top of page

Exhibition Review “Bright Mind Expedition: Which world will you discover” Maritiem Museum, Rotterdam

  • Gambar penulis: Ajeng Arainikasih
    Ajeng Arainikasih
  • 14 Sep 2018
  • 4 menit membaca

Diperbarui: 30 Mar 2020


Di Maritiem Museum Rotterdam sedang diselenggarakan pameran temporer berjudul “Expeditie Knappe Koppen”. Kalau diterjemahkan dalam Bahasa Inggris artinya “Bright Minds Expedition”.

“Bright Minds Expedition” bercerita mengenai 4 tokoh petualang sekaligus peneliti Belanda yang hidup di pertengahan tahun 1500 sampai 1700-an. Pada masa itu, mereka berpetualang dari Eropa (Belanda) ke Asia, Afrika dan Amerika sebagai seniman, naturalis, entomologis, kartografer, dan antropolog.

Walaupun demikian, dari segi teori museum label, menurut saya judul pameran ini gagal. Mengapa gagal? Karena judul pamerannya tidak membuat pengunjung mudah untuk mengerti apa kira-kira isi pamerannya walaupun ada subtitle yang berbunyi “Which world will you discover?”. Padahal, pamerannya keren banget!

Mengapa Keren?

Keren karena isi pamerannya mudah dimengerti. Kisah setiap tokoh dinarasikan dalam 3 wall text singkat yang bilingual dan diilustrasikan dengan benda-benda koleksi yang disertai object label singkat. Teks nya juga dibuat seakan-akan tokoh tersebut menceritakan dirinya sendiri. Untuk mengakomodir pengunjung yang belajar dengan cara visual/auditory, penjelasan dalam bentuk film dokumenter juga ada.

Setiap tokoh juga dibuatkan aktivitas khusus anak. Aktivitasnya beragam dari mencocokan peta dan gambar sampai memasukkan tangan ke boks misterius berisi spesimen hewan. Aktivitas ini juga disertai dengan label yang child-friendly.

Selain itu, untuk membuat konten pameran lebih relevan dengan masa kini, diceritakan pula mengenai seorang astronot Belanda bernama Andre Kuipers yang sedang melakukan penelitian untuk perjalanan ke luar angkasa. Walaupun demikian, menurut pendapat saya, kemunculan Andre Kuipers sebagai narator di setiap tokoh yang dipamerkan malah jadi agak out of context.

Di awal pameran, ditampilkan digital printing peta dunia masa itu yang dibuat oleh Joan Blaeu tahun 1619. Sedikit menyimpang dari pameran yang dibahas, di peta itu tertera Bantam (Banten) dan Gamalama (Ternate) sebagai pelabuhan internasional yang bersanding dengan kota-kota besar dunia lainnya lho!

Jurnal Perjalanan Itinerario

Kembali ke pameran “Bright Minds Expedition”, tokoh pertama yang dibahas adalah Jan Huygen van Linschoten (1563-1611). Ia adalah seorang seniman sekaligus kartografer, penulis, penerjemah, antropolog, pedagang dan pengusaha.

Saat ia berusia 16 tahun Jan pergi ke Portugal dan kemudian berlayar ke India. Ia kemudian menuliskan dan menggambarkan apa yang ia lihat di India, terutama orang-orang yang ditemuinya. Jan juga menggambarkan peta kota-kota yang ia datangi. Kemudian, karya tersebut ia terbitkan dalam buku berjudul Itinerario. Itinerario kemudian menjadi “buku petunjuk perjalanan” yang sangat penting pada masa itu. Buku itu bahkan dipakai oleh VOC sebagai petunjuk jalan menuju Asia.

Menariknya, informasi pameran berusaha dibuat sangat relevan dengan masa kini. Pada teks dinding disebutkan bahwa: oleh karena pada masa itu belum ada telepon, Whatsapp dan Skype maka berita mengenai ayah Jan yang meninggal dunia diterimanya melalui surat. Surat pun diterima saat kejadiannya sudah berlalu cukup lama. Melengkapi pembahasan mengenai Jan sang kartografer, anak-anak juga dapat mencari dan mencocokan peta Goa (daerah di India) yang dibuatnya.

Rumphius sang Naturalis di Ambon

Tokoh ke-2 yang dibahas adalah Georg Everhard Rumphius (1627-1702) yang merupakan seorang pedagang, seniman, penulis, marine biologist dan naturalis yang bekerja untuk VOC di Ambon.

Di Ambon, Georg mengumpulkan dan mempelajari berbagai spesimen hewan dan tumbuhan, terutama kerang. Terkadang ia juga mengumpulkan spesimen atas dasar permintaan kolektor lain, misalnya atas permintaan Duke of Tuscany.

Pekerjaan Georg tidak mudah! Ia harus membuat ulang bukunya berkali2 karena adanya beragam bencana seperti gempa bumi (yang menewaskan istri dan anaknya), kebakaran, serta kapal karam. Belakangan Georg pun buta sehingga VOC kemudian mempekerjakan seniman yang bertugas untuk membantu pekerjaannya. Selain karya-karya Georg, lukisan Ambon zaman dahulu juga turut dipajang untuk mengilustrasikan pameran.

Agar dapat menghayati pekerjaan Georg Rumphius yang tidak dapat melihat, sudut permainan anaknya didesain dalam bentuk boks misterius! Anak-anak harus memasukkan tangannya kedam boks untuk menebak spesimen apa yang ada di dalam boks, serta menyesuaikannya dengan potongan-potongan balok bergambar yang dapat diputar-putar.

Entomologis Perempuan

Satu hal lagi yang menarik dari pameran ini adalah: ditampilkannya tokoh wanita! Maria Sibylla Merian (1647-1717) adalah seniman, entomologis dan guru. Sejak kecil Maria mengkoleksi dan mempelajari kupu-kupu. Ia juga mempelajari daur hidup dan habitat kupu-kupu, lalu melukiskannya.

Di awal tahun 1700-an ia dan anak perempuannya berlayar dengan kapal WIC ke Suriname untuk melakukan ekspedisi di Amerika Selatan. Maria dan anaknya tinggal di Suriname selama 2 tahun dan mengumpulkan spesimen laba-laba, ulat dan kadal. Sebagai seniman Maria juga cukup sukses. Tsar Peter the Great bahkan membeli karyanya!

Hampir sama seperti Georg Rumphius, sudut khusus anak yang membahas mengenai Maria juga berupa boks misterius. Bedanya anak-anak akan meraba laba-laba di dalam boks dan bukannya kerang.

Ekspedisi ke Afrika Selatan

Tokoh terakhir yang dibahas di pameran “Bright Minds Expedition” adalah Peter Kolbe (1675-1726). Ia adalah seorang antropolog, penulis, dosen, ahli matematika, dan ahli astronomi.

Pada masa itu, orang Khoikhoi, penduduk Afrika Selatan, disebut dengan Hottentots oleh orang Eropa dan dipercaya bahwa mereka seperti hewan dan tidak sepenuhnya manusia. Peter tidak percaya akan rumor negatif tersebut! Menurutnya penelitian harus dilakukan dengan tepat, seperti pekerjaannya untuk VOC. Maka ia melakukan ekspedisi ke Afrika Selatan.

Peter bahkan menolak tawaran untuk menjadi Profesor di Moscow karena ia lebih memilih untuk melakukan ekspedisi ke Afrika. Di Afrika Selatan Peter bertemu sendiri dengan Hottentots dan membuktikan bahwa pemberitaan negatif mengenai mereka tidak benar!

Peter kemudian membuktikan bahwa pandangan negatif tersebut salah dan menerbitkan buku mengenai orang Khoikhoi (Hottentots) berdasarkan apa yang dilihatnya, serta apa yang dikatakan secara langsung oleh mereka. Walaupun demikian, banyak yang tidak menyukai publikasinya yang positif! Peter dikabarkan sebagai orang yang pemalas, terlalu banyak minum, dan tidak bertemu sendiri dengan penduduk asli Afrika Selatan tersebut.

Aktivitas untuk anak yang dapat dilakukan dalam rangka membahas mengenai Peter Kolbe adalah memilih mana yang merupakan penggambaran orang Afrika dari beberapa gambar berbeda. Gambar lainnya mengilustrasikan orang Jepang, Indian Amerika, orang Belanda dan Eskimo.

Dutch Golden Age dari Sudut Pandang yang Berbeda

Meskipun saya kagum dengan konten pameran dan pendekatan labelling-nya, namun saya bertanya-tanya apakah pameran ini dapat dikatakan sebagai bentuk “dekolonisasi” mengenai era Golden Age Belanda?

Walaupun tidak membahas mengenai perdagangan VOC/WIC dan “kehebatan” Belanda dalam perdagangan internasional pada masa itu seperti pameran lainnya, pameran ini tetap membahas mengenai tokoh-tokoh peneliti hebat yang berhubungan dengan VOC/WIC. Baik itu sebagai pegawai, atau berhubungan dengan pelayaran mereka baik di Asia, Amerika Selatan ataupun Afrika. Intinya sih, tetap membahas Dutch Golden Age walaupun dari sudut pandang yang lain.

Komentar


© 2023 by NOMAD ON THE ROAD. Proudly created with Wix.com

bottom of page