Maritiem Museum Rotterdam: Exhibition is Experience!
- Ajeng Arainikasih

- 8 Feb 2017
- 4 menit membaca
Diperbarui: 30 Mar 2020

All photos are courtesy of: Mikhael Dito Manurung
Satu kalimat yang tepat untuk menggambarkan pameran permanen dan temporer di Maritiem Museum Rotterdam adalah "exhibition is experience!". Akhir minggu lalu saya dan beberapa teman khusus datang ke Rotterdam untuk main di Maritiem Museum Rotterdam. Main? Yup! Maritiem Museum ini memang asik banget untuk tempat main, baik untuk anak-anak ataupun orang dewasa.
Museum 3 lantai ini memiliki 6-7 area pameran yang berbeda-beda. Itu belum termasuk display kapal-kapal dan mercusuar di dermaga di sisi luar gedung museum lho! Anyway, waktu saya kesana, ada 3 area pameran yang merupakan pameran permanen, selebihnya merupakan pameran temporer. Namun, sedikit berbeda dari pameran temporer di Indonesia, pameran temporernya berlangsung untuk jangka waktu beberapa bulan.

Salah satu area pameran permanen Maritiem Museum Rotterdam bertajuk Masterpieces. Di ruangan ini dipamerkan benda-benda 'masterpiece' yang berhubungan dengan sejarah maritim Belanda seperti lukisan, model kapal, travel journal, bahkan peta tua! Di peta tua jalur perdagangan maritim dari abad 17/18 yang dipajang, ada lukisan kecil-kecil di sisi kanan-kiri peta yang menggambarkan kota-kota pelabuhan pada masa itu. Diantara kota-kota seperti Venezia, Stockholm dan Amsterdam ada pelabuhan Bantam (Banten) dan Gamalama (Ternate) lho! Bangga! Berarti kan pada masa itu Banten dan Ternate sama 'grandeur' nya dengan kota-kota pelabuhan lain di dunia.

Salah satu pameran permanen lainnya bertajuk Offshore Experience. Disini pengunjung dibuat seakan-akan bekerja di areal tambang minyak lepas pantai. Pengunjung dapat memakai pakaian seperti pekerja offshore betulan. Selain itu, pengunjung bisa juga "experience" berbagai keterampilan yang diperlukan pekerja offshore seperti jadi 'tukang parkir' helikopter, atau belajar meletakkan tumpukan kontainter-kontainer dengan menggunakan semacam crane melalui permainan simulasi. Setelah puas main di area lepas pantai, pengunjung kemudian harus turun menggunakan lift untuk keluar area pameran. Ternyata lift nya seakan-akan membawa pengunjung ke bawah laut! Suasananya benar-benar dibuat gelap seperti dibawah laut! Keren banget! Disitu pengunjung diperlihatkan bagaimana situasi pekerjaan penyelam di bawah laut diantara tabung-tabung saluran tambang minyak.

Keluar dari "bawah laut" pengunjung lantas disambut oleh bilik-bilik macam bilik pemilu. Di dalam setiap bilik ada orang atau kelompok orang yang mempresentasikan ide mereka mengenai sustainable energy. Pengunjung kemudian bisa pilih [voting] paling suka ide yang mana. Di ruangan ini pengunjung juga harus mengembalikan baju pekerja offshore dan bisa mengecek skor masing-masing dalam permainan-permainan simulasi yang sudah dimainkan sebelumnya di atas. Participatory banget pamerannya! Seru!

Satu area permanen lagi adalah area Professor Plons (Professor Splash) untuk anak-anak. Dijamin anak kecil bahagia banget kalau main disini! Ada area indoor dan outdoor. Bisa ngerasain nyetir kapal, main tali temali ala pelaut, sampai merosot di perosotan Titanic! Kalau summer saya rasa area outdoornya bakal ada semprotan-semprotan air deh. Oya, untuk orang tua yang menunggu anak main juga disediakan tempat duduk dan coffee machine lho, plus area parkir stroller! Museum tahu betul ya kebutuhan pengunjung!

Selain pameran permanen, Maritiem Museum juga punya beberapa pameran temporer, salah satunya Living in the Water. Di pameran ini diceritakan mengenai bagaimana kehidupan orang-orang Belanda yang tinggal di rumah perahu dan yang tinggal di rumah yang 'mengapung' di sisi-sisi kanal. Selain jadi tau seperti apa bagian dalam rumah-rumah tersebut dari cerita [via film dokumenter] beberapa penghuni rumah perahu, pengunjung juga jadi tau bagaimana rumah-rumah tersebut mendapatkan saluran listrik, internet, dan bagaimana maintenance nya. Bagian yang paling menarik dari pameran ini kalau menurut saya adalah ketika pengunjung ditantang untuk mengatur perabot di dalam rumah perahu agar rumahnya tetap seimbang!

Saya juga suka ketika pengunjung diberi kesempatan untuk 'mendesain' pemandangan sesuai selera. Di area pameran Living in the Water disediakan berbagai bentuk rumah perahu, pohon, burung, hingga gedung dan kincir angin. Bentuk-bentuk ini harus kita atur dan letakkan di depan proyektor sehingga bayangannya akan menghiasi salah satu sudut dinding ruang pamer. Keren!


Tapi menurut saya pameran temporer The World on Your Plate lebih keren lagi!. Pameran ini sepertinya lebih diperuntukkan bagi anak kecil, tapi orang dewasa juga tetap bisa menikmati. The World on Your Plate menceritakan darimana asal beras, cengkeh, kopi, pisang, jeruk, cokelat dan kacang yang merupakan bahan makanan sehari-hari di Belanda. Pameran yang disponsori oleh Lidl (supermarket) ini menyediakan buku (semacam worksheet) yang dapat diambil gratis oleh pengunjung. Bukunya ada 3 jenis: untuk anak 4-8 tahun (Bahasa Belanda), anak 9-12 tahun (Bahasa Belanda), dan anak usia 4-12 tahun dalam Bahasa Inggris. Melalui aktivitas di buku ini lah pengunjung kemudian mengeksplorasi pamerannya. Cara eksplorasinya adalah dengan 'naik kapal' keliling dunia untuk menemukan di negara mana bahan makan tersebut dibuat (ditanam) sebelum diimpor ke Belanda. Kalau sudah tau jawabannya anak harus mencap bukunya sesuai bentuk bahan makanan di negara yang tepat.

Selain itu, setiap jenis bahan makanan juga dibuatkan meja berisi dummy makanan tersebut dan olahannya yang bisa diraba teksturnya. Setiap bahan makanan juga dilengkapi dengan display mengenai sejarahnya, dan aromanya pun dapat dicium. Pengunjung juga boleh lho mengambil resep berbagai jenis masakan yang disediakan di pameran!


Last but not least, ada satu pameran temporer lagi yang tidak kalah menarik: Sea Palaces! Pameran mengenai kapal pesiar ini tidak hanya memberikan informasi [sejarah] rute kapal pesiar dari Belanda ke berbagai belahan dunia lain seperti Asia dan Amerika berikut lama waktu perjalanan dan harganya, atau melihat berbagai interior kamar di kapal pesiar dari berbagai dekade dan kelas, tetapi pengunjung benar-benar dapat merasakan bagaimana rasanya berada di dalam kapal pesiar. Pengunjung bisa nyanyi beneran seperti seakan-akan sedang berada di kasino nya kapal pesiar. Bisa pilih-pilih menu di restaurant, dan bahkan bisa mencoba berbagai permainan 'ala' kapal pesiar seperti Bingo dan Shuffleboard.




Dengan menerapkan konsep 'exhibition as experience' pengunjung jadi menghabiskan banyak waktu untuk bermain dan mengeksplorasi tata pamer museum. Pengunjung pun pulang dengan hati senang hehe... Experience also long last. Maksudnya, dibandingkan dengan reading passively the museum labels, saya rasa 'experiencing the exhibition' akan lebih efektif membuat kunjungan ke museum lebih memorable, dan informasi yang disampaikan akan lebih lama 'nempel'. What do you think?





Komentar