top of page

Museum, Prasasti dan Alzheimer's Awareness Month

  • Gambar penulis: Ajeng Arainikasih
    Ajeng Arainikasih
  • 7 Sep 2016
  • 3 menit membaca

Diperbarui: 30 Mar 2020


"Jangan Maklum Dengan Pikun!"

Begitulah slogan ALZI alias Alzheimer's Indonesia, asosiasi nirlaba yang berusaha mengedukasi masyarakat mengenai penyakit Dementia Alzheimer's. Selama ini kita sering menganggap kalau orang sudah tua otomatis akan menjadi pikun dan itu adalah hal yang normal. Ternyata kita salah! Pikun bisa jadi merupakan gejala Dementia Alzheimer's.

Alzheimer's adalah penyakit yang menyerang otak dan belum ada obatnya. Penyakit ini menimbulkan plak-plak di otak sehingga penderitanya akan mengalami berbagai gangguan. Misalnya kesulitan mengingat kata-kata, salah meletakkan benda, disorientasi arah dan waktu, menarik diri dari pergaulan, mengalami gangguan emosi, hingga akhirnya benar-benar pikun. Kalau sudah parah, penderita Alzheimer's bahkan tidak mengenali lagi orang-orang terdekatnya walaupun itu anak ataupun suami/istrinya sendiri. Sedih yaa... Dan ternyata banyak lho orang yang mengalami penyakit Dementia Alzheimer's ini, bahkan jumlahnya terus meningkat!

Di luar negeri banyak museum yang sudah memiliki program khusus untuk penderita Alzheimer's dan pendampingnya (caregiver). Memang program-program tersebut tidak bisa menyembuhkan penyakit Alzheimer's, tetapi dapat membantu menaikkan taraf hidup penderita dan caregivernya.

Berhubung bulan September adalah bulan Alzheimer's Awareness Month, tahun 2014 silam saya dan Ria, teman sesama dosen muda dari Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, berusaha untuk ikut berpartisipasi membuat program bagi penderita Alzheimer's di museum! Saat itu kami mendapatkan hibah Community Engagement Grant (CEGs) dari Universitas Indonesia. Judul program kami adalah "Prasasti dan Memori: Peran Koleksi Museum bagi Penderita Alzheimer's".

Kami terinspirasi dari program Meet Me @ MoMA nya Museum of Modern Art New York yang membuat art therapy bagi penderita Alzheimer's. Namun berhubung kami berada di bawah payung Departemen Arkeologi maka kami berusaha mendesain program yang arkeologi banget! Karena Ria adalah ahli epigrafi maka jadilah kami membuat program bagi penderita Alzheimer's dengan menggunakan prasasti!

Kami bekerja sama dengan Center for Ageing Study (CAS) UI, ALZI dan Museum Nasional. Dengan dibantu oleh tim fasilitator yang notabene adalah mahasiswa UI dari FIB dan FKM yang sudah di training oleh ALZI, kami mengadakan 4x sesi 'terapi' di Museum Nasional. Saat peserta (yang merupakan lansia normal maupun penderita Alzheimer's) datang ke Museum Nasional mereka langsung disambut dengan tes HVLT (instrumen dari CAS UI) yang mengukur short term memory mereka. Lalu mereka akan melakukan 4x tantangan brain challenge menggunakan aksara Palawa atau Sanskerta. Semakin lama tantangannya semakin sulit, dari sekadar tracing bentuk aksara, hingga melakukan alih aksara/alih bahasa hingga bermain acak kata. Setelah itu, peserta akan berdiskusi dengan fasilitator mengenai tema prasasti dan mengkaitkan tema prasasti dengan momen-momen di kehidupan mereka baik di masa lalu maupun masa sekarang. Kemudian, peserta akan tur museum melihat prasasti yang dimaksud, menonton film pendek tentang prasasti tersebut, saling berbagi cerita di sharing session dan melakukan tes HVLT lagi.

Salah satu fasilitator sedang mendampingi peserta penderita Dementia Alzheimer's mengerjakan tantangan brain challenge.

Walaupun masih harus diteliti lebih dalam lagi, tetapi rata-rata nilai tes HVLT awal dan HVLT akhir peserta meningkat! Baik peserta yang hanya datang di 1 sesi maupun peserta yang datang di ke-4 sesinya! Artinya, ingatan atau memori jangka pendek mereka saat itu membaik. Tapi ini bukan berarti sembuh loh ya! Oya, dalam setiap sesi, prasasti yang kami bahas juga berbeda-beda.

Program ini disambut baik oleh panti-panti jompo dan klub lansia. Beberapa panti jompo / klub lansia bahkan sengaja datang ke acara seperti layaknya 'field trip' bagi para lansia. Bahkan di sesi ke-4 kami harus dibantu oleh mahasiswa dari Sastra Cina FIB karena ada klub lansia yang datang dan pesertanya mayoritas hanya bisa berbahasa Mandarin!

Jujurnya, this is one of the best museum programs that I ever created. Menjalankan program ini membuat saya lebih mensyukuri hidup saya. Saya juga merasa bahagia bisa berkontribusi untuk other people's wellbeing. Siapa yang tidak terharu mendengar salah satu penderita Alzheimer's di stage lanjut bernyanyi dari kursi roda-nya, atau saat menyaksikan penderita lainnya bangga karena berhasil menyelesaikan tantangan brain challenge-nya. Saya juga bangga karena bisa membuktikan bahwa museum di Indonesia juga bisa jadi 'museum postmodern' kalau pengelolanya mau. :D

Sebenarnya saya dan Ria bercita-cita ingin terus melanjutkan program ini. Tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di kota-kota lain dan di museum-museum lain yang memiliki koleksi prasasti. Namun kami belum mendapatkan grant lagi. Moga-moga suatu saat nanti kami bisa terus berkarya dan berbuat sesuatu untuk membuat museum juga bisa berguna untuk lansia terutama penderita Alzheimer's.

The best team ever!

Untuk Alqiz, Rere, Ndin, Retno, Lutfan, Rizky, Hanna, Icad, Oce, Sintya, Pipit, Bebek, Fitri, Elok (moga-moga gak ada yang lupa kesebut hehe), YOU'RE ROCKS! Prof. Tribudi dan Mbak DY, tunggu yaa.. suatu hari nanti moga-moga kita bisa kerjasama lagi! :)

Komentar


Ā© 2023 by NOMAD ON THE ROAD. Proudly created with Wix.com

bottom of page