Exhibition Review “Dunia Dalam Berita”
- Ajeng Arainikasih

- 2 Okt 2021
- 7 menit membaca

Sebetulnya tulisan ini sudah dibuat lebih dari 2 tahun lalu ketika anak saya yang paling kecil baru berusia 2 bulan (kini anaknya hampir 2.5 tahun). Namun, karena satu dan lain hal, tulisannya tidak sempat terselesaikan dan selama ini teronggok sebagai draft di blog. Mumpung bulan ini saya akan membahas tentang pameran dan museum-museum seni, jadi boleh ya tulisannya saya selesaikan dan publish sekarang sebagai tulisan pembuka untuk #blogtober21. Walaupun pamerannya sudah jauh berlalu sih, hehe...
Bawa anak-anak ke pameran seni rupa kontemporer? Memangnya bisa? Mama papanya aja gak ngerti maksud instalasi seni nya apa, apalagi kalau harus menjelaskannya ke anak-anak?
Biasanya itulah pandangan orang tua biasa (baca: bukan seniman) terhadap pameran seni rupa kontemporer. Namun, dua tahun lalu saya dan suami “nekat” bawa anak-anak kami ke pameran “Dunia Dalam Berita” di Museum MACAN Jakarta. Museum MACAN adalah kependekan dari Museum of Modern and Contemporart Art Nusantara.
Pameran "Dunia Dalam Berita" sendiri berlangsung di bulan Mei-Juli 2019. Pameran ini menampilkan karya 10 seniman kontemporer Indonesia, dan membahas hubungan antara proses berkesenian dengan pergolakan politik Orde Baru dan era reformasi. Tentunya, judulnya terinspirasi dari judul acara berita TVRI di zaman saya kecil dahulu.
Kebetulan anak-anak saya memang biasa dan senang dibawa ke museum. Mereka juga sudah sering lihat pameran lukisan. Tetapi mereka belum pernah lihat pameran instalasi seni kontemporer. Jadi, dengan tujuan ingin memperlihatkan sesuatu yang berbeda, kami pun berangkaat!

Kids Tour Every Sunday
Anak-anak saya kebetulan sudah pernah ke Museum MACAN sebelumnya ketika mereka datang ke pameran Yayoi Kusama tahun 2018 lalu. Jadi mereka sudah familiar dengan tempatnya. Jadi, begitu mereka memasuki area pameran “Dunia Dalam Berita”, anak-anak saya langsung tertarik dengan aktivitas di education station. Terinspirasi dari karya FX Harsono, Blank Spot in My TV (2003), di sudut edukasi ini pengunjung diperbolehkan melengkapi gambar di “blank spot” pada ilustrasi yang tersedia. Ilustrasinya dipancarkan ke dinding menggunakan infocus, juga ada di tab yang khusus disediakan di museum.
Ketika anak-anak sedang asik menggambar, kami kemudian didatangi oleh edukator Museum MACAN yang menawarkan kami untuk ikut kids tour. Ternyata, setiap hari minggu (tentunya sebelum pandemi berkecamuk) memang ada program kids tour gratis. Mana bisa ditolak dong? Hehe...


Mella Jaarsma
Berhubung dipandu oleh edukator, anak-anak langsung dibawa ke area tempat karya-karya Mella Jaarsma dipajang. Mella Jaarsma biasanya mengekspresikan pendapatnya mengenai kesenjangan sosial, politik, dan gender, melalui instalasi seni yang berhubungan dengan tubuh manusia, kostum, tekstil, dan material lain yang berkaitan dengan pakaian. Filosofinya: cara berpakaian seringnya melambangkan kelas sosial. Karya-karya Mella Jaarsma juga biasanya berupa performance art. Namun sayangnya saat kami datang kebetulan sedang bukan jadwal performance.
Tiga karya Mella Jaarsma yang paling eye catching menurut saya adalah Shameless Gold IV (2002), (Wo)man of Quality (2007), dan Zipper Zone (2009). Shameless Gold IV adalah instalasi semacam kostum yang terbuat dari kepompong ulat sutra yang menghasilkan benang emas.

(Wo)man of Quality adalah 5 instalasi yang melambangkan kekuasaan di Indonesia: militer, agama, etnis, ideologi, dan kekuasaan fisik. Instalasi inilah yang merupakan salah satu instalasi performance. Maksudnya, seharusnya ada orang-orang yang berjalan sambil memakai instalasinya, dan ada pula orang-orang yang mengusung instalasi tersebut. Berhubung sedang tidak dipakai untuk performance, maka instalasinya cukup dipajang saja.

Sedangkan Zipper Zone adalah 2 instalasi yang dibuat dari ritsleting yang diletakkan di tembok yang bersebrangan. Instalasi di tembok sisi kanan melambangkan laki-laki, sedangkan yang di sisi kiri melambangkan perempuan. Ritsleting-ritsleting ini dapat dibuka (dan harus ditutup kembali) untuk mencari gambar-gambar yang ada di dalamnya. Tentunya anak-anak saya kesenengan buka-tutup ritsleting!


I GAK Murniasih
Area berikutnya adalah area untuk karya-karya dari I GAK Murniasih, berupa lukisan maupun instalasi. Mungkin karya-karya ini adalah yang paling “dalam” makna personalnya bagi sang perupa. Sewaktu kecil I GAK Murniasih (maaf!) diperkosa oleh ayahnya sendiri. Karya-karyanya lantas secara gamblang banyak melukiskan potongan-potongan bagian tubuh manusia, termasuk alat kelamin laki-laki dan perempuan. Instalasinya, yang berupa 4 kerangka torso, Tanpa Judul (2005-2006) bahkan dibuat tepat sebelum I GAK Murniasih meninggal karena kanker serviks.


Anak saya yang paling besar (8 tahun) tentu saja tidak dijelaskan mengenai cerita pemerkosaan yang dialami sang perupa, tetapi dia dijelaskan mengenai I GAK Murniasih yang meninggal karena sakit kanker. Namun, ia berkomentar “Mom, this artworks are inappropriate. Genitals and part of bodies are NOT art!”. Ia tampak cukup terganggu dengan karya-karya tersebut. Tapi saya senang, dia punya pendapatnya sendiri. Adiknya (3 tahun 10 bulan) yang belum mengerti bentuk tubuh, sibuk sendiri dengan kids trail nya. Walaupun tentunya ia tidak sepenuhnya mengerti isi trail nya.

Toilet Karya Krisna Murti
Saat berada di area I GAK Murniasih, peserta tur bertambah 2 anak, yakni kakak beradik yang rupanya WNA. Tur pun berganti menjadi Bahasa Inggris. Kebetulan kami pernah tinggal di Belanda, jadi anak-anak saya fasih berbahasa Inggris. Perubahan bahasa pun tidak menjadi masalah bagi mereka. Mereka berempat kemudian dipandu ke instalasi karya Krisna Murti, Makanan Tidak Mengenal Ras (1999).

Instalasinya berbentuk toilet-toilet berwarna merah jambu, dengan lighting merah jambu pula. Di dalam lubang setiap toilet yang dipajang ada foto makanan! Filosofinya sih melihat politik identitas Indonesia sebagai implikasi dari keragaman budaya. Jadi, makanan yang ditampilkan variatif, melambangkan perpaduan kuliner Indonesia dengan wilayah lain seperti Cina, India, Timur Tengah dan Belanda. Begitu melihat foto salah satu makanan Belanda favorit mereka, bitter ballen, di dalam toilet, anak-anak saya pun tertawa cekikikan.

Kids Label
Di instalasi toilet karya Krisna Murti inilah saya melihat adanya kids label, atau yang ditulis dengan nama Panduan Museum untuk Anak (Museum Guide for Children). Labelnya (dalam bahasa Indonesia dan Inggris) berisi penjelasan mengenai karya seni secara lebih singkat dan dituliskan dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti. Ada pula pertanyaan-pertanyaan yang menyertai label agar anak dapat lebih engage dengan karya seni yang dipamerkan.
Pertanyaannya juga bervariasi, dari pertanyaan personal hingga pertanyaan spekulatif. Pertanyaan personal misalnya menanyakan pengalaman anak melihat atau melakukan hal tertentu. Atau menanyakan makanan dan tempat makan favorit anak. Sedangkan pertanyaan spekulatif adalah pertanyaan yang jawabannya harus mengandai-andai. Misalnya menanyakan “jika kamu pergi piknik, makanan apa yang akan kamu bawa untuk dimakan?”. Selain itu, ada pula pertanyaan yang menanyakan opini anak dan perasaan anak terhadap karya tertentu. Bahkan ada pertanyaan yang membuat anak harus berfikir. Misalnya, pertanyaan mengenai bagaimana kira-kira efek turisme bagi wisatawan dan warga lokal. Agak susah sih jawabnya.
Sampai dengan akhir pameran, saya menemukan sekitar 6 label anak. Setelah saya baca semua labelnya, menurut saya label ini juga cocok sebagai panduan bagi orang tua yang membawa anak. Label yang ada akan memudahkan orang tua dalam menjelaskan kepada anak-anak mengenai karya yang dipajang. Pertanyaan-pertanyaannya juga dapat berfungsi sebagai “panduan” untuk diskusi dengan anak. Keberadaan label ini membuat pameran seni kontemporer yang biasanya eksklusif untuk kalangan “yang mengerti seni saja” jadi lebih “inklusif” untuk semua orang, termasuk anak-anak. Two thumbs up untuk Museum MACAN!

Membuat Zine
Kembali ke pameran, setelah selesai melihat instalasi toilet, anak-anak kemudian diajak ke education station ke-2 untuk membuat zine mereka sendiri. Yakni semacam majalah kecil yang dapat dibawa pulang. Education station ke-2 di pameran “Dunia Dalam Berita” ini terinspirasi dari karya Taring Padi, Tanah dan Petani Merdeka Menghidupi Semua (2003), dan Buruh Bersatu (2003). Taring Padi adalah semacam kolaborasi seniman yang didirikan tahun 1998. Karya-karya Taring Padi biasanya berupa kritik sosial berbentuk poster dan spanduk.

Di education station ini disediakan kertas buram, potongan-potongan gambar, lem, dan pinsil untuk membuat kreasi Zine. Anak-anak saya jangan ditanya. Mereka pasti senang dan butuh waktu lama kalau diminta berkreasi. Untung peserta tur anak hanya berempat, jadi “semangat berkreasi” mereka tidak terlalu mengganggu ritme kelompok, hehe...

Saya sendiri cukup terpesona dengan instalasi berukuran besar karya Tisna Sanjaya Visit Indonesian Years (1999/2019) yang diletakkan secara sentral di ujung ruangan, dekat dengan karya-karya Taring Padi. Instalasinya mengingatkan saya pada masa kecil saya di era 1990-an yang notabene era Orde Baru. Namun, saya harus cukup lama berfikir untuk dapat mencerna apa maksud pesan yang ingin disampaikan dari karya ini. Disitulah seninya dan serunya melihat pameran seni kontemporer, hehe... Untungnya Museum MACAN punya Panduan Museum untuk Anak, jadi saya bisa sedikit "nyontek" sebelum menjelaskan ke anak-anak.

“Area Terlarang”
Salah satu keuntungan anak-anak ikut kids tour adalah saya jadi bisa masuk ke “area terlarang” alias area yang diperuntukkan bagi pengunjung berumur 18 tahun keatas. Wow! Memang isinya apa? Kok sampai ada batas umur?
“Area terlarang” di pameran ini berupa tenda militer yang bagian dalamnya dimodifikasi dan berisi spanduk-spanduk film “dewasa”. Karya ini berjudul Pressure and Pleasure (1999) dan dibuat oleh Agus Suwage. Filosofinya adalah, pada era Reformasi yang bergejolak, budaya pop tetap berkembang di Indonesia (walaupun negara sedang dipenuhi konflik di berbagai daerah).

Heri Dono
Tepat ketika saya keluar dari tenda karya Agus Suwage, anak-anak saya berlarian kearah saya sambil bilang “Mama ada kepala tanpa badan! Aku takut, ngeri!” Ternyata, yang dimaksud adalah karya Heri Dono berjudul Operasi Pengendalian Pikiran (1999). Memang sih karya tersebut agak mengerikan untuk ukuran anak-anak. Heri Dono sendiri merupakan salah satu perupa kontemporer Indonesia favorit saya. Di pameran ini karya-karyanya membahas isu sosial dalam kaitannya dengan relasi kekuasaan politik. Seru ya!

Karya Heri Dono favorit saya di pameran "Dunia Dalam Berita" ini adalah yang berjudul Hoping to Hear from You Soon (1992). Karya instalasi ini menampilkan semacam warung tenda yang biasanya eksis di pinggir jalan kalau malam hari. Berisi gantungan ayam terbalik dalam bentuk semacam wayang kulit. Namun, uniknya, di satu sisi bagian sampingnya dipadukan dengan instalasi video. Konon katanya, Heri Dono merupakan salah seorang perupa pertama yang memasukan instalasi video dalam karya-karyanya.


S. Teddy D.
Karya "serupa" yang masih mengangkat tema relasi kuasa yang berhubungan dengan Orde Baru, kontrol terhadap media dan kuasa militer adalah karya S. Teddy D., Viva La Muerte (2000-2002). Sayangnya saya tidak bisa berlama-lama mengagumi karya ini karena anak-anak saya ketakutan dan berkata "Monsternya seram, ma!". Memang sih instalasi ini agak mirip monster, hehe... Tong-tong hijau dan sepatu boot nya militer banget. Namun matanya yang merah menyalalah yang membuat anak-anak saya tidak nyaman melihat instalasi ini.

I Nyoman Masriadi
Terakhir, pameran "Dunia Dalam Berita" ini ditutup dengan deretan lukisan canvas karya I Nyoman Masriadi, seniman asal Bali yang - kalau tidak salah - kini berdomisili di Yogyakarta. Lukisan-lukisan I Nyoman Masriadi "setipe", biasanya menampilkan sosok-sosok besar yang tentunya punya pesan tersendiri di baliknya.

Lukisan karya I Nyoman Masriadi favorit saya di pameran "Dunia Dalam Berita" adalah yang berjudul Membangunkan Kumbakarna (1999). Kumbakarna adalah tokoh raksasa baik di cerita Ramayana. Sedangkan di lukisan ini Kumbakarna yang tidur di ayunan sedang dicoba dibangunkan oleh orang-orang. Saya jadi penasaran, ada peristiwa apa ya sampai orang-orang tersebut "butuh bantuan" alias backup dari Kumbakarna?

Namun, Museum MACAN lebih memilih lukisan bertajuk Masriadi Sang Pemenang (1999) untuk dijadikan gantungan kunci merchandise pameran. Gantungan kuncinya dijual di toko suvenir museum. Lukisannya menggambarkan dua pria besar berwarna hitam yang sedang saling bertinju. Pria bermata merah adalah Masriadi, sedangkan lawannya yang dikalahkannya adalah petinju kawakan, Mike Tyson. Can you guess the meaning behind this painting?

Pada intinya, kunjungan kami sekeluarga ke pameran "Dunia Dalam Berita" ini bisa dibilang sukses. Anak-anak senang, mama senang. Ini pengalaman pertama mereka mengeksplorasi pameran seni kontemporer. Dengan adanya education station di museum, kids trail, kids tour, dan kids label, anak-anak jadi tidak bosan dan lebih menikmati pameran. Terima kasih Museum MACAN! Tidak sabar rasanya menunggu pandemi selesai agar bisa jalan-jalan seru lagi ke museum bersama anak-anak tanpa rasa kawatir.





Komentar