top of page

Armenian Genocide Museum, Yerevan: Saya Malu!

  • Gambar penulis: Ajeng Arainikasih
    Ajeng Arainikasih
  • 3 Apr 2020
  • 3 menit membaca

Bulan April biasanya diperingati sebagai Genocide Awareness Month, sebab, hampir semua peristiwa genosida di dunia di mulai di bulan April. Salah satunya adalah genosida terhadap orang Armenia yang dimulai di bulan April 1915. Kebetulan di tahun 2012 saya berkesempatan berkunjung ke Yerevan, Armenia, dalam rangka berbicara di konferensi internasional mengenai museum. Di sela-sela jadwal hari terakhir konferensi yang agak lowong, teman saya dari Singapura (sesama presenter konferensi) mengajak saya mengunjungi Armenian Genocide Museum. Diajak jalan-jalan ke museum? Mana mungkin saya bisa menolak! Berhubung pada masa itu akses internet bagi turis di luar negeri belum semudah sekarang, maka saat itu saya tidak bisa mencari informasi lebih dalam mengenai apa itu Armenian Genocide Museum. Jujurnya saya sama sekali buta dengan sejarah Armenia, dan saat itu saya tidak tahu menahu mengenai peristiwa genosida yang menimpa mereka hampir satu abad silam.


Saya dan teman saya tersebut juga trauma naik taksi di Yerevan karena kami pernah berkasus dengan supir taksi dan diputar-putar keliling kota. Oleh sebab itu, kami memutuskan untuk pergi ke Armenian Genocide Museum naik angkutan umum. Bermodalkan kertas petunjuk alamat berbahasa Armenia yang dituliskan oleh petugas hostel, kami kemudian naik kendaraan semacam “angkot” untuk menuju ke Armenian Genocide Museum. Armenian Genocide Museum ternyata terletak di atas bukit yang agak jauh dari pusat kota Yerevan. Berdasarkan petunjuk dari petugas hostel, supir “angkot” kemudian menurunkan kami dipinggir jalan sebelum “angkot” memasuki semacam jalan bebas hambatan. Kami lalu harus berjalan kaki cukup jauh sambil menaiki bukit sebelum akhirnya tiba di museum.


Bangunan Armenian Genocide Museum sendiri didesain secara modern dan dibuka tahun 1995 dalam rangka memperingati 80 tahun peristiwa pembunuhan masal 1,5 juta orang Armenia di sekitar tahun 1915 oleh Kekaisaran Turki Ottoman. Awalnya, pembunuhan masal dilakukan terhadap tentara-tentara Armenia. Lalu terhadap orang-orang “penting” Armenia yang memiliki kedudukan tinggi di masyarakat. Terakhir, pembantaian dilakukan terhadap wanita, anak-anak dan lansia. Tanpa mengetahui fakta ini sebelumnya, saya dengan santai memasuki ruang pamer museum.


Tata pamer museum awalnya menceritakan mengenai wilayah Armenia dan kehidupan masyarakat Armenia di era Kekaisaran Ottoman sebelum peristiwa pembantaian terjadi melalui peta di dinding. Lalu alur cerita pun beralih ke peristiwa pembantaian, lengkap dengan foto-fotonya. Jujurnya, saat itu saya agak shock!


Sampai sekarang saya masih ingat sebuah foto yang memperlihatkan anak-anak Armenia yang dibuang oleh pemerintah Turki Ottoman ke gurun di daerah Syria. Mereka kurus kering sampai tulang-tulangnya terlihat dan dibiarkan meninggal kepanasan, kehausan dan kelaparan di gurun.


Sebenarnya, apapun tragedi kemanusiaannya pastilah membuat orang yang mendengar atau melihat menjadi terhenyak. Namun, bagi saya pribadi, pembunuhan masal ini membuat saya malu! Pasalnya, pembunuhan dilakukan oleh Kekaisaran Turki Ottoman yang notabene beragama Islam, terhadap penduduk Armenia yang berbeda agama (Nasrani).


Jangan tersinggung! Tulisan ini tidak bermaksud mendiskreditkan atau membela agama manapun. Namun, setahu saya agama Islam itu indah, agama penuh kedamaian yang tidak pernah mengajarkan pemeluknya untuk membunuh. Oleh sebab itu, sebagai orang Islam, saya merasa malu bahwa kejahatan kemanusiaan seperti itu mampu dilakukan oleh oknum-oknum yang mengaku beragama Islam untuk kekuasaan.


Untuk pertama kalinya, saya merasa malu saat melihat sebuah pameran museum. Apalagi saat itu saya baru menyadari bahwa jendela-jendela di ruang pamer museum didisain berbentuk salib sehingga cahaya yang masuk ke ruang pamer berbentuk bayangan-bayangan salib.



Setelah selesai melihat pameran, energi positif saya tampaknya sudah terkuras. Memang mengunjungi memorial museum biasanya menguras emosi pengunjung. Sepertinya teman saya juga merasakan hal yang sama. Kami tidak sanggup apabila harus berjalan kaki lagi menuruni bukit untuk bisa naik “angkot” untuk pulang. Jadi, ketika kami keluar dari museum dan ada taksi yang baru saja menurunkan penumpang, tanpa berfikir panjang kami langsung masuk ke dalam taksi dan kembali ke pusat kota ke tempat konferensi diselenggarakan. Untungnya kali itu kami dapat supir taksi yang baik dan tidak memutar-mutarkan kami!


Berdasarkan informasi di website museum, tahun 2015 tata pamer museum diubah dalam rangka memperingati 100 tahun peristiwa genosida tersebut. Ruang pamer diperluas dan kontennya ditambah. Banyak informasi sejarah baru dan dokumen-dokumen baru yang dipamerkan. Informasi di website tersebut membuat saya jadi penasaran, apakah tata pamer baru ini juga akan lebih menggugah emosi pengunjung museum?



Komentar


© 2023 by NOMAD ON THE ROAD. Proudly created with Wix.com

bottom of page