Tidak ada lomba di museum Belanda?
- Ajeng Arainikasih

- 29 Okt 2018
- 4 menit membaca
Diperbarui: 30 Mar 2020

Dua minggu ini anak saya yang bersekolah di Basisschool (setingkat SD di Belanda) sedang liburan musim gugur. Berhubung mamanya harus kerja jadi terpaksa dia liburan di Leiden saja (kota tempat tinggal kami). Jadilah saya googling program publik di museum, biar liburannya gak garing-garing amat gitu. Ternyata, museum-museum di Belanda memang menyediakan program liburan sekolah! Wah, seru banget!
Workshop Tari Kecak di Museum Volkenkunde

Museum pertama yang kami datangi minggu kemarin adalah Museum Volkenkunde, Leiden. Kebetulan museum ini sedang menyelenggarakan pameran temporer bertajuk āBali: Welcome to Paradiseā. Jadilah program liburannya terkait dengan Bali. Selama 2 minggu setiap pukul 12.30-14.30 pengunjung anak dapat mengikuti workshop membuat layang-layang Bali. Workshopnya gratis! Hanya tinggal bayar masuk museum saja (gratis juga kalau punya Museumkaart).

Selain workshop membuat layang-layang ada pula workshop tari Bali setiap jam 3 sore selama 2 minggu! Untuk hari-hari tertentu, tarian yang diajarkan adalah tari kecak! Dari mengikutsertakan anak saya ke workshop ini, saya jadi tahu kalau tari kecak dimodifikasi sebagai pertunjukan oleh Walter Spies di tahun 1930-an. Walter Spies adalah seniman asal Jerman yang cukup lama bermukim dan berkarya di Bali kala itu.
Workshopnya diperuntukkan bagi anak-anak berumur 6 tahun keatas. Jadi anak saya yang kecil (3 tahun) memang sengaja tidak diajak dan ditinggal di daycare. Namun, ketika ia melihat rekaman video saat kakaknya dan teman-teman kakaknya menari kecak di museum, dia sedih sekali! āMa, boleh gak kalau dede sudah besar dede sekolah di museum juga?ā Waah...


Kini seminggu sudah berlalu namun di rumah saya terkadang masih terdengar nyanyian āsiriang ngeryang horyang ngeryang, cak cak cakā dari dua anak yang sibuk menari kecak.
Workshop Membuat Monster di Museum Boerhaave

Berhubung anak saya yang kecil kepingin sekali ikut ke museum, jadi akhirnya dia diajak pergi juga. Kunjungan ke museum yang ke-2 minggu kemarin adalah ke Rijksmuseum Boerhaave yang juga berada di kota Leiden. Pada dasarnya Museum Boerhaave memamerkan perkembangan teknologi. Dari teknologi transportasi sampai perkembangan teknologi di dunia kedokteran.
Mengapa acara liburan sekolahnya berupa workshop membuat monster? Apa hubungannya dengan Museum Boerhaave? Nah, saat ini museum sedang punya pameran temporer āFrankensteinā yang berkaitan dengan teknologi terkait tubuh manusia buatan. Jadilah monster diangkat sebagai tema.
Konsep workshopnya (yang juga gratis sebagai bagian dari tiket masuk museum) sebetulnya sederhana. Museum hanya menyediakan meja-meja dan kursi serta menyiapkan kertas warna-warni, gunting, lem, selotip dan spidol. Lalu, museum juga menyediakan karton berukuran A3+ yang dipenuhi dengan berbagai desain bagian tubuh monster: badan, tangan, kaki, mata, mulut, tanduk dan bahkan sayap. Pengunjung anak tinggal berkreasi mau membuat monster seperti apa dari berbagai template yang tersedia.



Sebetulnya ada workshop satu lagi yang berlangsung di Museum Boerhaave, yakni workshop membuat jantung tiruan (dalam rangka pameran Frankenstein). Namun workshop diperuntukkan bagi anak-anak berumur 8 tahun keatas, jadi anak-anak saya terpaksa absen ikutan.

Workshop Membuat Mumi di Rijksmuseum van Oudheden

Rijksmuseum van Oudheden (RMO) adalah museum antiquities yang berada di kota Leiden (tepatnya disebrang kantor saya, hehe). Berhubung temanya antiquities maka pameran temporernya saat ini bertajuk āGodden van Egypteā yang berarti Gods of Egypt. Nah, program liburannya tentu berkaitan dengan Mesir kuno!
Dari awal saya sudah mendaftarkan anak saya untuk ikut workshop membuat mumi ikan. Soalnya workshopnya berbayar dan tempatnya terbatas! Tentu saja saya tidak mau ketinggalan keseruan itu! Haha, maklum, namanya juga anak Arkeo š Untungnya sih anak saya mau-mau saja didaftarkan.


Ternyata, workshopnya Bahasa Belanda!! Saya mah bengong aja gak ngerti, untung anak saya mengerti hahaha. Malah terkadang dia yang menjelaskan ulang ke saya perkataan edukator museumnya š Workshopnya juga bukan membuat mumi secara langsung, melainkan mengamati edukator museumnya membuat mumi. Bagi saya agak mengecewakan, tapi anak saya lega soalnya menurutnya "mumi nya bau!".
Selain workshop, museum juga punya banyak acara lain terkait liburan sekolah. Di lobi museum disediakan arena agar anak-anak dapat membuat LEGO berbentuk piramida, atau berkreasi membuat Egyptian amulets (jimat Mesir). Jujurnya, baru sekali itu saya pusing masuk museum di Belanda karena saking ramenya museum didatangi anak kecil!

Museum juga mengembangkan free apps untuk anak berupa guided tour + quiz untuk melengkapi pameran āGodden van Egypteā ini. Ada pula free family tour yang dapat diikuti pada jadwal tertentu. Apabila ada keluarga yang ingin bertualang sendiri tanpa ikut tur, kids trail juga tersedia untuk mendampingi. Kids trail ini dapat dibeli di bagian ticketing seharga ā¬2.50. Sayangnya trail-nya hanya tersedia dalam Bahasa Belanda. Di kota-kota yang lebih besar seperti Amsterdam dan Rotterdam, saya mendapati bahwa trail museum biasanya terdiri atas dua versi Bahasa Belanda dan Bahasa Inggris.

Scary Tour yang Gagal
Sebetulnya kami mengincar ikut 1 acara liburan lagi, yaitu Scary Tour dan workshop melukis scary still life di Mauritshuis. Mauritshuis adalah museum seni di kota tetangga, Den Haag, yang berjarak sekitar 10 menit naik kereta dari Leiden.
Konsepnya, anak-anak beserta orang tuanya akan berkeliling museum sambil mencari lukisan-luksian yang digambarkan dengan tema "Halloween". Misalnya lukisan yang ada gambar tengkorak, labu, kelelawar, dll. Lalu anak akan belajar melukis still life. Namun, sayangnya kami kehabisan tempat karena acara ini berbayar dan tempatnya terbatas. Gagal deh kami Halloween-an di museum!
Absennya Kegiatan Lomba di Museum
Kebetulan liburan musim gugur anak saya jatuh di Bulan Oktober disaat museum-museum di Indonesia sibuk merayakan Hari Museum Indonesia. Saya jadi bisa membandingkan ājenisā acaranya. Di Indonesia, kebanyakan museum membuat berbagai lomba. Dari lomba mewarnai, menggambar, melukis, lomba jelajah museum, lomba cerdas cermat dan berbagai lomba lainnya. Mengapa harus lomba? Jujur saya kurang paham dengan alasannya.
Sedangkan, di Belanda sama sekali tidak ada lomba. Oleh karena sedang dalam rangka liburan sekolah, maka fokus programnya diperuntukkan bagi anak-anak dan keluarga. Di Belanda, hal-hal yang penting untuk anak-anak adalah pengalaman, kreativitas, kolaborasi, dan kebersamaan, bukannya kompetisi. Maka, tidak ada program publik museum berbentuk lomba.

Saya pribadi sih lebih setuju dengan bentuk program publik non-lomba. Memang terkadang kita perlu berkompetisi. Tapi apakah di museum anak Indonesia masih harus berkompetisi? Bukankah mereka sudah sibuk berkompetisi untuk menjadi ranking terbaik di sekolah masing-masing? Moga-moga program-program diatas bisa jadi inspirasi untuk program publik museum-museum di Indonesia suatu hari nanti...




Komentar