top of page

Museum Senckenberg, Frankfurt: Please Touch!

  • Gambar penulis: Ajeng Arainikasih
    Ajeng Arainikasih
  • 10 Feb 2019
  • 3 menit membaca

Diperbarui: 30 Mar 2020


Liburan awal tahun kemarin kami sekeluarga jalan-jalan ke Frankfurt, Germany. Dari sebelum berangkat suami saya sudah bilang “Ada Senckenberg Museum di Frankfurt!” Museum Senckenberg adalah museum sejarah alam. Jenis museum favorit suami saya. Berhubung anak-anak juga selalu happy kalau dibawa ke museum, maka museum tersebut jadi destinasi utama kami di Frankfurt.

Dari pagi antrian masuk ke museum sudah mengular. Isinya pengunjung keluarga dengan anak-anak seperti kami. Untungnya, ketika kami tiba sehabis makan siang, antriannya tidak sepanjang pagi tadi. Setelah selesai membeli tiket dan meletakkan barang-barang serta winter coat di locker, kami pun siap menjelajahi museum, yey!

Ruangan pertama yang kami masuki adalah ruangan dinosaurus. Tidak hanya anak-anak, mama-papa dan kakek-neneknya pun terpana memandangi fosil-fosil kerangka dinosaurus. Dari T-rex, Triceratops, sampai Ptenarodon ada semua! Rasanya saya seperti masuk ke film Jurasic Park saat saya kecil dulu!

Dari desain interior museumnya, saya bisa melihat bahwa sepertinya terakhir kali Museum Senckenberg di renovasi (redesain) adalah sekitar akhir dekade 1990-an atau awal 2000-an. Namun, museum sudah dibuat kids friendly sekali!

Di ruang dinosaurus, ada fosil-fosil yang disediakan untuk disentuh pengunjung! Disediakan pula puzzle balok dan magnet untuk dimainkan oleh anak-anak.

Berhubung anak saya yang kecil adalah fans berat puzzle, happy banget dia jadinya ketika dikasih tantangan menyambung-nyambung kerangka dinosaurus!

Sedangkan kakaknya lebih amazed dengan kenyataan bahwa ada telur dan poop dinosaurus yang jadi fosil!

Ruangan favorit kami selanjutnya adalah ruangan evolusi gajah. Selain memajang offset dan kerangka gajah, dijelaskan pula (di dinding) mengenai evolusi gajah melalui perbedaan giginya dan persebaran gajah pada peta dunia. Ada pula gigi mammoth yang disediakan untuk disentuh!

Bahkan, ruangan yang menurut saya cukup “membosankan” seperti ruangan batuan dan mineral juga menyediakan spesimen untuk disentuh pengunjung di luar lemari kaca.

Berhubung waktu kami terbatas dan museumnya besar sekali, jadi kami hanya memilih untuk memasuki ruangan-ruangan tertentu. Salah satunya tentu saja ruangan manusia purba. Suami saya langsung puas karena bisa kasih kuliah ke bapaknya mengenai penemuan-penemuan manusia purba. Saya? Jujurnya, dari dulu prasejarah is not my thing! Saya lebih tertarik melihat bagaimana museum menampilkan display nya.

Di ruangan ini, fosil-fosil tengkorak yang asli diletakkan di dalam kaca. Namun, disebelah setiap fosil tengkorak ditampilkan juga rekonstruksi wajah mereka dan rekonstruksi wajah ini boleh dipegang serta diraba! Bahkan dilengkapi dengan label huruf Braille!

Anak-anak juga cukup lama berada di ruangan mengenai volcano karena mereka menunggu display berupa maket gunung berapi meletus dulu (2 sampai 3x) sebelum beranjak ke ruangan lain.

Sebelum pulang, anak-anak sempat menjelajahi ruangan berisi offset binatang dan habitatnya. Mereka terutama terpana melihat binatang-binatang seperti bison dan rusa kutub yang belum pernah mereka lihat sebelumnya di Indonesia.

Mereka juga suka sekali dengan display tentang pohon pinus. Selain jadi tahu mengenai umur pohon dari lingkaran-lingkaran di batangnya, anak-anak juga semangat membuka-buka display “tersembunyi” mengenai beragam biji pinus. Saya juga suka display ini, selain karena perpaduan antara ilustrasi dan desainnya, juga karena ada pilihan label Bahasa Jerman dan Bahasa Inggris di dua sisi display yang berbeda.

Berhubung sekitar jam 5 kami harus “mengejar” bis hop-on-hop-off terakhir yang akan mengantar kami kembali ke hotel, maka sayang sekali kami tidak bisa mengeksplorasi Museum Senckenberg secara keseluruhan. Padahal museumnya masih buka sampai pukul 7 malam.

Tetapi hari itu kami bahagia. Anak-anak, suami dan mertua senang. Saya juga senang karena dapat banyak ide baru untuk bikin tata pamer museum yang “please touch” dan bukannya “don’t touch”.

Komentar


© 2023 by NOMAD ON THE ROAD. Proudly created with Wix.com

bottom of page