top of page

Unley Museum, Adelaide: Jadi volunteer sebagai asisten kurator

  • Gambar penulis: Ajeng Arainikasih
    Ajeng Arainikasih
  • 19 Sep 2016
  • 3 menit membaca

Diperbarui: 30 Mar 2020


Pintu belakang Unley Museum

It was summer 2008 when I accidentally read the advertising. Saat itu bulan Februari dan musim panas tahun itu suhu Adelaide mencapai 43 derajat Celsius! Saya sendiri baru dua hari kembali ke Adelaide setelah menghabiskan waktu 2 bulan liburan kuliah di Jakarta. Setelah selesai unpack dan beberes kamar yang cukup kotor karena ditinggal pergi 2 bulan, saya yang kepanasan kipas-kipas menggunakan koran mingguan gratis yang didistribusikan ke rumah. Saat itulah saya melihat iklan lowongan pekerjaan sebagai volunteer di Unley Museum!

Singkat cerita, saya diterima bekerja sebagai volunteer di Unley Museum dan tugas saya adalah jadi asisten kurator. Saya bekerja setiap hari rabu, boleh full day (jam 10 pagi sampai jam 4 sore) atau half day. Di Australia jadi pekerja volunteer itu benar-benar unpaid job ya. Tidak digaji dan tidak diberi uang makan ataupun uang transport. Tetapi kita tetap harus komitmen dengan waktu kerja kita yang sudah kita diskusikan di awal. Tahun 2008 sewaktu saya bekerja disana paid worker nya hanya bos saya, Kate Walker, yang notabene adalah kepala museum merangkap kurator. Pegawai lainnya adalah volunteer dan rata-rata semuanya nenek-nenek. Hanya saya yang muda sendiri hehe.

Unley Museum sendiri adalah museum sejarah lokal mengenai the City of Unley, daerah suburb di South Australia. Kalau di Indonesia kira-kira setingkat kelurahan atau kecamatan kali ya. Pokoknya luas wilayahnya tidak terlalu besar. Bangunan museumnya hanya sebesar rumah biasa (dulunya markas pemadam kebakaran Unley tahun 1898-1968). Di dalamnya ada 3 ruang pamer: 2 permanen dan 1 temporer. Ada pula kantor kepala museum, perpustakaan yang juga merangkap tempat kerja pegawai volunteer, dapur, toilet dan storage.

Selama 1 tahun saya bekerja di Unley Museum (Februari 2008 - Desember 2008) pekerjaan saya bervariasi sekali! Pekerjaan pertama saya adalah bersih-bersih display pameran permanen. Waktu itu temanya tentang sejarah shopping, jadilah saya bertugas menyedot debu-debu di sosis yang diawetkan pakai micro vacuum cleaner, hehe. Tugas saya juga berkembang, dari hanya bertugas gunting-gunting hiasan untuk display pameran temporer, sampai akhirnya ikutan membantu meriset dan menata pameran, baik temporer maupun permanen. Bahkan belakangan saya bertugas membuat press release pameran juga.

Dengan bekerja di Unley Museum ini saya sadar betapa mudah dan enaknya hidup di Indonesia. Butuh apa-apa tinggal nyuruh atau minta tolong orang. Di Australia semua dikerjakan sendiri! Kalau lagi bikin pameran temporer dan mau warna pedestal koleksi nya diganti biar cocok sama tema pameran temporernya ya saya sendiri yang harus mengecat! Ganti isi display lemari pamer? Saya sendiri yang harus urusan buka tutup sekrup vitrin kaca! Di hari saya kerja ada masyarakat yang datang menyumbang koleksi untuk museum? Ya saya juga yang bertugas meregistrasi koleksinya, menambahkan data di database katalog museum, dan menyimpan koleksinya di ruang storage. Museum bikin exhibition opening party? Ya saya juga yang jadi waitress nya! Seru pokoknya!

Saya bersyukur banget banyak sekali hal yang saya pelajari dari bekerja volunteer di Unley Museum ini. Selain urusan museum, saya juga jadi mengerti mengenai keselamatan kerja. Selama ini saya berfikir bahwa keamanan koleksi museum adalah yang utama. Ternyata keamanan pekerja museum juga sangat diperhatikan! Pernah suatu hari saya hanya berdua dengan Kate di museum. Dia sedang sibuk bekerja di kantornya dan saya sibuk memasang display di ruang pameran temporer. Display nya harus digantung-gantung, jadi saya kerja sambil bertengger di atas tangga tukang. Tiba-tiba Kate masuk ke ruangan saya dan menyuruh saya berhenti bekerja karena dia mau rapat ke gedung sebelah. Saya protes. Saya bilang tanggung, sebentar lagi pekerjaan saya selesai. Eh lalu dia bilang "If you fall from that stair when I am in the meeting no one will notice that you're injured. It's dangerous. Your safety is our priority so please stop working when I'm gone". Baiklah!

Tetapi, pekerjaan yang paling berkesan tentu saja ketika saya dadakan jadi "model" Unley Museum! Saat itu museum baru ganti pameran permanen dari tema sejarah belanja jadi sejarah kebiasaan makan masyarakat South Australia berjudul 'Dig it Don't Wait". Saat saya datang ke museum Kate sedang wawancara dengan wartawan koran. Tiba-tiba dia memekik dalam bahasa Inggris "naahh kamu ajaa yaa yang jadi modelnyaa". Sang wartawan pun langsung menyeret saya ke dekat Kate dan memfoto kami berdua. Fotonya masuk koran halaman depan. Setiap orang yang saya kenal, dari dosen-dosen dan teman di kampus, sesama pelajar mahasiswa Indonesia, sampai pegawai toko 'Save the Children' dekat rumah, saat ketemu saya semua bilang "I saw you on the newspaper!" Duuuh maluuu *tutup muka*. Bukannya apa-apa, soalnya waktu di foto saya baru turun dari bis, gak dandan, pokoknya item, dekil dan kucel banget deh! Hehehe...

Ini nih foto liputan tentang Unley Museum di koran Adelaide!

Komentar


Ā© 2023 by NOMAD ON THE ROAD. Proudly created with Wix.com

bottom of page