Dutch Tax Museum, Rotterdam: Edukasi dan Propaganda?
- Ajeng Arainikasih

- 26 Feb 2019
- 4 menit membaca
Diperbarui: 30 Mar 2020

Tertarik dengan pernyataan teman kalau di Dutch Tax Museum (Belasting & Douane Museum) ada kids museum-nya, maka di suatu hari minggu yang hujan saya membawa anak-anak kesana.
Museumnya berada di gedung 4 lantai. Tampaknya seperti rumah tua - mungkin dulu daerah ini tidak terkena bom saat Rotterdam Blast sewaktu PD II - namun di re-desain dan dikombinasi dengan desain modern penuh kaca. Terutama pintu masuk, taman dan cafe serta akses lift.

Kids museum, ruang pameran temporer dan service area lainnya berada di lantai dasar (lantai 0). Tata pamer permanen museumnya sendiri berada di 3 lantai terpisah. Pameran di lantai 1 dan 2 merupakan inti dari Dutch Tax Museum ini (dan sedikit banyak berkaitan). Sedangkan lantai 3 merupakan tema tambahan.
Lantai 1 dan Lantai 2
Di lantai 1, pengunjung pertama-tama dihadapi dengan pertanyaan āmengapa kita harus bayar pajak?ā Jawabannya dapat ditonton melalui film di langit-langit. Jadi, pengunjung harus tiduran untuk nonton filmnya. Seru!

Lalu pameran berlanjut dan membahas sejarah terkait pajak. Misalnya protes dan kerusuhan yang terjadi di masa lalu karena masalah pajak, perubahan hukuman bagi orang yang mangkir bayar pajak (dari hukuman fisik ke denda dan hukuman penjara), dan auditor pajak dari masa ke masa.
Yang saya suka, informasinya disampaikan secara variatif. Ada yang berupa wall text singkat dan object label (2 bahasa Belanda dan Inggris) namun ada juga audio visual. Penggunaan teknologi tidak berlebihan, tetapi menunjang narasi.
Narasi juga ditunjang dengan ditampilkannya berbagai artefak, dari dokumen lama, lukisan, pakaian seragam, dan benda-benda lain yang berhubungan dengan tema yang dibahas.

Misalnya, cerita mengenai para pengumpul pajak diilustrasikan dengan karya Rembrandt yang menggambarkan seorang tax receiver kenalannya dari Leiden.

Ada pula contoh - contoh kasus terkini mengenai masalah pajak. Asiknya, pengunjung juga dapat voting terkait kasus tersebut, untuk memutuskan apakah pelaku bersalah atau tidak.

Tidak melulu menggunakan teknologi, pengunjung juga diberi kesempatan merasakan mengecap stempel ala petugas pajak dan bea cukai.

Tema bea cukai sendiri dibahas dengan cara menampilkan cerita-cerita mengenai penyelundupan barang dan pasar gelap. Dari penyelundupan artefak budaya hingga obat-obatan terlarang.

Bahkan ada pula cerita mengenai penyelundupan barang di masa lalu yang ditampilkan dalam lukisan abad 19, cool! Perhatikan deh, di lukisan ada anak yang mencuri roti juga!

Saya juga suka dengan ide museum dalam mendisplay cerita dan objek. Label dan benda tidak ditampilkan secara monoton. Misalnya, cerita penyelundupan obat terlarang ya ditampilkan dalam display semacam peti dan bukannya di lemari kaca biasa.

Pameran kemudian berlanjut ke lantai 2. Di lantai ini bahasannya lebih tematis. Misalnya mengenai pajak gula, pajak tanah, pajak tol dan pajak barang.
Dari museum ini saya baru tahu bahwa zaman dulu tanah itu dianggap punya raja, namun bangsawan-bangsawanlah yang punya hak menarik pajak tanah dari rakyat.
Saya juga jadi tahu mengenai sejarah jalan tol melalui cerita pajak tol. Pajak tol adalah retribusi yang harus dibayar oleh orang dan barang yang melewati rute tertentu (seperti kalau kita lewat jalan tol sekarang).

Oya, tol ini tidak hanya berlaku untuk jalan darat, tapi bisa juga berlaku di kanal, bahkan dalam pelayaran laut!

Tema pajak barang dibahas dengan contoh pajak minuman beralkohol seperti wine dan bir. Zaman dulu, sulit sekali menghitung volume barrel dan kadar alkohol dalam minuman. Namun kini teknologi menjadikannya lebih mudah.
Tema ini dibahas tidak hanya dengan menggunakan label objek pada lukisan tentang pajak wine, namun juga memakai barcode! Maksudnya, pengunjung bisa menonton video (berisi berbagai penjelasan berbeda) dengan cara āmembacaā barcode di berbagai benda yang di display.

Tema terakhir di lantai 2 adalah tentang masalah pajak dan bea cukai yang berkaitan dengan area Schengen.

Walaupun ditampilkan dengan permainan augmented reality, namun terasa tema ini politis sekali. Menampilkan sudut pandang (atau bahkan propaganda?) pemerintah - dalam hal ini Belastingdienst atau kantor pajak - terhadap kebijakan integrasi Schengen. Bahkan pintu keluar ruangan ini ditandai dengan sign bertuliskan āBREXITā

Photo by: Melita Tarisa
Saya dan teman-teman yang bertandang ke museum ini jadi membahas mengenai āfungsiā museum. Bisa jadi, selain untuk mengedukasi publik tentang pajak, Belastingdienst (kantor pajak) juga sengaja menggunakan museum untuk menyebarkan āpesan-pesanā tertentu (seperti āpropagandaā integrasi area Schengen).
Lantai 3
Tema pameran di lantai 3 agak sedikit berbeda. Museum membahas pajak-pajak aneh yang pernah diterapkan di masyarakat dari masa ke masa. Tidak hanya di Belanda tetapi juga di negara-negara lain, bahkan di peradaban kuno Romawi/Yunani.
Satu hal yang membuat pameran di lantai 3 ini keren adalah cara museum menampilkan informasinya. Berhubung museum (sepertinya) tidak punya koleksi mengenai tema yang dibahas, jadi, museum menggunakan instalasi seni.

Pajaknya aneh2, ada pajak urin, pajak kamar mandi, pajak pasar malam, pajak rumah pejagalan, pajak main kartu, sampai pajak potong jenggot!

Sayangnya, labelnya semua dalam Bahasa Belanda! Jadi harus buka aplikasi google translate deh! Hehe...

Pameran di lantai 3 ini juga dilengkapi dengan aktivitas partisipatori. Pengunjung diberikan pertanyaan spekulatif ākira-kira hal aneh apa yang harusnya bisa dikenakan pajak?ā Jawabannya kemudian dituliskan di kertas yang disediakan dan digantung di instalasi pamerannya, bersama jawaban pengunjung-pengunjung lain.

Saya bangga sekali karena anak saya yang berumur 7 tahun tiba-tiba berfikir keras dan menyatakan kalau menurut dia wifi harus kena pajak! Dia kemudian menuliskan jawabannya dan menggantungkan di instalasi! Cool!



Kids Museum dan Service Area
Selesai menjelajahi pameran 3 lantai, anak-anak saya lantas menuntut āmana ma katanya ada Kids museum?ā
Jadilah kami kembali ke lantai dasar dan masuk ke Kids museum. Ruangannya tidak terlalu besar, namun cukup menarik untuk anak-anak. Ada 2 tema permainan utama di Kids museum tersebut: bea cukai di pelabuhan dan bea cukai di bandar udara. Tersedia pula beberapa kostum yang dapat dipakai anak-anak.


Namun sepertinya permainan tersebut lebih cocok untuk anak-anak yang berusia agak besar. Jadi, untuk anak-anak yang lebih kecil disediakan station permainan puzzle dan mewarnai.


Berhubung teman-teman saya beranjak menuju ke cafe, anak-anak pun tidak bermain lama-lama di Kids museum. Mereka juga tergoda ingin ājajanā chocomel (minuman coklat) di cafe museum!

Sebelum pulang, kami melewati bagian yang paling berbahaya dari sebuah museum: museum shop! Dan benar saja, saya tergoda belanja! Hehe.. Bukan apa-apa, karena merchandise museum biasanya desainnya lucu-lucu dan unik. Saya akhirnya membeli buku tulis Dutch Tax Museum berbentuk seperti tagihan pajak! Menurut teman saya, notes tersebut bisa dapat predikat ābuku terkesal 2019ā hahaha...





Komentar