Exhibition Review "A World of Feathers" Museum Volkenkunde, Leiden
- Ajeng Arainikasih

- 27 Nov 2016
- 3 menit membaca
Diperbarui: 30 Mar 2020

Minggu ini saya menjadi peserta seminar di Museum Volkenkunde. Kebetulan di Museum Volkenkunde sedang diselenggarakan pameran temporer bertajuk "A World of Feathers" yang berlangsung bulan Oktober 2016 - Maret 2017. Jadilah saya di sela-sela seminar menyempatkan diri mengunjungi pameran tersebut.
Museum Volkenkunde adalah museum etnografi di Leiden, Belanda, yang sudah eksis sejak tahun 1837. Sebagai museum etnografi yang didirikan di zaman kolonial, awalnya museum ini bertujuan untuk mengedukasi publik Belanda mengenai kebudayaan etnis-etnis "tradisional" atau "primitif" dari belahan dunia lain, terutama dari negara-negara jajahan mereka termasuk Indonesia (pada masa itu disebutnya Hindia Belanda / Dutch East Indies). Namun, tentu saja konsep tersebut tidak bisa lagi diterapkan di zaman pasca-kolonial ini. Oleh sebab itu Museum Volkenkunde mulai berusaha mengubah sudut pandangnya dalam memamerkan koleksi. Melalui pameran "A World of Feathers" saya berusaha memaparkan bagaimana usaha mereka menjadi museum etnografi di era postcolonial ini diwujudkan melalui pameran temporer.
Pertama, berdasarkan pemaparan salah seorang direksi Museum Volkenkunde di acara pembukaan seminar, Museum Volkenkunde berusaha berubah dari museum mengenai 'benda' menjadi museum mengenai 'manusia'. Oleh sebab itu, yang menjadi objek di poster event atau poster pameran museum bukan lagi benda koleksi museum tetapi foto manusia. Contohnya seperti poster pameran temporer 'A World of Feathers' ini.

Kedua, dalam sejarahnya di dunia permuseuman, dikenal istilah 'self and other'. 'Self' biasanya mengacu pada orang Eropa kulit putih, dan 'other' pada golongan non-kulit putih. Nah, pameran 'A World of Feathers' ini sudah berusaha mengkombinasikan mengenai si 'self' dan si 'other' dengan cara mengangkat narasi mengenai bagaimana bulu selama berabad-abad digunakan oleh manusia dari seluruh dunia sebagai aksesoris [fashion]. Misalnya, selain memamerkan koleksi dan cerita mengenai aksesoris bulu milik etnis indigenous dari Brazil atau Papua Nugini, juga ditampilkan foto Ratu Maxima (Ratu Belanda) mengenakan topi dengan hiasan bulu.

Ada cerita mengenai kipas bulu bangsawan Eropa di masa lalu, namun ada pula cerita mengenai kipas bulu bangsawan Cina. Bahkan dipamerkan juga topi bulu milik 'Director of Justice' dan Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Ketiga, museum masa kini juga tidak tabu membicarakan isyu yang kontroversial. Contohnya, di pameran 'A World of Feathers' dibahas mengenai seorang musisi Belanda dan model brand pakaian dalam wanita Victoria Secret yang mengenakan hiasan kepala berbulu ala suku Indian di penampilan mereka di festival musik dan fashion show. Hal tersebut dianggap kurang pantas dan menggambarkan cultural appropriation karena hiasan kepala tersebut sakral dan hanya boleh digunakan oleh kepala suku!

Keempat, pameran juga berusaha memaparkan isyu terkini, antara lain pesan pelestarian lingkungan. Karena tidak ada bulu kalau tidak ada burung, maka ada 1 ruangan khusus yang didedikasikan untuk pesan 'pelestarian burung'. Ruangannya didesain dalam bentuk kandang burung raksasa berisi berbagai offset burung dari Burung Unta, Burung Hantu, Burung Merak hingga Burung Cendrawasih. Di ruangan itu, selain bisa didengar berbagai suara burung, juga diceritakan sejarah bulu masing-masing burung yang dipergunakan untuk kepentingan aksesoris manusia dan perdagangannya di masa lalu, serta [peraturan] perlindungannya di masa kini.
Di ruangan terakhir, pameran ditutup dengan display beberapa pakaian haute couture berbahan bulu dengan latar belakang screen berisi rekaman acara fashion show. Seakan-akan pengunjung benar-benar sedang berada di acara peragaan busana! Keren!

Intinya, dari segi desain dan narasi, pameran 'A World of Feathers' ini keren. Sayangnya media yang digunakan masih hanya terpaku pada indera pengelihatan dan pendengaran saja (objek, label, foto, suara, film). Pengunjung belum diberi kesempatan untuk memegang koleksi atau diperbolehkan mencoba mengenakan salah satu koleksi misalnya. Pameran ini juga belum 'kids friendly' baik dari segi desain, display maupun label. Walaupun labelnya sudah bilingual Bahasa Belanda dan Bahasa Inggris siihh... Namun demikian, usaha Museum Volkenkunde untuk menjadi museum etnografi di era pasca kolonial sudah lumayanlah, bolehlah diacungi jempol :)




Komentar