top of page

Qasr Al Hosn, Abu Dhabi: Museum (Situs) Benteng dan Istana Arab

  • Gambar penulis: Ajeng Arainikasih
    Ajeng Arainikasih
  • 15 Mar 2019
  • 4 menit membaca

Diperbarui: 30 Mar 2020


Qasr Al Hosn adalah situs menara pandang, benteng dan istana tertua di Abu Dhabi yang telah dijadikan museum. Menara pandangnya (yang diperkirakan dibangun tahun 1760) bahkan merupakan bangunan tertua di Abu Dhabi.

Setelah memasuki pintu masuk benteng, kami (saya, suami dan anak-anak) diarahkan untuk masuk ke bangunan ticketing. Setelah membeli tiket (anak-anak gratis) anak-anak juga diberikan activity book berisi informasi dan aktivitas yang dapat mereka kerjakan di museum.

Bangunan ticketing ini kecil namun terdiri atas 2 lantai. Di lantai 2 dipajang beberapa artefak dari penggalian arkeologi yang dilakukan di situs (benteng dan istana) tersebut. Dari artefak yang ada seperti pecahan keramik dan mata uang, diketahui bahwa penghuni bangunan ini sudah melakukan kontak dengan daerah lain. Ada pecahan keramik dari Jepang dan Eropa, serta ada mata uang EIC (perserikatan dagang Inggris) dan negara tetangga, Oman. Bahkan ada bola-bola batu yang dahulu (harusnya) dilemparkan dari atas menara untuk pertahanan terhadap musuh.

Di bangunan ticketing ini juga dipajang maket-maket yang menggambarkan perkembangan bentuk benteng dari masa ke masa. Uniknya, maket-maket ini digantung dari lantai 2 ke lantai 1.

Selesai dari bangunan ticketing, kami pun diarahkan untuk memasuki ruang pamer museum di bagian inner fort. Tata pamer di inner fort ini merupakan paduan antara benda koleksi yang ditampilkan di lemari kaca dengan teknologi digital. Misalnya, adanya informasi yang ditampilkan melalui layar sentuh dan animasi singkat yang di tembakkan ke dinding.

Pertama-tama, narasi pameran di bagian inner fort menjelaskan mengenai orang Bani Yas yang pindah untuk bermukim di Abu Dhabi pada akhir paruh abad 18. Mata pencaharian utama mereka adalah pengumpul mutiara. Penguasa Bani Yas kemudian membangun menara pandang dan benteng (Qasr Al Hosn). Di awal abad 19 Abu Dhabi pun kemudian berkembang dari desa nelayan menjadi kota.

Saat kami disana, ada rombongan anak-anak sekolah dan rombongan turis yang juga sedang berkunjung ke museum. Ruang pamer langsung penuh sesak. Kami pun memutuskan berhenti sejenak lebih lama di satu ruangan agar dapat ā€œterbebas dari crowdā€.

Narasi dilanjutkan dengan menceritakan mengenai Syeikh Zayed the First, penguasa Abu Dhabi (1855-1909) yang berhasil menyatukan suku-suku di daerah sekitar serta membangun hubungan diplomasi dengan penguasa-penguasa Arab lainnya. Senjata dan surat-surat Syeikh Zayed dipajang di ruangan yang dahulu merupakan bekas musholla.

Ketika Syeikh Zayed meninggal, keadaan politik dan ekonomi dunia juga tengah berubah. Abu Dhabi membutuhkan sumber ekonomi lain selain mutiara (yang pasarnya mulai menurun). Minyak pun kemudian dijadikan komoditas utama.

Tahun 1939 Syeikh Shakhbut mengizinkan perusahaan-perusahaan minyak beroperasi, dan ia pun membangun sayap-sayap baru di istana dan memperluas bangunan Qasr Al Hosn. Qasr Al Hosn menjadi simbol ekonomi baru.

Selesai dari inner fort, pengunjung diarahkan untuk masuk ke menara pandang tua (yang dibangun tahun 1760) dan boleh naik ke menara pandang baru (dibangun sekitar 1939 ketika Qasr Al Hosn diperluas). Kemudian alur pameran berlanjut ke bagian outer fort.

Agak berbeda dengan pendekatan tata pamer di inner fort, di bagian istana yang ā€œbaruā€ ini panca indera pengunjung lebih ā€œdimanjakanā€. Selain dapat membaca label 2 bahasa (Arab dan Inggris) seperti di inner fort, pengunjung juga diperbolehkan untuk merasakan bagaimana rasanya hidup di istana masa itu dengan cara memegang benda, mencium bau dan mendengar suara-suara (sebagai latar belakang). Bahkan di beberapa area ruang pamer, pengunjung dapat pula duduk-duduk di tempat yang disediakan.

Di outer fort ini dibahas pula mengenai berbagai teknologi bangunan dan motif dekoratif. Bahkan salah satu ruangan di outer fort dibiarkan seperti keadaan semula saat itu untuk memperlihatkan arsitektur asli bangunannya.

ā€œTeknologiā€ seperti barjeel (semacam sistem ventilasi untuk mendinginkan bangunan) juga dibahas. Di bagian yang menjelaskan mengenai barjeel tersebut pengunjung juga diperbolehkan duduk dan seakan-akan dapat menikmati hidangan kopi khas daerah setempat, seperti yang dilakukan oleh para penghuni istana tersebut di masa lalu.

Ruang kamar pribadi Syeikh Shakhbut dan Majlis nya juga ditampilkan. Syeikh Shakhbut adalah seorang pemimpin yang family man. Ia dekat dengan anak-anak, menantu dan ibunya. Bola anaknya dan (dummy) kue kesukaan Syeikh Shakhbut yang biasa dibuatkan oleh menantunya ditampilkan untuk mengilustrasikan hal ini.

Sedangkan majlis adalah tempat sang raja berdiskusi, membuat keputusan, meminta nasihat dan memberikan perintah. Bahkan terkadang dipergunakan untuk kegiatan informal seperti mendengarkan musik dan puisi.

Satu hal yang menarik dari museum ini adalah ditampilkannya kamar Syeikha Salama, ibu sang raja, dan majlis wanita. Perempuan yang biasanya ā€œabsenā€ di ranah publik Arab tetap dinarasikan disini!

Syeikha Salama adalah ā€œjantungnyaā€ kerajaan. Beliau mendidik anak-anaknya untuk jadi pemimpin yang adil, bijaksana dan visioner. Anak-anaknya pun sering menghadap beliau untuk meminta nasihat.

Sedangkan majlis perempuan adalah tempat berkumpulnya perempuan dan anak-anak di istana. Para perempuan berkumpul di majlis (perempuan) untuk mendengarkan musik, minum teh, makan kurma dan melakukan berbagai aktivitas lainnya.

Bau kurma yang biasa dimakan oleh Syeikha Salama dan alunan musik Iraq dan Bahrain (yang populer pada masa itu) yang biasa didengarkan oleh Syeikha Sabha (istri Syeikh Saeed) dapat pula dibaui dan didengarkan oleh pengunjung di ruangan majlis perempuan tersebut.

Terakhir, dibahas pula mengenai dapur dan masakan di Qasr Al Hosn. Bumbu-bumbu masaknya (yang dapat disentuh dan dibaui) di impor dari berbagai negara lain seperti Indonesia (cengkeh), India, Mesir dan Oman. Makanan yang dimasak di dapur terbuka juga selalu tersedia setiap saat untuk disantap oleh tamu-tamu dan penghuni istana.

Setelah tata pamer di outer fort berakhir, pengunjung pun harus mengikuti alur tanda exit untuk keluar. Di suatu sudut dekat pintu keluar ada sumur tua. Anak saya langsung bertanya ā€œMom, are you sure this is not an old wishing well?ā€. Maksudnya, sumur tua yang dapat mengabulkan permintaan seperti di film-film kartun!

Bagi saya pribadi, Qasr Al Hosn is beyond my expectation! Museum ini autentik dan menarik sekali! Melalui tata pamer museum, saya benar-benar mendapatkan pengalaman masuk ke istana Arab dan sedikit banyak jadi mengerti mengenai sejarah (kerajaan di) Abu Dhabi.

Komentar


Ā© 2023 by NOMAD ON THE ROAD. Proudly created with Wix.com

bottom of page