top of page

Indochina dan Absennya Zaman Jepang di Museum

  • Gambar penulis: Ajeng Arainikasih
    Ajeng Arainikasih
  • 23 Jan 2021
  • 6 menit membaca

Diperbarui: 2 Sep 2021



Xin Chao! Suostei! Sabaidi!*


Di #MuseumTravelogue Talk Episode 10 ini gue, Retno dan Argi bakal bahas 3 negara lagi nih: Vietnam, Kamboja dan Laos. Negara-negara ini dahulu berada dibawah kekuasaan kolonial Perancis dan bernama French Indochina. Tapi, sebelum terlalu panjang, silahkan klik link ini ya untuk dengar podcastnya buat yang kurang suka baca tulisan. Oh ya, ini daftar museum-museum yang akan dibahas di tulisan ini, bisa langsung di klik ya.


Daftar Isi:


Nah, lanjut ya ceritanya. Pada masa Perang Dunia 2, Jepang kemudian menduduki French Indochina untuk mencegah Cina punya akses ke Asia Tenggara melalui Vietnam. French Indochina kemudian berada dibawah kekuasaan Jepang dari tahun 1940/1941 hingga 1945. Awalnya, Jepang membiarkan Vichy France, rezim pemerintahan sementara Perancis yang tunduk dan berkolaborasi dengan NAZI Jerman, untuk tetap memerintah secara administratif di wilayah Indochina. Namun, di awal tahun 1945 Jepang melakukan kudeta terhadap pemerintah kolonial Vichy France tersebut. Jepang kemudian mendirikan Kekaisaran Vietnam, Kerajaan Kamboja dan Kerajaan Laos di bawah pimpinan Jepang sebagai negara boneka Jepang.


Seperti di negara-negara Asia Tenggara lainnya, Jepang menyebarkan propaganda kalau mereka adalah liberator dari penjajah Perancis. Di Vietnam, awalnya sebagian masyarakat Vietnam pro-Jepang dan menganggap Jepang membebaskan mereka dari penjajah Perancis. Bahkan ada kelompok-kelompok yang berkolaborasi dengan Jepang, dan ada pula perempuan-perempuan Vietnam yang menikah dengan tentara Jepang.


Tetapi, sebagian masyarakat Vietnam juga menganggap bahwa Jepang adalah penjajah dalam bentuk yang lain, bahkan 100x lebih kejam dari Perancis! Sampai ada lho pernyataan yang menyebutkan kalau petani Vietnam berkata bahwa cacing dan jangkrik pun tidak akan bisa hidup di bawah kekejaman Jepang. Pada masa pendudukan Jepang tersebut, sempat ada bencana kelaparan yang melanda Vietnam Utara tahun 1944-1945. Bencana kelaparan (famine) ini diakibatkan karena pendudukan Jepang dan memakan korban 2 juta jiwa!


Kemudian, tahun 1945 Jepang mengangkat Emperor Bao Dai untuk menjadi pemimpin boneka di Vietnam. Walaupun demikian, di Vietnam Utara, Ho Chi Minh (yang beraliran komunis, anti Jepang dan anti kolonial Perancis) juga menyatakan kemerdekaan Vietnam. Pasca Jepang menyerah, Perancis berusaha untuk berkuasa lagi hingga pecah Perang Indochina atau French War (1946-1954) dan Perancis berhasil dipukul mundur. Namun, konflik tidak berhenti disini! Kemudian pecahlah Perang Vietnam lawan Amerika Serikat (1955-1975). Setelah itu, ada pula konflik-konflik antara Vietnam dengan Kamboja, dan Vietnam dengan Cina.


Kini, masa penjajahan Jepang sepertinya tidak terlalu banyak terekam di museum-museum Vietnam. Museum Vietnam tampaknya lebih banyak menceritakan mengenai etnografi etnis Vietnam dan resistensi melawan Perancis dan Amerika Serikat.


Vietnam Military History Museum & National Museum of Vietnamese History, Hanoi, Vietnam


Salah satu museum yang menceritakan mengenai masa pendudukan Jepang adalah Vietnam Military History Museum di Hanoi. Museum yang didirikan tahun 1959 ini sebenarnya menitikberatkan pada peristiwa deklarasi kemerdekaan yang dilakukan oleh Ho Chi Minh tahun 1945. Namun museum juga menceritakan resistensi Vietnam dalam melawan penjajahan Perancis, Jepang dan Amerika Serikat. Koleksi museum berupa foto dan senjata, juga bekas kendaraan perang.


Selain itu, National Museum of Vietnamese History di Hanoi juga menceritakan sejarah Vietnam secara kronologis. Dari masa prasejarah (Kebudayaan Dong Son), Kerajaan Khmer dan Champa, penjajahan Perancis dan Jepang, hingga terbentuknya negara komunis Vietnam.


Museum ini juga menyimpan rekaman oral history yang dilakukan oleh sejarawan Prof. Van Tao terkait bencana kelaparan di Vietnam tahun 1944/1945. Bahkan, rekaman oral history yang didonasikan ke museum menginspirasi seniman Vietnam, Thao Nguyen Phan, untuk membuat karya instalasi multimedia berjudul Mute Grain (2019) tentang bencana kelaparan tersebut. Bencana ini dianggap sebagai sejarah kelam yang jarang dibahas terkait Perang Dunia 2 di Asia.


Ho Chi Minh City Museum, Ho Chi Minh City, Vietnam


Terakhir, di Ho Chi Minh City Museum juga diceritakan mengenai penjajahan Jepang. Ho Chi Minh City Museum bertempat di bangunan kolonial bekas tempat tinggal gubernur Perancis. Di zaman Jepang gedung ini pernah menjadi tempat tinggal Gubernur Jepang Yoshio Minoda, dan juga pernah menjadi tempat tinggal Kaisar Bao Dai.


Kini tata pamer museum menceritakan tentang sejarah kota Ho Chi Minh (yang dulunya bernama Saigon) dari temuan-temuan artefak arkeologis hingga resistensi terhadap dominasi asing: Perancis, Jepang dan Amerika Serikat. Koleksi museum pun bukan memorabilia perang seperti senjata, tetapi lebih ke benda sehari-hari seperti kacamata baca, mesin tik dan peralatan memasak.


Seperti d Vietnam, di Kamboja Jepang juga mengangkat Raja Norodom Sihanouk untuk memproklamirkan kemerdekaan Kerajaan Kamboja. Setelah Jepang menyerah dan kalah perang, Perancis kembali ingin berkuasa di Kamboja hingga akhirnya pecah perang dan Kamboja merdeka dari Perancis di tahun 1953. Namun, di dekade-dekade selanjutnya (pasca 1970) Kamboja memasuki masa perang saudara, kudeta kekuasaan dan genosida, terutama di bawah rezim komunis Khmer Merah.


Kini museum-museum di Kamboja rata-rata menampilkan artefak ancient art Kamboja dari masa Angkor atau sebelumnya. Atau membahas mengenai perang saudara dan genosida yang dilakukan oleh Pol Pot, pemimpin rezim komunis Khmer Merah. Zaman Jepang tampaknya sama sekali absen di museum-museum Kamboja.


Sosoro Museum, Phnom Penh, Kamboja


MUNGKIN satu-satunya museum yang membahas mengenai zaman Jepang adalah Sosoro Museum yang didirikan tahun 2012 di Phnom Penh. Sosoro Museum adalah museum yang menceritakan mengenai sejarah ekonomi Kamboja sejak dari masa pre-Angkor. Walaupun demikian, zaman Jepang tidak diceritakan secara khusus, hanya KEMUNGKINAN dibahas di bawah tema "The Protectorate: Modernity without Sovereignty, 1863-1953".


Sejarah Laos pun serupa. Tahun 1945 Jepang mengangkat Raja Sisavang Vong untuk memproklamirkan kemerdekaan Kerajaan Laos dari Perancis. Namun, perdana menteri kerajaan, Pangeran Phetsarath tidak percaya Jepang dan membentuk Lao Issara (Free Lao) movement. Setelah Jepang menyerah Perancis berusaha untuk berkuasa lagi walaupun ditentang oleh Lao Issara hingga akhirnya Laos merdeka di tahun 1953.


Namun, serangkaian perang saudara antara Royal Laos dengan Lao Issara ataupun Royal Laos dengan rezim komunis Pathet Lao terus berlangsung. Seperti di Vietnam, perang ini juga di dompleng oleh Amerika Serikat yang memasang 2 miliar ton bom di Laos (dikenal juga dengan nama Secret War). Akhirnya tahun 1975 terjadi revolusi dan Kerajaan Laos menjadi Lao People's Democratic Republic.


Kini, museum-museum di Laos menitikberatkan pembentukan identitas nasional Laos yang berupa resistansi penduduk Laos yang multietnis terhadap dominasi asing, yakni Perancis dan Amerika Serikat. Juga pada peristiwa revolusi tahun 1975 serta identitas Laos sebagai (mantan) kerajaan Buddhist.


Zaman penjajahan Jepang MUNGKIN hanya sedikit dibahas di Lao National Museum dan Lao People's Army History Museum, Vientiane. Kemungkinan, zaman Jepang juga sedikit banyak dibahas di Xiengkeo Palace Museum, Luang Prabang.


Xiengkeo Palace Museum, Luang Prabang, Laos


Xiengkeo Palace Museum di Luang Prabang ini adalah rumah Pangeran Phetsarath Ratanavongsa, pahlawan Laos yang berjasa melawan Jepang dan Perancis (Lao Issara) hingga Laos merdeka di tahun 1953.


Sebelum masuk ke istana ini ada gerbang yang berhiaskan emblem Kerajaan Luang Prabang (1707-1946) dan Kerajaan Laos (1946-1975). Di aula istana, cerita kehidupan sang pangeran bisa diketahui dari foto-foto yang ditampilkan. Sedangkan ruangan lainnya, termasuk kamar tidur pangeran, menampilkan interior dan furnitur tua istana ini yang gayanya perpaduan antara gaya Laos dengan kolonial Perancis.


Lao National Museum & Lao People's Army History Museum, Vientiane, Laos


Sedangkan, Lao National Museum di Vientiane berada di bangunan kolonial Perancis dan menceritakan sejarah Laos secara kronologis. Dari masa prasejarah di Laos, etnografi penduduk Laos yang multietnis, resistensi terhadap penjajahan Perancis (dan mungkin Jepang?), hingga revolusi dan berdirinya Lao People's Democratic Republic.


Selain itu, di Lao People's Army History Museum ada bagian pameran yang menceritakan mengenai masa kolonial Perancis (1893-1954) dan perjuangan anti kolonial oleh berbagai etnis di Laos. Objek yang dipamerkan antara lain berupa senjata-senjata tradisional yang digunakan dalam resistensi. I don't know for sure, tapi kalau dilihat dari kronologi tahunnya, MUNGKIN zaman Jepang seharusnya sedikit diceritakan di bagian ini.

Tampaknya, penjajahan Jepang absen ditampilkan di museum-museum di Vietnam, Kamboja dan Laos. Museum di ketiga negara ini lebih banyak membahas kebesaran era pra-kolonial mereka dan etnografi etnis yang beragam. Juga membahas resistensi terhadap kolonial Perancis dan Amerika Serikat, serta perang saudara yang terjadi di masing-masing negara pasca Perang Dunia 2 sebagai bagian dari "nation building".


Narasi mengenai penjajahan Jepang seperti "tenggelam" dibandingkan dengan peristiwa sejarah lainnya, terutama oleh sejarah kelam perang saudara (dan Komunisme) yang "didompleng" oleh Amerika Serikat.


Tidak seperti di Belanda dan Inggris, di Perancis juga tidak ada museum yang mengumpulkan koleksi atau menceritakan mengenai sejarah sosial zaman penjajahan Jepang di bekas negara koloni Perancis di Asia (Vietnam, Kamboja, Laos). Padahal, di tahun 1945 ketika Jepang melakukan kudeta, orang-orang Perancis di Indochina juga sempat ditangkap dan masuk kamp internir.


Walaupun demikian, di Perancis ada Indochina War Memorial di Kota Frejus yang dibangun untuk memperingati tentara dan warga sipil Perancis yang tewas dalam Indochina War atau French War (1946-1954).


Menarik ya! Ada yang sudah pernah berkunjung ke museum-museum yang dibahas diatas? Mention ceritanya dong ke Instagram @museumtravelogue. Selain itu, jangan lupa juga untuk love dan follow kami di Spotify agar tidak ketinggalan episode-episode #MuseumTravelogue Talk lainnya. Rekaman podcast ini juga bisa didengarkan di Anchor dan Google Podcasts.


Salam!

*Xin Chao, Suostei dan Sabaidi artinya halo dalam Bahasa Vietnam, Khmer dan Lao.

**Episode ini diriset dan dibawakan oleh Ajeng Arainikasih, Retno Ayu Lestari dan Argi Arafah.


Foto: Pexels / Pixabay

Komentar


Ā© 2023 by NOMAD ON THE ROAD. Proudly created with Wix.com

bottom of page