Ons Lieve Heer op Solder, Amsterdam: Museum Gereja Rahasia di Loteng
- Ajeng Arainikasih

- 3 Apr 2017
- 5 menit membaca
Diperbarui: 30 Mar 2020

Museum Ons’ Lieve Heer op Solder atau Our Lord in the Attic Museum adalah museum mengenai gereja Katolik tua dari abad 17 yang tersembunyi dan terletak di loteng sebuah canal house di Amsterdam. Mengapa tersembunyi? Karena pada masa itu agama resmi di Amsterdam adalah Protestan dan agama Katolik dilarang. Oleh sebab itu, tahun 1663 Jan Hartman, seorang pedagang kaya di Amsterdam, membuat gereja Katolik rahasia di loteng rumahnya. Kini, baik gereja maupun rumahnya menjadi museum rumah bersejarah.

Tahun 2015 museum di perluas ke bangunan di sebelah rumah tersebut. Uniknya, rumah tua dan bangunan museum yang baru tidak tepat bersebelahan. Kedua bangunan itu dipisahkan oleh jalanan kecil sehingga secara sepintas orang yang lalu lalang di luar tidak akan mengira kalau dua bangunan terpisah tersebut adalah satu kesatuan. Untuk masuk ke museum, pengunjung masuk dari gedung baru. Di gedung baru tersebut ada meja resepsionis (ticketing), toko cinderamata, café, ruangan penitipan barang, dan ruang edukasi.

Setelah menitipkan mantel dan tas serta membeli tiket masuk, pengunjung lantas harus turun ke lantai bawah tanah. Di ruangan bawah tanah itu pengunjung diberikan audio guide. Audio guide nya dapat didengarkan dalam 7 pilihan bahasa. Menariknya, ternyata ada pilihan audio guide untuk anak-anak usia 10-12 tahun. Saya pun memilih mendengarkan audio guide versi anak-anak, and here is my story…

Setelah mendapatkan audio guide, tur museum dimulai dengan menonton film pendek mengenai sejarah kota Amsterdam di abad 17 saat agama Katolik dilarang. Film nya tanpa suara, jadi untuk mendengarkan narasinya pengunjung harus mendengarkan dari audio guide. Di ruangan pertama tersebut ada pula maket rumah (museum) sehingga pengunjung bisa membayangkan denah si rumah sebelum menjelajahinya.

Selesai dari ruangan pertama pengunjung harus berpindah ke ruangan selanjutnya melewati lorong dan anak tangga. Di ruangan ke-2 dipajang berbagai benda pecah belah terutama botol.
Ternyata, di tahun 2013, saat museum sedang dalam proses pelebaran antara bangunan museum lama dengan bangunan sebelahnya, Bureau Monumenten & Archeologie (otoritas arkeologi Belanda) yang melakukan penggalian menemukan cesspit di lokasi tersebut.
Cesspit adalah lubang dalam untuk pembuangan toilet dan sampah rumah tangga. Dari artefak di cesspit dapat diketahui kehidupan penghuni rumah tersebut dari sekitar tahun 1650 s/d 1800. Artefak yang dipajang di ruangan terutama berasal dari periode saat keluarga Van der Meulen menempati rumah ini. Usaha keluarga Van der Meulen adalah membuka toko bir sedangkan di loteng rumah mereka ada gereja!
Oleh karena audio guide saya untuk anak-anak, maka fokus ceritanya adalah tentang masa dimana air di Amsterdam sangat kotor sehingga lebih aman untuk minum bir daripada minum air, bahkan anak-anak pun minum bir! Di audio guide dipertanyakan pula bagaimana pendapat si anak, apakah bijaksana apabila orang dewasa membiarkan atau mengizinkan anak kecil minum bir?

Rute berlanjut dan pengunjung harus menaiki tangga menuju ke ruangan berikutnya. Setelah menaiki tangga saya pun tiba di ruangan kecil yang hanya berisi 3 keranjang kayu di tengahnya dan kursi di sisi-sisinya. Di ruangan itu pengunjung harus memakai pelindung sepatu (ada yang berukuran kecil, sedang dan besar) karena kami akan masuk ke bagian museum yang merupakan rumah bersejarah. Ternyata saya baru saja menyebrang dari satu bangunan ke bangunan lain lewat bawah tanah! Melewati bagian bawah jalanan yang memisahkan dua rumah tersebut! Keren!

Saya kemudian tiba di ruangan tempat pintu depan berada. Pintu ini diperuntukkan bagi tamu-tamu penting Jan Hartman sang pemilik rumah. Lalu, alur kunjungan pun mengarahkan saya ke dapur di sisi belakang rumah. Di dapur, dinding-dindingnya dipenuhi keramik bergambar berwarna biru dan putih. Melalui audio guide, saya pun diminta untuk memperhatikan gambar anak perempuan dan anak laki-laki di keramik.
Dibahas pula bagaimana pakaian mereka dan apa yang mereka mainkan di zaman dahulu. Berhubung audio guide saya khusus untuk anak-anak, maka terkadang informasi yang dibahas berbeda dengan isi audio guide dewasa. Isi audio guide saya disesuaikan dengan dunia yang dekat dengan anak-anak.

Ruangan berikutnya adalah reception room yang terletak di lantai dua. Saat menaiki tangga, saya (melalui audio guide) diberitahu untuk tidak boleh berlari-lari! Audio guide juga menjelaskan bahwa di masa lalu anak-anak juga tidak boleh lari-lari naik turun tangga!
Di reception room yang penuh lukisan saya diminta untuk memperhatikan 1 lukisan bertema Sinterklaas. Di lukisan tersebut digambarkan sebuah keluarga dengan 3 anak yang memegang hadiah. Di Belanda orang-orang biasanya merayakan Hari Sinterklaas setiap tanggal 5 Desember. Sinterklaas biasanya akan datang di malam hari dan memberikan hadiah untuk anak-anak di sepatu yang telah mereka isi dengan rumput. Ternyata tradisi ini sudah dirayakan sejak abad 17!

Dari reception room saya masuk ke day room. Ruangan ini adalah ruangan untuk beraktivitas sehari-hari. Disini dijelaskan pula bahwa pada masa lalu anak kecil tidak memiliki kamar tidur sendiri. Kakak-beradik biasanya tidur bersama-sama di day room. Di sudut ruangan tersebut bahkan masih terdapat tempat tidur kuno nya yang seperti berada di dalam ceruk di dinding!


Lalu saya pun melewati mezzanine, yakni ruang tambahan di sisi rumah berupa tangga naik ke loteng. Dahulu, para jemaat yang ingin mengikuti misa di gereja setiap hari minggu harus melewati mezzanine ini. Di mezzanine terdapat jendela yang di dalam nya terlihat sebuah kamar tidur. Untung saja daun jendela tersebut terbuat dari kayu bukan kaca, jadi, orang yang berada di dalam kamar dapat "tak terlihat" oleh jemaat gereja yang lalu lalang di mezzanine.
Akhirnya saya pun tiba di gereja rahasia di loteng! Gereja nya dibuat bertingkat 3! Gereja yang sekarang bukan lagi versi yang sama dengan gereja awal saat dibangun oleh Jan Hartman. Gerejanya sudah direnovasi tahun 1862. Di lantai 2 gereja bahkan ada piano kuno nya! Penerangan gereja pun menggunakan lampu gas abad 19 yang direkonstruksi dari foto-foto lama.

Selain audio guide, museum juga memberikan interpretasi melalui video atau film pendek. Terutama di beberapa titik yang membutuhkan penjelasan visual. Misalnya di loteng lantai 3 ada jendela terbuka dengan kait dan tali tambang yang fungsinya dahulu adalah untuk mengkatrol barang ke loteng (gudang). Nah, cara kerja nya dijelaskan melalui video.

Oh ya, di beberapa titik disediakan pula trivia quiz untuk anak-anak. Baik pertanyaan maupun jawabannya didengarkan dan di jawab melalui memencet tombol di audio guide. Nanti skor nya dapat diketahui setelah selesai tur. Pertanyaan-pertanyaannya biasanya seputar informasi umum mengenai agama Katolik, terutama dari penjelasan di audio guide yang berhubungan dengan koleksi di museum.
Kembali ke gereja, di belakang altar utama ada pula lady chapel berisi arca Bunda Maria. Tahun 1740 ditambahkan pula ruang confession atau ruang pengakuan dosa di sisi belakang gereja. Berhubung audio guide nya untuk anak-anak maka penjelasan tentang pengakuan dosa mengambil contoh kasus bullying di sekolah! Salut, audio guide anak ini benar-benar berusaha menjelaskan narasi mengenai museum, kehidupan di abad 17 dan agama Katolik lewat kacamata anak kecil agar mudah dimengerti.

Terakhir, kami pun mengunjungi rumah pendeta di sisi belakang gereja. Rumah pendeta ini memiliki pintu masuk/keluar sendiri yang terpisah dari rumah utama. Terdiri atas 3 lantai yang berisi ruang tidur/ruang kerja di lantai atas, serta dapur dan privy (toilet) di lantai bawah tanah. Jan Hartman khusus menyediakan rumah ini bagi Petrus Parmentier. Petrus Parmentier adalah pendeta pertama gereja rahasia ini. Jan Hartman menjanjikan bahwa Petrus Parmentier boleh tinggal selama mungkin di rumah tersebut. Sayangnya, Jan Hartman meninggal di tahun 1668, hanya beberapa tahun setelah gereja didirikan. Namun, penghuni rumah selanjutnya tetap menjadikan bangunan tersebut sebagai rumah pendeta.

Setelah dari rumah pendeta saya pun melewati ruangan semacam lorong bercat putih berisi vitrin kaca berisi artefak yang berhubungan dengan agama Katolik dan lukisan-lukisan. Di ujung lorong saya pun kembali ke ruang pertama tempat menonton film dan mengambil audio guide. Wah, ternyata lorong tersebut adalah penyebrangan bawah tanah dari rumah tua ke gedung baru! Oh ya, di ujung lorong saya juga harus mengembalikan pelindung sepatu yang dipakai, mengembalikan audio guide dan mengetahui skor trivia quiz nya!

Unexpectedly, banyak sekali hal yang saya pelajari dari museum ini. Saya belajar mengenai manajemen museum rumah bersejarah. Terutama bagaimana museum dapat menjaga agar rumah bersejarahnya tetap tidak mengalami perubahan, tetapi museum dapat memiliki fasilitas baru yang dibutuhkan pengunjung seperti café, locker room dan toko cinderamata.
Oh ya, di gedung baru ada akses berupa elevator, namun di gedung lama tidak ada. Jadi, pengunjung yang menggunakan kursi roda atau memiliki kesulitan dengan tangga tidak bisa mengakses pameran museum. Oleh sebab itu, museum sedang mengembangkan aplikasi yang dapat membuat pengunjung yang tidak dapat mengakses museum dapat melihat museum dengan semacam program virtual reality.
Most importantly, saya belajar banyak mengenai cara museum membuat interpretasi melalui audio guide untuk anak-anak! Sangat menginspirasi!




Komentar