Museum, Korea Selatan dan Dai Nippon
- Ajeng Arainikasih

- 19 Nov 2020
- 5 menit membaca
Diperbarui: 2 Sep 2021

Annyeonghaseyo!*
Ups! Berhubung gue, Retno dan Argi anti-mainstream, maka kami tidak akan membahas tentang drakor, makanan, atau boyband/girlband dari Korea yang lagi nge-hits. Di episode ke-3 #MuseumTravelogue Talk ini kami malah akan membahas tentang museum! Terutama museum-museum di Korea Selatan yang menceritakan tentang masa ketika Korea menjadi salah satu koloni tertua Kekaisaran Jepang atau Dai Nippon.
Oh ya, kalau kalian malas membaca dan lebih nyaman mendengarkan obrolan kami di podcast, silahkan klik disini ya! Berikut adalah daftar museum-museum yang akan dibahas di post ini. Feel free untuk klik langsung museum yang di-kepo-in.
Daftar Isi:
Berdasarkan survei tahun 2013 yang dilakukan oleh BBC World Service Poll, Korea Selatan adalah negara ke-2 setelah Cina yang memiliki perasaan negatif ke Jepang (67%). Hal ini disebabkan karena Korea pernah menjadi daerah jajahan atau koloni Jepang sejak tahun 1910-1945.
Selain dijajah dan dieksploitasi, selama masa pendudukan Jepang rakyat Korea juga banyak yang dijadikan pekerja paksa dan comfort women (budak seks). Kini, di Korea Selatan bahkan ada museum tentang comfort women dan forced labour.
Faktanya, di antara tahun 1931-1945 ada sekitar 400 comfort stations dan 200.000 perempuan yang dipekerjakan sebagai budak seks Jepang di seluruh Asia. Sejarah kelam ini mulai terungkap di tahun 1990-an setelah para korbannya berani "berbicara". Salah satu nya adalah Kim Bok-Dong, orang Korea yang kemudian aktif menjadi aktivis against sexual violence.
War and Women's Human Right Museum, Seoul
Nah, War and Women's Human Right Museum di Seoul menceritakan mengenai kisah para comfort women ini. Museum 3 lantai ini dibuka tahun 2012 atas prakarsa NGO Korean Council for the Women Drafted for Military Sexual Slavery by Japan. Museum juga bertujuan untuk kampanye against war sexual violence dan meminta keadilan bagi para korban. Antara lain dengan meminta pemerintah Jepang menyatakan permintaan maaf resmi.
Museum fokus menceritakan cerita perorangan para korban/penyintas. Yakni, dengan menampilkan lukisan karya para penyintas yang dahulu dijadikan budak seks ketika masih remaja dibawah umur. Juga rekaman testimoni dan benda-benda pribadi milik para penyintas. Dokumen, foto dan peta terkait comfort station dan medical record juga dipamerkan di museum. Ada pula bagian pameran yang khusus dibuat untuk menghormati para comfort women yang meninggal antara tahun 1931-1945.
Terakhir, museum juga membahas isu international war crime. Antara lain menceritakan mengenai tentara Korea yang melakukan kekerasan seksual di perang Vietnam, dan permintaan maaf oleh pemerintah Korea ke Vietnam.
National Memorial Museum of Forced Mobilization under Japanese Occupation, Busan
Selain itu, tahun 2015 di Busan dibuka National Memorial Museum of Forced Mobilization under Japanese Occupation. Busan dipilih sebagai lokasi tempat didirikannya museum karena Pelabuhan Busan merupakan tempat diberangkatkannya para pekerja paksa dan budak seks dari Korea ke berbagai wilayah pendudukan Jepang.
Museum sendiri memamerkan fakta sejarah mengenai forced mobilization di bawah pendudukan Jepang, terutama dari dokumen dan foto. Di museum diceritakan pula bagaimana "proses" (baca: tipu-tipu yang dilakukan oleh Jepang) agar seseorang bisa dijadikan pekerja paksa atau budak seks. Mereka biasanya berakhir menjadi pekerja paksa di tambang atau comfort women di military brothel.
Bagaimana kehidupan yang dilalui saat itu, dan bagaimana proses pembebasan dan pemulangan mereka juga dibahas di museum. Museum sengaja didirikan untuk mengedukasi masyarakat masa kini mengenai hak asasi manusia dan perdamaian dunia.
Seodaemun Prison History Hall, Seoul
Perasaan anti-Jepang di masyarakat Korea juga dapat terlihat dari tata pamer di Seodaemun Prison History Hall, Seoul. Seodaemun prison adalah penjara modern yang dibuat oleh Jepang tahun 1908. Penjara ini berfungsi sampai dengan tahun 1987 dan dijadikan museum tahun 1998.
Tata pamer museum berada di beberapa bangunan penjara, juga outdoor sebagai bagian dari penjara. Misalnya, menara penjaga, tempat hukuman mati dan terowongan ke pemakaman di luar komplek penjara. Tata pamernya sendiri bercerita mengenai sistem manajemen penjara, sistem pengawasan, dan rutinitas sehari-hari para tahanan.
Juga tentang peristiwa dan orang-orang yang terlibat dalam anti-Japanese independent movement. Adapula testimoni dari para penyintas yang disiksa oleh Jepang ketika mereka di interogasi di penjara tersebut. Ngeri ya!
Selain museum yang "bertema khususu", museum sejarah lokal di kota-kota lain di Korea Selatan juga banyak yang membahas mengenai zaman kolonial Jepang sebagai periode sejarah Korea yang kelam. Misalnya di Gunsan/Kunsan dan Busan.
Gunsan Modern History Museum, Gunsan
Gunsan dulunya adalah desa nelayan yang menjadi kota pelabuhan kolonial di zaman pendudukan Jepang. Gunsan Modern History Museum didirikan tahun 2011 di gedung baru 4 lantai yang bergaya modern, yang mencerminkan kota Gusan Modern di era 1920-an.
Di museum diceritakan mengenai kehidupan di era kolonial di Gusan melalui tata pamer yang interaktif dan partisipatoris. Tetapi, pameran nya juga menggambarkan bahwa rakyat Korea menderita di bawah penjajahan Jepang, sedangkan Jepang berjaya. Misalnya, diceritakan kalau para lelaki Korea banyak yang bekerja di pelabuhan, sedangkan para perempuannya bekerja menjadi pembantu bagi orang Jepang.
Tata pamer interaktifnya antara lain: pengunjung dapat naik rickshaw, mencium bau sake dan duduk di tatami sambil menonton film. Namun, filmnya menceritakan tentang para petani Korea yang menentang polisi Jepang yang terkenal kejam dan suka menindas. Juga tentang pelajar Korea yang memperjuangkan kemerdekaan.
Sedangkan, tata pamer partisipatorisnya antara lain: pengunjung diminta menuliskan opini atau perasaan tentang perjuangan kemerdekaan Korea di masa kolonial. Tentunya jawaban pengunjung banyak yang mengekspresikan perasaan benci terhadap Jepang!
Di Gunsan, setelah tahun 2010 pemerintah kotanya juga sengaja mempreservasi beberapa bangunan kolonial Jepang dan menjadikannya museum. Yakni Gunsan Modern Art Museum dan Gunsan Modern Architecture Exhibition Hall yang didirikan tahun 2013. Walaupun banyak menampilkan temporary exhibition, tapi kedua museum memamerkan foto/lukisan yang menampilkan penderitaan rakyat Korea ketika dijajah oleh Jepang dan resistensi mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan Korea di pameran permanen mereka.
Busan Modern History Museum, Busan
Selain itu, Busan Modern History Museum yang dibuka tahun 2003 juga didirikan di bekas bangunan kolonial Jepang. Pamerannya dimulai dengan menceritakan sejarah dibukanya pelabuhan Busan di akhir abad 19 dan pedagang Jepang mulai masuk untuk berdagang di Busan (dibawah kekuasaan Kerajaan Joseon). Lalu pameran berlanjut menceritakan mengenai Busan dibawah eksploitasi kolonial Jepang, dan Busan sebagai kota modern.
Museum juga menceritakan mengenai Dongyang Cheoksik Co., Ltd. Perusahaan Jepang yang gedungnya kini dijadikan Busan Modern History. Di museum diceritakan bahwa perusahaan tiran ini membuat petani di Kerajaan Joseon tersiksa demi keuntungan perusahaan.
Beberapa review mengenai museum ini menyayangkan betapa tata pamer museum sangat "menyalahkan" penjajah Jepang daripada membahas mengenai sejarah pencapaian Busan sebagai kota yang modern. Gue jadi penasaran dan pingin ke Korea. Eh, modus!
Tampaknya, trend menggunakan bangunan kolonial untuk museum (misalnya di Gunsan dan Busan) dimaksudkan untuk reframing bangunan itu sendiri. Yakni untuk mengingat mengenai sejarah kelam Korea di bawah kolonialisme Jepang. Bukannya untuk glorify masa ketika Korea berada dibawah kekuasaan Dai Nippon.
Kayaknya sudah cukup panjang ceritanya, sudah dulu ya! Jangan lupa love dan follow kami di Spotify biar tidak ketinggalan untuk mendengarkan episode-episode #MuseumTravelogue Talk selanjutnya. Gamsahabnida! (Baca: terima kasih). Oh ya, selain itu, rekaman podcast episode 3 ini juga bisa didengarkan di Anchor dan Google Podcasts.
Last but not least, siapa yang sudah pernah ke museum-museum yang dibahas di atas? Follow akun Instagram @museumtravelogue ya, lalu share cerita kalian tentang museumnya. Ditunggu lho! See you next week!
Salam!

*Semua pasti tahu lah ya kalau di Bahasa Korea annyeonghaseyo artinya halo.
**Episode ini diriset dan dibawakan oleh Ajeng Arainikasih, Retno Ayu Lestari dan Argi Arafah.

Foto: Pexels / Pixabay




Komentar