top of page

Royal Palace Amsterdam: Sticker Trail dan Hantu Anak Kecil?

  • Gambar penulis: Ajeng Arainikasih
    Ajeng Arainikasih
  • 8 Des 2017
  • 3 menit membaca

Diperbarui: 30 Mar 2020


Royal Palace Amsterdam

Setelah hampir satu tahun tinggal sendirian di Belanda, akhirnya September 2017 ini 2 anak perempuan saya (6 tahun dan 2 tahun) ikut pindah ke Belanda. Museum pertama yang kami datangi adalah Royal Palace di Dam Square Amsterdam. Istana ini dulunya adalah balai kota, namun ketika Napoleon Bonaparte berkuasa, adiknya, Louis Napoleon, jadi raja Belanda. Louis Napoleon inilah yang kemudian mengubah balai kota tersebut menjadi istana.

Royal Palace @ Dam Square Amsterdam

Baca-baca dari Wikipedia, ternyata Istana ini juga merupakan tempat diselenggarakannya seremoni penyerahan kedaulatan Indonesia-Belanda tahun 1949 oleh Ratu Juliana dan Muhammad Hatta. Wow!

Sticker Trail

Kembali ke museum, saat membeli tiket, anak saya yang umur 6 tahun diberikan audio guide berbahasa Inggris untuk anak-anak. Ia juga diberikan sticker dan kertas karton berbentuk medali untuk menempelkan stickernya.

Sticker trail untuk anak-anak di Dam Palace Amsterdam


Ternyata, selain mendapat penjelasan di audio guide, ada juga 13 pertanyaan yang harus dijawab dengan cara menempelkan sticker berisi gambar dan huruf ke medali. Nanti setelah selesai tur ia bisa menukarkan hadiahnya di souvenir shop. Karena saya mendampingi, jadi saya dapat audio guide anak juga.

Sibuk mengerjakan sticker trail

Berhubung audiensnya anak-anak, maka suara "guide" dalam audioguidenya yang memandu adalah anak-anak juga. Guide kami seakan-akan adalah Prince Louis, anak dari Louis Napoleon, yang menceritakan tentang kehidupan dia, ayahnya, dan ibunya di istana tersebut. Cukup susah juga menjelaskan ke anak saya kalau suara ini bukan suara Prince Louis beneran! Hehehe..

Hampir di setiap ruangan si Prince Louis ini menjelaskan secara singkat dalam bahasa anak-anak tentang ruangan-ruangan di istana. Terkadang ia juga memberikan pertanyaan-pertanyaan quiz. Namun, ada pula ruangan-ruangan yang hanya disuruh lihat saja tanpa ada keterangan (tapi kalau pakai audio guide dewasa ada keterangannya).

Intinya si pangeran cerita tentang ayahnya yang jadi Raja Belanda dan mengubah balai kota menjadi istana. Sang raja memesan chandelier khusus untuk ruangan hall.

Pose dengan latar belakang chandelier nya Louis Napoleon di Royal Palace Amsterdam

Beliau juga membuat balkon agar bisa melihat rakyatnya dan melambai-lambaikan tangan dari balkon. Prince Louis sering ikut ayahnya melambai-lambai ke rakyat dari balkon sehabis sarapan.

Si pangeran juga cerita kalau ayah dan ibunya tidak saling mencintai, jadi mereka tidur di kamar yang berbeda dan berjauh-jauhan. Sang ratu bahkan tidak betah tinggal di istana ini, karena istana sangat dingin di musim dingin. Sedangkan di musim panas jendela-jendela tidak bisa dibuka karena bau dari kanal di luar istana akan masuk ke istana.

Di istana ada juga ruangan tempat menghukum mati orang-orang yang melakukan tindakan kriminal pada saat bangunan itu berfungsi sebagai balai kota. Saat jadi istana patung-patung dan pahatan 'mengerikan' di ruangan tersebut ditutup kain-kain gorden tebal.

Terkadang, sang pangeran juga bercerita tentang gaya furnitur, lukisan, dan mitologi patung-patung yang ada di istana. Ataupun mengenai jubah pelantikan raja atau ratu dari lukisan potret para raja dan ratu.

Salah satu ruangan di dalam istana


Setelah selesai berkeliling dan menjawab pertanyaan-pertanyaan si Prince Louis, sticker di medalinya akhirnya membentuk kata 'Holland Empire'. Anak saya kemudian melaporkan jawabannya ke petugas souvenir shop, lalu ia dan adiknya mendapat tali berwarna merah-putih-biru untuk menggantung medali mereka di leher. Mereka pun mendapat pin juga sebagai hadiah tambahan.

Hantu Anak Kecil?

Ups! Perjalanan tur kami tidak semulus itu! Di salah satu ruangan istana, Prince Louis menceritakan mengenai kamarnya. Ia juga bercerita kalau dulu ia sering bermain dengan kakaknya, namun kakaknya sakit dan meninggal di umur 4 atau 5 tahun.

Tentu saja anak saya yang kecil tidak mengerti dan tidak mendengar info ini. Ia sibuk jalan kesana kemari, sibuk dengan audio guide papanya (walaupun tidak mengerti), dan sibuk sendiri dengan stickernya.

Ikutan sibuk sama audio guide dan sticker trail


Namun, tidak jauh dari ruang kamar Prince Louis, anak saya yang berumur 2 tahun tiba-tiba menunjuk ke suatu sudut ruangan sambil berkata 'anaak! Ada anaak!'. Ia kemudian pindah ke ruangan sebelah sambil terus menunjuk-nunjuk dan heboh bilang 'anak!'. Saya, kakaknya dan suami saya sama sekali tidak lihat ada anak kecil!

Yang paling horor, ia kemudian bilang kalau 'si anak' keluar ruangan sambil menunjuk ke pintu kayu yang tertutup. Pintunya bahkan di lindungi velvet rope!

Suami saya lantas ketawa-ketawa sambil berkata 'berarti si anak nembus pintu dong!'. Anak saya kemudian heboh mencari-cari 'mana anak?'. Saya sih merinding! Ngebayangin jangan-jangan dia lihat hantu anaknya Louis Napoleon, iiiihhhh....

Begitulah pengalaman pertama museum visit kami di Belanda dengan personil lengkap sekeluarga, seru walaupun berhantu :)

Pardon our family pics!

Komentar


Ā© 2023 by NOMAD ON THE ROAD. Proudly created with Wix.com

bottom of page