Unley Museum, Adelaide [2]: Tata pamer partisipatori
- Ajeng Arainikasih

- 26 Sep 2016
- 3 menit membaca
Diperbarui: 30 Mar 2020

Di era museum tradisional, pameran biasanya di desain secara pasif. Pengunjung hanya dapat melihat display dan membaca label yang telah disajikan oleh museum. Tapi, kini manusia tidak lagi terbiasa menerima informasi secara pasif.
Disadari atau tidak kita sekarang sedang berada di tengah-tengah revolusi telekomunikasi. Berkembangnya teknologi web 2.0 telah memungkinkan kita untuk bisa create content, nge-like, nge-share, re-share atau memberikan komen di situs-situs dunia maya, akun sosial media dan messenger. Hal ini telah mengubah cara kita berinteraksi. Kalau mau, kini semua orang bisa jadi creator atau actor, bukan lagi hanya sekadar jadi spectator atau penonton.
Nah, museum yang display nya masih pasif jadi tidak relevan lagi dengan karakter manusia abad 21 ini. Mau tidak mau museum juga harus berubah. Maka dari itu kemudian berkembanglah museum postmodern yang menggunakan pendekatan 'partisipatori'. Di museum partisipatori pengunjung bisa jadi actor, creator dan juga spectator. Sama seperti di Facebook, Youtube, Pinterest, Instagram, Twitter, Path, dkk.
Menurut Nina Simon dalam bukunya yang berjudul 'The Participatory Museum' [2010] kata kunci bagi instansi (atau tata pamer) yang partisipatori adalah create, connect and share around content. Maksudnya gimana?
Contoh konkret yang mau saya bahas disini adalah pameran di Unley Museum di tahun 2008. Unley Museum adalah museum sejarah lokal di suburb South Australia [baca "Unley Museum: Jadi volunteer sebagai asisten kurator"]
Unley Museum mempunyai 3 ruang pamer: 2 permanen dan 1 temporer. Satu ruang permanen menceritakan mengenai sejarah daerah Unley dan tidak akan diganti-ganti kontennya. Sedangkan ruang pamer permanen yang utama displaynya diganti setiap 2 tahun. Selain itu, ruang pameran temporer diperuntukkan bagi masyarakat yang ingin memamerkan koleksinya.

Pertengahan tahun 2008 (saat saya bekerja di Unley Museum) tata pamer permanen museum diganti. Pameran yang baru berjudul 'Dig In Don't Wait', mengambil tema mengenai sejarah kebiasaan makan masyarakat South Australia.
Pamerannya menerapkan konsep interaktif dan partisipatori. Interaktif tidak harus melulu pakai new media technology (digital) ya. Yang penting bisa memaksimalkan 5 panca indera. Misalnya dengan memegang koleksi, mendengar suara, mencium bau dan mengecap rasa. Sedangkan konsep partisipatori memungkinkan pengunjung dapat berkreasi, terkoneksi satu sama lain dan berbagi cerita/opini terkait konten pameran.


Di pameran 'Dig In Don't Wait' nya Unley Museum konsep interaktifnya antara lain berupa panil-panil yang berisi wall text dapat di buka dan di tutup (flip). Keterangan-keterangan juga disampaikan melalui permainan puzzle (mengenai bagian tubuh sapi) ataupun dengan bermain ular tangga (mengenai tata krama saat makan).
Sedangkan partisipatorinya antara lain pengunjung dapat menceritakan menu makan siang yang paling mereka sukai atau yang paling mereka benci di papan tulis yang tersedia (share), di dekat display berbagai kotak makan dari masa ke masa.
Pengunjung juga dapat bercerita mengenai tradisi makan malam keluarga masing-masing di kertas dolly (kertas alas toples) yang disediakan (share). Saat sedang membicarakan mengenai makan malam, pengunjung juga dapat membuat makan malam favorit mereka menggunakan play doh. Lalu makanan kreasi pengunjung dipajang di tempat yang disediakan (create).
Semua kegiatan diatas sesuai dengan tema besar pameran, yakni sejarah kebiasaan makan (around content). Di pameran ini pengunjung jadi creator, actor dan spectator sekaligus.


Selain itu, ruang pameran temporer Unley Museum juga dipinjamkan secara gratis kepada perorangan yang ingin memamerkan benda koleksinya di museum selama 1 bulan. Museum tidak mengeluarkan biaya apapun untuk pameran itu, semua biaya ditanggung pihak yang mau bikin pameran, tapi museum membantu dan assisting mereka dalam melakukan penataan.
Dengan adanya community gallery ini, selain membuat Unley Museum jadi museum yang postmodern, juga jadi ajang promosi museum. Teman, saudara, dan kerabat yang punya pameran jadi datang ke museum! Ada-ada saja lho yang dipamerkan. Dari koleksi baju pengantin, koleksi baju tidur (Pameran Off to Bed), fashion item tahun 1960-an (Pameran Psychedelic Sixties) sampai koleksi mixer alat pembuat kue juga pernah dipamerkan!


Bekerja di Unley Museum membuat saya belajar banyak mengenai tata pamer partisipatori. Bahkan kalau mengintip di websitenya, pameran permanen yang sedang dilangsungkan sekarang [Unley: 200 Years of Change] memenangkan MAGNA Award untuk kategori Best Permanent Exhibition. MAGNA Awards adalah Museum And Gallery National Awards yang dikeluarkan oleh Asosiasi Museum Australia. Keren kan!
Nah kenapa sih tata pamer museum sekarang harus interaktif dan partisipatori? Ya gak harus sih. Tapi kan kalau kata Charles Darwin "It is not the strongest species that survive, nor the most intelligent, but the ones most responsive to change".
Mau dong punya museum yang relevan sama perkembangan zaman dan sesuai dengan karakter dan kebutuhan masyarakat abad 21? Makanya, yuk, bikin (pameran) museum jadi partisipatori! Seru lho! Banyak juga kok museum-museum di Indonesia yang sudah mulai menerapkan konsep partisipatori di pameran permanen/temporernya.




Komentar