Auschwitz Memorial Museum, Oswiecim: Rasanya gado-gado, takut tapi senang...
- Ajeng Arainikasih

- 11 Apr 2020
- 5 menit membaca
Masih dalam rangka Genocide Awareness Month di bulan April, kini saya akan bercerita mengenai kunjungan saya ke Auschwitz Memorial Museum di Polandia tahun 2017 silam.
2 Januari 2017. Saya memulai tahun 2017 dengan melakukan dark tourism ke Auschwitz Memorial Museum, kamp konsentrasi NAZI yang berada sekitar 60 km dari Kota Krakow, Polandia.
Saat itu saya dan seorang teman sesama mahasiswa Indonesia di Belanda merencanakan untuk backpacking keliling Eropa timur selama libur Natal dan Tahun Baru 2016/2017. Auschwitz memang menjadi tujuan utama kami dalam trip kali itu.
Setelah hampir 2 minggu kami melakukan perjalanan darat dari Amsterdam ke Munich, Vienna, Bratislava dan Budapest, akhirnya kami bertolak ke Krakow. Kami naik kereta malam dari Budapest ke Krakow.
Walaupun kami sudah beruntung karena masing-masing bisa tidur selonjoran di 3 tempat duduk sederet yang kebetulan kosong, perjalanan tersebut jauh dari nyaman. Kami kehabisan persediaan air minum dan tidak bisa tidur nyenyak. Bolak balik kami dibangunkan oleh petugas yang memeriksa tiket kereta dan paspor.
Ketika akhirnya kami tiba di Krakow di pagi hari, kami langsung menuju hostel. Rencananya kami akan booking tour ke Auschwitz via hostel. Namun ketika kami tiba, resepsionis hostel kami berkata āWah, tur hari ini sudah penuhā. Ia pun membantu mencoba menelepon beberapa tur lain namun jawabannya sama: full booked! Jrengg jreeengg..
Kami hanya akan menginap semalam di Krakow. Maka kami tidak mungkin bisa mengganti rencana ke Auschwitz jadi keesokan harinya!
Lalu, resepsionis hostel kami berkata, āPergi sendiri saja tanpa tur. Bisa kok, ada bis yang berangkat dari stasiun langsung ke Auschwitz. Semoga disana masih dapat slot untuk masukā.
Berbekal secarik kertas petunjuk dari resepsionis hostel, akhirnya kami tiba di Auschwitz Memorial Museum! Ngeteng, tanpa ikut tur! Yay!
Di Auschwitz, informasi terkait pembelian tiket kurang jelas. Intinya kami disuruh ikut dalam antrian untuk masuk ke museum. Walaupun masih pagi tapi antriannya panjang dan tidak bergerak untuk waktu yang sangat lama! Cukup waswas juga saya, bagaimana kalau kami tidak kebagian slot untuk kunjungan museum hari itu.
Akhirnya, setelah melewati pemeriksaan ketat layaknya di bandara, kami berhasil masuk! Anehnya kami tidak diminta membeli tiket apapun. Gratis! Namun kami juga tidak mendapatkan apapun, baik booklet museum, audio guide atau hanya sekedar selembar peta museum.
Komplek Auschwitz cukup luas dan terdiri dari banyak bangunan. Tanpa peta petunjuk museum, pemandu ataupun wifi, kami seperti dua anak tersesat! Tidak tahu harus kemana dan memulai dari mana...
Kamp Konsentrasi Auschwitz
Memasuki gerbang Auschwitz yang bertuliskan āArbeit macht freiā yang berarti āwork sets you freeā rasanya seperti masuk ke setting film-film tentang Holocaust. Masalahnya, this is real! Bukan properti shooting film!
Selewat pintu gerbang, kami betul-betul tidak tahu harus memulai dari mana. Kamp konsentrasi Auschwitz terdiri atas sekitar 28 bangunan bata. Awalnya, komplek ini adalah markas tentara Polandia yang dijadikan kamp konsentrasi NAZI sejak tahun 1940. Kini, beberapa bangunannya dijadikan ruang pamer museum.
Setiap bangunan ternyata memiliki tema pameran yang berbeda-beda. Pertama-tama, kami memasuki bangunan (blok) yang menceritakan mengenai kehidupan tawanan di Auschwitz. Ternyata, satu bangunan bata bertingkat 2 tersebut bisa dihuni oleh 1.200 tawanan! Awalnya mereka tidur di lantai, hanya beralaskan matras yang diisi jerami. Pada perkembangan selanjutnya, setiap kamar dilengkapi tempat tidur bertingkat. Diperlihatkan pula seragam garis-garis yang dipakai para tawanan di kamp.
Tawanan juga harus berbagi toilet! Seperti apa bentuknya? Ugh, jauh dari manusiawi deh pokoknya!
Bagaimana dengan makanan? Tawanan diberikan 3x porsi makan. Namun, sarapan hanya berupa teh atau kopi tawar, makan siang berupa sup, dan makan malam berupa sepotong roti dengan potongan kecil sosis/keju/mentega. Pantas banyak dari tawanan yang mati kelaparan!
Lalu, kami memasuki bangunan yang berisi mengenai ādataā berupa foto dan arsip. Di bangunan ini diceritakan siapa saja yang pernah ditawan di Auschwitz selama periode 1940-1945. Mereka adalah etnis Yahudi dari berbagai negara, tawanan politik dari Polandia dan Uni Soviet, serta kaum Gipsy.
Total ada sekitar 1.1 juta orang yang pernah ditawan di Auschwitz. Untuk mengenang para tawanan, nama-nama mereka dituliskan di ābukuā yang sangat tebal! The Book of Names. Bukunya di display secara horizontal sehingga memudahkan pengunjung untuk membuka halaman-halamannya.
Berhubung saya kuliah di Belanda, saya juga ingat ada informasi khusus mengenai para tawanan yang berasal dari Belanda, termasuk Anne Frank. Informasinya lengkap, dari nama, tanggal lahir, tanggal masuk ke kamp, hingga tanggal kematian mereka. Namun, kalau menurut teman seperjalanan saya, tidak hanya Belanda, tetapi informasi mengenai tawanan dari negara-negara lain juga ada.
Kami juga masuk ke bangunan yang menampilkan benda-benda peninggalan para tawanan saat mereka pertama kali datang ke Auschwitz: sepatu, koper, sikat gigi, dan benda-benda lain. Ada pula peralatan makan, dan kalau saya tidak salah ingat: mainan anak-anak! Seingat saya, saya juga melihat beberapa karya seni yang dibuat oleh para tahanan selama mereka menghabiskan waktu di Auschwitz.
Sebagai catatan, di tiga bangunan pertama, kami dapat dengan bebas memasuki dan melihat-lihat pameran di dalam bangunan. Pengunjung pun tidak terlalu padat. Oleh sebab itu, kami cukup shock ketika memasuki bangunan terakhir!
Di dalam, orang-orang penuh berdesakan menuju arah yang sama, namun suasananya sunyi. Ternyata kami masuk ke āDeath Blockā. Dahulu tentara SS menggunakan bangunan ini sebagai penjara. Bahkan, kami juga turun ke basement dan melihat penjara bawah tanahnya.
Terakhir, kami āterbawa arus manusiaā dan keluar ke halaman belakang bangunan tersebut. Ternyata, kami kemudian menghadapi (rekonstruksi) death wall! Dahulu, para tentara SS menembak mati para tawanan (terutama yang masuk penjara) di tembok tersebut. Walaupun rekonstruksi karena tembok aslinya sudah dibongkar, masih banyak karangan bunga yang diletakkan di bagian bawah tembok.
Ketika kami selesai dari death block ternyata hari sudah mulai sore dan kami belum sempat makan siang. Maka kami cepat-cepat mengunjungi bangunan gas chamber dan krematorium sebelum keluar dan beranjak ke cafetaria. Jujurnya, saya hanya sekilas saja masuk ke bangunan gas chamber ini, merinding rasanya di dalam!
Emosi Gado-Gado
Berkunjung ke Auschwitz Memorial Museum membuat perasaan saya campur aduk antara takut, tapi juga senang.
Sejak awal masuk dan berjalan di halaman di antara bangunan-bangunan bata, saya langsung merinding membayangkan bagaimana rasanya jadi tawanan di Auschwitz. Apalagi ada tiang gantungan untuk menghukum tawanan, dan pagar berkawat tajam yang mengelilingi halaman.
Para tawanan juga harus berbaris di halaman dengan baju yang tipis, pasti rasanya dingin sekali di musim dingin! Saya saja yang saat itu pakai coat lengkap masih merasa kedinginan!
Melihat beberapa bangunan atau display tertentu di Auschwitz Memorial Museum memang rasanya merinding, takut. Namun, saya juga merasa ājauhā alias tidak ada hubungannya dengan semua itu. Tidak ada satu pun nenek moyang saya yang merasakan kekejaman NAZI. Memorial museum ini tidak memiliki koneksi pribadi dengan sejarah keluarga saya.
Saya malah merasa cukup bersalah karena merasa senang. Saya terngiang-ngiang ucapan professor saya di Indonesia. Sebelum saya berangkat ke Belanda beliau berpesan āKalau nanti anda sudah di Eropa, anda harus mampir ke Auschwitz di Polandia.ā Ya, saya senang karena saya berhasil sampai ke Auschwitz, apalagi dengan penuh perjuangan seperti ini.
Lagipula, saat kami disana, hujan salju mulai turun dengan lebat. Saat itu adalah kala pertama saya melihat salju dan merasakan kena hujan salju. Tentunya saya, si anak dari negeri tropis, langsung senang!
Teman saya bahkan bertutur āAduh gimana nih, gue tau sih ini tempat genosida dan harusnya kita sedih. Tapi gue seneng nih karena ini pertama kalinya gue lihat salju!ā Norak ya kami hehe...
Oh ya, sebenarnya kunjungan ke Auschwitz juga āsepaketā dengan kunjungan ke Auschwitz II - Birkenau yang berjarak hanya beberapa km dari Auschwitz. Bahkan, ada bis gratis yang menghubungkan kedua tempat tersebut. Namun, berhubung di musim dingin hari cepat gelap dan saat itu hari sudah sore, maka kami harus segera kembali ke Krakow tanpa sempat mengunjungi Birkenau. Maybe next time?





Komentar