top of page

Museum-Museum di Taiwan dan Kolonialisme Jepang

  • Gambar penulis: Ajeng Arainikasih
    Ajeng Arainikasih
  • 5 Nov 2020
  • 5 menit membaca

Diperbarui: 2 Sep 2021



Bulaibulai Sun!*


Di podcast episode pertama #MuseumTravelogue Talk Season 1: Dai Nippon ini, gue, Retno dan Argi bahas tentang museum-museum di Taiwan. Nah, silahkan klik disini untuk dengerin obrolan kami dalam bentuk podcast. Eh, tapi kenapa sih Taiwan diangkat jadi episode pertama? Alasannya simpel: karena Taiwan adalah koloni Jepang pertama.


Dalam perjanjian Shimonoseki, setelah Dinasti Qing di Cina kalah dalam perang First Sino-Japanese War melawan Jepang, Cina menyerahkan Taiwan kepada Jepang. Taiwan kemudian menjadi koloni Jepang selama 50 tahun, sejak tahun 1895-1945. Nah, museum-museum yang dibahas di post ini menarasikan bagaimana Taiwan menceritakan tentang sejarah penjajahan Jepang di negaranya. Kalau tidak mau baca dari awal sampai akhir, bisa juga kok pilih museumnya langsung dengan cara klik di daftar isi.


Daftar Isi:


National Taiwan Museum, Taipei


Kebetulan, di tahun 2010, gue pernah datang ke museum paling tua di Taiwan, yakni National Taiwan Museum di Taipei. Museum ini didirikan tahun 1908 pada masa masa pemerintahan kolonial Jepang di Taiwan lho! Bangunannya bergaya Neo-classic dan dulu namanya Taiwan Governor Museum.


Pada masa itu Jepang mengikuti konsep museum Eropa, yakni museum sebagai ā€œa tool to legitimate colonialismā€. Jadi, saat itu Taiwan Governor Museum membahas mengenai antropologi dan kebudayaan dari penduduk lokal Taiwan yang bukan etnis Han-Cina. Museum juga bertujuan untuk mempromosikan budaya lokal Taiwan dan ā€œto civilize the indigenous peopleā€. Saat itu, di museum juga ada patung beberapa tokoh penting Jepang.


Baru sejak tahun 1999 nama museum berganti menjadi National Taiwan Museum. Di tahun 2010, saat gue datang ke museum, sedang ada pameran temporer tentang etnis Paiwan, salah satu etnis lokal atau indigenous di Taiwan. Pamerannya sih seru, interaktif. Tapi sebagian besar menggunakan Bahasa Cina, jadi gue roaming, hehe...


Bekas gedung Land Bank of Taiwan (dulunya Bank Jepang Kangyo Bank) yang berada di seberang museum juga kini dijadikan bagian dari National Taiwan Museum. Selain menampilkan tata pamer berupa situasi bank di zaman kolonial Jepang dahulu, bangunan tersebut juga digunakan untuk memamerkan koleksi sejarah alam.


Gold Museum, New Taipei City


Waktu gue ke Taiwan, gue juga sempat berkunjung ke Jinguashi Gold Ecological Park Museum di New Taipei City. Sekarang namanya Gold Museum. Museum ini merupakan ecomuseum di bekas tambang emas. Eh gimana gimana? Apa maksudnya sih ecomuseum? Nah, ecomuseum adalah museum yang komunitas lokalnya yang tinggal disekitar museum ikut berperan dalam mengelola museum.


Gold Museum sendiri adalah open air museum, berisi landscape dan bangunan-bangunan bekas tambang emas perusahaan Taiwan Metal Mining Corp. di era kolonial Jepang. Ada bekas gedung kantor, club/restaurant, rumah tempat tinggal pegawai, stasiun bus, terowongan tambang, rel kereta tambang, dll.


Di museum ada 4 rumah tinggal yang terbuat dari kayu dan arsitekturnya bergaya Jepang. Ternyata, dahulu rumah-rumah tersebut digunakan sebagai tempat tinggal pemimpin-pemimpin perusahaan tambang emas (yang pastinya adalah orang Jepang). Ada pula bangunan kayu semacam vila bergaya Jepang lengkap dengan Japanese garden nya. Bangunan tersebut dibangun tahun 1922 ketika Putra Mahkota Jepang Hirohito datang ke Taiwan dan melakukan inspeksi ke tambang emas.


Selain melihat pameran di Gold Museum, pengunjung juga bisa ikut tur masuk ke terowongan tambang dan mencoba mendulang emas. Di museumnya sendiri diceritakan tentang sejarah tambang emas tertua dan terbesar di Taiwan ini, juga tentang era ketika tambang digunakan sebagai kamp internir Jepang (POW Camp) saat Perang Dunia II.


Beitou Hot Spring Museum, Taipei


Pada kunjungannya ke Taiwan, putra Mahkota Jepang Hirohito juga sempat berkunjung ke Beitou Public Bath yang dibangun tahun 1913. Pada masa itu Beitou Public Bath adalah yang terbesar di Asia Timur dan dibangun karena terinspirasi dari Izu Mountain Hot Spring di Shizuoka, Jepang. Bangunannya bertingkat 2, terbuat dari bata dan kayu, dan arsitekturnya bergaya Jepang-Eropa.


Setelah perang bangunannya terbengkalai. Baru di tahun 1994 reruntuhannya ditemukan oleh guru dan murid SD Beitou. Mereka kemudian aktif meminta pemerintah melakukan sesuatu terhadap peninggalan kolonial Jepang ini. Akhirnya di tahun 1998 situs kolonial ini dijadikan Beitou Hot Spring Museum.


Tidak hanya Beitou Hot Spring Museum, belakangan beberapa bangunan peninggalan kolonial Jepang juga dijadikan (reuse) sebagai museum. Contohnya: National Literature Museum di Tainan dulunya adalah Kantor Prefecture Tainan. Gaoxiong City History Museum dulunya adalah Gaoxiong City Hall. Sedangkan National Prison Museum dulunya adalah Penjara Tainan di Jiayi; dan Sugar Factory Museum sebelumnya adalah Pabrik Gula Qiaotou.


Sebenarnya, baru setelah tahun 1990-an museum-museum dan cagar budaya warisan Jepang di Taiwan ā€œdiakuiā€ sebagai colonial heritage. Sebelumnya, ketika partai politik Kuomintang berkuasa penuh, bangunan-bangunan peninggalan Jepang dihancurkan. Kini, Taiwan berusaha mendekonstruksi narasi historiografi Cina-sentris dengan menjadikannya Taiwan-sentris.


Di narasi yang baru ini, era kolonial Jepang termasuk bagian dari sejarah Taiwan. Taiwan juga hybrid dan multikultur karena terdiri dari penduduk indigenous, bukan hanya orang Cina saja. Pendekatan ini berbeda dari narasi Cina-sentris yang menganggap bahwa orang Taiwan hanya terdiri dari etnis Han-Cina. Historiografi Cina-sentris ini juga mengagung-agungkan kebudayaan Cina kuno sebagai satu-satunya kebudayaan adiluhung Taiwan.


Armed Forces Museum, Taipei


Tetapi, saat ini masih ada juga lho museum yang narasinya dibawah pengaruh Kuomintang, yakni Armed Forces Museum di Taipei. Di salah satu bagian pameran permanen museum ini ditampilkan tentang Anti-Japanese War (terutama yang terjadi di Cina dan Burma/Myanmar). Narasi tersebut disampaikan melalui foto, historical material, cultural relic, war painting, film dan material multimedia. Di museum ini Taiwan juga memposisikan dirinya sebagai bagian dari Cina dan berjuang bersama dengan Cina dan Sekutu untuk melawan Jepang.


National Museum of Taiwan History, Tainan


Sebaliknya, narasi ā€œPro-Kolonialā€ ditemukan di National Museum of Taiwan History, Tainan. Museum ini dibuka tahun 2011 di bangunan yang bergaya modern. Di museum ini Taiwan menceritakan dirinya sebagai negara yang multikultural, terdiri atas indigenous people dan etnis Cina, serta Jepang sebagai colonizer.


Jepang disebutkan sebagai pembawa modernisasi ke Taiwan di bidang administratif, edukasi, industrial, komersial dan scientific. Juga sebagai pembawa modernisasi Barat di gaya hidup lokal. Perempuan jadi dapat sekolah dan bekerja sebagai perawat, guru, dan pegawai kantoran.


Walaupun di museum ditampilkan tentang propaganda perang Jepang di Taiwan, tetapi Jepang tidak ditampilkan sebagai ā€œpenindasā€. Malah yang ditampilkan adalah kisah tentang orang-orang Taiwan yang dengan sukarela mendaftar untuk menjadi bagian dari militer Jepang. Cerita tentang orang-orang yang dijadikan pekerja paksa di Taiwan juga tidak diceritakan. Bahkan, narasi mengenai perempuan Taiwan yang dijadikan comfort women (budak seks) selama Perang Dunia II juga ā€œluputā€ diceritakan di museum ini.


Seru juga ya dunia permuseuman di Taiwan. Ternyata beda rezim politik yang berkuasa mengakibatkan beda kebijakan terkait sejarah dan narasi museum. Terutama yang berhubungan dengan kolonialisme Jepang.


Ama Museum, Taipei


Oh ya, ngomong-ngomong tentang comfort women, narasi mengenai comfort women diceritakan di Ama Museum, Taipei. Museum ini baru didirikan tahun 2016 oleh Taipei Women’s Rescue Foundation. Ama artinya nenek, maksudnya mengacu kepada perempuan-perempuan tua yang survived dari Perang Dunia II.


Tujuan museum ini adalah untuk menjadi tempat untuk mempromosikan gender equality, dan juga membahas mengenai kerusakan yang ditimbulkan dari sexual abuse. Sedihnya, karena kondisi ekonomi yang kurang baik dan juga pandemi, Ama Museum akan ditutup untuk selamanya mulai November 2020 ini. Sayang ya! Sebuah kehilangan besar untuk dunia permuseuman internasional.


Nah, terima kasih sudah mendengarkan episode 1 tentang Taiwan ini. Jangan lupa ya untuk love dan follow biar gak ketinggalan untuk mendengarkan episode-episode #MuseumTravelogue Talk selanjutnya di Spotify. Podcast ini juga bisa didengarkan di Anchor dan Google Podcasts.


Lastly, follow akun Instagram @museumtravelogue ya supaya bisa memberikan komentar atau share cerita tentang museum di Taiwan.


Salam!

*Bulaibulai Sun artinya halo. Kata ini merupakan Bahasa Paiwan, salah satu etnis lokal di Taiwan.


**Episode ini diriset dan dibawakan oleh Ajeng Arainikasih, Retno Ayu Lestari dan Argi Arafah.



Foto: Pexels / Pixabay


Komentar


Ā© 2023 by NOMAD ON THE ROAD. Proudly created with Wix.com

bottom of page