Art Gallery of New South Wales, Sydney: Experiencing the Art After Hours
- Ajeng Arainikasih

- 5 Okt 2021
- 4 menit membaca

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di buku #MuseumTravelogue Australia (2018) dan dibuat berdasarkan cerita jalan-jalan gue ke Sydney di tahun 2008. Kala itu gue penasaran banget dengan salah satu program publiknya Art Gallery of New South Wales yang bertajuk Art After Hours. Juga cukup penasaran dengan animo pengunjungnya. Alhamdulillah gue kesampaian datang ke Art After Hours. Apa sih itu?
Setiap hari rabu, Art Gallery of New South Wales atau AGNSW, museum seni negara bagian New South Wales di Sydney, buka sampai jam 10 malam dibawah bendera program publik bernama Art After Hours. Di hari-hari lain AGNSW tutup pukul 5 sore.
Saat itu, gue tiba di AGNSW sekitar pukul 7 malam dan keadaan di dalam museum cukup ramai. Di lobi museum ada acara artist talkshow yang baru akan dimulai. Di kafetaria museum, live music sudah mulai terdengar mengalun.
Malam itu gue sebenarnya dapat memilih beberapa tur museum yang ditawarkan. Ada tur ke galeri permanen museum maupun ke pameran temporer yang sedang berlangsung. Durasi tur nya bervariasi, ada yang 30 menit, 60 menit, bahkan 120 menit. Ada tur yang dipandu oleh pemandu museum biasa, namun ada pula tur yang dipandu khusus oleh kurator pameran bersangkutan.
Tetapi, karena tujuan gue saat itu ingin "cek ombak" dan melihat situasi serta kondisi Art After Hours di museum, maka gue memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri tanpa mengikuti satu tur ataupun satu acara khusus tertentu. Selain itu, sebagai mahasiswi Art History, gue penasaran ingin lihat karya-karya masterpiece seniman colonial Australia, Tom Roberts, yang banyak menjadi koleksi AGNSW ini.

Kembali ke pokok bahasan, Art After Hours adalah salah satu contoh program publik museum. Program Publik di museum idealnya diadakan secara berkala, bukan hanya berbasis event. Biasanya diadakan seminggu sekali (contoh, setiap hari rabu seperti Art After Hours), atau sebulan sekali (misalnya setiap hari sabtu di minggu ke-4 setiap bulan), atau dibuatkan jadwal khusus sendiri.
Kegiatan program publik pun bervariasi dari yang āseriusā dan berbau āilmiahā seperti seminar, public lecture, workshop, talkshow, atau curatorās tour, sampai dengan yang lebih santai seperti live music, pemutaran film, pertunjukan seni, sampai pesta!
Walaupun santai, tema nya harus tetap sesuai dengan tema museum, baik pameran permanen maupun temporer. Misalnya, apabila pameran di museum sedang membahas mengenai perempuan, maka live music nya dibawakan oleh grup musik perempuan atau membawakan lagu-lagu tentang perempuan. Bukan musik yang sama sekali gak nyambung dengan tema museum atau pameran.
Selain itu, program publik museum juga idealnya dibuat bervariasi agar museum menjadi inklusif. Inklusif maksudnya dapat dinikmati oleh pengunjung dari berbagai golongan dan kelompok umur.
Di tahun 2008, AGNSW punya program publik bernama Tours for Tots yang diperuntukkan bagi anak usia 3-5 tahun beserta pendampingnya. Anak-anak dirangsang untuk melakukan eksplorasi, bermain dan membuat kreasi seni sesuai dengan tema-tema tertentu. Program ini dijalankan setiap hari selasa dan kamis di minggu terakhir setiap bulan.
AGNSW juga menawarkan program Family Free Drop-In Workshop yang diselenggarakan setiap hari minggu ketiga setiap bulannya. Programnya menawarkan kesempatan bagi orang tua dan anak untuk sama-sama membuat prakarya menggunakan berbagai teknik seni. Bagi keluarga yang memiliki anak-anak berkebutuhan khusus, AGNSW memiliki program Childrenās Access Workshop yang diselenggarakan saat liburan sekolah.
Sedangkan, untuk pengunjung remaja yang tertarik mendalami dunia seni, AGNSW menyelenggarakan Artist-led Workshop di kala liburan sekolah. Di program ini pengunjung remaja langsung dibimbing oleh seniman profesional.
Bahkan, di tahun 2008 silam, sudah banyak museum yang mengembangkan program publik untuk bayi dan lansia. Beberapa museum bahkan menawarkan tur Bahasa Isyarat dan touching tour (by request) bagi pengunjung yang menyandang disabilitas. Melalui program publik yang inklusif, museum berusaha untuk menarik pengunjung yang biasanya tidak pernah atau tidak tertarik, agar jadi tertarik untuk berkunjung ke museum.
Satu hal yang gue pelajari dari program publik di museum-museum di luar negeri: TIDAK ADA yang menjalankan program publik berupa PERLOMBAAN!
Program biasanya dirancang untuk meningkatkan rasa ingin tahu yang lebih dalam, merangsang kreativitas, meningkatkan apresiasi terhadap sesuatu hal, experience something, belajar memecahkan masalah, dan belajar bekerjasama (dalam tim atau bersama keluarga). Bukan semata-mata untuk berkompetisi.
Kembali ke AGNSW, malam itu gue juga menyadari bahwa semakin malam, museum semakin ramai dipenuhi pengunjung. Beberapa ruangan pameran pun tampak tertutup untuk pengunjung umum karena sedang disewa untuk pesta private dari berbagai perusahaan. Kalau gue tidak salah ingat, ada sekitar 2 sampai 3 ruangan pameran yang ditutup untuk private party malam itu.
Puas mengamati program Art After Hours, gue memutuskan untuk pulang. Gue pun keluar dan menunggu courtesy bus yang disediakan oleh AGNSW setiap rabu malam. Dalam rangka mendukung program Art After Hours, museum menyediakan akses bis gratis setiap 15 menit sekali yang menghubungkan museum dengan stasiun kereta terdekat. What an excellent service!
Sebagai catatan, tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman gue tahun 2008. Tentunya kini manajemen program publik museum sudah berubah dan lebih berkembang. Bagaimana perkembangannya coba baca (online) bukunya Nina Simon The Art of Relevance (2016) deh.
Selain itu, tentunya pasca pandemi manajemen (program publik) museum juga harus berubah, LAGI. Siap? Pasti siap dong! Kan demi museum-museum Indonesia yang lebih keren...
Cover photo: Bidgee on Wikipedia, licensed under the Creative Commons Attribution-Share Alike 4.0 International




Komentar