Museum Judengasse, Frankfurt: Kids Station
- Ajeng Arainikasih

- 15 Jun 2019
- 5 menit membaca
Diperbarui: 30 Mar 2020

Thanks to mertua saya, karena request beliau saya jadi mengunjungi Museum Judengasse di Frankfurt. Saat itu bulan Januari 2019 dan saya, suami, anak-anak serta mertua sedang liburan ke Frankfurt, Jerman.
Awalnya saya tidak tertarik mengunjungi museum yang baru direnovasi tahun 2016 ini karena disebutkan bahwa museum ini menceritakan mengenai early modern settlement komunitas Yahudi di Frankfurt. Apabila berhubungan dengan Yahudi, saya lebih tertarik dengan tema sejarah Perang Dunia II. Berhubung mertua saya penasaran maka kami akhirnya menyempatkan diri mampir ke Museum Judengasse. Ternyata Museum Judengasse ini keren banget! Terutama konsep tata pamer mereka yang didesain untuk anak-anak. Saya menyebutnya ākids stationā.
Setelah memasuki museum dan melalui pemeriksaan keamanan yang cukup ketat, di resepsionis saya iseng bertanya mengenai activity book dalam Bahasa Inggris untuk anak-anak. Surprisingly, Museum Judengasse punya! Jadilah anak-anak saya menjelajahi museum sambil bermain dan mengerjakan activity book.

Activity Book Museum Judengasse dalam Bahasa Inggris
Museum Judengasse ini mempreservasi tinggalan arkeologis berupa pondasi ritual bath dan 5 bangunan rumah di Jewish Ghetto yang pertama dan tertua di Eropa. Pondasi rumah-rumah ini awalnya āditemukanā kembali tahun 1987 ketika pemerintah Kota Frankfurt akan membangun fasilitas publik. Akhirnya, tahun 1992 Museum Judengasse didirikan tepat di situs Jewish Ghetto tersebut.
Jadi, saat memasuki ruang pameran untuk pertama kalinya, diceritakan dahulu mengenai fakta ini. Ditampilkan pula foto-foto tua yang memperlihatkan rumah-rumah yang tersisa di Jewish Ghetto, serta perkembangan Kota Frankfurt dari masa ke masa. Di activity book mereka, anak-anak diminta menggambar rumah-rumah tersebut sesuai dengan foto tua yang ada di museum.

Anak-anak menggambar rumah-rumah Jewish Ghetto di activity book mereka
Di ruangan ini ada pula kids station berupa tantangan menyusun puzzle yang menggambarkan perbedaan peta kota Frankfurt dulu dan sekarang. Sampai sini saya belum terkesan. Menurut saya, walaupun seru, tetapi bermain puzzle di museum sih sudah lazim dilakukan di banyak museum lain.

Kids station berupa puzzle peta Kota Frankfurt
Lalu, di ruangan berikutnya, pengunjung disuguhi dengan tayangan film mengenai sejarah Jewish Ghetto ini. Tahun 1460 pemerintah Kota Frankfurt memutuskan untuk āmengumpulkanā tempat tinggal komunitas Yahudi di Frankfurt di suatu tempat tersendiri. Komplek pemukiman ini berada di luar tembok Kota Frankfurt dan kira-kira berukuran 330 m x 4 m (dengan 3 pintu masuk).

Ruangan untuk menonton film sejarah Jewish Ghetto
Awalnya hanya beberapa keluarga yang tinggal di ghetto ini. Namun di abad 17 tercatat ada 3.000 orang yang tinggal di ghetto dan ghetto ini menjadi Jewish cultural center yang penting di Eropa (khususnya di Frankfurt) pada masa itu. Setelah mengalami berbagai peristiwa seperti kebakaran dan Revolusi Perancis, Jewish Ghetto ini dihancurkan (kecuali beberapa rumah) di akhir abad 19. Saat itu komunitas Yahudi diperbolehkan untuk bebas tinggal dimana saja tanpa harus disatukan di dalam komplek pemukiman tersendiri.
Film āanimasiā mengenai sejarah ghetto ini ditampilkan dalam Bahasa Jerman, namun pengunjung dapat memakai headphone untuk mendengarkan narasi terjemahan Bahasa Inggrisnya.
Selesai menonton film, pengunjung lantas memasuki ruangan berikutnya. Ruangan inilah yang membuat saya terpukau! Ruangan ini besar, terdiri atas 2 bagian yang dihubungan dengan sebuah jembatan, serta berada di atas tinggalan arkeologis! Dari sisi sebrang jembatan, pengunjung dapat turun ke situs.

Situs (arkeologi) Jewish Ghetto di dalam museum
Namun, sebelum turun ke situs, diceritakan dahulu secara singkat mengenai konsep Agama Yahudi dan pemakaman Yahudi di Frankfurt yang terletak tidak jauh dari Museum Judengasse.

Display mengenai Jewish Cemetry
Ada beberapa aktivitas yang dapat dilakukan di activity book terkait tema religi ini. Misalnya, meniru (menggambar) motif dekoratif seperti yang menghiasi objek religi yang dipajang di museum. Atau mencocokkan tokoh keagamaan (dan objek) yang ada di kitab Zabur dengan yang ada di activity book.

Mencocokkan tokoh religi Yahudi di dalam kitab dengan di activity book
Sedangkan, kegiatan di kids station lain lagi. Anak-anak diminta mencocokan gambar-gambar yang diambil dari adegan-adegan pada lagu religius Yahudi.

Kids station yang aktivitasnya mencocokkan adegan lagu religi dengan gambar ilustrasinya
Setelah menyebrangi jembatan (sebelum turun ke situs) dibahas pula mengenai berbagai profesi yang dikerjakan oleh komunitas Yahudi yang tinggal di ghetto tersebut. Selain menjadi Rabbi dan hakim (di ghetto ada Sinagog dan pengadilan sendiri), banyak juga yang menjadi pedagang dan bekerja sebagai pembantu (maids).
Oleh karena banyak orang Yahudi yang menjadi pedagang, maka tema perdagangan antar wilayah di Eropa pun di bahas. Melalui contoh kasus kegiatan perdagangan dan permainan memutar-mutar ārodaā di kids station, pengunjung dapat mengetahui perbedaan nilai mata uang di Jerman dengan nilai mata uang di negara tetangga lainnya seperti Belanda dan Perancis (perbedaan kurs). Jenius deh yang membuat permainan, hehe...

Permainan mengenai kurs mata uang
Melalui catatan pengadilan di ghetto, dinamika kehidupan sosial sehari-hari di dalam ghetto juga jadi dapat diketahui. Museum kemudian membuat rekaman audio dari catatan-catatan tersebut dan pengunjung dapat mendengarkannya melalui headphone yang disediakan.

Display (rekaman cerita) mengenai kasus-kasus pengadilan di ghetto
Uniknya, pengunjung dapat memilih kasus apa yang ingin mereka dengarkan dengan cara menyambungkan kabel headphone ke lubang-lubang yang tersedia di meja. Mejanya sendiri berisi berisi denah Jewish Ghetto. Jadi, pengunjung akan mendengarkan kasus yang terjadi tepat di ātempatnyaā masing-masing.

Detail denah dan contoh kasus pengadilan
Pengunjung pun kemudian dapat menjelajahi situs arkeologi berupa tinggalan pondasi 5 rumah dan ritual bath. Tidak hanya membahas mengenai struktur bangunan, kehidupan sehari-hari juga dibahas dari tinggalan arkeologis yang ada.
Di activity book, anak-anak mendapat tantangan menjawab berbagai pertanyaan terkait tinggalan arkeologis yang ada untuk memecahkan 1 kata kunci sebagai jawaban akhir yang harus diselesaikan. Pertanyaan dan tantangannya variatif, dari menghitung jumlah anak tangga, sampai menebak fungsi suatu struktur berdasarkan tinggalan yang ditemukan disekitarnya.
Di situs juga tersebar beberapa kids station dengan tema dan aktivitas permainan yang berbeda-beda. Efeknya, anak-anak saya bersemangat sekali mencari dan bermain di berbagai kids station yang mereka temukan.
Saya juga nge-fans berat dengan kids station ini karena permainannya pasti dikaitkan dengan keadaan di (situs) Jewish Ghetto yang sedang dijelajahi. Misalnya, ada kids station yang berisi permainan puzzle keramik untuk mendampingi temuan-temuan keramik di situs.

Display mengenai temuan keramik di situs

Kids station berisi permainan puzzle temuan keramik
Selain itu, berbagai permainannya juga dikaitkan dengan contoh kasus sesuai dengan keadaan mengenai komunitas Yahudi saat itu. Contohnya, di dekat ritual bath, dibahas mengenai atribut apa yang biasanya dikenakan oleh pria (maupun wanita) Yahudi berdasarkan lukisan potret seorang tokoh Yahudi.

Kids station mengenai atribut (pakaian) yang dikenakan oleh orang Yahudi pada masa lalu
Contoh kasus lainnya antara lain adalah kids station yang mengharuskan pengunjung medesain interior sebuah rumah di dalam ghetto agar seluruh penghuninya dapat hidup nyaman di bangunan rumah (yang sempit) tersebut.

Mendesain interior sebuah rumah di dalam ghetto
Namun, kids station yang membahas mengenai huruf Ibrani (Hebrew) adalah favorit anak-anak saya. Mereka penasaran mencoba menulis nama masing-masing serta nama mama dan papanya dalam huruf Ibrani (atau sekedar semangat dapat mencoret-coret meja?).

Belajar menulis huruf Ibrani
Sedangkan favorit saya adalah kids station yang membahas mengenai profesi yang berkaitan dengan air di ghetto. Pengunjung harus meletakkan boneka kayu yang berupa pemadam kebarakaran, pembersih kanal, pembantu, dll, di tempatnya yang benar (berdasarkan denah ghetto). Apakah di ritual bath, di sumur ataukah di kanal.

Mencocokkan profesi yang berkaitan dengan air di sumber airnya
Sambil bermain di kids station, anak-anak dan orang tuanya dapat belajar banyak mengenai sejarah komunitas Yahudi di Jewish Ghetto tertua di Eropa ini. Museum-museum seperti inilah yang biasanya paling berkesan (sampai jangka waktu yang lama) bagi kami sebagai pengunjung keluarga karena kami do something fun, experience different things and learning something new in the museum!
Apalagi anak saya berhasil menyelesaikan activity book nya dan mendapatkan kata kunci yang dicari. Ia kemudian melapor ke resepsionis dan mendapatkan hadiah berupa 1 pak sticker. Anak saya pun bangga sekali! Bukan nilai hadiahnya yang penting, tetapi yang membuat ia bangga adalah reward yang ia dapatkan atas hasil usahanya memecahkan berbagai petunjuk di museum. Bahkan, dua bulan setelah mengunjungi museum, ia masih dapat mengingat kata "judengasse" dengan baik. Padahal kata tersebut bukanlah kata yang lazim digunakan didalam kesehariannya.

Anak saya mengecek ulang jawaban kata kuncinya sebelum melapor ke resepsionis museum




Komentar