top of page

ArtScience Museum, Singapore: The Participatory Lego Exhibition

  • Gambar penulis: Ajeng Arainikasih
    Ajeng Arainikasih
  • 13 Okt 2021
  • 2 menit membaca


Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di buku #MuseumTravelogue Asia (2019).


ArtScience Museum di Marina Bay Sands Singapura dibuka tahun 2011. Bentuk bangunan museumnya unik, seperti bunga lotus berwarna putih. Walaupun memiliki beberapa galeri untuk pameran permanen, ArtScience Museum biasanya menampilkan pameran-pameran temporer blockbuster dalam bentuk traveling exhibition.


Pameran temporer adalah pameran yang diselenggarakan dalam jangka waktu tertentu, lebih singkat dari pameran permanen museum. Di luar negeri, biasanya pameran temporer diselenggarakan dalam jangka waktu 3-6 bulan, atau bahkan lebih lama. Tergantung tema pameran dan kebijakan museum yang menyelenggarakan.


Sedangkan, pameran blockbuster maksudnya adalah pameran temporer dalam skala besar dan mengusung tema yang populer. Pameran blockbuster biasanya digunakan untuk menarik minat banyak orang (bahkan yang jarang berkunjung ke museum) untuk datang ke museum. Umumnya, museum menampilkan pameran blockbuster untuk mendapatkan pemasukan ekstra, tidak hanya dari tiket masuk ke pameran, namun juga dari penjualan merchandise yang menyertainya.


Sedangkan traveling exhibition atau pameran keliling adalah pameran temporer yang ditampilkan tidak hanya di satu museum. Pameran temporer yang sama ditampilkan juga di beberapa museum yang berbeda, baik berbeda kota ataupun berbeda negara.


Sejak dibuka tahun 2011, pameran-pameran (blockbuster) yang ditampilkan di ArtScience Museum bervariasi. Mulai dari pameran mengenai Genghis Khan, Leonardo da Vinci, mumi Mesir, karya-karya van Gogh, artefak dari kapal Titanic, sampai properti shooting film Harry Potter.


Saat saya mengunjungi ArtScience Museum di tahun 2012, pamerannya bertajuk ā€œThe Art of the Brickā€. Saat itu saya membayar cukup mahal untuk menikmati berbagai bentuk LEGO karya Nathan Sawaya tersebut. Nathan Sawaya adalah seniman dari New York yang biasanya berkreasi menggunakan LEGO.


Di pameran ā€œThe Art of the Brickā€ beberapa LEGO masterpiece karya Nathan Sawaya ditampilkan. Misalnya, LEGO berbentuk kerangka dinosaurus berukuran besar, LEGO berbentuk bangunan ArtScience Museum itu sendiri, dan LEGO bentuk tetes air hujan.


Photo: Ajeng Arainikasih

Tidak hanya dapat mengagumi LEGO karya Nathan Sawaya, pameran juga didesain menggunakan pendekatan interaktif dan partisipatoris. Maksudnya, pengunjung dapat berpartisipasi aktif di dalam pameran dan menjadi bagian dari pameran. Tidak hanya secara pasif melihat objek dan membaca label (atau mendengarkan penjelasan dari pemandu) saja.


Misalnya, pengunjung diberi kesempatan untuk mencoba membuat LEGO berbentuk tetes air hujan seperti karya masterpiece Nathan Sawaya, atau diminta berfoto mengikuti gaya LEGO yang berbentuk torso. Susah lho ternyata bikin bentuk tetes air hujan.


Photo: Ajeng Arainikasih

Pameran ā€œThe Art of the Brickā€ ini juga menyediakan ruangan bertajuk ā€œThe Art of Play Activity Cornerā€. Di ruangan terakhir tersebut pengunjung dapat berkreasi menggunakan berbagai bentuk, ukuran, dan warna LEGO yang khusus disediakan. Juga bermain finger maze LEGO yang dipajang di dinding. Namun, yang paling menakjubkan bagi saya adalah adanya reflexology path! Pengunjung dapat berjalan tanpa menggunakan alas kaki di atas ā€œjalurā€ LEGO yang didesain seperti karpet untuk pijat refleksi. Sensasinya? Sakit-sakit seru!


Photo: Ajeng Arainikasih

Intinya, pendekatan interaktif dan partisipatoris pada pameran museum tidak harus selalu identik dengan pengunaan teknologi digital! Tetapi dapat berupa pendekatan multi-sensory. Selain itu, pendekatan interaktif dan partisipatoris juga dapat diaplikasikan baik pada pameran permanen maupun temporer. Bahkan pada pameran yang menampilkan instalasi seni sekalipun!


Komentar


Ā© 2023 by NOMAD ON THE ROAD. Proudly created with Wix.com

bottom of page