top of page

Sejarah Aceh di Museum Belanda Jaman Now

  • Gambar penulis: Ajeng Arainikasih
    Ajeng Arainikasih
  • 10 Feb 2018
  • 5 menit membaca

Diperbarui: 30 Mar 2020


Aceh dan Belanda, dua nama yang identik dengan sejarah kelam perang kolonial. Bukan rahasia kalau (dulu) orang Aceh benci banget sama Belanda.

Bukan rahasia juga kalau orang Aceh selalu curiga kalau orang Belanda “membawa lari” warisan budaya dan sejarah mereka dan kini menyimpannya di museum-museum Eropa.

Namun sebenarnya seperti apa sih sejarah Aceh yang ditampilkan di museum-museum Belanda jaman now?

Rijksmuseum

Sejak 2015 Rijksmuseum di Amsterdam menjalankan proyek “Adjusting Colonial Terminology”. Mereka menghilangkan kata-kata yang dianggap rasis dari judul dan label karya seni koleksi museum.

Akibatnya, di salah satu ruangan museum yang berjudul 'The Netherlands Overseas: Dutch East Indies' yang menampilkan art works dari Indonesia, museum sudah cukup terbuka dengan sejarah kelam kolonial mereka.

Foto: Rijksmuseum, 'The Netherlands Overseas: Dutch East Indies' Gallery

Di wall text museum disebutkan bahwa daerah kekuasaan kolonial Belanda bertambah luas di abad 19 karena Belanda melakukan tindak kekerasan, misalnya melalui perang kolonial.

Untuk mengilustrasikan perang kolonial, terutama Perang Aceh, maka ditampilkanlah perisai Dayak ini yang disebut sebagai ‘Acehnese Shield’. Wah, informasi Rijksmuseum ngaco? Tidak juga! Ternyata “salah informasi” ini ada sejarahnya!

Foto: Rijksmuseum's 'Acehnese Shield'

Perisai ini menjadi koleksi Rijksmuseum sekitar tahun 1899 setelah sebelumnya merupakan koleksi Kavalerie Museum, museum pribadi milik Baron Snouckaert van Schauburg di Den Haag. Pada saat perisai dipindahkan, ada catatan keterangan yang bertuliskan

“Perisai orang Aceh yang membunuh Lieutenant Regensburg

di Benteng Lembu pada bulan Desember 1876. Orang Acehnya juga meninggal”

Keterangan ini sama dengan yang dituliskan di buku registrasi koleksi Museum Kavalerie sehingga keganjilan ini tidak disadari hingga perisai ini kemudian ditampilkan untuk umum di ruang pamer bertahun-tahun kemudian.

Saat itu, kurator dari Museum Volkenkunde langsung menyadari bahwa perisai ini adalah perisai Dayak dan bukannya Aceh. Oleh karena tidak pernah ada catatan sejarah mengenai peran orang Dayak yang membantu orang Aceh melawan Belanda, maka riset koleksi dilakukan lagi dengan lebih mendalam.

Short long story, diketahui bahwa Lieutenant Regensburg pernah bertugas di Kalimantan. Jadi kemungkinan perisai tersebut merupakan milik Regensburg sendiri dan bukan orang Aceh yang membunuhnya! Apalagi di perisai tersebut tidak terlihat adanya bekas-bekas ‘pertempuran’.

Keterangan singkat hal tersebut dapat dilihat di label museum. Sedangkan keterangan lengkapnya dipublikasikan dalam katalog museum yang berjudul Bitter Spice: Indonesia and the Netherlands From 1600.

Tropenmuseum

Pameran permanen Tropenmuseum Amsterdam yang bertajuk ‘Eastward Bound! Art, Culture, Colonialism’ dan ‘The Netherlands East Indies: a colonial history’ dibuka tahun 2003. Pamerannya bertujuan untuk menceritakan berbagai aspek sejarah sosial kolonialisme Belanda.

Galeri ‘Eastward Bound!’ menampilkan objek-objek dari India, Asia Tenggara (terutama Indonesia) dan Oceania yang diperoleh museum sejak zaman kolonial. Walaupun demikian, pameran museum yang bagian ini masih pasif dan kaku. Benda hanya dipajang di dalam vitrin seperti layaknya museum tradisional.

Dibawah tema ‘Islam’ dan ‘Court Culture’ di galeri ini, ditampilkan beberapa koleksi dari Aceh. Misalnya miniatur Al-Quran, tatakan kayu untuk membaca Al-Quran, kopiah Aceh, tempat sirih dan perhiasan pengantin.

Foto: Display beberapa benda dari Aceh di Tropenmuseum

Sebagian besar koleksi ini dibeli oleh Tropenmuseum tahun 1931 dari F. W. Stammeshaus. Stammeshaus adalah kurator Museum Aceh sejak Museum Aceh pertama didirikan tahun 1915. Stammeshaus yang bekerja di bidang militer adalah juga kolektor. Banyak koleksi yang ia dapatkan saat ekspedisi-ekspedisi militer di Aceh. Maksudnya, setelah desa-desa luluh lantak, barang-barang yang tersisa di kumpulkan dan dijadikan koleksi. Namun, ada juga benda-benda yang ia beli dari masyarakat Aceh.

Foto: Miniatur Al-Quran dari Aceh di Tropenmuseum

Koleksi Stammeshaus awalnya dipamerkan di Museum Aceh. Saat ia harus kembali ke Belanda, ia ingin menjual koleksinya ke Museum Aceh. Tetapi Museum Aceh tidak memiliki uang. Sedangkan Koloniaal Museum (Tropenmuseum) di Belanda sangat berminat. Akhirnya, ribuan koleksinya dibeli dan menjadi koleksi Tropenmuseum.

Mungkin, salah satu koleksi Stammeshaus yang sangat berharga untuk orang Aceh adalah jaket seragam KNIL kepunyaan Teuku Umar. Setelah Teuku Umar meninggal, Stammeshaus membeli jaket dan kupiahnya dari anak Teuku Umar, Teuku Radja Lehman. Kini, jaket dan kupiah Teuku Umar ditampilkan di galeri ‘The Netherlands East Indies: a colonial history’ untuk mengilustrasikan peristiwa perang kolonial.

Foto: Jaket dan Kopiah Teuku Umar di Tropenmuseum

Tentu saja semua informasi tersebut tidak dituliskan di label museum, tetapi bisa dibaca di publikasi-publikasi museum atau sumber lain. Namun, museum sudah mulai mau mengakui bahwa mereka melakukan tindakan kekerasan dan menjajah bangsa lain. Label museum cukup gamblang menjelaskan mengenai apa yang sebenarnya terjadi di masa kolonial. Terutama di galeri ‘The Netherlands East Indies: a colonial history’.

Galeri 'The Netherlands East Indies: a colonial history' ini terbagi atas tiga bagian. Bagian pertama menceritakan early encounter antara Belanda dan penduduk kepulauan Indonesia. Termasuk menceritakan sejarah awal Tropenmuseum sebagai Koloniaal Museum. Bagian kedua pameran ini menceritakan sejarah sosial kolonialisme Belanda di Indonesia abad 19-20. Bagian ketiga menceritakan colonial exhibition, ekspedisi ke Papua dan Papua sebagai koloni ‘terakhir’ Belanda.

Agak berbeda dari ruangan sebelumnya, tiga ruangan ini lebih 'tidak kaku' karena tidak hanya berisi vitrin. Walaupun sudah mengupas berbagai 'hidden history' di masa kolonial seperti kekerasan, segregasi sosial, dll, masih tetap timbul kritik bahwa sudut pandang museum tetap 'nostalgia kolonial era' dari sisi orang Belanda. Tidak menceritakan efek kolonialisme di era sekarang.

Kembali ke Aceh, selain jaket Teuku Umar, di bagian ini ada pula lukisan mengenai pertemuan delegasi Kerajaan Aceh yang pertama dengan Belanda tahun 1602. Namun, lukisannya baru dibuat oleh Charles Rochussen tahun 1854.

Foto: Lukisan Delegasi Aceh bertemu Belanda

Saat museum membahas tema resistensi terhadap kolonialisme, Aceh muncul lagi dalam bentuk foto Teuku Umar dan foto salah satu ekspedisi militer di Aceh.

Bronbeek Museum

Lain museum, lain lagi ceritanya. Museum Bronbeek di Arnhem bertempat di semacam ‘panti jompo’ bagi pensiunan tentara Belanda, termasuk tentara KNIL. Tahun 2009 museum militer ini bekerja sama dengan Indische Herinneringscentrum dan meredesain tata pamernya.

Museum Bronbeek berusaha lebih menampilkan cerita dari berbagai perspektif. Tidak hanya perspektif militer, tetapi juga menampilkan cerita penduduk sipil.

Tema Perang Aceh ditampilkan dengan memajang foto besar sebagai latar belakang vitrin yang berisi senjata. Ada dua versi cerita di label museum: versi Belanda dan versi Aceh.

Foto: Display Perang Aceh di Museum Bronbeek, Arnhem

Walaupun demikian, tata pamer Museum Bronbeek menuai kritik karena dua versi sejarah tidak diwakili oleh suara sejarahwan Indonesia. Lagipula, senjata-senjata yang dipajang di bagian bawah vitrin agak menutupi foto korban perang rakyat Aceh yang bergelimpangan di kaki para tentara KNIL.

Museum Belanda Jaman Now...

Dekolonisasi dan dekonstruksi sejarah adalah kata kunci yang menggambarkan museum-museum Belanda jaman now. Walaupun belum 100% sempurna, tapi mereka sudah cukup terbuka dan mengakui sejarah kelam masa kolonial.

Museum juga tidak ‘tabu’ untuk meriset dan mempublikasikan mengenai asal usul koleksi kolonial mereka. Museum juga berusaha menampilkan narasi dari berbagai sudut pandang, termasuk dari sudut pandang non-Belanda.

~~

Catatan: tulisan ini dibuat dan dialihbahasakan (dan bahasanya dipopulerkan) dari bagian tulisan yang terpaksa dibuang saat penulis menulis artikel untuk jurnal internasional BMGN - Low Countries Historical Review mengenai dekolonisasi Museum Aceh.

Komentar


© 2023 by NOMAD ON THE ROAD. Proudly created with Wix.com

bottom of page