top of page

British Malaya, Dai Nippon, dan Official History di Museum Malaysia

  • Gambar penulis: Ajeng Arainikasih
    Ajeng Arainikasih
  • 29 Jan 2021
  • 6 menit membaca

Diperbarui: 8 Sep 2021



Helo!*


Pernah gak sih kalian penasaran bagaimana zaman pendudukan Jepang diceritakan di museum-museum di negara tetangga kita, Malaysia? Yuk simak cerita gue, Argi dan Retno di podcast #MuseumTravelogue Talk Episode 11 ini di Spotify. Oh ya, ini daftar museum-museum yang akan dibahas ya...


Daftar Isi:


Sebelum bahas museumnya, gue bakal bahas sedikit tentang sejarah masuknya Jepang ke Malaysia ya. Jepang mulai masuk ke Semenanjung Malaysia melalui Thailand pada bulan Desember 1941. Jepang pertama tiba di Kelantan. Melalui serangkaian perang melawan tentara kolonial Inggris di berbagai daerah di Malaysia (dulu bernama British Malaya), Jepang akhirnya berhasil menguasai Malaysia dan berkuasa hingga tahun 1945.


Sedangkan, di tahun yang sama, Jepang juga masuk dan berkuasa di British Borneo di wilayah Malaysia Timur atau Malaysian Borneo. Tepatnya di daerah Sabah, Sarawak dan Labuan. Juga, di bagian British Borneo yang kini menjadi Brunei Darussalam.


Di Malaysia Timur, Jepang pertama tiba di Sarawak dan Labuan. Tahun 1945, Sekutu (Australia dan Amerika Serikat) juga tiba di Labuan untuk membebaskan British Borneo dari kekuasaan Jepang. Serangkaian peristiwa pertempuran pun terjadi disana. Labuan juga merupakan daerah tempat menyerahnya Jepang terhadap Sekutu di tahun 1945.


Di masa pendudukan Jepang di Malaysia, Jepang melakukan propaganda bahwa Jepang adalah pembebas negara-negara Asia dari cengkeraman kolonial Eropa. Jepang juga melakukan Japanisasi seperti di negara-negara Asia Tenggara lainnya.


Di Malaysia, perlakuan Jepang terhadap orang Cina juga lebih kejam dibandingkan perlakuannya terhadap orang India dan Melayu. Jepang bahkan melakukan sook ching, pembunuhan masal terhadap orang-orang Cina di Malaysia dan Singapura yang dicurigai sebagai anti-Jepang.


Resistensi terhadap Jepang juga dilakukan oleh penduduk Malaysia, terutama etnis Cina-Malaysia. Misalnya oleh Albert Kwok dan kelompoknya di Kuching. Resistensi juga dilakukan secara terstruktur dalam Malayan People's Anti-Japanese Army atau MPAJA yang berafiliasi dengan paham komunis.


Muzium Sejarah Nasional dan Muzium Negara, Kuala Lumpur


Nah, salah satu museum yang menceritakan mengenai penjajahan Jepang di Malaysia adalah Muzium Sejarah Nasional di Kuala Lumpur. Bangunan museum merupakan bekas bangunan bank kolonial Inggris yang di zaman Jepang dijadikan Kantor Telekomunikasi.


Lalu, tahun 1996 gedung ini dibuka sebagai Muzium Sejarah Nasional Malaysia yang menceritakan sejarah Malaysia dari zaman prasejarah hingga masa kini. Sejarah zaman Jepang cukup banyak dibahas di museum ini.


Museum antara lain memamerkan mannequin yang memakai seragam tentara Jepang dan sepeda tentara Jepang. Selain itu, ada pula bendera Jepang yang bertanda tangan para tentara Jepang saat Jepang menyerah di tahun 1945.


Namun, tahun 2007 museum ditutup dan koleksinya diserahkan ke Muzium Negara (museum nasional Malaysia). Di Muzium Negara, cerita mengenai sejarah kolonial Malaysia hingga kemerdekaan ditampilkan di lantai 2. Masa pendudukan Jepang ditampilkan di bagian ini.


Muzium Kelantan dan Muzium Perang Bank Kerapu, Kota Bharu


Di Malaysia, sejarah mengenai penjajahan Jepang juga banyak diceritakan di museum-museum di daerah Kelantan. Misalnya di Muzium Kelantan dan Muzium Perang Bank Kerapu, Kota Bharu. Kelantan adalah wilayah pertama di Semenanjung Malaysia yang diduduki oleh Jepang.


Muzium Kelantan atau Kelantan State Museum di Kota Bharu adalah museum negeri (semacam museum propinsi) yang berdiri tahun 1990 di bekas bangunan kolonial bertingkat 2. Tidak seperti museum negeri Malaysia pada umumnya yang memulai tata pamernya dari masa prasejarah, Muzium Kelantan memulai dari masa penjajahan Jepang.


Museum banyak menampilkan memorabilia penjajahan Jepang, misalnya pamflet propaganda Jepang. Bahkan, di museum ditampilkan pula replika miniatur bom atom Hiroshima/ Nagasaki.


Sedangkan, Muzium Perang Bank Kerapu di Kota Bharu menempati bangunan bekas bank kolonial yang dijadikan kantor Kempeitai atau polisi rahasia Jepang. Saat itu, bekas ruangan brankas bank diubah jadi penjara dan tempat penyiksaan.


Tahun 1991 bangunan ini kemudian dijadikan museum yang menceritakan mengenai penjajahan Jepang di Kelantan sejak Jepang masuk ke Malaysia tahun 1941 hingga Jepang kalah perang tahun 1945.


Museum memamerkan memorabilia perang seperti kendaraan perang, sepeda tentara Jepang, senjata dan seragam. Juga foto-foto peristiwa bom atom Hiroshima/ Nagasaki yang menyebabkan Jepang menyerah. Di bagian luar museum bahkan ada replika pillbox atau gardu beton pertahanan Inggris yang banyak tersebar di pantai Malaysia.


Penang War Museum, Penang


Museum lain di Malaysia yang menceritakan mengenai perang melawan Jepang adalah Penang War Museum atau Muzium Perang Pulau Pinang di Penang. Museum ini adalah museum situs berupa bekas benteng pertahanan Inggris di Selat Malaka, Benteng Batu Maung.


Benteng ini merupakan tempat bertempurnya tentara Inggris (termasuk juga tentara India dan Melayu) melawan tentara Jepang. Saat itu Inggris kalah perang karena Jepang menyerang dari sisi daratan, bukan dari laut seperti yang telah diperkirakan oleh Inggris sebelumnya.


Setelah terbengkalai sekitar 60 tahun, di tahun 2002 benteng tersebut diubah oleh pihak swasta menjadi museum.


Kini, di museum situs tersebut ada sisa-sisa meriam, bunker bawah tanah untuk menyimpan persenjataan, anti-aircraft firing pit, penjara, bahkan terowongan rahasia ke laut. Dahulu, terowongan tersebut dipersiapkan sebagai akses jalan menuju ke kapal selam. Ada pula barak-barak prajurit dan tempat memasak.


Selain itu, museum juga menampilkan dokumen, foto-foto dan rekaman oral history dari mantan tentara dan penyintas perang. Mannequin serta replika barang-barang lainnya juga ditampilkan untuk membuat suasana peristiwa Perang Dunia 2 menjadi "hidup kembali".


Benteng ini dahulu juga menjadi tempat penyiksaan tawanan perang Jepang. Banyak korban yang disiksa, dibunuh dan dipenggal kepalanya. Bahkan masih ada pula tempat guillotine (tempat memenggal kepala) dan ruangan yang penuh bekas tembakan peluru.


Oleh sebab itu, benteng ini dianggap berhantu. Bahkan, dinobatkan menjadi salah 1 dari 10 tempat yang paling angker di Asia. Kini, sebagai salah satu program museum, dikembangan pula "ghost tour".


Muzium Labuan, Labuan


Di Malaysia Timur (bagian Malaysia yang berada di Pulau Kalimantan), tepatnya di Muzium Labuan, juga diceritakan mengenai pendudukan Jepang. Museum yang didirikan tahun 2004 ini bertempat di gedung 2 lantai.


Lantai pertama membahas sejarah Labuan secara kronologis dari masa prasejarah hingga masa pasca Perang Dunia 2 (termasuk tentang zaman Jepang). Sedangkan lantai 2 membahas kehidupan sosial budaya berbagai etnis yang tinggal di Labuan.


Muzium Labuan juga memiliki tata pamer outdoor. Di halaman luar museum, objek yang berkaitan dengan masa pendudukan Jepang ada 2. Yang pertama adalah plague peringatan di zaman Jepang yang mengganti nama Labuan menjadi Maidashima. Nama Maidashima diambil dari nama Jenderal Jepang Maida yang gugur karena kecelakaan udara saat menuju Labuan.


Selain itu, ada pula memorial yang menandai pendaratan pasukan Australia di Labuan tahun 1945. Pendaratan tersebut bertujuan untuk membebaskan British Borneo dari kekuasaan Jepang.


Dari Labuan, boleh ya melipir ke sebentar ke Brunei Darussalam, tetangga Malaysia yang sama-sama berada di Pulau Kalimantan dan yang juga pernah dijajah Jepang. Berbeda dengan Malaysia, tampaknya penjajahan Jepang tidak terepresentasi di museum-museum Brunei - walupun gue tidak yakin 100% karena gue belum pernah ke Brunei.


Tampaknya, Brunei Museum (museum nasional Brunei) lebih banyak menampilkan artefak arkeologi dari masa penjajahan Spanyol dan Portugis di abad 16, benda-benda etnografi, Islamic art dan regalia kerajaan milik Sultan Brunei.


Walaupun demikian, di Singapore Art Museum pernah ada karya instalasi berjudul Dollah Jawa yang dipamerkan di museum tahun 2016. Instalasi dual channel video projection ini merupakan karya Faizal Hamdan, seniman Brunei.


Karya ini menceritakan mengenai perpaduan sejarah keluarga Faizal Hamdan dengan sejarah pendudukan Jepang di Brunei melalui foto-foto dan arsip. FYI, kakek Faizal Hamdan berasal dari Jawa Barat. Pada masa pendudukan Jepang beliau dimigrasikan secara paksa dari Jawa Barat ke Brunei dan kemudian menetap di Brunei.


Kembali ke Malaysia, walaupun zaman Jepang cukup banyak diceritakan di museum-museum Malaysia, namun tampaknya museum lebih banyak membahas mengenai perang saat Jepang masuk untuk menguasai Malaysia, atau saat Sekutu berusaha membebaskan Malaysia dari kekuasaan Jepang.


Bahkan, di Malaysia banyak pula memorial park atau war cemetery yang didedikasikan untuk memperingati pembunuhan masal terhadap warga sipil dan juga POW Sekutu yang menjadi korban Jepang. Misalnya, Patagas War Memorial, Sandakan Memorial Park, Labuan War Cemetery, dll.


Cerita tentang kehidupan sehari-hari atau sejarah sosial memgenai penjajahan Jepang di Malaysia sepertinya masih agak kurang diceritakan di museum. Apalagi cerita mengenai resistensi terhadap Jepang yang dilakukan oleh etnis Cina-Malaysia yang kebanyakan bergabung pada MPAJA yang beraliran komunis. Cerita ini tidak "masuk" dalam narasi besar sejarah Malaysia.


Malaysian Chinese Museum, Sri Kembangan


Tahun 2018, etnis Cina-Malaysia membangun museum mereka sendiri yang bernama Malaysian Chinese Museum di Sri Kembangan. Museum ini didirikan oleh Federation of Chinese Associations Malaysia (Hua Zong).


Museum menceritakan dengan lengkap sejarah (dalam lingkup nasional) mengenai komunitas Cina-Malaysia, dari pertama kali mereka bermigrasi ke Malaysia hingga peran mereka untuk negara Malaysia masa kini. Narasi mengenai pendudukan Jepang dan resistensi yang dilakukan oleh etnis Cina-Malaysia juga diceritakan di museum ini. Termasuk juga mengenai MPAJA.


To conclude, walaupun masa penjajahan Jepang cukup banyak diceritakan di museum-museum Malaysia, sepertinya narasinya kebanyakan masih official history mengenai perang. Cerita yang tidak masuk dalam narasi besar sejarah Malaysia diceritakan di museum yang bukan milik pemerintah, dan didirikan baru belakangan ini.


Apa ada yang sudah pernah berkunjung ke salah satu museum gue dibahas diatas? Share ceritanya dong di akun Instagram @museumtravelogue. Oh ya, jangan lupa juga ya untuk love dan follow akun #MuseumTravelogue Talk di Spotify biar gak ketinggalan dengerin episode-episode selanjutnya (atau sebelumnya). Podcast ini juga bisa didengarkan di Anchor dan Google Podcasts.


Sampai bertemu minggu depan di Singapura!

Salam!

*Pasti tahu lah ya kalau helo artinya halo dalam Bahasa Melayu?


**Episode ini diriset dan dibawakan oleh Ajeng Arainikasih, Retno Ayu Lestari dan Argi Arafah.



Foto: Pexels / Pixabay

Komentar


Ā© 2023 by NOMAD ON THE ROAD. Proudly created with Wix.com

bottom of page