top of page

The Cedars, Hahndorf: Museums and Cultural Landscapes

  • Gambar penulis: Ajeng Arainikasih
    Ajeng Arainikasih
  • 12 Sep 2016
  • 3 menit membaca

Diperbarui: 27 Sep 2021


'Museums and Cultural Landscapes' adalah tema untuk International Museum Day nya International Council on Museums (ICOM) tahun 2016. Cultural landscape maksudnya adalah suatu area geografis yang merepresentasikan kombinasi antara alam dengan campur tangan manusia, didesain dan dibuat oleh manusia, berhubungan dengan sebuah peristiwa sejarah, memiliki nilai budaya atau keindahan. Contohnya, sawah berteras, taman, atau tempat sakral yang berhubungan dengan religi.


Membicarakan mengenai cultural landscape membuat saya jadi teringat dengan The Cedars. The Cedars adalah museum rumah bersejarah di daerah Adelaide Hills, bekas tempat tinggal seniman kenamaan Australia: Hans Heysen dan Nora Heysen.

Hans Heysen (1877-1968) adalah seniman Australia kelahiran Jerman yang sangat terkenal di awal abad-20. Ciri khas karyanya adalah lukisan pemandangan alam dengan Australian gum trees (pohon Eucalyptus) yang dilukiskan menggunakan cat air.


Salah seorang anak perempuan Hans Heysen, Nora Heysen (1911-2003), juga merupakan pelukis perempuan Australia ternama di pertengahan abad 20. Nora banyak melukis still life dan potret. Ia bahkan merupakan seniman perempuan Australia pertama yang memenangkan Archibald Prize for Portraiture (1938). Di tahun 1943 Nora Heysen juga menjadi seniman perempuan pertama yang ditugaskan untuk menjadi war artist (yang bertugas mendokumentasikan perang). Sebetulnya Nora Heysen tinggal di Sydney, namun ia menghabiskan masa kecil dan masa ketika ia belajar seni di rumahnya di The Cedars.

Berhubung di Australia dulu saya kuliah di Jurusan Art History Curatorial and Museum Studies, maka field trip ke The Cedars, rumah keluarga Heysen, sudah pasti masuk dalam silabus kuliah!


Photo: Ajeng Arainikasih

The Cedars sendiri adalah properti seluas 60 hektar di Adelaide Hills, dekat kota kecil Hahndorf (baca "The Hahndorf Academy Museum: Perkembangan paradigma museum" untuk cerita lebih lengkap mengenai Hahndorf). The Cedars merupakan vila bergaya kolonial yang dibangun tahun 1870 dan dibeli oleh keluarga Heysen di tahun 1912 untuk dijadikan rumah tinggal mereka.

Kini rumah tersebut dijadikan museum rumah bersejarah. Pengunjung yang datang bisa melakukan guided tour ke rumah keluarga Heysen yang masih dipelihara seperti saat keluarga tersebut tinggal disana di awal abad 20, lengkap dengan perabotannya, termasuk beberapa lukisan karya Hans dan Nora yang saat itu memang dipajang di The Cedars. Dahulu, ketika keluarga Heysen tinggal disana, Hans dan istrinya, Sallie Heysen, sering menjamu tamu-tamu selebriti di rumah mereka. Baik pemain film, penari ballet, ataupun penyanyi opera.


Rumahnya memang nyaman banget! Saya paling suka tempat duduk di tepi jendela. Terbayang pasti asik sekali tinggal disana. Tempatnya memang mendukung banget buat Sir Hans Heysen dan Nora Heysen menghasilkan karya kreatif yang keren-keren. Sayangnya waktu itu saya sebagai pengunjung tidak boleh foto-foto di dalam rumah, bolehnya hanya foto-foto di luar rumah. Berkunjung ke The Cedars juga seperti step back in time, seru!

Me @ The Cedars. Photo: Ajeng Arainikasih

Di The Cedars, pengunjung dapat juga mendatangi studio Nora Heysen dan studio Hans Heysen. Studio Nora intact di bangunan rumah utama dan awalnya merupakan bekas studio ayahnya yang sudah tidak dipakai. Namun, Nora menggunakan uangnya sendiri dari hasil penjualan karya pertamanya untuk membangun sky-light window di studionya. Studio ini terutama digunakan oleh Nora Heysen saat ia belajar seni di Adelaide tahun 1926-1933.


Studio Hans Heysen letaknya terpisah sekitar beberapa meter dari rumah. Tepatnya, berjarak 5 menit berjalan kaki dari rumah utama. Bangunannya persegi dan terbuat dari batu. Namun di satu sisinya ada jendela berukuran besar yang menghadap ke taman dan Australian busland. Tentunya isi studionya masih sama persis dengan keadaan saat Hans Heysen melukis didalamnya. Lengkap dengan karpet, cat, dan kuas-kuasnya!

Studio Hans Heysen di halaman belakang The Cedars. Photo: Ajeng Arainikasih

Oya, satu hal yang membuat saya teringat akan The Cedars apabila membicarakan mengenai cultural landscape adalah taman dan daerah Australian bushland di sekitarnya! Apabila berkenan, pengunjung juga dapat piknik di alam sambil napak tilas di spot-spot yang dulu dituangkan keindahannya dalam lukisan oleh Hans Heysen. Cool ya?

Waktu saya ke The Cedars tahun 2008 silam, saya melihat gum trees (pohon Eucalyptus) dan di kejauhan ada sapi-sapi yang sedang merumput dan melenguh-lenguh. Saya jadi terasa seperti benar-benar masuk ke dalam lukisannya Hans Heysen lho! Karena ada salah satu lukisannya Sir Hans Heysen yang memenangkan Wynne Prize berjudul Mystic Morn (1904). Nah, di lukisan itu digambarkan sapi di antara semak-semak dan Australian gum trees, hihi...

Gum trees dan sapi-sapi ini inspirasinya Hans Heysen? Photo: Ajeng Arainikasih

Kini, The Cedars juga menyewakan tamannya (yang dahulu ditanam dan dirawat sendiri oleh Hans Heysen) untuk wedding party. Ada yang berminat pesta disana?


Komentar


Ā© 2023 by NOMAD ON THE ROAD. Proudly created with Wix.com

bottom of page