dialami oleh orang tua atau kakek/nenek mereka. Ceritanya seru-seru, lho! Ada perempuan-perempuan anak bangsawan yang diminta Jepang belajar Bahasa Jepang dan kemudian mengajarkannya ke rakyat. Ada pula yang jadi double agent, lalu ketahuan dan kemudian disiksa oleh Kempetai. Seharusnya, cerita-cerita seperti itu masuk museum kan ya? Agar memorinya tidak hilang dalam ingatan bangsa. Menurut kalian bagaimana?


Ditunggu komentarnya ya di Instagram @museumtravelogue. Oh ya, biar gak ketinggalan dengerin episode-episode selanjutnya (atau sebelumnya) jangan lupa juga follow akun #MuseumTravelogue Talk di platform podcast ini: Spotify, Anchor, Google Podcasts, dan Apple Podcasts.

Pst, minggu depan ke Eropa yuk! Siapa hendak turut?

Salam!

*Episode ini diriset dan dibawakan oleh Ajeng Arainikasih, Retno Ayu Lestari dan Argi Arafah.



Foto: Pexels / Pixabay


Komentar


Ā© 2023 by NOMAD ON THE ROAD. Proudly created with Wix.com

bottom of page