Louvre Abu Dhabi: Berkreasi di Children’s Museum
- Ajeng Arainikasih

- 18 Mei 2019
- 4 menit membaca
Diperbarui: 2 Jan 2022

Kala itu tahun 2019, saya hamil 7 bulan dan harus melakukan perjalanan dari Amsterdam ke Jakarta. Oleh dokter, saya tidak boleh terbang langsung 14 jam (direct flight) dan harus transit di salah satu kota di Jazirah Arab. Kami pun memilih untuk transit di Abu Dhabi.
Tentunya salah satu alasan mengapa saya dan suami memilih Abu Dhabi sebagai kota transit (dan one-day babymoon trip) kami adalah karena kami penasaran ingin mengunjungi Louvre Abu Dhabi. Sebagai museum geek, kami penasaran bagaimana Uni Emirat Arab melakukan franchise terhadap brand Museum Louvre ternama di Paris tersebut.

Menurut suami saya, bentuk franchise nya tidak hanya brand museum, tetapi juga koleksi. Musee du Louvre di Paris memiliki banyak sekali koleksi, baik yang dipamerkan maupun di storage. Koleksi-koleksi ini tentunya bisa di-rolling untuk dipamerkan di Abu Dhabi.
Selain itu, tentu saja langkah pertamanya adalah membuat bangunan museum yang “starchitecture”. Dirancang oleh arsitek Jean Nouvel, konsep bangunan museum didesain sebagai “museum city” di pinggir laut. Bangunan-bangunan kubus putih ala Arab “dilindungi” dibawah kubah metal dengan motif geometris. Kubah bermotif geometris ini memberi efek estetis akan refleksi cahaya dan bayangan sinar matahari.

Salah satu sudut di Louvre Abu Dhabi

Refleksi cahaya dan bayangan dari motif geometris di kubah
Selain arsitektur, langkah kedua adalah membuat museumnya dikelola dengan pendekatan museum modern. Selain ruang pameran permanen dan temporer, ada pula Children’s Museum, cafe/restaurant (dengan menu internasional), museum shop dan berbagai fasilitas penunjang lainnya.

Salah satu sudut di museum shop Louvre Abu Dhabi
Museum terutama mengakomodir kebutuhan turis, baik turis dewasa perorangan, group tour, maupun pengunjung keluarga. Contohnya, ketika saya menanyakan activity book untuk anak, pegawai museum langsung memberikan saya versi Bahasa Inggris dan bukannya Bahasa Arab.
Berbicara mengenai mengakomodir kebutuhan pengunjung, Louvre Abu Dhabi sebagai museum seni juga memikirkan pengunjung berkebutuhan khusus! Contoh yang kasat mata, museum menyediakan denah dan media tactile serta label Braille untuk pengunjung dengan keterbatasan visual di ruang pamer permanen museum.

Anak saya penasaran memegang denah tactile


Salah satu koleksi yang dipamerkan di museum dan media tactile-nya
Children’s Museum

Ruangan Children's Museum di Louvre Abu Dhabi
Anyway, selain untuk melihat franchise Museum Louvre, saya dan suami memilih mengunjungi museum ini karena kami ingin membawa anak-anak kami ke Children’s Museum. Anak-anak kami memang senang sekali kalau diajak ke museum, terutama ke Children’s Museum.
Children’s Museum Louvre Abu Dhabi ini tidak besar, hanya berada di satu ruangan persegi berdinding kelabu. Saat kami berkunjung, pameran di Children’s Museum bertema “Animals: Between Real and Imaginary”. Disana dipajang beberapa karya seni (atau artefak arkeologi) berbentuk/bermotif binatang di dalam kotak kaca. Namun benda-benda koleksi tersebut disertai dengan berbagai aktivitas yang dapat dilakukan oleh anak-anak, baik digital maupun manual.
Misalnya, ada 3 topeng yang dipajang karena memiliki unsur binatang. Untuk “mendampingi” topeng-topeng tersebut ada permainan digital untuk memilih unsur binatang-binatang apa saja yang terdapat pada topeng.


Contoh permainan digital mengenai topeng dengan motif binatang
Ada juga aktivitas mengarsir motif bulu ayam dengan kertas dan pinsil, membuat bayang-bayang bentuk binatang (dengan tangan) di layar, atau membaca buku cerita bergambar terkait artefak kuda nil berwarna biru.


Mengarsir motif bulu ayam

Membuat bentuk binatang dengan tangan dari bayangan
Di salah satu sudut ada tenda (semacam campfire) yang dapat dimasuki. Setelah masuk ke dalam tenda anak-anak dapat mendengarkan cerita mengenai 2 srigala bernama Kalila dan Dimna, cerita binatang dari India yang juga dikenal di Arab dan Eropa (Perancis).

Campfire tempat mendengarkan cerita Kalila dan Dimna
Koleksi-koleksi ini juga didampingi dengan label koleksi dan label pertanyaan. Label pertanyaannya dibuat singkat untuk menstimulasi anak-anak akan objek yang dipamerkan. Misalnya, menanyakan berapa binatang yang dapat mereka lihat di topeng, atau binatang mitologi apa yang menghiasi baskom yang dipajang. Sedangkan label objek, walaupun singkat, tetapi sepertinya lebih diperuntukkan bagi orang tua agar bisa menjelaskan mengenai objek tersebut kepada anak-anaknya.

Label pertanyaan

Label objek trilingual
Namun, satu hal yang cukup “mengganggu” bagi saya adalah: labelnya trilingual! Terdiri atas Bahasa Arab, Bahasa Perancis dan Bahasa Inggris! Mungkin Bahasa Perancis eksis karena urusan franchise. Walaupun demikian, saya bukan fans museum dengan label trilingual. Bagi saya label 2 bahasa cukup. Adanya 3 bahasa membuat label terlalu dipenuhi dengan tulisan.
Selain aktivitas yang berhubungan dengan koleksi yang dipamerkan, ada pula aktivitas “lepas” yang menstimulasi anak-anak untuk berkarya. Tentunya masih dalam tema binatang.
Aktivitas yang pertama adalah tutorial menggambar unta di layar digital. Nanti apa yang digambar oleh pengunjung di touch screen akan terlihat di salah satu sisi dinding museum. Sedangkan aktivitas kedua adalah menyusun bentuk-bentuk magnet geometris menjadi bentuk hewan.

Tutorial menggambar unta
Kedua anak saya tentu saja sibuk berkreasi dengan kedua media ini. Anak saya yang pertama (7 tahun) awalnya tekun “belajar” menggambar unta berdasarkan tutorial di layar sentuh. Tetapi, kemudian ia lebih suka menulis-nulis asal. Hasilnya, tulisan “My dad is stinky” pun terpampang besar-besar di dinding Children’s Museum!

Hasil karya "asal" anak saya yang pertama
Adiknya (3.5 tahun) beda lagi. Ia sibuk berkreasi dengan magnet-magnet geometris dan membuat “castle”. Ketika ditawari membuat bentuk kucing atau binatang lainnya ia menolak mentah-mentah. Bagi saya sih tidak apa-apa, yang penting anak-anak bebas berkreasi dan berimajinasi, serta bahagia dibawa ke museum.

Anak saya yang ke-2 sibuk berkreasi dengan magnet berbentuk geometris

Hasil karya akhir yang berjudul "castle"
Demikianlah pengalaman hepi-hepi keluarga kami di Children's Museum nya Louvre Abu Dhabi. What a good memory to remember!
Catatan: Tulisan ini ditampilkan di buku #MuseumTravelogue Asia (Penerbit: Stiletto Indie Book, 2019).




Komentar