Memori Imigran Pasca-Kolonial di Museum Belanda
- Ajeng Arainikasih

- 19 Feb 2021
- 7 menit membaca
Diperbarui: 9 Sep 2021

Welkom in Nederland!*
Kalau tidak pindah ke Belanda, gue mungkin tidak pernah tahu kalau orang-orang Belanda dulu masuk kamp internir di Indonesia (Hindia Belanda) ketika zaman Jepang. Bukan hanya orang Belanda, tetapi juga orang Indo (Indisch), terutama yang persentase darah Eropa-nya cukup banyak. Kamp perempuan dan anak-anak di pisah dengan kamp laki-laki. Selain itu, para laki-laki Belanda banyak juga yang dikirim jadi romusha untuk membuat jalan kereta di Thailand dan Myanmar. Coba baca Episode 9: Perang Dunia 2 dan Tiga Versi Narasi di Museum Thailand dan Episode 8: Minimnya Representasi Perang Dunia 2 di Museum Myanmar.
Setelah zaman Jepang, mereka juga terkadang jadi sasaran penjarahan dan pembunuhan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab di era revolusi atau perang mempertahankan kemerdekaan tahun 1945-1949. Saat itu, orang-orang yang berkebangsaan Belanda "asli" langsung pulang ke Eropa.
Sedangkan, pada kurun waktu 1950-1962 orang-orang Indo (Indisch) dan peranakan Cina akhirnya terpaksa "dipulangkan" juga ke Eropa. Walaupun mereka biasanya beragama Nasrani, mengenyam pendidikan Eropa dan bisa berbahasa Belanda, sebagian besar dari mereka sama sekali belum pernah melihat Eropa.
Nah, kali ini, gue, Retno dan Argi akan membahas seperti apa sih kisah sejarah ini ditampilkan di museum-museum di Belanda. Cek juga podcast kita untuk episode ini di Spotify, Anchor, Google Podcasts, dan Apple Podcasts. Berikut adalah daftar museum-museum yang akan dibahas:
Daftar Isi:
Di Belanda hidup mereka tidak mudah. Mereka diminta untuk tidak membicarakan masa lalu mereka di Hindia Belanda dan harus berintegrasi dengan budaya Belanda. Mereka bahkan diberikan pelatihan untuk hidup seperti orang Belanda. Padahal, mereka baru mengalami trauma perang juga. Mereka kemudian disebut dengan postcolonial immigrant atau imigran pasca-kolonial, dan juga dikenal sebagai silent-generation. Namun, kini generasi-generasi berikutnya mulai mencari tahu identitas Indisch mereka.
Tongtong Fair yang digelar setiap tahun di Den Haag jadi festival Indisch terbesar. Makanan Belanda juga sangat Indisch. Rendang, sate, babi panggang atau babi kecap, tumis buncis, sayur lodeh, soto, opor ayam dengan lontong dan nasi goreng adalah makanan yang biasa ditemukan sehari-hari di Belanda saat ini. Menu restoran Cina di Belanda juga sangat Indisch, berbeda dengan makanan Cina asli. Bahkan, kuliner Indische Rijstaffel ini sudah resmi dinobatkan sebagai Dutch cultural heritage sejak tahun 2015.
Tetapi, bukan hanya orang Indo dan Peranakan Cina yang terpaksa "pulang" ke Belanda. Pada periode yang sama, 12.500 orang Maluku juga terpaksa "dipulangkan" ke Belanda. Mereka adalah bekas tentara KNIL dan keluarganya yang tidak diinginkan lagi untuk berada di Indonesia. Apalagi saat itu gerakan separatis Republik Maluku Selatan sedang bergejolak.
Namun, berbeda dengan orang Indo yang bisa berbahasa Belanda dan berpendidikan Belanda, orang Maluku biasanya tidak bisa berbahasa Belanda dan berpendidikan rendah. Mereka tidak dianggap sebagai "saudara Belanda". Mereka adalah tamu sementara yang nantinya akan pulang ke Maluku, tepatnya ke Republik Maluku Selatan.
Kenyataannya, mereka tetap di Belanda dan hidup susah tanpa kejelasan selama bertahun-tahun. Akhirnya, di tahun 1970-an, setelah serangkaian tindakan terorisme, orang Maluku di Belanda mulai "diakui" jadi orang Belanda juga. Tahun 1986 Museum Maluku dibangun di Utrecht untuk kepentingan integrasi ini. Walaupun museum terpaksa ditutup tahun 2012 karena Belanda mengalami krisis keuangan.
Dutch Resistance Museum (Verzetsmuseum), Amsterdam
Cerita tentang imigran pasca-kolonial ini juga ditampilkan di Dutch Resistance Museum (Verzetsmuseum), Amsterdam. Dutch Resistance Museum sebenarnya menceritakan tentang resistensi Belanda terhadap okupasi NAZI Jerman. Namun, di tahun 2005 ada 1 ruangan tambahan yang didedikasikan untuk menceritakan tentang resistensi orang-orang Belanda, Indo, dan Maluku saat mengalami zaman penjajahan Jepang di Indonesia.
Tata pamernya dimulai dari kehidupan di "surga" koloni bernama Hindia Belanda sebelum Jepang masuk. Lalu berlanjut ke masa penjajahan Jepang, periode bersiap (revolusi), hingga mereka "pulang" ke Belanda. Namun, narasinya dibuat sangat multi-voices dan menitikberatkan pada cerita personal yang terjadi di kronologi waktu antara tahun 1942-1962. Selain itu, ada pula rekaman oral history dari orang Belanda totok, Indo (Indisch), peranakan Cina, Maluku dan orang Indonesia.
Ada beberapa narasi pameran yang buat gue cukup "mengejutkan" dan tidak nyaman (sebagai orang Indonesia). Misalnya, orang Maluku disini diangkat sebagai satu etnis sendiri dan tampak "berbeda" dari orang Indonesia. Mereka disebutkan sebagai teman Belanda yang membantu dan melindungi Belanda dari orang Jepang DAN Indonesia saat penjajahan Jepang dan revolusi (periode bersiap) berlangsung. Bahkan mereka membentuk kelompok-kelompok resistensi sendiri. Tapi, gue juga mengerti bahwa museum ini didesain untuk postcolonial immigrant dari Maluku, agar mereka merasa jadi bagian dari masyarakat Belanda.
Beberapa informasi juga cukup mengejutkan buat gue, terutama mengenai orang-orang Belanda, Indo dan peranakan Cina yang harus melapor layaknya orang Yahudi di Eropa. Begitu pula kisah tentang kehidupan mereka di dalam kamp yang tidak pernah gue ketahui sebelumnya.
Namun, museum juga cukup "adil" dalam menarasikan berbagai sudut pandang dan untold history. Cerita tentang orang-orang yang dijadikan jugun ianfu (budak seks) dibahas disini. Display nya pun harus ditarik keluar agar bisa terbaca. Benar-benar melambangkan hidden history.
Ada pula cerita tentang tentara Belanda yang merasa datang ke Indonesia untuk membela tanah airnya, namun malah menjadi penjahat perang karena ternyata mereka melakukan agresi militer. Plus, ada kesaksian dari peranakan Cina yang memilih Indonesia sebagai tanah airnya karena ia merasa dirinya bukan Belanda!
Oh ya, museum ini juga punya Junior Museum yang menceritakan secara interaktif tentang kehidupan anak-anak di Belanda di masa Perang Dunia 2 dari 4 tokoh anak yang berbeda latar belakang etnis, kelas sosial dan orientasi politik (orang tua). Di ujung ruangan Junior Museum ini ada moncong pesawat yang di bagian dalamnya ada layar digital. Di layar digital tersebut kita bisa terbang ke daerah koloni: Indonesia dan Suriname, serta membaca kisah singkat tentang kehidupan anak-anak di daerah koloni tersebut saat Perang Dunia 2. Keren!
Museum Bronbeek, Arnhem
Cerita lain tentang postcolonial immigrant ada di Bronbeek Museum, Arnhem. Museum Bronbeek berada di Bronbeek Estate, asrama bagi veteran tentara Belanda. Awalnya, museum ini merupakan museum militer yang menceritakan tentang sejarah militer Belanda. Namun, di tahun 2010 museum bekerjasama dengan Indisch Remembrance Centre dan meredesain tata pamernya.
Tata pamer museum berada di lantai 2 dan terdiri atas 6 tema (6 ruangan), dari datangnya Belanda ke Nusantara tahun 1596 hingga mereka harus kembali di tahun 1962. Museum juga berusaha menampilkan berbagai sudut pandang. Misalnya, di display tentang perang Aceh dan perang Jawa, ada kisah versi Belanda dan kisah versi Indonesia.
Namun, ruangan yang menurut gue paling tricky adalah ruangan 4, 5, 6 tentang zaman Jepang, revolusi 1945-1949, dan pulangnya orang Indo (Indisch) ke Belanda. Ruang tentang zaman Jepang didesain agak berundak-undak kecil, dan banyak tata pamer yang diletakkan di lantai. Jadi, kita harus agak menunduk untuk melihat objek dan membaca label yang di display. Namun, di ujung ruangan ada kain putih dengan bayang-bayang bulatan merah di tengah seperti bendera Jepang. Rasanya jadi seperti menunduk ke arah bendera Jepang seperti di masa penjajahan dulu!
Menurut teman gue orang Belanda, display ini cukup menyinggung pengujung tua yang merasakan hidup di zaman Jepang. Mereka tidak mau lagi mengulang trauma zaman Jepang! Cerita yang ditampilkan serupa dengan di Verzetsmuseum, yakni kehidupan di dalam kamp internir Jepang. Gue ingat, ada yang menyembunyikan perhiasannya di dalam boneka anak-anak sewaktu mereka tinggal di kamp lho!
Ruangan tentang revolusi paling "panas" dan chaos. interiornya berwarna merah, penuh tulisan dan foto di panel yang melingkar di dalam ruangan. Sisi luar berisi timeline official history sedangkan sisi dalam panel berisi personal story dari berbagai sudut pandang orang yang berlatar belakang berbeda.
Sedangkan, di ruang terakhir, interiornya berwarna biru dan penuh meja berlaci besi abu-abu. Ruangan ini melambangkan kedatangan orang Indo (Indisch) ke Belanda yang dingin, disambut kurang hangat, dan cerita masa lalu mereka harus jadi rahasia keluarga yang disimpan rapat-rapat. Kini setahu gue museum sedang mempersiapkan diri untuk meredesain tata pamer permanennya lagi.
Haags Historisch Museum, Den Haag
Sebetulnya gue berharap dapat melihat cerita mengenai postcolonial immigrant ini di museum-museum kota. Namun cerita tentang postcolonial immigrant ini hanya gue temukan di Haags Historisch Museum, museum sejarah kota Den Haag. Selain wawancara video seorang Indisch, ada 3 artefak yang dipamerkan: radio bermotif hiasan Indonesia, replika patung tante Indisch yang aslinya menghiasi salah satu sudut kota Den Haag, dan perabotan bermotif Cina.
Dibandingkan dengan orang Indo (Indisch) dan Maluku, postcolonial immigrant peranakan Cina-Indonesia ini memang paling jarang diceritakan di museum Belanda. Mereka memang sukses berintegrasi sebagai penduduk Belanda. Namun, menurut Alexander van der Meer dan Martijn Eickhoff, self-silencing nya imigran pasca-kolonial peranakan Cina-Indonesia ini juga disebabkan oleh berbagai kekerasan dan sikap anti-Cina yang terjadi di era pasca kemerdekaan.
Selain peranakan Indonesia-Cina, sebetulnya ada 1 kelompok imigran pasca-kolonial yang juga hampir tidak pernah diceritakan: yakni postcolonial immigrant dari Papua! Iya, ada postcolonial immigrant dari Papua di Belanda walaupun jumlahnya tidak banyak. Kok bisa? Karena koloni terakhir Belanda itu Dutch New Guinea. Bahkan, setahu gue, beberapa imigran tersebut juga merupakan petinggi Organisasi Papua Merdeka dan keluarganya.
Museum Sophiahof, Den Haag
Mungkin, satu-satunya pameran yang menceritakan tentang postcolonial immigrant dari Papua adalah di pameran temporer berjudul "Fighting for Freedom: the many faces of resistance" di Museum Sophiahof, Den Haag. Museum Sophiahof ini baru berdiri tahun 2019. Satu gedung museum terdiri atas Indisch Remembrance Centre dan Moluks Historisch Museum.
Pameran ini adalah semacam soft opening museum dan berlangsung sejak Juni 2019 hingga Mei 2020. Gue sedikit banyak terlibat di pembuatan salah 1 film dokumenternya yang ditayangkan di pameran. Tapi gue belum pernah datang ke museumnya ketika museumnya sudah buka karena keburu harus pulang ke Indonesia. Pamerannya sendiri membahas resistensi untuk merdeka dari berbagai layers dan sudut pandang. Pameran tidak hanya membahas zaman Jepang dan Perang Dunia 2, tapi juga zaman revolusi.
Kalau kata teman-teman gue yang sempat datang, pamerannya dimulai dari zaman Jepang di Indonesia. Bagaimana di zaman itu orang Indo masuk kamp Jepang, ada yang disuruh bekerja paksa, dan ada yang dijadikan budak seks. Ada pula cerita tentang nasionalis Maluku tahun 1920-an yang menginginkan kemerdekaan dari Belanda, tetapi ada juga cerita tentang orang-orang Maluku yang membantu Belanda disaat pendudukan Jepang. Bahkan, diceritakan pula tentang RMS (Republik Maluku Selatan) dan tentang OPM (Organisasi Papua Merdeka).
Selain itu, ada juga cerita tentang mahasiswa Indonesia di Belanda (Irawan Soejono dan Yap Tjok King) yang meninggal karena melakukan resistensi terhadap NAZI Jerman. Bahkan, Irawan Soejono meninggal ditembak oleh Nazi di salah satu jalanan utama kota Leiden. Pokoknya, pamerannya menitikberatkan personal stories mengenai berbagai keinginan untuk merdeka dari berbagai kelompok (di era yang berbeda).
Nah, peran gue apa di pameran ini? Gue membantu teman-teman gue untuk co-curate dan meriset materi film. Sekaligus jadi narator untuk film dokumenter tentang perjuangan di zaman Jepang dari sudut pandang orang Indonesia langsung!
Untuk keperluan film, gue mewawancarai edukator Museum PETA, cucunya Pramudya Ananta Toer dan sejarawan JJ Rizal. Lumayan, muka gue (secara digital) jadi pernah dilihat sama raja Belanda Willem Alexander ketika beliau membuka dan meresmikan museum heheā¦
Kesimpulannya, pasca tahun 2000 museum-museum di Belanda mulai menceritakan tentang sejarah dan memori postcolonial immigrant dari Hindia Belanda yang tadinya merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan dan dianggap "hidden history". Zaman Jepang diangkat "sepaket" dengan zaman sebelum dan sesudahnya. Museum juga berusaha untuk menampilkan cerita personal, multiple perspectives dan multivoices.
Salah satu tujuannya tentu saja agar secara politis dapat merangkul postconial immigrant agar mereka merasa menjadi bagian dari masyarakat Belanda. Walaupun terkadang dipertanyakan juga sih, sampai kapan imigran dianggap sebagai imigran? Kini, imigran pasca-kolonial dari Hindia Belanda sudah mencapai 4 generasi. Apakah masih terus dianggap "imigran"? Padahal, kelompok ini sekarang sudah menyatu sebagai "Dutch" dibandingkan dengan kelompok imigran lain, misalnya imigran Muslim dari Turki dan Maroko.
Seru ya bahas Belanda! Ada yang sudah pernah berkunjung ke salah satu museum yang gue bahas diatas? Share ceritanya dong di akun Instagram @museumtravelogue.
Salam!

*Welkom in Nederland dalam Bahasa Belanda artinya "Selamat datang di Belanda".
**Episode ini diriset dan dibawakan oleh Ajeng Arainikasih, Retno Ayu Lestari dan Argi Arafah.

Foto: Pexels / Pixabay




Komentar