Black Lives Matter dan Museum-Museum di Belanda
- Ajeng Arainikasih

- 21 Sep 2020
- 6 menit membaca

Mungkin di Indonesia gerakan "Black Lives Matter" kurang "terdengar" di kehidupan sehari-hari di masyarakat. Tapi, urusan "Black Lives Matter" ini cukup ramai di Belanda. Isyu “Black Lives Matter” ini juga mengingatkan saya akan museum-museum di Belanda.
Apa hubungannya "Black Lives Matter" dengan museum? Ada dong! Tapi, sebelum bahas museum saya mau bahas tentang Zwaartepiet dulu ya sebagai pengantar.
Kontroversi Zwaartepiet (Pit Hitam)
Saya ingat sewaktu saya kecil terkadang kalau saya nakal saya diancam "Hayo nanti dimasukin ke karung loh sama Pit Hitam!" Zaman saya kecil dulu, menjelang Natal, Sinterklaas yang ada di pusat-pusat perbelanjaan (di Jakarta) memang biasanya ditemani dengan Pit Hitam. Tapi, belakangan Santa Claus di mall-mall Jakarta tidak bersanding lagi dengan pit hitam.
Ketika saya tinggal di Belanda, saya baru menyadari hal ini. Saya juga baru tahu bahwa Sinterklaas dan Zwaartepiet (Pit Hitam) itu ternyata budaya Belanda! Berbeda dengan Santa Claus ala Amerika yang belakangan populer di Indonesia.
Ternyata, keberadaan Zwaartepiet di Belanda masa kini juga cukup kontroversial. Ada yang pro dan ada yang kontra karena menganggap bahwa tradisi tersebut rasis, warisan perbudakan era kolonial.

Walaupun demikian, setiap Desember Zwaartepiet tetap eksis di sekolah anak-anak saya. Di sekolah, anak saya yang kecil (dan teman-temannya) bahkan sering dipakaikan kostum Zwaartepiet atau ditorehkan cat hitam di pipinya. Walaupun demikian, tentu saja mereka tetap dapat hadiah dan tidak dibawa ke Spanyol pakai karung - seperti ancaman untuk anak nakal pada umumnya, hehe...

Lalu, apa hubungannya dengan museum? Jauh sebelum gerakan "Black Lives Matter" marak, museum-museum di Belanda sebenarnya sudah mulai "bergerak" dan membahas mengenai (anti) rasisme. Termasuk membahas isyu mengenai kontroversi Zwaartepiet.
Misalnya, di awal tahun 2018 saya mengunjungi pameran "Cupido en Sideron" di Haags Historisch Museum, Den Haag. Sedangkan di akhir tahun 2018 saya bertandang ke pameran "Afterlives of the Slavery" di Tropenmuseum, Amsterdam.
Saya bahkan pernah ikut Black Heritage Tour di Amsterdam.
Jadi, adanya gerakan "Black Lives Matter" ini menjadi momentum yang pas bagi museum-museum di Belanda untuk bergerak lebih jauh lagi.
Black Heritage Tour
Sebelum bahas museum, saya mau "melipir" lagi dan cerita sedikit tentang Black Heritage Tour yang pernah saya ikuti. Black Heritage Tour yang saya ikuti adalah perpaduan antara walking tour dan canal tour. Tur dimulai dengan dipandu berjalan kaki di seputaran Dam Square, lalu naik kapal melewati canal-canal di Amsterdam, dan berakhir di Black Archives.
Awalnya, tur membahas mengenai black people dan people with colour yang ternyata sudah ada di Amsterdam sejak abad 17. Baik sebagai orang yang diperbudak maupun orang merdeka (sebagai tentara bayaran ataupun pelaut).

Lalu, tur dilanjutkan dengan memperlihatkan "sisi lain" dari bangunan rumah-rumah mewah di pinggir canal Amsterdam: perbudakan. Para pedagang pemilik rumah-rumah mewah tersebut biasanya memiliki perkebunan di daerah koloni, dan pada masa itu perkebunan tentu saja identik dengan perbudakan (terutama perbudakan terhadap orang kulit hitam). Selain itu, di rumah-rumah mewah tersebut juga biasanya ada budak/pelayan. Dan pelayan pada masa itu tentu saja banyak yang berkulit hitam.
Tur kemudian berakhir di Black Archives. Menurut saya Black Archives keren! Instansi independen ini tidak hanya mengumpulkan arsip/berita terkait isyu kulit hitam, tapi juga mengumpulkan buku-buku (bahkan buku anak-anak), gambar, dan merchandise lainnya (t-shirt, tas, dan bahkan boneka) terkait kulit hitam dan rasisme!
Jadi, berbeda dengan historical tour lainnya di Amsterdam yang biasanya membahas Golden Age Belanda, Black Heritage Tour berani membahas sisi lain - darker sides - dari sejarah Belanda.

Pameran tentang Perbudakan di Museum-Museum Belanda
Tidak hanya Black Heritage Tour, beberapa museum di Belanda juga sudah membahas mengenai perbudakan, jauh sebelum gerakan "Black Lives Matter" ramai diperbincangkan.
Pameran pertama terkait perbudakan yang saya datangi di Belanda adalah pameran "Cupido en Sideron" di Haags Historisch Museum, Den Haag. Saya khusus datang ke pameran ini bersama anak saya. Tujuannya agar anak saya bisa belajar tentang perbudakan anak-anak dan bersyukur akan hidupnya sendiri sebagai anak-anak yang "bebas dan merdeka".

Cupido dan Sideron adalah pelayan anak-anak berkulit hitam di Istana Den Haag. Cupido lahir di Curacao (Amerika Selatan), sedangkan Sideron lahir di Guinea (Afrika Barat). Mereka adalah hadiah bagi Raja William V. Cupido dan Sideron pertama kali tiba di Den Haag sekitar tahun 1766. Kala itu mereka berumur sekitar 7 tahun, dan mereka tidak pernah lagi bertemu keluarga mereka sejak mereka bertolak ke Belanda.
Di istana, mereka harus belajar menulis, berhitung dan dansa. Sebagai pelayan anak-anak mereka bertugas mendampingi keluarga raja di setiap acara kerajaan, termasuk tampil di parade kerajaan. Juga bertugas menuangkan teh, kopi, dan cokelat. Setelah dewasa, mereka menjadi chamber attendant bagi raja. Cupido dan Sideron bekerja untuk keluarga kerajaan sekitar 40 tahun.
Keberadaan mereka diketahui dari arsip-arsip kerajaan, juga dari "penampakan" mereka di gambar dan lukisan keluarga kerajaan.


Kala itu, tentu saja bukan hanya Cupido dan Sideron orang berkulit hitam yang ada di Belanda. Namun, kisah mereka tidak banyak diketahui. Salah satu yang dibahas di pameran adalah seorang budak/pelayan yang tidak diketahui identitasnya namun memiliki lukisan potret. Pada masa itu, sangat tidak umum bagi pelayan untuk memiliki lukisan potret sendiri. Biasanya mereka dilukiskan mendampingi tuan atau nyonya mereka.

Diduga, tokoh pelayan tak bernama di foto ini adalah budak/pelayan dari Adriaan Boesses, yang masih merupakan relasi dari Raja William V. Adriaan kembali dari Dutch East Indies (Indonesia) ke Belanda melalui Tanjung Harapan (Afrika Selatan). Kemungkinan ia membeli/mendapatkan budaknya di Tanjung Harapan.
Tidak hanya kisah mengenai orang-orang yang diperbudak, pameran ini juga menjelaskan mengenai rasisme sebagai konsep yang sudah usang. Museum dengan tegas menyatakan bahwa orang Afrika tidak lebih rendah kedudukannya dari orang Eropa! Dan membeda-bedakan ras berdasarkan warna kulit seseorang sudah ketinggalan zaman.
Legacy rasisme dari perbudakan di era kolonial juga dibahas di pameran "Afterlives of the Slavery" di Tropenmuseum, Amsterdam.

Pameran ini membahas mengenai sejarah perbudakan di Suriname, Antilles, dan Belanda. Pameran menampilkan orang-orang yang terlibat dalam perbudakan di Belanda (para pemilik budak dan siapa yang menentang konsep perbudakan). Pameran juga menampilkan mengenai bagaimana resistensi yang dilakukan oleh orang-orang yang diperbudak di perkebunan Suriname, budak-budak yang bebas (dan berhasil melarikan diri), serta konstruksi rasial di era kolonial.
Yang paling penting, pameran juga membahas mengenai efek rasisme di Belanda pada masa kini (termasuk kontroversi Zwaartepiet), dan perayaan Keti Koti.

Akhir tahun 2018 saya juga ikut training tentang museum dan contested heritage. Dalam training tersebut saya mengunjungi Rijksmuseum, museum nasional Belanda. Saat itu pihak Rijksmuseum menjelaskan bahwa mereka sedang melakukan riset dan persiapan untuk membuat pameran mengenai slavery yang akan dibuka tahun 2021.

Kurator Rijksmuseum saat itu bercerita kalau mereka akan menampilkan cerita mengenai Untung Surapati di pameran slavery yang akan datang. Untung Surapati adalah budak dari Bali yang dibeli oleh Pieter Cnoll. Surprisingly, pada salah satu lukisan yang dipajang di Rijksmuseum, ada lukisan Cnoll dan keluarganya plus lukisan Untung Surapati di bagian belakang. Untung dilukiskan sebagai budak yang bertugas sebagai pembawa bendera keluarga Cnoll.

"Black Lives Matter" dan Museum Seni
Dalam rangka training tersebut, saya juga mengunjungi Mauritshuis, museum seni ternama di Den Haag. Lagi-lagi kurator museum bercerita bahwa museum sedang mempersiapkan pameran "Shifting Image - In Search of Johan Maurits" yang diselenggarakan awal tahun 2019 lalu.
Pameran tersebut membahas secara kritis mengenai Johan Maurits sebagai Gubernur Jenderal Dutch Brazil yang juga berperan besar dalam perdagangan budak dari Afrika. Kebetulan di Mauritshuis dipajang beberapa lukisan terkait Dutch Brazil yang menampilkan orang-orang kulit hitam.


Pameran juga menampilkan lukisan Rembrandt yang berjudul "Two African Men" (1661). Kemungkinan, orang-orang Afrika yang dilukis berkaitan dengan Dutch Brazil. FYI, sebelum dipamerkan di pameran "Shifting Image - In Search of Johan Maurits", lukisan tersebut berjudul "Twee Moren" atau "Two Moors". Mauritshuis Museum sudah berusaha mengubah terminologi yang berbau rasisme kolonial di judul karya seninya. Cool!

Tidak hanya Mauritshuis, Rembrandthuis Museum di Amsterdam juga mengadakan pameran "HERE. Black in Rembrandt's Time" awal 2020 lalu. Pameran menampilkan 10 lukisan dan beberapa sketsa karya Rembrandt yang menampilkan orang-orang kulit hitam. Pada masa itu, ada komunitas Afrika sebagai orang bebas yang sudah tinggal di daerah sekitar tempat tinggal Rembrandt di Amsterdam. Diduga, Rembrandt menjadikan tetangga-tetangganya sebagai model lukisan.
Pameran juga memamerkan lukisan karya pelukis lain di periode tersebut yang menampilkan orang kulit hitam sebagai subjek utama lukisan. Salah satunya adalah lukisan karya Jeronimus Beckx "Portrait of Dom Miguel de Castro" (1643). Dom Miguel adalah ambassador Soyo (daerah di Congo) yang datang ke Belanda untuk urusan kemerdekaan wilayahnya.
Berkaitan dengan "Black Lives Matter" Stedelijk Museum Amsterdam - museum seni ternama lainnya di Belanda - juga akan menampilkan pameran "Surinamese School" di akhir tahun 2020 ini. Pameran akan menampilkan karya-karya seniman dari Suriname dari awal abad 20 sampai dengan kemerdekaan Suriname.
Selain itu, Stedelijk Museum juga akan menganggarkan 50% dari acquisition budget mereka selama tahun 2021-2024 untuk membeli karya Non-Western artists.

Terakhir, "Black Lives Matter" juga membuat museum-museum di Belanda tergerak untuk membuat partnership bernama Musea Bekennen Kleur (Museums See Colours). Tujuan platform ini adalah untuk menjadikan museum lebih inklusif, terutama terkait isyu cultural diversity, slavery dan colonial heritage. Keren ya! Gak sabar rasanya ingin ikut berpartisipasi di program-program mereka nanti.
PS. Semua foto di post ini adalah koleksi pribadi penulis!




Komentar