Exhibition Review “Afterlives of Slavery” Tropenmuseum, Amsterdam
- Ajeng Arainikasih

- 15 Apr 2019
- 4 menit membaca
Diperbarui: 30 Mar 2020

Dalam rangka mendekolonisasi koleksi dan narasi museum, Tropenmuseum Amsterdam mencoba membuat pameran (yang juga berperan sebagai dialog) mengenai shared heritage dan juga legacy dari perbudakan.
Pameran yang bertajuk “Afterlives of Slavery” ini terutama membahas mengenai perbudakan di Suriname dan Antilles dan legacy nya di Belanda masa kini. Kebetulan Desember 2018 lalu saya 2x berkesempatan mengunjungi pameran ini.
Pameran ini dibagi kedalam 5 tema besar. Tema-tema ini dapat “dinikmati” tanpa berurutan. Namun, tema pertama yang ingin saya bahas adalah mengenai Creation of Race.

Museum menyatakan bahwa diskriminasi ras adalah hasil konstruksi di masa lalu dan oleh sebab itu dapat dihilangkan. Perbudakan “disetujui” oleh gereja dan diskriminasi ras (superioritas kulit putih) didukung oleh penelitian-penelitian ilmiah dalam kajian Racial Anthropology.
Poster-poster dibuat untuk mengajarkan perbedaan ras. Orang-orang non kulit putih dibawa dari daerah-daerah koloni untuk “dipertunjukkan” dalam pameran-pameran kolonial di Eropa.
Tema berikutnya membahas mengenai Kreativitas dan Resistensi, terutama di daerah perkebunan di Amerika Selatan. Para budak perkebunan di Amerika Selatan dibawa dari berbagai daerah di Afrika. Mereka biasanya diisolasi di perkebunan. Oleh sebab itu, mereka “bertahan” dari kejamnya perbudakan dengan menciptakan tari-tarian dan nyanyian baru, serta berbagai kepercayaan dan mitologi.

Tentu saja beberapa praktek “resistensi” ini (terutama yang berhubungan dengan spiritual) dilarang dan ditekan oleh pemilik perkebunan, ataupun para misionaris Eropa pada masa itu. Namun, bentuk resistensi tidak bisa diberhentikan.
Tutup kepala para wanita di perkebunan misalnya, dapat dibentuk dalam berbagai gaya yang menyimbolkan pesan berbeda. Tentu saja “pesan rahasia” ini tidak dimengerti oleh pemilik perkebunan!

Tema ketiga membahas mengenai Freedom atau kebebasan. Walaupun tidak lazim, budak dapat membeli bebas dirinya sendiri. Pemilik budak juga dapat membebaskan budak-budaknya. Di pameran ini, ditampilkan dokumen surat wasiat seorang pemilik budak di Amsterdam yang membebaskan 2 budaknya.

Ada pula budak-budak yang melarikan diri dari perkebunan. Komunitas mereka disebut maroons. Tentu saja pada masa kolonial pelarian budak-budak perkebunan menjadi isyu dan masalah tersendiri.
Berhubung museum berusaha melakukan dekolonisasi terhadap narasi mereka, maka kisah masa kini komunitas maroons di Suriname juga ditampilkan di pameran.

Walaupun perbudakan telah dilarang sejak tahun 1863, pada prakteknya perbudakan tidak langsung berhenti dan efek diskriminasi rasialnya masih dapat dirasakan sampai saat ini.
Oleh sebab itu, tema ke-4 dan ke-5 pameran berkaitan dengan legacy perbudakan dan rasisme di Belanda masa kini. Tema ke-4 terutama membahas mengenai protes-protes anti rasisme dan stereotyping masyarakat kulit hitam di Belanda dari masa ke masa.

Contohnya, setiap tanggal 5 Desember, masyarakat Belanda merayakan Sinterklaas. Nah Sinterklaas ini biasanya didampingi oleh zwarte Piet (Pit Hitam) yang merupakan “asistennya” (baca: budak). Anak-anak dan orang dewasa yang memakai kostum zwarte Piet biasanya berdandan dengan menghitamkan pipi mereka. Keberadaan zwarte Piet inilah yang belakangan ditentang oleh sebagian masyarakat Belanda karena dianggap sebagai rasisme.

Tema ke-5 membahas bagaimana masa depan sejarah perbudakan dapat dianggap sebagai shared history di Belanda. Masyarakat keturunan Suriname di Belanda mengenal perayaan Keti Koti, yakni perayaan terkait dilarangnya perbudakan tahun 1863. Nah, fokus bahasan di pameran ini adalah, bagaimana masyarakat Belanda di masa depan dapat menerima bahwa sejarah perbudakan adalah sejarah mereka bersama, bukan hanya sejarah sebagian penduduk yang nenek moyangnya berasal dari daerah koloni seperti Suriname.

Selain itu, pameran juga menampilkan touch screen berisi peta kota-kota di Belanda berikut beberapa rumah dan bangunan yang berkaitan dengan aktivitas perbudakan di masa lalu. Misalnya pemilik rumah tersebut memiliki budak di Belanda, atau merupakan pemilik perkebunan dengan banyak budak di Suriname. Ataupun rumah tokoh-tokoh yang menentang perbudakan dan bangunan pemerintah tempat aturan mengenai perbudakan dibuat/disahkan.

Yang paling menarik bagi saya di touch screen ini adalah cerita mengenai Wange van Bali. Wange van Bali adalah seorang budak di kota Delft yang lahir di Flores. Berhubung lahir dari seorang ibu yang diperbudak, maka status Wange sejak lahir juga budak. Ia kemudian dibawa oleh pemiliknya ke Belanda, dibaptis dan menikah di Belanda. Uniknya, tidak seperti budak lainnya, Wange menuliskan memoir! Jadi kisah hidupnya dapat diketahui.

Selain di touch screen, cerita personal tokoh-tokoh yang hidup di masa lalu juga diceritakan dalam panil-panil kecil. Ada tokoh yang berupa budak yang melakukan resistensi atau perlawanan, ada pula orang-orang Eropa atau orang lokal yang berurusan dengan perbudakan atau perdagangan budak. Berhubung wajah mereka tidak diketahui, maka ilustrasinya ditampilkan dalam bentuk siluet figur tanpa wajah.

Oya, selain 5 tema besar yang dibahas, hal terpenting dalam pameran ini adalah: keinginan museum untuk berdialog dengan pengunjung!

Pengunjung dapat berbagi cerita ataupun objek (apabila ada) mengenai kisah perbudakan di keluarga mereka. Adapula pertanyaan-pertanyaan terkait perbudakan, warisan perbudakan, dan diskriminasi rasial yang dapat dijawab oleh pengunjung. Kemudian jawaban-jawabannya dipajang di pameran (partisipatori) sehingga dapat dibaca oleh pengunjung lain.

Bagi saya yang tidak memiliki hubungan langsung dengan perbudakan, menurut saya pameran ini “berbeda”. Walaupun menampilkan koleksi museum yang berkaitan dengan perbudakan dan narasi mengenai sejarah perbudakan, tapi pameran dipenuhi dengan diskusi terkait isyu-isyu diskriminasi rasial, shared heritage, dan isyu-isyu sensitif yang dikonstruksi sejak masa kolonial yang dapat di dekolonisasi.
Tetapi, bagi teman saya orang Suriname, dia dengan santai berkata “I don’t like the exhibition” setelah kami keluar dari area pameran tanpa menjelaskan apa alasannya.
Bagi saya pribadi, pameran ini akan sangat menarik lagi apabila tidak hanya membahas perbudakan di Suriname dan Antilles, tetapi juga membahas perbudakan di Asia terutama di Hindia Belanda. Pameran ini membuat saya sadar bahwa di Indonesia kita jarang sekali membahas isyu perbudakan, padahal sejarah kita tidak luput dari sejarah perbudakan.




Komentar